2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Nyidam


__ADS_3

Teplek teplek


Tania menghentak-hentakkan kakinya yang beralaskan sandal jepit itu keras-keras. Ia merasa kecewa yang sangat dalam karena keinginannya tidak bisa terpenuhi. "Jadi suami kok tidak peka, tidak ada siaga-siaganya. Ini juga bukan keinginanku. ini kan keinginan anaknya," gerutunya kesal.


Sampai di depan pintu kamar, langkah Tania terhenti. Ia kini berpindah haluan. Ia berbalik menuju ke arah ruang makan.


Tania duduk pada salah satu kursi di meja makan. Ia duduk dalam keremangan karena tidak tahu letak saklar lampu ruang makan tersebut berada di mana. Kedua telapak tangannya menopang dagunya. Pertahanannya jebol, air matanya mengalir deras tidak bisa dibendung lagi. Dia teringat seseorang, waktu Tania kecil ia selalu sarapan serabi Kalibeluk dengan rasa gula merah.


"Simbah, Tania ingin makan serabi buatanmu, Mbah," rintihnya.


Pyaar


Lampu seketika menyala, Edos memandangi wanitanya yang termenung sendirian. Perasaannya sakit melihat wanitanya menangis, hatinya terasa ngilu. Edos meneruskan langkahnya menuju ke kamar Likha.


Tok tok tok


"Mbak Likha!" panggil Edos.


Berulangkali Edos mengetuk pintu dan memanggil nama si empunya kamar, namun tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut. Dengan langkah gontai, Edos hendak kembali dan menghampiri Tania. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara pintu di belakangnya dibuka.


Ceklek


Edos menoleh ke belakang, nampak Likha menyembul dari balik pintu yang hanya dibuka sepertiga saja. Mencari siapa yang telah mengetuk pintu kamarnya.


"Mas Edos!" panggil Likha. "Ada perlu apa?" tanyanya dengan tangan masih mengucek-ngucek mata.


"Tania, Mbak. Katanya pengen makan serabi Kalibeluk yang baru matang dari tungku, Mbak," ungkap Edos.


"Umm, jam segini hujan lagi, apa Mak Suri masih mencetak ya?" Likha malah menjawab ucapan Edos dengan kalimat pertanyaan ambigunya. "Sebentar, Mas. Mbak Likha bangunkan Pak Nur dulu ya," pamitnya.


"Iya, Mbak."


Likha kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara Edos menuju ke meja makan. Menggeser satu kursi di samping Tania. Duduk menghadap istrinya tersebut. Tania masih pada posisi seperti semula. Menopang dagu dengan kedua tangannya.


Edos menyeka kedua pipi Tania yang masih basah. "Jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihatmu menangis begini," ucapnya. Tania masih diam tak bergeming. "Mbak Likha dan Pak Nur mau mengantar kita ke tempat Mak Suri, tetangganya yang membuat serabi Kalibeluk," imbuhnya membujuk.


Seketika wajah Tania yang bermuram durja menjadi sumringah. "Beneran, Yank?" tanyanya tidak percaya, Edos hanya mengangguk. "Asiiik.." serunya seperti anak kecil.


Sontak Tania langsung memeluk dan menciumi pipi Edos bertubi-tubi.


"Terimakasih, Yank," ucap Tania.


"Terimakasih sama Mbak Likha dan Pak Nur nanti," Tania mengangguk.


Edos mengecup lembut kening istrinya. Kemudian mengelus serta mencium perut Tania seraya membisikkan do'a,


رَبِّ هَبۡ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً۬ طَيِّبَةً‌ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ


Robbi hablii min ladunka durriyatan thoyyibah, innaka samii'uddu'a'


Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik (shalih). Sesungguhnya Engkaulah Maha pendengar doa.” (QS Ali Imran [3]: 38).


"Jangan rewel, dan jangan nyusahin bunda ya, Nak!" ucap Edos masih mengelus Tania.


Tania tersenyum hari melihat perlakuan suaminya padanya dan calon bayi yang dikandungnya.


"Ehm ehm,"


Suara dehaman itu mengagetkan Tania dan Edos, mereka menoleh ke arah sumber suara. Likha berdiri tidak jauh dari mereka.


"Pak Nur sudah menyiapkan mobil di halaman, Mas," ungkap Likha.


