
Pagi harinya Tania masih tetap berangkat ke kampus. Ia masih harus mengikuti ujian semester beberapa mata kuliah reguler ditambah SKS yang ia tinggal selama cuti dan baru ia ikuti di semester ini.
"Lho, kamu masih berangkat aja, Tan? Tahu gini aku jemput kamu tadi," sesal Nadia bertanya.
"Papa udah rujuk aku di rumah sakit langganannya kok," timpal Tania.
"Enggak jadi operasi di dokter yang kemarin to?" Nadia memastikan.
"Nanti aku disuruh ke rumah sakitnya menemui dokter Albert. Anterin ya Nad," pinta Tania.
"Ya jelas papamu pilih dokter terbaik lah, tapi kasihan juga sama dokter yang kemarin, kayaknya dia ngarep banget." timpal Nadia. "Ngomong-ngomong tentang dokter Albert? Kayak familier namanya," lanjutnya.
"Kamu kenal?" tanya Tania memastikan.
"Enggak. Mana ada aku kenal sama dokter," elak Nadia.
Obrolan mereka berakhir saat petugas pengawas ruang ujian memasuki ruangan.
***
Nadia dan Prima kembali mengantar Tania menemui dokter pilihan Papa Ardi. Kali ini mereka dijemput oleh asisten pribadi Ardi yang baru karena asisten pribadi yang lama telah pensiun.
"Mbak Tania silakan langsung masuk ke ruang praktek dokter Albert dengan teman Mbak Tania ya. Atau perlu saya temani?" tanya asisten peibadi Ardi melirik Tania yang duduk di kursi penumpang. Reza sang asisten pribadi muda itu menawari dengan kikuk. Pasalnya pemuda itu mendapat tugas untuk mengurus semua keperluan Tania selama di rumah sakit. sampai selesai persalinan.
Tania seketika tertawa. "Terimakasih, Mas Reza. Tania sama Nanad saja. Memangnya Mas Reza mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu sama saya nanti?" sahut Tania diselingi godaan. Wanita hamil tersebut sengaja menggoda Reza adalah pemuda baik-baik.
Ditodong untuk bertanggung jawab dari wanita yang sudah hamil besar padahal ia tidak pernah melakukan apapun membuat Reza seketika shock.
"Hah bertanggung jawab?" beo Reza. "Maksud Mbak Tania bertanggung jawab yang bagaimana? Saya memang ditugaskan oleh Pak Ardi untuk mengurus semua keperluan Mbak Tania selama di rumah sakit," ucap Reza.
"Iya, Mas Reza, Tania tahu kok. Saya masuk sama Nanad saja. Mas Reza cukup urus administrasi dan tunggu saya sampai selesai di luar. Atau jika Mas Reza bosan, Mas Reza bisa menunggu saya sambil minum kopi sama Pipim di kafe atau apa lah terserah Mas Reza," jelas Tania.
"Aku mau pulang aja ya, Tan, dari pada di sini enggak ada kerjaan cuma menunggu kalian berdua," cetus Prima yang duduk di samping Reza.
"Iya, Pim. Maaf ya aku enggak bisa mengajak banyak orang ke ruang praktek," sesal Tania. Mas Reza bisa kan anterin Pipim pulang?" pinta Tania beralih kepada Reza.
"Bisa, Mbak. Nanti Mbak Tania hubungi saya saja jika sudah selesai," sahut Reza.
"Oke, Mas Reza, berarti kami bisa langsung masuk kan tanpa menunggu antrian?" tanya Tania memastikan.
"Iya, Mbak Tania. Mbak Tania bilang saja nanti sama perawat yang bertugas memanggil nomor antrian," ucap Reza.
"Iya, Mas Reza. Mas Reza hati-hati ya bawa anak gadis orang. Kami keluar dulu," sahut Tania menggoda.
Reza keluar dari mobil untuk membukakan pintu untuk Tania dan Nadia. "Silakan, Mbak Tania, Mbak Nanad," ucapnya dengan gestur mempersilakan.
"Terima kasih, Mas Reza," sahut Nadia.
