2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Akhirnya ditemukan


__ADS_3

Sang Surya telah berbaring di peraduannya, diiringi suara azan yang berkumandang. Sang jingga kini mulai meredup berganti sendyakala. Cahayanya pendar di angkasa, jangkrik pun telah bernyanyi riang gembira melengkapi malam yang hampir tiba. Seiring malam yang mulai menjelang


Rifki memarkirkan sepeda motornya di area parkir rumah sakit Harapan Jayakarta. Dengan langkah panjang ia ayunkan menuju ke arah ruang rawat inap tempat Tania dirawat. Ia langsung saja masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucap salam. Di tangannya ia menyangking kantong kresek.


Menyadari kehadiran Rifki, Tania memanyunkan bibirnya. "Kenapa Mas Rifki sampainya baru sekarang?" tanyanya.


"Mas Rifki capek, Tan. Sejak keluar dari sini tadi pagi, mas baru bisa istirahat jam dua siang," jawab Rifki. "Nih, Tas kamu dan beberapa pakaian, asal comot saja Mas enggak tahu milihnya," ucapnya menyodorkan kantong kresek ke pangkuan Tania.


Tania membuka kantong tersebut dan membuka tas selempang miliknya. Satu yang utama yang ia cari adalah ponselnya, ia merogoh ke dalam tas. Ketemu.


"Yah, hapenya mati. Kenapa enggak bawa charger sekalian sih, Mas." tanya Tania lagi hampir saja menangis


"Mas Rifki enggak tahu, Mas belum sempat buka tas," sahut Rifki.


"Percuma dong dibawa kemari kalau enggak bisa dipakai?" sesal Tania mulai kesal sendiri.


"Kamu mau menelpon Edos? Nih pakai ponsel Mas Rifki saja," ucap Rifki menyodorkan hapenya. Tania menerimanya.


Tania mulai melakukan panggilan telepon ke nomor HP Edos. Namun sudah berulangkali mencobanya, tetap saja sang operator bilangnya selalu di luar jangkauan atau sedang tidak aktif.


Tania menyerahkan Ponsel Rifki kembali kepada yang empunya. "Enggak diangkat, Mas," keluhnya.


"Udah, jangan nangis lagi. Kamu udah kebanyakan nangis dari tadi pagi, mukamu jadi jelek tahu," bujuk Rifki.


"Kenapa Edos tidak Mas Rifki ajak sekalian ke sini?" tanya Tania.


"Edos sudah dijemput orang tuanya kemarin sore, Tania," ucap Rifki. "Katanya sekarang mereka tinggal di rumah mamamu, apa mamamu tidak cerita?" tutur Rifki kemudian beralih bertanya.


"Kenapa Bunda enggak cerita, apa mereka sengaja mau memisahkan kami?" tanya Tania dengan mata kembali barkaca-kaca.


"Dibilangin jangan nangis lagi, Mas Rifki tidak tahu, Tania," jawab Rifki. "Ibu kemana?" tanyanya kemudian.


"Ibu ke mushola untuk sholat, mungkin sekalian beli makanan untuk makan malam," jawab Tania.


Sementara itu, Edos bersama kedua orangtuanya sedang menunggu jadwal penerbangan 15 menit lagi. Mereka sedang mengantre pemeriksaan barang.


Edos mengetik pesan WhatsApp yang berisi kata-kata perpisahan walaupun nomor telepon Tania tidak pernah aktif ketika dihubungi.


Anda


[Maafkan aku, Tania. Aku pergi ke Singapura untuk berobat. Jaga diri kamu baik-baik sampai aku kembali, Sayang. Aku kangen kamu, semalam saja tidak tidur bersamamu rasanya seperti satu tahun. I love you istriku Sayang. Emmuach😘😘😘]


Nurlita mendorong kursi roda yang diduduki oleh Edos hingga ke tangga masuk ke pesawat, setelah itu kursi roda tersebut dilipat, dan Edos dibimbing naik ke atas. Dengan berat hati Edos meninggalkan Tania, hatinya rasanya hampa pergi tanpa Tania.


Ini demi kebahagian kita, Sayang. Bersabarlah menjalani hari-harimu tanpa aku. Aku akan kembali secepatnya untuk menjemput kamu. Dan kita akan menjalani hidup bersama-bersama sampai tua. harapan Edos dalam hati.


Pesawat yang ditumpangi Edos kini telah lepas landas. Aris yang mengantar mereka telah kembali ke rumah keluarga Ardiansyah. Dia memarkirkan mobilnya di garasi.


