2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Pulang Kampung


__ADS_3

Sepertinya matahari pagi ini enggan untuk menampakkan diri. Sejak semalam bumi diguyur derasnya hujan. Pagi ini pun tetesannya masih tersisa di atap genting dan dedaunan pohon. Hawa dingin menyelimuti tubuh. Langit nampak mendung syahdu. Yuk, tarik selimut lagi saja.


Pagi ini Edos berencana mengantarkan Tania untuk periksa kehamilan ke dokter kandungan. Namun yang mau diajak periksa malah belum siap-siap. Ia malah lagi asik browsing tentang parenting di ponselnya. Edos menghampirinya, berdiri berkacak pinggang. Drama pun dimulai.


"Ini calon bunda jadi mau periksa ke dokter apa enggak sih? Sudah jam berapa ini? Nanti keburu Pak Nur dan Pak Trisno datang menjemput ke sini lho," cerca Edos geleng-geleng kepala.


"Dikit lagi, Yank. Ini penting banget, kalau enggak dibaca sayang," sahut Tania tak mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Kan masih bisa dilanjut nanti di mobil, Yank. Atau tanya sama dokter ahlinya sekalian nanti," bujuk Edos.


Tania tak bergeming, ia masih asik dengan gadgetnya. Edos melangkah lebih dekat, duduk di samping Istrinya tersebut.


"Ya sudahlah, tidak usah periksa saja. Kita lanjutkan terapi-terapian saja dech" cetus Edos yang langsung memeluk Tania.


Tania membelalakan kedua matanya. "Ish, no no no!" sergahnya.


Tania langsung berontak. Bukan hanya periksa kandungan saja yang bisa batal, tapi rencana pulang kampung juga pasti akan tertunda total kalau sampai ada acara terapi-terapian dilakukan. Dengan sekuat tenaga Tania mencoba melepaskan pelukan suaminya, namun usahanya tidak melebarkan jarak sesentipun.


"Yank," rengek Tania meronta.


Edos tak melepas pelukannya. Ia bahkan mengeratkan pelukannya dan menciumi pipi Tania bertubi-tubi.


"Yank," panggil Tania lagi.


"Apa?" Edos pura-pura tidak tahu maksud Tania.


"Aku mau ganti baju, Yank. Lepasin!" pinta Tania.


"Taruh dulu ponsel kamu!" suruh Edos.


Tania meletakkan ponselnya di sofa di sampingnya. "Udah, Yank. Lepasin donk! dedeknya enggak bisa napas nih," pinta Tania pura-pura mengatasnamakan bayi yang ada di dalam kandungannya.


"Cium dulu, donk. Baru nanti kulepaskan," Edos memberikan syarat dengan tersenyum jahil.


"Ih, Ayah nakal sama Bunda," cebik Tania menirukan suara anak kecil.


Edos seketika tertawa mendengar suara Tania yang dibuat-buat. "Ayah enggak nakal sama Bunda, Dek. Tapi Ayah cinta, cinta.. banget emmuach," sahut Edos seraya mencium pipi Tania. "Ayo, mana ciumannya?" tagihnya menunjukkan pipinya.


"Dari tadi juga udah nyium," Tania mencebik.


"Bedalah rasanya mencium sama dicium," Edos masih belum mau mengalah.


Tania mengambil ancang-ancang. Ia menghitung dalam hati, satu, dua, dan dalam hitungan ke tiga dia mencium pipi Edos secepat kilat.


"Cup"


"Masa nyium kayak gitu," gantian Edos yang mencebik. "Ulangi! Gini nyiumnya, emmuach," suruhnya.


Tania menuruti perintah Edos, timbul ide untuk menggelitik perut dan pinggang Edos, hal itu sukses membuat Edos kegelian dan tak ayal lagi dia melepaskan tangannya dari tubuh Tania.



Sambil berdiri Tania mengelus perutnya dan berucap, "Hore.., kita menang, Dek! Semangat!"


"Bunda curang, Dek," seru Edos setelah tawanya mereda.


Tania membuka lemari pakaian, mengambil sebuah gamis. Ia hanya mengganti gamisnya dengan gamis warna hitam, sedangkan kerudung pashmina yang tadi masih dipakainya.


**********


Kini mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju Ke RSIA Bina Medika. Selama dalam perjalanan, Edos tak henti-hentinya mengusap perut Tania dengan lembut. Sedangkan Tania masih saja berkutat dengan ponselnya. Ia masih belum puas untung membaca tentang parenting.


Sesekali Edos ikut menyanyikan lirik lagu MP3 yang diputar dari DVD player di dashboard mobil. Saat terdengar lagu 'Dia' milik Anji, Edos mengganti kata 'dia' dengan 'Tania'. Tania terharu mendengarnya hingga menitikkan air mata, karena merasa sangat dicintai.

__ADS_1


Oh Tuhan, kucinta Tania


Kusayangan Tania, rindu Tania, inginkan Tania


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya


Untuk Tania



Sesampai di RSIA Bina Medika, Tania langsung mendapatkan pelayanan, karena sudah mendaftar via online dari tadi malam. Ia berbaring di atas brangkar untuk USG. Dokter mengatakan bahwa kondisi kandungan Tania sehat, ia diperbolehkan untuk melakukan perjalanan jauh asal jangan sampai kelelahan.


