2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
#Dadakan


__ADS_3

Sujud Pertemuan


Bila telah tersurat sebuah takdir


Kubimbing sama rindu yang bersemayam di hatimu


Aku bersujud di atas pertemuan ini


Yang Tuhan menjadi saksi sebuah ikatan


Ijinkan aku mencintaimu


Apapun dirimu adanya


Akan kucoba tetap setia


Begitu pun aku adanya


Cobalah untuk tetap setia


Ijinkan aku mencintaimu


Meski mulanya kau asing bagiku


Dan aku pun aneh di hadapanmu


Tetaplah di sini menjadi pengantin sejatiku


Kita tak pernah sempurna


Ingat-ingatkanlah aku dengan cintaNya


_________________________


Pagi hari adalah awal bagi kita untuk memulai aktivitas dalam hidup kita.


Perlu kita pahami saat masih mampu terbangun, kita masih diberi kesempatan untuk kembali menikmati kehidupan.


Pagi itu sekitar pukul 09.00 WIB Edos datang ke rumah Tania, tetapi sampai di depan rumah Tania keadaan sangat sepi.


Tania kemana ya?


"Assalamu'alaikum, Tania!... Sayang." ucap Edos sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah Tania yang sejak ayahnya meninggal tinggal sendiri di rumahnya.


"Mas Edos nyari Tania ya?" tanya tetangga Tania yang kebetulan lewat.


"Iya, Bu. Ibu tahu di mana Tania?" sahut Edos.


"Sudah tiga hari ini dia ikut bibinya buruh metik daun teh, Mas, di kebun tehnya Mas Edos." jelas Wanita itu.


"Oh..ya udah makasih, Bu. Saya permisi mau nyusul dia." pamit Edos.


Motor gede milik Edospun melesat pergi hanya meninggalkan suara derunya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara di sebuah kebun teh milik keluarga Edos, seorang gadis sedang beristirahat sambil meneguk air dalam kemasan botol plastik yang dibawanya dari rumah. Dia berteduh di bawah sebuah pohon beringin dan menyandarkan punggung kirinya pada pohon tersebut.


Tiba-tiba ada seseorang yang menutup matanya dari belakang.


"Yank!" panggil Tania.


Edos melepaskan tangannya, namun ia menyandarkan dagunya pada pundak Tania. Taniapun menyerahkan air minum yang dipegangnya kepada Edos. Edos menerimanya, ia duduk disamping Tania dan meneguk minuman tersebut.


"Sejak kapan kamu kerja di sini, Say?" tanya Edos.


"Baru tiga hari, Yank." sahut Tania mengipasi wajahnya dengan kain selendang.


Edospun menatap gadis yang dicintainya tersebut dengan cara seksama dan tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ada rasa kasihan yang terbersit dan menggelayut di hatinya.


"Kamu ngapain di ke sini? bukannya ini hari terakhir kamu di Indonesia?" tanya Tania dengan tatapan kosong kedepan.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersama orang yang kucintai, sebelum aku meninggalkan negara ini, memang nggak boleh?"


"Kedatanganmu kesini semakin menambah berat bebanku untuk melepas kepergianmu." bulir-bulir bening mengalir dari sudut mata Tania.


Edos menangkup pipi Tania dengan kedua telapak tangan, menarik untuk menghadapnya, mau tidak mau akhirnya mata Tania meratap mata Edos.

__ADS_1


"Ikut aku saja yuk! aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini." bujuknya.


"Kalau sampai papamu tahu tentang hubungan kita, maka dia akan menghentikan semua fasilitas yang diberikannya ke kamu, kamu mau nanti kita jadi gelandangan di negeri orang? sementara kamu tidak punya pengalaman kerja." terang Tania.


"Nggak apa-apa, aku siap jadi gelandangan asalkan bersama kamu, say." sahut Edos serius.


"Pikirkan lagi dengan hati yang jernih, Yank! aku sudah terbiasa hidup menderita karena keterbatasan materi, Kita tidak hanya butuh cinta untuk bertahan hidup."


