2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Kepencet


__ADS_3

Jam istirahat pertama segera berakhir, tetapi Pak Rustam tidak menemui mereka juga. Perlu dislepet pakai tas sepertinya tuh kepala si botak. Alih-alih menunggu Pak Rustam, Tania memperhatikan penghuni ruangan tersebut, ia melihat Amar, tetapi tidak mendapati Salma di ruangan tersebut.


"Pak Amar! Bu Salma belum berangkat?" seru Tania bertanya kepada Amar supaya pria tersebut mendengar.


"Belum, Tan. Mungkin lusa baru bisa berangkat," sahut Amar.


"Nanti saya mau besuk, tolong share lok alamat tempat tinggal bapak ya," pinta Tania.


"Oke, saya kirim via WhatsApp ya," sahut Amar dengan bahasa formal karena berada di kantor.


"Terima kasih, Pak," ucap Tania dengan menurunkan volume suaranya karena Amar sudah berbicara dengan dia.


Pak Rustam akhirnya menemui mereka setelah perdebatan alotnya dengan Firman yang mewakili ketiga temannya. Pria itu datang dengan setumpuk kertas ditangannya, lalu duduk di sebuah sofa single.


"Kalian tidak menghargai saya sebagai wali kelas kalian? Oke, semester depan saya akan mundur jadi dosen wali," cibir Pak Rustam.


"Maaf, Pak, bukan seperti itu maksud kami, tetapi saat penetapan anggota paduan suara saya terlambat datang jadi saya tidak percaya kalau dipilih," ucap Tania mewakili ketiga temannya.


"Ya sudah apapun alasan kalian, kalian tetap harus dihukum. Namun, kalian tetap harus ikut latihan mulai nanti siang karena nama kalian sudah ditetapkan sebagai peserta padus dari kelas kalian," ungkap Pak Rustam.


"Baik, Pak. Kalau boleh tahu, apa hukuman untuk kami, Pak?" tanya Sigit menyela.


"Oke, tugas kalian adalah membuat podcast naskah drama ini," ucap Pak Rustam seraya menyodorkan kertas-kertas yang dipegangnya.


"Podcast?" Beo Tania.


"Iya, silakan kalian berlima pelajari. Nanti podcast yang sudah jadi kalian simpan di sebuah flashdisk dan serahkan kepada saya. Mengerti?" pungkas Pak Rustam.


"Iya, Pak. Mengerti," sahut Firman.


"Bagus, kalau tidak ada yang perlu ditanyakan lagi saya permisi."


"Huhft, nambah pekerjaan saja," dengkus Tania setelah pak Rustam pergi.


"Sabar, Tan," ucap Firman.


Sigit meraih berkas naskah drama itu dan mulai membacanya. "Yuk kembali ke kelas dulu, kita bahas ini nanti. Takutnya gara-gara kelamaan di sini nanti kita malah kena hukum lagi sama dosen yang lain," ucapnya mengajak ketiga temannya untuk kembali ke kelas.


Mereka pun kembali ke kelas. Setelah usai perkuliahan Tania terpaksa mengikuti latihan paduan suara, ia takut ditambah hukuman lagi sama si botak. Sehingga ia sampai maghrib masih berada di perjalanan pulang. Janjinya kepada Amar akan membesuk Salma gagal sudah.


"Pim, kamu ke rumahku langsung ya, nanti biar diantar sama Mas Reza atau Pak Joko," cetus Tania sambil fokus memegang kendali setir.


"Iya, Tan, enggak apa-apa, makasih ya," sahut Prima yang mengerti kondisi Tania kali ini. Karena biasanya Tania selalu mengantar Prima dulu sebelum pulang ke rumah. Sedangkan Nadia sekarang lebih sering pulang bersama suaminya.


"Pak Joko," panggil Tania saat berpapasan dengan Pak Joko di pos satpam.


"Iya, Mbak Tania?" sahut Pak Joko.


"Nanti tolong anterin Pipim pulang ke rumahnya ya, Pak," sahut Tania.


"Mbak Pipim mau pulang jam berapa?" tanya Pak Joko.

__ADS_1


"Kamu jadi mau pulang atau menginap aja, Pin?" tawar Tania.


"Ya pulang lah, Tan. Masa nginep aku kan tidak membawa baju ganti. Enggak enak pinjam bajumu terus, yang kemarin-kemarin juga masih banyak yang di rumahku," sahut Prima tersipu.


"Nyadar juga ternyata kamu, Pim," cibir Tania.


