2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Jengkol Muda


__ADS_3

Tania nampak sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya.


"Eh, Nad, Aku nanti siang kosong loh. Cari buku yuk! Denger-denger ada kafe yang lagi hit yang dekat sebuah toko buku. Sekalian kita nongkrong di sana," ajak Tania.


"Kamu enggak jadi ke toko buku yang dekat salon waktu itu?" selidik Nadia.


"Enggak ah, aku penasaran yang ini," Tania menunjukan layar ponselnya yang menampilkan foto-foto di google map.


"Oke, kamu mau ikut enggak, Pim?" tanya Nadia beralih ke Prima.


"Ikut lah," sahut Prima.


"Bentar ya, aku ijin paksu dulu," pamit Nadia.


Nadia kini sedang mengetik pesan kepada suaminya.


"Gimana?" tanya Tania.


"Bentar, belum selesai ngetik dia," sahut Nadia.


[Boleh, tapi temani Mas makan siang dulu] My Hubby.


"Boleh katanya, tapi ada tapinya?" kata Nadia.


"Apa?" tanya Tania penasaran.


"Aku harus makan siang bareng dia dulu," sahut Nadia.


"Makan siang tapi sampai asar," Tania mencebik.


"Kali ini janji enggak sampai asar deh," ucap Nadia mengacungkan jari tengah dan telunjuk.


"Awas kalau sampai jam satu siang enggak balik gabung kita, ku obrak-abrik tuh ruang dosen," ancam Tania.


"Emang berani kamu, Tan?" cibir Prima.


"Beh ... Ya enggak lah, yang benar saja?" kekeh Tania.


Prima dan Nadia seketika tertawa.


*****


Tring


Satu notifikasi pesan masuk. Fauzan langsung membuka ponselnya. Benar saja, satu pesan dari wanita yang sejak semalam ia tunggu-tunggu telah muncul.


[Maaf, Mas Fauzan, saat ini Tania belum kepikiran untuk menjalin sebuah hubungan apapun dengan lawan jenis selain hubungan pertemanan. Tania hanya ingin fokus menyelesaikan pendidikan dulu sambil membesarkan Atar. Tania masih belum bisa melupakan almarhum suami Tania, Mas. Mungkin di tempat lain ada gadis yang lebih baik yang lebih pantas menjadi pendamping hidup untuk Mas Fauzan. Bukan seorang Tania yang udah second dan berbuntut (emoticon menangkupkan kedua tangan)] Tania.


Fauzan menghela napas setelah membaca pesan tersebut. Kecewa? tentu saja, tetapi dari kalimat yang ditulis oleh Tania sepertinya pemuda itu masih punya harapan.


[Apa ini artinya kamu menolak Mas Fauzan, Tania?] Fauzan.


Pesan itu langsung centang biru. Terlihat di layar Tania sedang mengetik.


Tring


[Tania tidak menolak, Mas. Tania hanya memberi kesempatan kepada Mas Fauzan untuk membuka diri terhadap gadis lain yang lebih baik dari Tania. Andaikan kita memang berjodoh, pasti ada cara Allah yang akan menyatukan kita.] Tania.


"Mas akan bersabar, Tania. Mas yakin kamulah jodohku. Suatu saat kamu pasti akan membuka pintu hatimu untukku," lirihnya sambil tak henti-hentinya memandangi pesan tersebut. Padahal dipandangi sampai pingsan pun pesan itu akan tetap sama, tidak akan berubah ketikannya.


Fauzan menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Ia melanjutkan kembali memeriksa laporan keuangan dari beberapa toko dan kafe miliknya bulan kemarin.


"Kenapa selisihnya besar sekali ini?" gerutu Fauzan saat mendapati ada devisit di laporan keuangan kafe. "Farah, apa yang kamu lakukan? Aku harus ke kafe secepatnya," geramnya.


"Mau kemana, Mas Bos?" tanya Chika, kasir di toko buku melihat bosnya seperti hendak pergi.


"Chika, saya ke kafe. Kamu jaga toko baik-baik ya," pinta Fauzan.

__ADS_1


"Siap, Mas Bos. Jangan lupa oleh-olehnya ya. Denger-denger lagi ada menu baru, bagi-bagi buat testimoni dong, Mas Bos," sahut Chika.


"Beres ... potong gaji 'kan?" sergah Fauzan sambil tertawa dan berlalu pergi.