Sampai di dalam ruang tengah, Aris bergabung dengan Sisi dan Aghni yang sedang menonton acara televisi bersama. Mereka duduk di atas karpet bulu. Aris menghampiri mereka dan duduk di sofa. Sisi memandang ke arah Aris.


"Mas Aris, Bude Lita dan Pakde Burhan kan sudah pergi, Kita di sini kan orang asing, kita mau pulang kapan?" tanya Sisi pada Aris. "Lagian liburan akhir semesterku juga sudah habis, Aku harus kembali sekolah Mas," imbuhnya.


"Kita cari kak Tania sampai besok pagi, kalau besok pagi tidak ketemu juga, kita langsung pulang," jawab Aris.


Aghni yang mendengar tentang Tania ikut menimpali. "Kak Tania? Bukannya kata Mama sekarang ada di rumah sakit?" timpal Aghni.


"Apa? Kak Tania di rumah sakit? Kamu tahu dari mana, Aghni?" tanya Sisi antusias.


"Dari Mama, tadi sore mama baru pulang dari sana," jawab Aghni.


Abizar yang baru selesai sholat isya' ikut bergabung dengan mereka. Ia menghempaskan pantatnya di sofa di samping Aris.


"Tania di rumah sakit? Sejak kapan? Kenapa Bulek tidak menceritakan pada kami?" tanya Abizar.


"Tidak tahu," jawab Aghni mengedikkan bahunya. "Bentar lagi Mama mau kembali ke sana untuk menemani Kak Tania," tambahnya.


Dewi dan Ardi turun dari lantai dua mendekat ke arah mereka.


"Bude mau jenguk Kak Tania? Sisi ikut," ucap Sisi pada Dewi.


"Ayo ikut semua! Abizar atau Aris nih yang nyetir?" tawar Dewi.


"Mas Bizar saja," jawab Aris.


"Pakai Xpander saja ya, Bizar. Biar muat banyak," perintah Ardi memberikan kunci mobil pada Abizar.


"Baik, Om," sahut Abizar.


Abizar menerima kunci mobil, kemudian bergegas mengambil mobil di garasi, membawanya ke halaman.

__ADS_1


"Ayo, mobilnya sudah siap tuh," ajak Dewi.


"Kamu bareng aku, Yank. Jok paling belakang," ajak Aris pada Sisi.


"Iya," sahut Sisi.


Abizar melajukan mobil yang dikendarainya meninggalkan rumah keluarga Ardiansyah.


"Nanti di sana jangan masuk semua sekaligus ya, per dua orang saja," pinta Dewi.


"Iya Bude, tapi Sisi masuk duluan ya," pinta Sisi. "Sisi sudah kangen banget dengan Kak Tania," imbuhnya.


"Aghni juga pengen ketemu Kak Tania yang katanya mirip banget sama Aghni," timpal Aghni.


"Ya udah, kita barengan saja kloter pertama, Aghni," ajak Sisi


"Oke," sahut Aghni.


Abizar memarkirkan mobil yang dikemudikannya dengan sempurna di area parkir Rumah Sakit Harapan Jayakarta. Satu persatu yang ada di dalam mobil tersebut ke luar.


"Ingat, ya! Sisi sama aku yang masuk duluan," tukas Aghni. Dewi hanya menggelengkan kepalanya.


Sampailah mereka di depan ruang rawat inap Tania. Sisi mengetuk pintu kemudian masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Aghni.


"Sisi?"pekik Tania. Tania bangun dan duduk.


"Kak Tania," balas Sisi memeluk Tania.


Bu Retno dan Rifki yang sebelumnya ada di dalam ruangan menemani Tania, kini mereka keluar untuk memberi ruang kepada Sisi dan Aghni bertemu dengan Tania. Sisi mengurai pelukannya, menatap lekat-lekat kakak sepupu satu-satunya.


"Kenapa keadaan kakak seperti ini? kita pulang ke kampung saja ya, Kak. Kalau kakak sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini." ucap Sisi melihat kakak sepupunya yang memprihatinkan, Tania tidak menjawab ajakan Sisi.


"Kamu ke sini sama siapa, Dek?" tanya Tania.


"Aku ke sini sama Bude Lita sama Pakde Burhan, Kak. Tapi mereka sudah pergi ke Singapura, mengantar Kak Edos berobat," jawab Sisi.


