2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Membuka Diri


__ADS_3

Tania, Abizar, Atar dan Nina pulang ke Jakarta diantar oleh Aris. Lama-lama Aris bisa beneran jadi sopir carteran nih yang nganter jemput penumpang. Kenapa enggak sekalian aja Aris jadi sopir travel?


Saat di tengah perjalanan Atar menangis kencang. Sudah dibujuk dan dirayu berkali-kali untuk diam dengan berbagai cara, tetapi tetap tidak mau berhenti juga.


"Disusui, Tan. Mungkin dia lapar," cetus Abizar.


"ASInya udah enggak mau keluar, Kak. Ini juga udah dibuatin susu formula sama Nina," ucap Tania yang masih membantu Nina menenangkan Atar.


Abizar menoleh ke belakang. "Sini, Atar sama Papa, Sayang," ajak Abizar kepada Atar.


Nina pun menyerahkan Atar kepada Abizar melewati celah di atas jok pembatas. Saat sudah bersama Abizar, Aris mengganti lagu kesukaannya dengan lagu anak-anak.


"O, ternyata Atar mau sama Papa ya, Sayang?" tanya Abizar kepada putra sambungnya saat anak laki-laki kecil itu diam ketika berada di pangkuannya.


"Mungkin dia kangen sama ayahnya," timpal Aris yang sedang menyetir.


"Susunya bawa ke sini, Nin?" pinta Abizar kepada Nina.


Nina berdiri agak membungkuk menyodorkan botol berisi susu formula untuk bayi yang tadi dibuatnya. Abizar menerima botol tersebut lalu mendekatkannya ke mulut Atar. Atar menghisap susu di dalam botol tersebut lewat ****** dengan rakus hingga anak kecil itu tertidur lelap bersandar nyaman di dada papanya. Suasana menjadi hening saat Atar telah tertidur.


"Ris, kalau ada rest area mampir ya," pinta Tania kepada Aris yang sedang fokus menyetir. Saat ini mereka telah masuk di jalan tol.


"Iya, Mbak. Mbak Tania mau buang air kecil ya?" kekeh Aris menebak.


"Iya," sahut Tania singkat. "Sekalian mau beli ubi Cilembu bakar, biasanya di rest area ada yang jual," imbuhnya.


Di dalam benak Tania terbayang nikmatnya makan ubi Cilembu bakar yang masih hangat, meskipun ubi Cilembu bakar yang dingin rasanya lebih enak dan manis dari pada yang hangat karena ubi yang sudah dingin sudah keluar madunya, tetapi Tania sedang ingin makan ubi Cilembu bakar yang masih hangat.


"Kamu lagi ingin makan ubi Cilembu bakar, Tan?" tanya Abizar.


"Iya, enak deh kayaknya," sahut Tania membayangkan sambil mengelus perutnya yang sudah mulai kelihatan membuncit.


Saat sampai rest area di daerah Cirebon, ternyata di sana hujan lebat.


"Jadi mampir enggak, Mbak? Hujan lebat di sini?" tanya Aris kepada Tania untuk memastikan sambil memelankan laju mobilnya.


"Terus saja, nanti berhenti di rest area selanjutnya saja yang tidak hujan," sahut Tania.


"Assiap!" sahut Aris.


Aris pun kembali menambah kecepatan mobilnya hingga sampai di rest area berikutnya.


"Jadi mampir enggak, Mbak Tania?" Aris kembali memastikan. Tidak ada jawaban dari arah belakang.


Abizar menoleh ke belakang. Ternyata benar dugaannya, Tania dan Nina sama-sama tertidur lelap.


"Orang yang ditanya lagi terlelap tidur, Ris. Sudah langsung saja, nanti beli ubi bakar di Jakarta juga banyak yang jual," lirih Abizar takut membangunkan dua perempuan yang duduk di kursi penumpang.


"Siap, Bos, tapi nanti Mas Bizar yang tanggung jawab loh kalau bumil uring-uringan," sahut Aris.


"Ya jelaslah aku yang tanggung jawab, aku kan sudah menikahinya. Memangnya kamu mau tanggung jawab nikahin lagi dia?" kekeh Abizar.


Aris pun ikut terkekeh. "Hehehe ... Mas Bizar bisa saja. Maksudnya kalau dia nanti marah sama aku bagaimana?" tanyanya diperjelas.


"Bilang saja Mas Bizar yang suruh biar cepat sampai di rumah. Kasihan Atar kalau terlalu lama dalam perjalanan," sahut Abizar.