"Huh, Bos nyebelin," gerutu Chika.


Sampai di kafe Fauzan langsung masuk ke ruangan kerja Farah. Di dalam ruangan ternyata Farah sedang membaca novel di aplikasi novel online.


"Bagus ya, waktunya kerja kamu malah main ponsel," hardik Fauzan.


"Terus aku harus apa sih, Kak? Kan udah ada job description masing-masing," sahut Farah.


"Kenapa laporan kamu devisit padahal penjualannya bagus?" sergah Fauzan.


"Em .. ah anu," jawab Farah tergagap.


"Benerin dulu laporan kamu, jangan harap dapat tambahan uang saku dari kakak kalau belum benar," ancam Fauzan.


Setelah mengucapkan ultimatum tersebut, Fauzan keluar dari ruangan Farah menuju ke dapur. Ia menemui Firman, seorang koki di kafe tersebut.


"Fir, gimana menu baru buatan kamu? Apa kita perlu launching?" cecar Fauzan kepada Firman.


"Sudah ada di buku menu terbaru, Bos. Kita siap kapan aja Mas Bos mau ngadain launching," sahut Firman mantap.


"Kerja bagus!" puji Fauzan.


"Oh, iya. Tadi udah ada yang reservasi tempat dan pesan menu ini, Mas Bos," ungkap Firman.


"Oh ya? Kasih bonus minuman gratis ya," perintah Fauzan.


"Beres, Bos. Jangan lupa bonus buat kokinya juga," kekeh Firman.


"Beres, kalau penjualannya sukses saya pasti kasih bonus," sahut Fauzan mantap.


"Mas Bos mau minta di buatin apa buat makan siang?" tanya Firman.


"Pakai nasi enggak, Mas Bos?" tanya Firman lagi.


"Iya seperti biasa, taruh di ruangan saya. Saya mau sholat ke mushola dulu," pamit Fauzan.


"Siap, Mas Bos! Tumben sholatnya di mushola? Biasanya di ruang kerja?" cecar Firman.


"Enggak tahu nih. Sekalian mau lihat toko buku kali ya," sahut Fauzan. "Kamu enggak istirahat? Udah jamnya nih," ucapnya menunjuk pergelangan tangannya.


"Nunggu gantian sama yang lain, Mas Bos," sahut Firman.


Fauzan pergi meninggalkan kafe menuju ke mushola. Musholanya terletak di depan toko buku, sementara halaman kafe dijadikan area parkir.


Sebelum ke Mushola Fauzan melongok dulu ke dalam toko buku untuk mengecek keadaan toko buku hari ini. Ada 5 pelayan dan seorang kasir di sana. Setelah itu ia keluar lagi langsung menuju ke mushola.


Selesai sholat Fauzan tidak langsung keluar. Ia ngadem dulu di mushola dengan rebahan selama setengah jam-an ada. Ketika ia keluar dari mushola, ia duduk untuk memakai sepatunya. Perhatiannya terfokus pada sebuah mobil sport merah yang baru saja masuk dan parkir di halaman kafe. Sepertinya ia pernah melihatnya.


Benar saja saat pintu mobil itu terbuka. Keluarlah tiga gadis cantik yang salah satunya memang Fauzan mengenalnya. Tubuhnya yang tertera angin membuat kerudungnya tersibak dari dada.


Deg


"Apa dia hamil?" gumam Fauzan bertanya pada diri sendiri saat mengamati perubahan tubuh gadis itu yang tampak berisi.


"Kita nyari buku dulu ya," pinta gadis yang berkerudung warna hitam motif.


"Iya, ayo," sahut gadis berkerudung mocca polos.


"Aku sih ngikut aja," timpal gadis satunya lagi.


Fauzan memperhatikan tingkah ketiga gadis itu hingga mereka masuk ke dalam toko buku. Lalu kakinya ia langkahkan menuju ke kafe, takutnya makanan dan minuman yang ia pesan jadi tidak enak jika dibiarkan begitu lama. Pemuda itu membuka cctv di laptopnya yang terhubung ke seluruh ruangan di kafe dan toko buku.


Fauzan menemukan Tania tengah memilih-milih beberapa buku.

__ADS_1


"Benar, di layar cctv juga perut Tania tampak buncit," gumam Fauzan lagi.