Hati Edos pun luluh,


"Baiklah, tapi siapa yang akan menjagamu jika aku pergi, apa kamu sanggup menungguku hingga aku kembali nanti?"


"Aku masih punya paman dan bibi, saudara sepupuku juga sering menginap di rumahku. Aku berjanji dengan sekuat hatiku, Insya Allah aku akan menunggumu hingga kamu kembali, Yank. Kembalilah sebagai Edos yang siap dan mampu menjadi imamku."


Ponsel Edos berdering, ada panggilan dari Mamanya disana, Edos menggeser tanda hijau.


"Edos, Kamu dimana, Nak?" suara seorang wanita tanpa mengucap salam.


"Assalamu'alaikum, Ma. Edos lagi di rumah teman, Ma. Lagi pamitan."


"Wa'alaikumussalam, jadwal keberangkatan pesawatnya tinggal beberapa jam lagi, kamu kok belum siap-siap, Jangan buat papa kamu marah, Sayang!"


"Iya, Ma. Bentar lagi aku pulang, Edos lagi pamit sama temen-temen Edos, Ma."


"Mama tunggu, Sayang. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam, Ma."


Tania berdiri, ia melangkahkan kakinya ke depan, memandang hamparan kebun teh yang luas, menghirup udara yang sejuk, dan membuang segala gundah.


Edos menghampiri Tania,


"Pergilah!" perintah Tania yang masih membelakangi Edos.


"Bahkan sampai kita akan berpisahpun, kamu tidak mau memelukku?"


"Nggak ada," tukas Tania.


"Nggak mau aku antar pulang juga?"


"Nggak usah," tolak Tania.


Dia benar-benar mau meninggalkan aku, batin Tania ketika melirik ke arah Edos.


"Masih berdiri di situ saja, mau jadi ikan kering kamu." hardik Edos.


"Ck.. jahat!" Tania melangkah dan duduk di belakang Edos.


"Sayang, aku buru-buru. Kalau nanti kamu jatuh di rerimbunan teh, terus nggak ada yang melihat kamu bagaimana? pegangan donk, Say!"


Tania mendengus kesal.


"Nanti baju kamu bau keringatku."


"Nggak apa-apa buat kenang-kenangan nanti kalau aku sudah sampai di Jepang."


Taniapun memeluk tubuh Edos dari belakang, ia juga membenamkan wajahnya di punggung kekar Edos. Edos melajukan motornya.


Edos merasakan punggungnya basah, tidak tahu pasti apa itu keringatnya atau air mata Tania, yang pasti sesaat kemudian ia mendengar Isak tangis dari Tania. Tangan kiri Edos akhirnya melepaskan diri dari stang motor dan mengusap punggung tangan Tania.


Tania yang merasa bahwa perjalanan pulangnya kali ini sangat lama, bahkan lebih lama dari perjalanan pulangnya dengan jalan kaki yang hanya butuh waktu 15 menit saja untuk sampai ke rumahnya, iapun membuka matanya, melihat ke sekeliling.


"Yank?"


"Oii,"


"Sejak kapan jalan dari kebun teh ke rumahku lewat jalan ini?"


"Sejak sekarang, Say."


Motor yang mereka kendarai berhenti di depan sebuah butik.


"Tidur, Say?"


"Enggak, pulang yuk!"


"Kok pulang? udah sampai sini nanggung."

__ADS_1


"Kamu tega, pakaianku compang-camping gini kamu ajak ke sini, jahat kamu, Yank."


"Waktunya mepet, Say. Ayo turun."


Tania turun dari atas motor Edos, ia kemudian melepas selendang dan juga baju luarannya. Baju-baju tersebut di letakkan di atas motor Edos, kini yang tertinggal adalah setelan piyama lusuhnya.


Bahkan dia belum sempat mandi waktu tadi pagi berangkat kerja ke kebun teh. Ia nampak ragu-ragu hendak berbuat karena tidak tahu apa maksud Edos sebenarnya datang ke sini.