Prima memang kerap menginap di rumah Tania kalau pulang kemalaman. Ia selalu meminjam pakaian milik Tania karena postur tubuh mereka hampir sama. Ia kini pulang ke rumah dengan diantar oleh Pak Joko setelah sebelumnya menumpang sholat Maghrib terlebih dahulu.


Tania merebahkan dirinya di kasus untuk meluruskan punggungnya yang seharian ini kegiatannya banyak berdiri dan duduk saja. Ah, iya jadi teringat pada Salma. Ia pun meraih ponselnya yang tadi sempat diisi daya dan tergeletak di atas nakas.


Saat membuka aplikasi chat berwarna hijau, Tania sekilas melihat chat dari Fauzan. Sesaat setelah membuka chat tersebut, ia lalu membuka aplikasi M-banking, ternyata ada SPAN lagi.


"Ini uang apalagi sih?" gumam Tania.


Tania mengetik pesan kembali ke chat WhatsApp Fauzan, tetapi ia urungkan untuk mengirimnya. Sesaat kemudian ia kembali membuka chat dengan pemuda tersebut lalu mengurungkan kembali, ia ragu. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat ke layar ponselnya kembali. Karena di sana kini terpampang gambar pria yang selama ini dihindarinya bergerak-gerak. Fauzan terlihat tampan dengan kopiah bertengger di atas kepalanya.


"Assalamu'alaikum, cantik," sapa pria tersebut.


"Wa-waaalaikumussalam,"


"Ada apa, Tan?"


"Kok malah tanya?" Tania keheranan. "justru Tania mau tanya. Ma-Mas Fauzan ngapain video call?" tanya Tania tergagap.


"Kamu nanyea? Kamu bertanyea-tanyea? Padahal kamu sendiri yang panggil. Ada apa kangen ya sama Mas Fauzan?" goda Fauzan.


"Ih, kepedean!" cibir Tania sembari memanyunkan bibirnya.


"Ya udah lanjut lagi sana tahlilannya. Tania juga enggak sengaja mencet, maaf."


"Ya sayang lah kalau disudahi. Seumur-umur baru kali ini Mas dapat panggilan dari kamu, video call lagi.Ya sayang kalau langsung ditutup."


"Maaf udah ganggu Mas Fauzan."


"Tidak apa-apa, Tan. Apalagi kamu terlihat berbeda. Udah berani menggoda Mas Fauzan kamu sekarang, Tan? Sampai membuka penutup kepala segala dan pose kamu menantang seperti itu," celetuk Fauzan yang seketika membuat Tania membelalakkan matanya.


"What's?"


Tania seketika melempar ponselnya ke samping hingga posisinya terbalik dengan layar menghadap kasur. Gadis itu memang sekarang sedang dalam posisi rebahan dengan memakai daster panjang lengan pendek juga tidak memakai kerudung karena ia tidak berniat keluar kamar dalam beberapa menit. Ia hanya ingin merilekskan badannya yang terasa penat setelah seharian beraktivitas. Pasti dadanya yang seharian belum disedot oleh Bita terlihat menyembul, meskipun tadi sudah dua kali disedot pakai breast pump.


"Duh, Mas Fauzan pasti berfikiran ngeres," gumam Tania lirih.


"Tania! Tan?" seru Fauzan memanggil nama Tania karena layar ponselnya kini menjadi gelap gulita di seberang sana. "Hahaha, harusnya sih aku enggak usah bilang tadi kalau kamu enggak pakai kerudung," sesalnya, tetapi masih diselingi dengan tawa.


"Astaghfirullah, Mas Fauzan nyebelin ih," gerutu Tania merasa malu sendiri karena dianggap mau menggodanya.


Tania lalu bangkit, memakai kardigan dan kerudung instannya yang diambilnya dari dalam lemari. Semenjak tinggal bersama mamanya di rumah ini, Tania mulai berhijab jika keluar kamar. Karena di rumah tersebut banyak orang lain yang bukan keluarganya juga mahramnya.


Tania keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ke kamar Atar.


"Eh, Mbak Tania. Kebetulan ini Bita udah mulai rewel. Sepertinya mau ngASI yang langsung dari sumbernya," ucap Neni yang tengah menggoyang-goyangkan tubuhnya menenangkan Bita.

__ADS_1


"Sini, Sayang. Kangen sama Bunda ya," sambut Tania meraih tubuh bayi mungil tersebut.


Tania lalu menciuminya dengan gemas seluruh permukaan wajah imut gadis kecilnya. Harum aroma khas bayi perpaduan antara minyak telon dan bedak menyeruak memenuhi indra penciuman sang bunda.


