2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Melahirkan


__ADS_3

Reza kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Ardiansyah meninggalkan rumah Baskoro. Sampai di halaman, ia menepikan. mobilnya dekat dengan teras. Pemuda itu turun dan membuka pintu di samping Tania. Ia termangu memandangi wajah Tania yang terlelap.


"Kasihan sekali hidupmu, Tania," batin Reza meraung.


"Mbak Tanianya tertidur ya, Mas?" Siti tiba-tiba sudah berdiri di belakang Reza. Iya tadi mendengar deru mobil berhenti langsung keluar hendak menyambut anak majikannya.


"Iya, Mbak. Tolong bawakan barang-barangnya ke kamar Mbak Tania," pinta Reza.


"Baik, Mas Reza. Tolong bawa Mbak Tania ke kamarnya ya," jawab Siti.


"Iya, Mbak Siti. Ini mau saya bopong."


Reza dengan susah payah mengambil tubuh Tania dari dalam mobil. Siti hanya tersenyum melihatnya. Pemuda itu menggendong Tania ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tania yang dalam tidurnya merasa tubuhnya melayang pun menggeliat.


"Yang," gumam Tania seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Reza.


Reza kaget mendapat perlakuan dari wanita dalam gendongannya seperti itu. Namun, Siti tersenyum geli melihatnya. Siti melangkah mendahului mereka dan membantu membukakan pintu kamar Tania lebar-lebar sehingga Reza dapat langsung masuk ke dalam kamar dengan mudah. Pemuda itu mendekati ranjang spring bed lalu meletakkan tubuh Tania dengan hati-hati.


Saat pemuda itu hendak melepaskan tangannya yang tertindih tubuh Tania dengan pelan, Tania kembali menggeliat dan menggunakan sesuatu.


"Yank," ucapnya masih dengan mata terpejam.


Reza rasanya seperti terbang di awan bersama dengan ribuan kupu-kupu. Senyumnya mengembang memandangi wajah Tania yang terlelap damai.


"Cie cie, yang udah sayang-sayangan," goda Siti tiba-tiba menyela.


Reza tidak menyadari jika Siti ternyata masih berada di kamar tersebut. Reza jadi merasa kikuk.


"Ah, Mbak Siti, bikin saya malu saja. Saya keluar dulu ya, Mbak," sergah Reza yang langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Siti.


"Iya, hati-hati Mas jalannya lihat ke depan. Malu kok bilang-bilang," goda Siti lagi terkikik geli. "Mbak Tania enggak biasa-biasanya tidur lelap gitu, sampai tidak terasa kalau sudah dibangunin. Lanjutin aja tidurnya, Mbak Tania, nanti Mbak Siti bangunin kalau sudah mau Maghrib," lanjut Siti memandangi anak sang majikan.


Tania menggeliat, ia membuka matanya memandang sekeliling, mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer.


"Mbak Tania mau mandi atau Mbak Siti lap-lapin pakai air anget aja?" tanya Siti ketika pandangan mereka bertemu.


"Mandilah, memangnya Tania anak kecil?" sahut Tania. "Mbak Siti, kok Tania udah ada di kamar aja, tadi kayaknya masih di perjalananan dari rumah sakit?" lanjutnya bertanya.


"Tadi dibopong sama Pangerang tampan gak terasa ya?" sahut Siti bertanya.


"Pangeran tampan?" beo Tania mengernyitkan dahinya.


"Mbak Siti siapkan air hangat buat mandi dulu ya, Mbak Tania," pamit Siti.


"Iya, terima kasih ya, Mbak," ucap Tania.


Siti pun masuk ke dalam kamar mandi, sesaat kemudian ia keluar lagi. "Sudah Mbak Siti siapkan air untuk mandinya, Mbak. Kalau sudah tidak ada yang Mbak Tania butuhkan, Siti mau kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan malam," pamitnya.


"Em ... tolong nanti makan malam Tania dibawa ke kamar ya, Mbak. Tania malas naik turun tangga, pinggang Tania sakit," pinta Tania.


"Baik, Mbak Tania nanti Mbak Siti bawakan makan malam ke sini," sahut Siti.