"Baik, Mbak. Ayo sayang!" Edos menuntun istrinya untuk berdiri, melangkah menuju ke halaman.

__ADS_1


Sampai di ruang tengah langkah Edos berhenti, "Tunggu di sini, Yank. Aku ambilkan jaket," pintanya.


Edos menaiki anak tangga menuju ke kamarnya di lantai dua. Sebentar kemudian ia telah mengenakan jaket sweater, sementara di lengan kirinya tersampir sebuah jaket satunya lagi.


Edos memakaikan jaket sweater yang dibawanya ke tubuh istrinya. Mereka keluar dari dalam rumah masuk ke dalam mobil. Tania dan Edos duduk di jok belakang, sementara Likha duduk di depan di samping Pak Nur.


Mobil melaju pelan menerobos hujan, membelah gelapnya jalan. Hujan yang sedari beberapa hari lalu terus-menerus tanpa henti membuat debit air sungai meluap hingga menggenang sampai di badan jalan.


Pak Nur mengambil jalur memutar untuk sampai di Desa Kalibeluk, padahal antara rumah Juragan Burhan dengan Kalibeluk tidak begitu jauh. Karena jembatan digenangi air hingga sebetis dan airnya deras, jadi tidak bisa dilewati mobil. Akibatnya perjalanan yang harusnya bisa dijangkau dalam waktu 15 menit kini mungkin bisa memakan waktu sampai 1 jam.


Tania menyandarkan kepalanya di pundak Edos. Edos mengusap-usap kepala Tania yang terbungkus kerudung.


"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi sore, kalau kamu pengen makan serabi Kalibeluk, hem?" tanya Edos gemas pada istrinya.


"Aku pikir bisa aku tahan sampai besok pagi, Yank,"


"Ternyata tidak bisa ya?" tanya Edos tersenyum yang sudah tahu jawabannya. Tania hanya membalas senyum suaminya. "Tidur saja, Nanti kalau sudah sampai aku bangunin." Edos membujuk istrinya. Tania mencoba memejamkan mata.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah berbentuk bangunan kuno joglo khas Jawa Tengah. Likha keluar dari mobil, membuka payung, melangkah menuju ke teras rumah. Ia nampak mengetuk pintu dan mengucap salam, memanggil-manggil yang punya rumah, namun tidak ada jawaban. Lama ia menunggu.


Senyumnya mengembang manakala ia mendengar suara seorang gadis dari dalam. Pintu dibuka dari dalam, gadis itu muncul dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum, Mutia. Maaf malam-malam mengganggu. Apa Mak Surini masih suka bikin serabi?" tanya Likha.


"Wa'alaikumussalam, Mbak Likha. Simbah kebetulan masih bikin tuh di dapur. Masuk dulu, Mbak. Jangan di luar, dingin," jawab Mutia.


"Mbak panggil majikan Mbak dulu ya, Mut. Dia lagi nyidam pengen makan serabi yang baru keluar dari tungku katanya," ucap Likha.


"Oh, kalau begitu nanti langsung diajak ke dapur saja ya, Mbak. Aku masih bantu Simbah soalnya."


"Terimakasih, Mut,"


Mutia kembali masuk ke dalam rumah, sementara Likha kembali menghampiri mobil.


"Iya sebentar, Mbak. Tanianya lagi tidur, Mbak Likha duluan saja, jangan hujan-hujanan di situ," sahut Edos.


Likha kembali ke teras. Sementara Pak Nur menunggu Edos dan Tania keluar dari mobil dulu, baru ia akan keluar.


"Yank, udah sampai," kata Edos menepuk pundak Tania lembut untuk membangunkan. Namun Tania masih bergeming.


"Yank, ayo bangun! Masih pengen makan serabi Kalibeluk enggak?" ucap Edos lagi membangunkan. Namun Tania tetap tidak merespon.


"Pak Nur, kita pulang saja. Orang yang pengen serabi enggak mau bangun," perintah Edos.


"Beneran, Denmas?" Pak Nur masih ragu dengan perintah majikannya.


"Iya, Pak. Panggil Mbak Likha gih, suruh kembali ke mobil," perintah Edos lagi.


"Yank, ayo bangun


Enggak mau bangun kita balik nih," ancam Edos.


"Kok pulang sih?" tanya Tania dengan suara serak karena udah mengantuk banget.