__ADS_1
Tania dan Nadia pun keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke gedung sebuah rumah sakit. Mereka langsung menuju ke ruang poly Obgyn. Saat suara mereka sampai di depan pintu ternyata seorang perawat langsung menyuruh mereka masuk ke dalam ruangan. Tania langsung menyodorkan buku pink-nya ke hadapan dokter. Dokter itu membuka-buka lembaran buku pink milik Tania sampai di halaman hasil foto USG disteples di sana. Pria itu mengamati gambar tersebut.
"Apa benar usia kandungan saya sudah 39 minggu, dok. Padahal hitungan saya baru 36 minggu?" tanya Tania.
"Di foto USG ini usia kandungan anda memang sudah 39 minggu. Silakan berbaring di bed, kita lakukan USG lagi," suruh dokter Albert. Saat mata dokter kandungan itu terangkat ke depan, pria itu nampak shock. "Anda-?" ucapnya terpotong.
"Saya temannya Tania, dok. Apa dokter kenal saya?" tanya Nadia.
"Sepertinya saya pernah melihat anda sebelumnya," sahut dokter Albert. "Apakah anda pernah menjadi pasien di rumah sakit ini? Atau di rumah sakit lain mungkin?" tanya dokter tersebut.
"Panggil saya Nadia saja, dok. Saya memang dulu pernah dirawat di rumah sakit karena ditusuk orang. Sempat koma juga," sahut Nadia.
"Nadia? Emm ... oh iya, sekarang istrinya Pak Rasya?" tanya dokter Albert.
"Benar, dokter kenal saya?" tanya Nadia lagi.
"Kenal lah. Lebih dari satu tahun yang lalu saya yang mengoperasi kamu di rumah sakit yang dekat mal milik keluarga suami kamu," jelas dokter Albert.
"Jadi dokter Albert yang mengoperasi saya?" beo Nadia.
Dokter Albert mengangguk mantap seraya berkata, "Benar, saya yang mengoperasi kamu. Sekarang saya mau memeriksa Mbak Tania terlebih dahulu ya, nanti kita lanjut ngobrol lagi," cetusnya yang mendapat anggukan dari Nadia.
Tania sudah siap di atas bed dengan bagian perut terbuka. Di atasnya sudah diolesi dengan gel supaya alat yang digunakan untuk USG mudah digerakkan.
Dokter Albert duduk di kursi yang ada di samping bed. Ia menggerak-gerakkan alat USG di atas permukaan perut Tania sambil melihat ke arah layar komputer. Ia pun mengungkapkan apa yang ada di layar sesuai dengan yang telah dokter Sifa sampaikan. Mungkin sedikit berbeda, tetapi dokter Albert tidak mau melanggar kode etik kedokteran dengan menjelekkan nama baik sesama rekan seprofesi.
"Saya kira saya bisa mengerjakan ujian sampai selesai, dok," keluh Tania.
"Nanti saya akan buatkan surat keterangan sebagai bukti jika Mbak Tania tidak bisa mengikuti ujian hingga selesai dan bisa mengerjakan ujian online atau di lain waktu," ungkap dokter Albert. "Ada pertanyaan lain? Sudah siap menjalani lagi kan?" todongnya.
"Siap enggak siap, dok," sahut Tania lunglai.
"Eh, sebentar. Mbak Nadia dulu tertusuk karena menolong seseorang kan? Apa itu Mbak Tania?" cecar dokter Albert.
"Benar, dok," sahut Nadia.
"Satu tahun yang lalu dia masih hamil. Sekarang dia sudah hamil lagi?" tanya dokter Albert. Tania hanya menjawab dengan cengiran kuda.
"Dok, apakah saya ada kemungkinan bisa hamil?" tanya Nadia menyela.
"Kenapa tidak?" tanya dokter Albert yang seketika membuat Nadia kaget.
"Maksud dokter? Jadi saya masih bisa hamil?" tanya Nadia tidak percaya.
Dokter Albert mengangguk. "Kemungkinan kamu untuk hamil masih bisa. Waktu itu saya hanya mengambil kista yang ada di rahim kamu. Apa suamimu belum cerita?" jelas dokter Albert diakhiri pertanyaan.