Hari sudah larut malam saat Aris memarkir mobil di halaman rumah Ardiansyah. Pemuda itulah yang membangunkan Tania dan Nina karena Abizar langsung membawa masuk Atar ke dalam kamarnya setelah dibukakan pintu oleh Siti.

__ADS_1


"Mbak Tania bangun, sudah sampai," ucap Aris.


Tania membuka matanya, mengerjapkan sebentar menyesuaikan dengan lingkungan karena pencahayaan yang redup. "Sudah sampai di rest area ya, Ris?" tanyanya dengan wajah bingung khas orang bangun tidur, tetapi tidak melunturkan kecantikannya.


"Sudah sampai di rumah Tuan Ardi, Mbak," sahut Aris mengoreksi.


Wajah Tania seketika cemberut, ia memanyunkan bibirnya. "Kok? Memangnya enggak lewat rest area lagi?" tanyanya.


"Lewat doang, Mbak," kekeh Aris yang tidak membuat Tania ikut terkekeh.


"Pokoknya kamu harus belikan ubi Cilembu bakar yang masih hangat!" titah Tania.


Tania keluar dari mobil dan menutup pintu dengan sangat keras membuat Aris kaget dan Nina terbangun tanpa dibangunkan.


"Astaghfirullah, gara-gara Mas Bizar ini," gerutu Aris.


Tania dengan kesal masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia berfikir kamarnya yang di lantai bawah untuk kamar Atar yang tidur ditemani Nina. Namun ketika ia hendak membuka pintu, ternyata pintu kamarnya itu dikunci dari dalam.


Tania mengetuk pintu kamarnya. "Siapa di dalam?" serunya bertanya.


Tidak ada sahutan. "Huh, siapa sih yang tidur di kamarku?" gerutunya kesal.


Tania pun berbalik arah 180⁰ kembali ke tangga dan melangkah menuruninya. Saat di pertengahan tangga ia berpapasan dengan Abizar yang baru saja menidurkan Atar di kamarnya tengah menaiki anak tangga.


"Mau kemana kamu," tanya Abizar kepada Tania.


Tania menatap lurus ke arah Abizar. "Mau tidur di kamar Atar. Di kamar Tania ada yang pakai," sahut Tania. Abizar mengernyitkan alisnya mendengar penjelasan Tania. "Kakak mau tidur di mana? Wong kamarku dipakai orang," imbuhnya bertanya.


"Kamar Aghni kosong 'kan? Kakak mau tidur di kamar Aghni saja," sahut Abizar sambil terus melanjutkan langkahnya.


"Ikut," pinta Tania manja.


"Sama Nina," sahut Tania.


"Nina tadi tidur di kamarnya kayaknya," ucap Abizar.


"Ya udah kita tidur di kamar Atar saja bertiga. Atar kan tidur di box, kasurnya kosong 'kan," cetus Tania mengajak Abizar untuk tidur bersama.


Tania langsung menggandeng tangan Abizar untuk berbalik menuruni anak tangga. Dengan langkah alot Abizar menyeret langkah nya mengikuti langkah Tania. Sampai di dalam kamar mereka berbaring berhadapan.


"Memangnya kamu menganggap serius pernikahan kita?" tanya Abizar yang ingin mengorek keterangan tentang perasaan Tania terhadapnya. Abizar kira Tania hanya terpaksa menjalani pernikahan dengan dirinya, hanya formalitas saja untuk menunaikan amanah dan wasiat almarhum Edos.


"Enggak ada salahnya 'kan Tania mencoba serius, Kak? Kita kan udah sah menikah," tanya Tania.


"Tapi kenapa pas kita nikah kamu nangis-nangis sampai semaput gitu?" tanya Abizar lagi.


"Kan waktu itu Tania enggak mau nikah sama kakak, kakak itu udah seperti kakak kandung Tania sendiri. Kalau sekarang kita kan udah terlanjur nikah resmi secara agama dan negara, kenapa enggak kita coba untuk serius menjalani pernikahan ini? Tania juga enggak mau mempermainkan sebuah pernikahan. Pernikahan itu sakral, tanggung jawabnya sampai kehidupan kita setelah meninggal," sahut Tania panjang lebar memandang ke arah Abizar.


"Begitu?" tanya Abizar yang dibalas anggukan oleh Tania.


"Kakak sendiri, gimana perasaan kakak sama Tania? Kenapa sekarang manggil Tania jadi kamu-kamu padahal sejak dulu manggilnya 'dek'? Enggak ada sayang-sayangnya pas udah jadi istri," gerutu Tania bertanya.