Tania Membelalakkan matanya. "Kak Edos ke Singapura?" tanyanya.


"Kakak kemana saja? dari kemarin kak Edos mencari Kak Tania, ditelpon juga nomor handphone Kakak enggak pernah aktif." tanya Sisi.


"Kakak belum bisa cerita sekarang, Dek," jawab Tania.


Sisi menggeser tubuhnya duduk di ujung brangkar, hanya menyaksikan pertemuan kakak beradik berbeda ayah tersebut dengan tersenyum, pertemuan yang baru kali ini terjadi sejak mereka dilahirkan di muka bumi ini.


"Kak Tania," ucap Aghni memeluk sang kakak. "Aku Aghni, Kak. Adik kak Tania, anak yang dilahirkan oleh Mama Dewi setelah kakak. Aghni merenggangkan pelukannya. Menatap lekat-lekat wajah sang kakak yang baru kali ini dilihatnya.


"Katanya wajah kita mirip," ucap Aghni mengusap wajah Tania.


Kedua perempuan itu saling mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang melekat di hadapan mereka masing-masing.


"Kakak Tidak pernah menyangka kalau kakak mempunyai saudara kembar," ucap Tania.


"Iya, kita cuma beda dua tahun, Kak, kata Mama," Aghni menimpali.


"Kak Bizar juga ikut ke sini lho, kak," ucap Sisi


"Kak Bizar? Kemarin malam kakak ketemu dia dan Pakde Burhan," ucap Tania. "Dia belum kembali ke Jepang?" tanyanya.


"Belum, Kak. Aku panggilkan ya?" tanya Sisi. Tania mengangguk tanda setuju. Sisi melangkah keluar dari ruangan untuk memanggilkan Abizar. "Kak Bizar, Kak Tania pengeng ketemu sama Kakak," ucapnya pada Abizar.


Abizar melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Tania," panggilnya.


"Kakak," Balas Tania.


Abizar mendekat, duduk di tepi brangkar di samping Tania lalu memeluk Tania dari samping. Tania melingkarkan tangannya di pinggang Abizar. Abizar menciumi puncak kepala Tania.


Kalau saja kamu mau menurut ajakan papa, mungkin kemarin malam, mungkin nggak akan kejadian malam naas itu, Kasihan nasibmu, Sayang. Batin Abizar menangisi nasib adik sepupunya


"Kakak sudah tahu semuanya, Bu lek Dewi sudah cerita," tutur Abizar.


"Pasti sekarang Kakak benci dan jijik sama aku," terka Tania.


"Enggak lah, Tania. Kamu itu adik kakak yang paling kakak sayang, mana mungkin kakak benci dan jijik sama kamu," sangkal Abizar.


"Kak Bizar pilih kasih, ih," seru Aghni. "Waktu itu Kakak Aghni peluk lengannya doang aja dikibaskan, bukan mahram," protes Aghni.


Abizar tertawa melihat sikap Aghni. "Ya udah sini Kakak peluk, Sisi mau dipeluk sama Kak Bizar juga? sini!," serunya.

__ADS_1


"Ih, sorry ya Kak, bukan mahram.,"


"Hehehe, ternyata banyak ya cewek yang suka sama kakak," ucap Abizar bangga.


Setelah kedatangan mereka, kondisi Tania kini menjadi lebih baik, merasa menjadi orang yang disayang semua orang, setidaknya bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dari Edos dan Laila majnun itu.


Bu Retno dan Rifki pamit pulang dan berjanji akan datang besok pagi, sementara malam ini Tania ditemani oleh Sisi dan Dewi. Aris, Ardi, Aghni dan Abizar juga pamit pulang. Sisi tidur di sofa, Sementara Dewi sekarang sedang memeluk Tania dan berkali-kali menciumi pipi dan puncak kepalanya.


"Bunda, ceritakan pada Tania, kenapa dulu Bunda meninggalkan Tania?" pinta Tania.


"Panggil Mama saja ya, Sayang. Seperti anak-anak Mama lainnya memanggil Mama," pinta Dewi. "Mama akan menceritakan semuanya," tuturnya.


"Mama," panggil Tania.


Dewi mulai bercerita dari awal hingga akhir mengapa ia meninggalkan Tania, perasaannya kini menjadi plong, ada raut bahagia di wajahnya bisa memeluk anak yang selama ini dirindukannya, anak yang selama ini menolaknya karena spekulasi yang dibuat oleh mantan suaminya hingga dia tiada.