Tania membaringkan Bita di kasur spring bed tanpa ranjang. Ia lalu berbaring miring di samping gadis kecilnya dan mulai menyalurkan ASI langsung kepada sang putri.


*****


Sementara di luar Jawa sana, di tempat tinggalnya Fauzan nampak tertawa cekikikan seorang diri sambil menatap layar ponselnya di dalam kamarnya. Ia begitu bahagia mendapat panggilan video call dari perempuan yang sangat dicintainya. Ia merasa seperti mendapatkan jackpot saja. Atau ketiban durian runtuh. Lah, kalau ketiban durian runtuh ya pasti kesakitan dong, bocor tuh kepala.


Lalu ia ingin membagikan kabar bahagia ini kepada sahabatnya, Amar. Lebay sekali kau, Ozan. Baru divideo call tidak sengaja saja sudah sebahagia itu, apalagi didatangi dan diminta menikahi nanti.


Dibukalah chat dengan kontak dengan nama Amarente. Lalu pemuda itu juga menekan icon kamera video. Lama panggilan itu tidak mendapat jawaban. Fauzan sampai kesal sendiri. Ia ulangi beberapa kali, tetapi sama tidak diangkat juga. Ia bertambah kesal saat yang terakhir malah diriject.


"Amarente, kamu enggak setia kawan ternyata," sungut Fauzan. Namun, ia tidak bisa menghilangkan senyum yang telah terlanjur terpasang di mukanya.


Hingga ia keluar kamar pun, mukanya masih saja berseri-seri. Fauzan menuju ke dapur untuk mencari makanan. Di dapur ia melihat asisten pribadinya sedang memasak. Ups, asisten pribadi kok masak?


"Masak apa kamu, Mam?" tanya Fauzan kepada Imam.


"Nasi goreng," jawab Imam singkat sembari mengaduk masakannya.


"Pagi nasi goreng, malam nasi goreng. Perasaan nasi goreng melulu," gerutu Fauzan yang kini sudah duduk di kursi meja makan.


"Kok tahu kalau tadi pagi sarapan nasi goreng juga? Bos 'kan baru sampai sore hari?" tanya Imam.


"Nebak aja sesuai kebiasaan kamu kemarin-kemarin," sahut Fauzan.


"Kalau Bos enggak mau nasi goreng ya sana ke hotel," suruh Imam. Emang sembrono Aspri yang satu ini pada bosnya.


"Malas ah, capek masih jetlag," timpal Fauzan. Emang enggak bisa masak lain apa?" tebak Fauzan.


"Belum belanja, Nyonya, hahaha," sahut Imam mengejek majikannya dengan sapaan nyonya diselingi tawa.


"Semprul!" umpat Fauzan sembari melempar kotak tisu yang mengenai tepat di punggung Imam. "Kamu belum dapat perempuan buat bantu pekerjaan rumah tangga juga? Di kampung ini kan pasti banyak," lanjutnya bertanya.


"Belum, Bos," sahut Imam lagi sambil mengambil kotak tisu yang terjatuh di lantai lalu meletakkannya di rak depannya. "Atau Bos saja nikah terus bininya suruh masakin buat Bos, tar saya numpang makan di sini," cetusnya.


Fauzan membelalakkan matanya."Sialan! Aku mau menikah buat cari istri bukan pembantu tahu! Lagian calon istriku nanti anak pemilik hotel tempat kamu bekerja. Masa mau dijadikan pembantu," umpat Fauzan kesal, tetapi ia tidak bisa melempar kotak tisu lagi karena kotak tisunya sudah ada di tangan Imam. Mau melemparinya dengan benda lain seperti mangkuk sayang kalau nanti pecah.


"Lha dari pada kita tidak ada yang urus?" timpal Imam. "Lagian saya ini 'kan asisten pribadi Bos bukan asisten rumah tangga," protesnya.


"Pokoknya dalam waktu tiga hari kamu sudah harus mendapatkan wanita untuk dijadikan asisten rumah tangga. Kalau tidak dapat juga dalam waktu tersebut, kamu tinggal saja di mes karyawan yang ada di basemen," pungkas Fauzan yang kini tidak mau dibantah lagi oleh sang aspri yang suka membantah tersebut.


Imam mematikan kompor, lalu menoleh dengan wajah memelas. Ia tak menyangka bosnya ini bisa berkata sekejam itu. "Jangan dong, Bos!" pintanya.


.


.


TBC

__ADS_1


Mohon like dan komennya ya, terimakasih 🙏


__ADS_2