"Sama," sahut Abizar singkat.


"Sama apanya?" selidik Tania.


"Ya sama kayak jawaban kamu tadi. Kita coba menjalani pernikahan ini," sahut Abizar lagi.

__ADS_1


"Ih, ikut-ikutan enggak kreatip," cebik Tania memanyunkan bibirnya.


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Tania.


"Kakak, bilangnya enggak boleh nyentuh aku, tapi chori-chori cupke-cupke" cicit Tania pura-pura protes terhadap tindakan Abizar, padahal di hatinya menertawakannya. "Hahaha, suamiku ciumannya kok gitu amat, masih amatiran. Apa dia enggak pernah ciuman, jangan-jangan enggak pernah pacaran?"


"Kamu sih mancing-mancing. Lagian kan cuma itunya yang enggak boleh dimasuki, disentuh boleh. Lainnya juga 'kan boleh," sergah Abizar.


"Kakak enggak pernah pacaran ya?" selidik Tania.


"Pernah dulu waktu sekolah SMA. Dia mutusin kakak karena bosan dengan gaya pacaran kakak," ungkap Abizar.


"Pacar kakak itu agresif?" tanya Tania lagi.


"Enggak juga," sahut Abizar.


"Apa cewek itu sekarang udah nikah," tanya Tania lagi.


"Kakak tidak pernah mendengar kabarnya lagi setelah kita lulus dan Kakak kuliah di Jepang," sahut Abizar.


"Cewek mana mantan pacar kakak itu?" tanya Tania.


"Dulu rumahnya dekat alun-alun Batang, tapi orang tuanya aslinya dari Bandung," sahut Abizar.


"Gadis itu cinta pertama Kakak?" tanya Tania lagi.


"Bukan, kakak jadian sama dia cuma karena tantangan, makanya ketika kita putus, Kakak enggak merasa kehilangan," sahut Abizar memandang ke arah Tania lekat-lekat.


"Tantangan?" beo Tania.


"Iya, dulu satu geng teman-teman kakak itu punya cewek semua, cuma kakak yang enggak punya. Jadi teman-teman kakak jodohin kakak sama dia," ungkap Abizar.


"Memangnya Kakak enggak punya cewek yang ditaksir?" selidik Tania.


"Ada, dia cewek dari masa kecil Kakak. Kakak sangat mencintainya, tetapi Kakak tidak mampu untuk mengungkapkan cinta kepadanya," ungkap Abizar.


"Cewek yang kakak sukai sekarang udah nikah?"


"Sudah, udah ah enggak usah bahas itu lagi lah. Kita kan udah menikah. Memangnya kamu enggak cemburu apa tanya-tanya tentang cewek yang kakak cintai?" sergah Abizar. "Tidur udah malam banget ini, kakak juga ngantuk banget, capek lagi," imbuhnya sambil memejamkan mata.


Abizar mencoba memutuskan obrolan dengan Tania, padahal di bawah sana si Joni sudah memberontak ingin keluar dari sangkarnya dan masuk ke dalam sarang yang lain.


Tania yang belum memejamkan mata menahan tawa melihat wajah suaminya cengar-cengir menahan sesuatu sambil memegangi benda pusakanya. "Kakak kalau udah tidur kenapa cengar-cengir gitu?" tanyanya sok polos padahal di dalam hati tertawa cekikikan.


"Tania!" lirih Abizar geram masih dengan mata terpejam. Ia menahan suaranya agar tidak mengganggu Atar yang sedang terlelap tidur di box bayi.


Tania malah tertawa. "Kakak kalau butuh bantuan Tania, Tania siap membantu kok," ucapnya menawarkan, tetapi sesaat kemudian ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Ups, keceplosan," ucapnya lagi.


Seketika Abizar membuka matanya. "Membantu, maksud kamu?" tanyanya tidak percaya dengan apa reaksi istri cantiknya.


"Begini, Kak," ucap Tania seraya bangkit dari posisi berbaring. Dalam posisi duduk perempuan itu membuka resleting celana sang suami yang tampak menyembul. Abizar menyaksikan saja apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Lalu Tania membungkukkan kepalanya untuk menunaikan tugasnya.


Abizar mengerang menahan nikmat sambil memandangi langit-langit kamar. Nikmat yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.


__ADS_1


Terima kasih pembaca setia😘😘😘


__ADS_2