"Mama minta maaf, Sayang. Selama ini tidak dapat maksimal memperjuangkan Tania," ucap Dewi.


"Tidak apa-apa, Ma. Semua terjadi karena keadaan dan takdir. Maafkan Tania juga sudah menolak dan meragukan kehadiran Mama. Tania senang, orang yang selama ini Tania anggap sudah meninggal ternyata masih hidup," tutur Tania.


"Mama juga bahagia, kenapa tidak dari dulu-dulu kita dipertemukan," sesal Dewi.


"Semua sudah menjadi kehendak Sang Yang Maha Kuasa, Ma," tutur Tania.


"Sudah malam, tidur ya Sayang, Mama akan jagain kamu di sini," ucap Dewi.


Tania merebahkan tubuhnya, Dewi mengelus-elus rambutnya. Tania terus memandangi wajah mamanya yang duduk di kursi di samping brangkar dan menyandarkan tubuhnya di tepi brangkar.


Ternyata begini rasanya mendapat kasih sayang dari seorang Mama. Terimakasih ya Allah, Kau ganti semua penderitaan ku dengan kasih sayangnya. batin Tania merasa bahagia.


Tania mulai terlelap, Dewi menggelar karpet dan tidur di bawah. Suasana malam semakin hening, suara roda-roda dan tapak kaki bersepatu mulai jarang terdengar, terlelap dalam mimpi yang indah.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sang Surya telah berdiri tegak di ufuk timur, cahayanya terlihat masih lembut selembut sutra. Membelai tubuh alam dan orang-orang yang mengharapkan manfaat darinya.


Pagi-pagi sekali Rifki telah mengantarkan ibunya, Bu Retno di depan rumah sakit, karena sebelum pukul tujuh tepat ia harus sudah sampai di apartemen Bram. Bu Retno langsung masuk ke dalam ruang rawat Tania.


Hari ini Tania sudah diperbolehkan pulang. Dewi membujuknya untuk pulang ke rumahnya.


"Pulang ke rumah Mama ya, Sayang!" bujuk Dewi pada anak sulungnya.


"Tapi barang-barangku masih di rumah Bu Retno, Mama."


"Biar nanti malam diantar Mas Rifki kalau dia sepulang kerja," tutur Bu Retno.


Tania masih berfikir cara untuk menolak tinggal di rumah mamanya, Dewi. Bagaimanapun juga itu adalah rumah papa tirinya, orang tua Bram, orang yang telah menggagahinya dengan paksa. Karena saat ini ia tidak mau bertemu dengan orang tersebut.


"Tania mau tinggal di rumah Mama kalau Ibu mau menemani Tania tinggal di sana juga," Tania mengajukan syarat. Ini sungguh permintaan yang sulit buat Bu Retno.


"Kalau Ibu tinggal bersama kamu, terus yang ngurus Bapak sama Mas Rifki siapa, Nak?" tanya Bu Retno bingung mengambil keputusan, ia kan juga harus kembali bekerja membuka warung gado-gadonya.


"Bu, saya mau bicara sebentar," ucap Dewi meraih tangan Bu Retno. Ia menarik tangan Bu Retno pelan ke luar dari ruangan.


"Bu, selama ini saya merindukan Tania, bertahun-tahun saya berpisah dengan Tania, dan baru kemarin saya bertemu dengannya. Saya mohon, Bu. Tolong temani Tania tinggal di rumah saya. Saya berjanji akan menggaji ibu, asalkan Tania mau tinggal di rumah saya." tutur Dewi memohon.


Bu Retno sejenak berfikir, "Baiklah, tapi hanya siang hari ya, Dek Dewi. Kalau malam saya pulang ke rumah saya," ucapnya.


"Iya, Bu. Tidak apa-apa kalau Tania mau menerima," ucap Dewi. "Mari kita temui Tania, Bu," ajaknya.


Mereka kembali masuk ke dalam ruangan. Bu Retno mendekat ke arah Tania.


"Nak, ibu mau menemani kamu tinggal di rumah mamamu, tapi siang hari saja ya. Malam hari ibu harus menemani Bapak," tutur Bu Retno.


Aduh, kenapa ibu malah menerimanya sih, padahal maksudku enggak mau tinggal di rumah itu. gerutu Tania dalam hati.


.


.


.


**TBC


Terimakasih telah berkunjung


Terimakasih atas like komen n vote kalian


Rate 5 juga tak ketinggalan

__ADS_1


😍😍😍**


__ADS_2