"Suami saya tidak cerita sedetail itu, dok," sahut Nadia.
__ADS_1
"Kamu juga tidak pernah kontrol lagi setelah keluar dari rumah sakit waktu itu," timpal dokter Albert.
"Saya terlalu shock mendengar kalau indung telur saya diangkat dan saya divonis mandul dok," ucap Nadia.
"Maafkan saya, Nad. Saya terpaksa membuat surat pernyataan dan vonis palsu karena keluarga saya terancam. Anak dan istri saya disandera dan diancam akan dibunuh oleh orang-orang suruhan Celine wanita ular itu," ungkap dokter Albert.
"Tapi sekarang anak dan istri dokter masih sehat-sehat saja kan, dok?" tanya Nadia.
"Alhamdulillah mereka masih sehat wal afiat sampai sekarang," sahut dokter Albert.v"Suster, kalau masih ada pasien lagi, tolong bilang ke mereka untuk datang nanti malam mulai pukul 08.00," pintanya beralih kepada suster pendampingnya.
"Baik, dokter," sahut salah satu perawat tersebut.
"Mbak Nadia silakan naik ke bed, kita akan lakukan USG," pinta dokter Albert.
"Serius ini, dok? Saya bisa check up tanpa mendaftar terlebih dahulu?" tanya Nadia tidak percaya. Padahal susah sekali mendapatkan jadwal praktek dari dokter kandungan senior seperti dokter Albert ini.
"Sebagai permintaan maaf dari saya, saya akan habiskan waktu yang tersisa ini sampai sore spesial untuk melayani kalian berdua," sahut dokter Albert.
"Silakan, Mbak Nadia," seorang perawat membantu Nadia naik ke atas bed. Lalu hal yang seperti dilakukan terhadap Tania tadi kini dilakukan juga terhadap Nadia.
Nadia semakin senang mendapat kabar bahwa dirinya masih bisa hamil itu dari mulut dokter Albert. Bukan dari suaminya yang ia kira hanya isapan jempol belaka semata-mata untuk menghibur rasa sedih dan kecewa yang mendera akibat vonis palsu tersebut.
Sesi pemeriksaan spesial dari dokter Albert itu berakhir pada pukul 5 sore. Tania dan Nadia keluar dari rumah sakit dengan wajah ceria. Reza sudah standby di depan lobi rumah sakit menunggu mereka.
"Mas Reza nunggu kami lama ya?" tanya Tania saat dia sudah duduk di kursi penumpang berdampingan dengan Nadia.
"Saya baru balik dari kantor kok, Mbak," sahut Reza mulai menyalakan kendaraan.
"Anterin Nanad pulang dulu ya, Mas Reza," pinta Tania yang tampak sudah sangat lelah.
"Siap, Mbak Bos!" sahut Reza yang mulai fokus mengendalikan kendaraan.
"Nyindir nih? Hoam ..." timpal Tania yang sudah mulai mengantuk.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan karena Tania mulai tertidur. Reza melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Baskoro. Sampai di halaman rumah mertuanya, Nadia bingung saat mau turun.
"Sudah sampai, Mbak Nanad. Benar ini 'kan rumahmu?" tanya Reza melirik orang yang ditanya dari kaca spion dalam.
"Iya, Mas Reza, tapi ini Tanianya gimana?" sahut Nadia bertanya.
Reza pun menengok ke belakang. Dilihatnya Tania tengah tertidur lelap bersandar di pundak Nadia. "Sebentar saya bantu, Mbak," ucapnya.
Reza pun keluar dari dalam mobil kemudian membuka pintu disamping Tania duduk. Ia menurunkan sandaran kursi, lalu membantu Nadia tidur di sandaran yang diturunkan. Setelahnya Nadia bisa keluar dari pintu sampingnya.
Reza kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Ardiansyah meninggalkan rumah Baskoro. Sampai di halaman, ia menepikan. mobilnya dekat dengan teras. Pemuda itu turun dan membuka pintu di samping Tania. Ia termangu memandangi wajah Tania yang terlelap.
"Kasihan sekali hidupmu, Tania," batin Reza meraung.
__ADS_1