Fauzan menghubungi kasir di toko buku.


"Tika, kalau gadis berbaju pastel dan kerudung hitam motif butt*n scarf dan kedua temannya itu mau bayar belanjaannya, bilang kalau sudah dibayar," pinta Fauzan saat sambungan teleponnya terhubung.


"Siap, Mas Bos!" sahut Tika.


Fauzan lalu menikmati makanan yang sudah terhidang di meja kerjanya. Moroccan mint thea dan jamur enoki krispi kesukaannya.


Saat semua makanan dan minuman telah berpindah ke dalam perut. Fauzan menengok kembali gambar cctv. Ia terkejut saat tidak mendapati keberadaan ketiga gadis itu di setiap sudut toko bukunya. Lalu ia berpindah ke layar cctv kafe. Ternyata ketiga gadis itu berada di ruang expresso. Fauzan hendak menghubungi Firman, tetapi ia urungkan.


"Ah, Firman pasti tidak memegang ponselnya. Samperin saja lah," gumamnya.


Fauzan keluar dari ruangannya dengan tidak lupa membawa cangkir dan piring bekas makanannya. Benar-benar bos yang baik hati dan tidak sombong bukan.


"Kakak, sudah Farah perbaiki loh laporannya. Udah Farah kirim ke email Kakak," seru Farah ketika Fauzan melewati ruangannya.


"Hem," hanya itu jawaban Fauzan.


"Huh, irit banget sih? Masa cuman 'hem' doang?" gerutu Farah.


Sampai di dapur pemuda itu langsung menuju ke tempat cucian piring.


"Ih, Mas Bos ganteng nengokin Nuri. Mas Bos emang baik hati dan tidak sombong," puji Nuri, tukang cuci piring saat melihat bosnya menaruh piring dan gelas kotor di tempat cucian.


"Iya dong, biar Nuri makin rajin kerjanya," sahut Fauzan.


"Kalau Nuri rajin kerja dapat bonus 'kan, Bos?" pancing Nuri.


"Bonus lagi," gerutu Fauzan. Namun ini cuma ia ucapkan di dalam hati.


"Iya dong, Nuri. Masa dapat hukuman," kekeh Fauzan sambil pergi meninggalkan Nuri menuju ke dapur.


"Fir, itu tiga cewek yang di ruang expresso apa udah reservasi?" tanya Fauzan langsung saat melihat Firman.


"Expresso?" beo Firman. Pemuda itu langsung melihat nota pesanan. "Oh, iya Mas Bos. Mereka yang mau jadi tester resep baru kita," tambahnya.


"Oo ... Kasih bonus minuman dari buah yang asam-asam ya," titah Fauzan.


"Asam-asam?" beo Firman lagi.


"Iya, makanannya juga kasih tambahan yang paling enak," ujar Fauzan lagi.


"Assiap, Mas Bos!"


Setelah dari dapur Fauzan pergi menuju ke kasir.


Sementara di ruang expresso, Prima bingung dengan banyaknya makanan dan minuman yang ada di meja di hadapannya.


"Tan, kamu pesan makanan buat kita bertiga kenapa banyak sekali? Emang ada yang mau nyusul lagi ke sini?" cecar Prima.


"Aku enggak pesan kok, Pim. Tadi kata Mbak-mbak pelayanannya ini bonus dari pemilik kafe, katanya lagi ada promo," sahut Tania.


"Kok bisa banyak kayak gini ya?" Nadia terheran-heran.


"Udahlah, ayo makan. Mumpung dapet makanan enak enggak semur jengkol melulu, Pim, Nad," ajak Tania.


"Enak aja semur jengkol siapa yang doyan," sangkal Nadia.


"Eh, ngomong-ngomong semur jengkol kok jadi kepengin makan sama lalapan jengkol muda ya," gumam Tania.


"Hii bau!" ucap Nadia seraya menutup hidung dengan telapak tangannya.


Tania mengurungkan niatnya untuk melahap makanan yang sudah ada di depan matanya. Bayangannya kini adalah makan nasi hangat dengan lauk ikan asin layang rebus bakar, sambal terasi dan lalapan jengkol muda.


"Tan, kenapa tidak jadi makan?" tanya Nadia yang melihat sahabatnya belum menyentuh makanan apapun.

__ADS_1


"Aku ingin pulang kampung," rengek Tania.


__ADS_2