"Makanya bangun donk!" sahut Edos masih menepuk-nepuk pundak Tania.


Tania membuka matanya, sesaat kemudian ia mengedarkan pandangannya memperhatikan lingkungan sekitar di luar yang tampak dari kaca mobil. Remang-remang namun sepertinya Tania mengenali tempat ini.


"Yank, ini kok seperti di rumah Simbah?" tanya Tania.


Edos menaikkan sebelah alisnya. "Simbah siapa? Simbah kita bukan di sini rumahnya," sangkal Edos.


"Aku lupa namanya, aku cuma menyebutnya Simbah. Sejak kecil aku tinggal di sini sama Ibu dan Ayah." Tutur Tania.

__ADS_1


Edos tidak bertanya siapa yang dimaksud ibu oleh Tania, ia hanya berfikir mungkin ibu tirinya, dan itu memang benar adanya. Tania memang tinggal di rumah itu sebulan setelah ditinggal Dewi merantau ke Jakarta, setelah Syarif menikah dengan seorang janda beranak satu di kampung tersebut.


"Farhan," ucap Tania tiba-tiba teringat seseorang.


Edos kembali mengernyit, "Siapa Farhan?" tanyanya.


"Dia adikku, Yank."


Tania bergegas keluar, melangkah menerobos hujan, tidak peduli suaminya mencegahnya karena ia belum memegarkan payung. Ia langsung masuk ke dalam menemui simbahnya yang sedang mencetak kue serabi.


Likha heran melihat menantu majikannya yang ditungguinya sejak tadi malah lewat begitu saja di depannya. Tania langsung menuju ke arah dapur. Tania berdiri mematung melihat simbahnya yang sedang bergelut dengan asap tungku.


Simbah, untung belum selesai. Batin Tania.



Mak Sur telah mencongkel dan mengambil kue serabi yang telah matang. Ia menunggu Mutia untuk menuangkan adonan ke dalam cetakan serabi yang telah kosong, tetapi yang ditunggu belum juga menuangkan adonan serabi tersebut.


"Mutia, ayo tuang adonannya ke dalam cetakan yang kosong, kok malah beng--" ucapan Mak Surini terhenti ketika melihat sosok yang dikira Mutia ternyata bukan.


"Biar Tania yang tuang ya, Mbah."


Tania langsung mengambil baskom berisi adonan kemudian menuangkan ke dalam cetakan yang kosong. Ia meletakkan kembali baskom tersebut kemudian meraih dan mencium punggung tangan Mak Surini.


"Kapan datang? Kamu sudah besar sekarang," tanya Mak Surini memandang lekat-lekat pada Tania yang sekarang duduk di kursi dingklik berhadapan dengannya.


"Hehehe, Simbah. Tania bahkan sudah mau kasih cucu buyut buat Simbah," timpal Tania.


"Masya Allah, sudah berapa bulan, nduk?"


"Mau empat bulan, Mbah. Dia lagi pengen makan serabi buatan Simbah,"


"Duduk saja, sebentar Simbah ambilkan," ucap Mak Surini.


Tania duduk di kursi meja makan, Mak Surini mengambilkan 2 tangkup kue serabi buatannya dan menaruh di meja di depan Tania.



Tania mengendus-endus aroma serabi yang baru matang tersebut. Menikmati aroma perpaduan santan dan gula merah serta aroma gosong dari serabi tersebut itu yang dirindukan oleh Tania.


"Ngapain kamu ke sini lagi!" suara itu tiba-tiba mengagetkan Tania.


.


.


.


**TBC


"Thor, kapan aku muncul lagi?" tanya Bram pada Author.


"Sabar!" jawab Author singkat.


"Jawaban kamu begitu terus,"


"Makanya bantu Author donk, suruh reader like dan komen, aku hanya butuh like dan komen doang tidak lebih,"


"Tapi nanti dimunculin ya, awas kalau enggak muncul-muncul!" ancam Bram.


"Ye, disuruh promo malah ngancam,"


"Ayo like dan komen cerita ini ya, jangan jadi sider, baca doang tapi tidak mau kasih like dan komen, biar author semangat nulis nya."

__ADS_1


"Terimakasih semuanya, terima kasih, Bram," ucap author berterimakasih**.


__ADS_2