Setelah Siti keluar dari kamar Tania dan menutup pintu, Tania masuk ke dalam kamar mandi. Ia tidak lupa mengunci pintu kamar mandi. Ia membuka seluruh pakaiannya hingga pertahanan terakhir. Ia lalu masuk ke dalam bathtub berendam diri dengan air hangat di sana.


Saat waktu makan malam tiba, di meja makan hanya ada Ardi, Dewi dan Reza. Siti muncul dari pintu dapur mendekat ke meja.


"Maaf, Bu. Siti mau mengambilkan nasi untuk Mbak Tania, kata Mbak Tania mau makan malam di kamar saja," pamit Siti.

__ADS_1


"Lho Tanianya kenapa?" tanya Dewi.


"Katanya malas naik turun tangga karena pinggangnya masih sakit, Bu," sahut Siti.


"Ya sudah, ambilkan saja gih," suruh Dewi.


"Bagaimana tentang operasinya Tania besok, Reza? Apa bisa diundur lagi?" tanya Ardi kepada asisten pribadinya.


"Tetap harus dilaksanakan besok siang, Pak. Dokter Albert bilang dari hasil USG tadi siang kemungkinan ada kista di rahimnya Mbak Tania. Ini yang menyebabkan Mbak Tania sering merasakan sakit di pinggangnya," ungkap Reza.


"Subhanallah, lindungilah anakku ya Allah," ucap Dewi terlihat sedih.


"Aamiin, tenang, Ma. Semua akan baik-baik saja" ucap Ardi sembari mengelus pundak untuk memenangkan sang istri.


"In sya Allah, Pa," sahut Dewi sembari menyentuh punggung tangan Ardi.


Siti meninggalkan ruang makan setelah selesai mengambil makanan. Suasana makan malam di ruang ini begitu hening. Tidak ada lagi perbincangan di antara anggota keluarga. Hanya ada dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring mengiringi kesunyian.


*****


Keesokan harinya pukul empat sore, Tania dibawa ke rumah sakit diantar oleh Ardi, Dewi dan Reza. Setelah melewati serangkaian persiapan operasi, Tania dibawa ke ruang operasi.


Paramedis bekerja dengan sigap sesuai jobnya. Tania kini tengah berbaring di meja operasi dengan berbagai alat menempel di tubuhnya. Ia juga sudah disuntik anestesi.


Dokter Albert memasuki ruang operasi. Sebelum melakukan tindakan operasi, dokter berserta tim mengajak Tania untuk berdoa bersama terlebih dahulu. Operasi kini mulai berjalan. Terdengar suara perpaduan antara peralatan stainless yang beradu dengan suara mesin alat bantu pernapasan juga suara dialog dokter dengan para asisten.


Tania hanya bisa memandangi tirai yang membatasi perut dan wajahnya. Ia mengintip kegiatan dokter dan para asisten dari bayangan yang ada di frame lampu stainless steel di plafon atas. Hingga terdengar suara tangis bayi melengking memekakkan telinga. Lalu seorang asisten dokter menunjukan bayi tersebut kepada Tania.


"Bayinya sudah lahir ya, Mbak, perempuan dan sehat," ucap salah seorang asisten dokter.


"Alhamdulillah," ucap Tania haru.


"Dok, ada kista yang pecah dan mengenai indung telur," ucap salah seorang asisten dokter yang terdengar jelas di telinga Tania.


"Astaga," sahut dokter Albert. "Bersihkan!" lanjutnya memerintah.


"Tapi ini mungkin akan merusak indung telur, dok," ucap asisten dokter cemas.


Lalu dokter melangkah melewati tirai pembatas.


"Mohon maaf, Mbak Tania. Kami harus membersihkan kista yang pecah dan mengenai indung telur anda. Ada kemungkinan indung telur tersebut untuk diangkat. Sebelumnya Kami mohon ijin untuk kemungkinan tersebut," ucap dokter Albert.


"Astaghfirullah, lakukan yang terbaik, dok," sahut Tania.


"Apakah anda mengijinkan kami untuk mengangkat indung telur anda? Itu artinya anda tidak bisa hamil lagi setelah ini," tanya dokter sekali lagi.


"Ya, saya mengijinkan, dok, jika itu memang satu-satunya cara. Lakukanlah," jawab Tania mantap. "Toh saya juga belum tentu akan menikah lagi di kemudian hari, dok," lanjut Tania dalam hati.