Edos dengan setia menunggu pergerakan Tania yang lambat seperti siput. Ketika Tania terlihat sudah melepas pakaian kumalnya, dengan segera Edos menarik tangannya untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam butik.


Tania masih sangat ragu-ragu, apalagi ketika sandal jepitnya mulai menapaki lantai granit yang berkilauan benar-benar tidak singkron dengan keadaannya. Edos benar-benar sudah keterlaluan.


Sepanjang jalan Tania hanya menundukkan kepala sambil menggerutu kesal dengan aoabyang dilakukan kekasih hatinya. Malu jika bertemu dengan orang-orang yang ada di sana, pakaian yang mereka kenakan rasanya berbanding terbalik dengan yang dia pakai.


Seorang pramuniaga butik itu menyapa mereka,


"Selamat siang, Mas dan Mbak, ada yang bisa kami bantu?"


"Kami butuh kebaya pengantin yang sudah ready, Mbak, untuk calon istri saya." sahut Edos.


Seketika mata Tania melotot tak percaya menatap Edos.


"Yank?"


"Mari ikut kami!" Pramuniaga tersebut mengajak mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan. "Silahkan duduk, Mas, Mbak!"


Tania meraih tangan Edos,


"Kamu yakin, Yank?" tanya Tania yang masih ragu pada kekasihnya. Edos hanya tersenyum manis.


Pelayan butik tadi datang mendorong gantungan baju seperti troli yang berisi kebaya pengantin di sana.


"Ini kokeksi kebaya pengantin kami, silahkan dicoba."


Tania bangkit mengambil 3 hanger baju dan pergi ke ruang pas. Sebentar kembali dengan kebaya telah membalut tubuhnya, meminta pendapat Edos.


Cantik banget calon istriku.


"Yank?... gimana?"


Edos masih bengong,


"Yank?"


"Eh iya, Say. Yang itu saja." jawab Edos gelagapan. "Mbak, tolong bungkus yang itu!" ucapnya pada sang pramuniaga.


"Baik, Mas,"


Tania masuk kembali ke ruang pas untuk mengganti bajunya lagi dengan baju semula. Ia keluar lagi dan menyerahkan kebaya tadi pada pelayan yang menungguinya untuk dikemas.


"Silahkan ambil di kasir ya, Mbak!" kata pelayan butik memberikan nota.


Tania menyerahkan nota tersebut pada Edos


"Tunggulah di luar!" suruh Edos.


"Enggak ah, kamu mau aku diusir satpam gara-gara mereka kira aku gelandangan." tolak Tania.


"Hahaha, Emang kamu gelandangan, kan?"


"Oh tidak, tuduhanmu itu sangatlah kejam, Eduardo, aku masih punya gubuk derita. Apa kamu mau tinggal di gubuk derita bersamaku, Eduardo?"


"Tidak, Esmeralda. Kita akan merantau ke Jakarta bersama. Ada temanku Ferguso yang menawariku pekerjaan." jawab Edos.


Setelah membayar pesanan, mereka berlalu meninggalkan butik tersebut. Edos mengantarkan Tania sampai di rumahnya.


"Kamu punya fotokopi KTP dan KK Nggak? biar sekalian aku bawa." pinta Edos.


"Sebentar aku lihat, ada atau tidak." sahut Tania yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sejenak kemudian dia keluar,


"Adanya fotokopi KTP doang, Yank. KKnya asli." tutur Tania sambil menyerahkan kertas yang dipegangnya kepada Edos.


"Ya udah, sini aku fotokopikan sekalian," sahut Edos. "Nanti malam aku ke sini lagi, kita bareng ke rumah pamanmu." ucapnya lagi.


Tania hanya melongo dengan ucapan Edos, hingga Motor Edospun berlalu dari tempat itu. Tania tidak mengerti, namun ia menyimpan saja berbagai pertanyaan dalam benaknya.

__ADS_1


Happy Reading 😊😊😊


__ADS_2