"Terima kasih, Mbak Tania," ucap dokter Albert. Dokter muda itu lalu memerintahkan kepada para asistennya untuk membersihkan kista yang masih bersarang di rahim Tania.


Sementara di luar ruang operasi. Seorang perawat membuka pintu luar.


"Keluarga nyonya Tania?" serunya kepada orang-orang yang ada di luar.


"Kami keluarganya, Sus," sahut Dewi mewakili.


"Suaminya nyonya Tania mana, Bu?" tanya suster.

__ADS_1


"Saya papanya, Suster," sahut Ardi menyela.


"Bapak yang mau membacakan azan buat sang bayi? Memangnya ayah si bayi di mana, Pak?" tanya suster itu lagi.


"Reza ke sini kamu," suruh Ardi melambaikan tangan.


"Sa-saya, Pak?" beo Reza.


Ini bukan sikap Reza seperti biasanya terhadap Ardi. Reza seketika shock. Ia yang belum pernah pacaran, belum pernah menikah juga, tiba-tiba ditodong untuk membacakan azan di telinga seorang bayi baru lahir. Apalagi ini adalah cucu dari sang majikan. Dengan langkah pelan Reza maju ke hadapan Ardi.


"Kamu muslim 'kan?" sergah Ardi


"Iya, Pak saya 100% muslim," sahut Reza.


"Ya sudah sana kau masuk ke dalam, bacakan azan untuk bayinya Tania," suruh Ardi lagi.


"Tapi, Pak. Saya tidak bisa," tolak Reza.


"Tolong, Nak Reza. Hanya mengadzani saja, kamu tidak kami mintai pertanggungjawaban kok," pinta Dewi memelas namun masih diselingi candaan.


"Tapi saya grogi, Bu. Saya belum pernah latihan," tolak Reza lagi.


"Jadi gimana ini, Bapak, Ibu? Siapa yang akan mengadzani bayinya nyonya Tania?" tanya suster memastikan sekali lagi.


"Biar saya yang mengadzaninya, Suster. Saya ayahnya," ucap seorang pemuda lagi tiba-tiba menyela. Kini perhatian orang-orang di depan ruang operasi tersebut tertuju kepada pemuda tersebut.


"Oh, anda ayahnya? Mari ikut saya," ajak suster kepada pemuda tersebut.


Pemuda menoleh ke arah Ardi untuk dan mengangguk untuk meminta ijin.


"Silakan, langsung masuk saja," ucap Ardi.


Pemuda itupun mengikuti langkah suster masuk ke ruangan yang ada di dalam ruang operasi. Di sana bayinya Tania terbaring di atas meja. Suster mengambilkan bayi tersebut lalu menyerahkan ke tangan pemuda itu. Pemuda itu menerima bayi dengan tangan bergetar.


"Hati-hati, Mas," ucap suster memperingati.


"Iya, Sus," sahut pemuda itu sambil memposisikan bayi dengan nyaman di kedua tangannya.


"Silakan, Mas," ucap suster lagi.


Pemuda itu memandangi wajah mungil sang bayi. Senyum mengembang di bibirnya. Lalu ia memposisikan wajahnya di telinga kanan sang bayi dan mulai membacakan azan. Suaranya mengalun dengan merdu.


Setelah selesai azan dan Iqamah, pemuda itu kembali mengamati wajah sang bayi tetapi kali ini tubuh si bayi ia pangku. "Assalamu'alaikum, Cantik. Kita ketemu lagi ya," sapanya. "Ini ayah, Sayang. Ayah sudah bacakan azan dan Iqamah untuk kamu. Mudah-mudahan kelak kamu menjadi seorang wanita yang salehah, patuh dan membanggakan orang tua, aamiin," imbuhnya lagi sembari mengecup kening sang bayi.


"Sudah selesai ya, Pak. Sekalian diberi nama langsung ya, Mas," ucap suster.


"Hah, saya yang harus kasih nama juga, Sus?" tanya pemuda itu shock.


"Iya sekalian, kan Mas ayahnya. Pasti sudah ada persiapan nama jauh-jauh hari dong," sahut suster.


"I - iya, Sus. Minta kertas dan pulpen ya," pinta pemuda itu.


.


.


.

__ADS_1


"Em


__ADS_2