"Yank, nanti saat pulang kampung jangan nyetir sendiri lho, aku enggak mau ikut kalau kamu yang nyetir," pinta Tania yang masih merasa trahuma mengingat kejadian pertama kali saat sampai di Jakarta.


"Iya, terus nanti pulang ke sini lagi pakai apa?" tanya Edos.


Tania juga berfikir dulu sebelum akhirnya menjawab, "Naik bis atau travel saja," ucapnya. "Oh iya, kan Papa sama Mama nyusul kita ke sana, Yank," ingatnya.


Sampai halaman rumah Keluarga Ardiansyah, mobil milik Juragan Burhan yang dibawa oleh Pak Nur dan motor gede Edos yang dipakai Doni sudah terparkir dengan nyaman di sana. Tania membuka seat belt, lalu membuka pintu mobil yang berada di sampingnya setelah mobil yang dikemudikan suaminya berhenti.


"Tunggu sebentar, Yank!" cegah Edos.


Edos mencabut kunci mobil, bergegas keluar dari mobil, memutari bagian depan mobil untuk membantu istrinya turun. Tania menghela napas menanggapi sikap suaminya yang menurutnya over protektif terhadap dirinya tersebut.


"Aku kan bisa turun sendiri, Yank," tolaknya.


"Udah, tinggal nurut saja kenapa!"


Tania pun menuruti tindakan suaminya. Hingga masuk ke dalam rumah, tangan Edos masih memeluk pinggang Tania.


"Duh calon ayah dan bunda romantisnya, bikin iri dech," celetuk Doni saat melihat kedatangan Tania dan Edos di ruang tamu.


"Kalian sudah lama?" sapanya pada Pak Nur dan Pak Trisno.


"Belum terlalu lama kok, Denmas Edos," jawab Pak Trisno menyambut uluran tangan dari Edos sambil tersenyum.


Edos duduk di salah satu sofa. "Bagaimana pemberangkatan kita, apa kamu mau bawa motor sendiri atau ikut mobil, Don? Tania melarang ku nyetir sendiri," ungkapnya.


"Aku bawa motor kamu saja, sementara kamu dan Tania ikut mobil Pak Nur," usul Doni.


"Oke kalau begitu, aku dan istriku ikut Pak Nur," sahut Doni.


Dewi, Tania dan Siti yang tengah menarik koper tiba dari ruang tengah. Siti langsung membawa koper tersebut ke mobil.


"Sudah mau pada berangkat ya, Edos?" tanya Dewi pada menantunya.


"Iya, Ma. Edos sekalian pamit. Titip salam buat Papa ya," sahut Edos.


"Iya Nak. Salam juga buat papa sama Mama kamu, hati-hati di jalan," sahut Dewi.


Dewi memeluk dan mencium Tania. "Jaga calon cucu Mama baik-baik. Minggu depan kami akan menyusul ke sana," ucapnya.


"Tania pamit, Ma."


Dewi mengantar mereka hingga ke halaman. Edos dan Tania masuk ke dalam mobil, duduk di kursi jok bagian tengah, sementara Pak Trisno duduk di kursi depan samping kursi kemudi. Doni keluar dari halaman melewati pintu gerbang terlebih dahulu, sementara mobil yang dikemudikan oleh Pak Nur mengikuti di belakangnya.


Rombongan berpisah saat akan memasuki gerbang tol. Karena jalur yang mereka lewati berbeda. Doni melewati jalur Pantura, sementara rombongan mobil melewati jalan tol.


"Tidur saja, Yank. Jangan main hp melulu! nanti mual loh. Perjalanannya masih lama," Edos menasehati istrinya.


Yang dikatakan Edos benar, karena tidak lama kemudian Tania merasakan kepalanya mulai pusing dan mual, ia menyimpan ponselnya ke dalam tas selempang dan mengambil permen jahe dari dalam tas yang mengalung di lehernya tersebut lalu langsung mengunyahnya.

__ADS_1


Tania menyandarkan kepalanya di punggung suaminya, tangan Edospun terulur meraih pundaknya, dan mengusapnya lembut.


"Aku enggak bisa tidur, enggak ngantuk," sahut Tania.


"Dengerin musik saja, jangan dilihatin ponselnya," cetus Edos.


Tania yang memang sudah mulai bosan karena harus duduk dalam waktu yang lama itu akhirnya menuruti ide suaminya. Ia mengambil ponselnya kembali untuk mendengarkan musik.


*************


Sekitar pukul tiga sore rombongan mobil tengah memasuki halaman rumah Juragan Burhan. Kedatangan mereka disambut oleh Juragan Burhan dan Nurlita. Likha juga keluar untuk mengambil barang-barang bawaan milik Tania dan Edos.


Nurlita memeluk dan mencium menantunya. "Ini sudah berapa bulan, kok sudah kelihatan?" tanyanya sambil mengelus lembut perut Tania.


"Tiga bulan, jalan empat bulan, Ma," jawab Tania tersenyum.


"Ayo Mama antarkan ke kamar, pasti kamu capek. Biar bapak-bapak istirahat di ruang tamu," ajak Nurlita.


"Apa kalian sudah pada makan siang, Pak Nur, Pak Trisno, Edos?" tanya Nurlita beralih pada kaum bapak-bapak.


"Tadi kami sudah mampir makan siang di rest area, Bu," jawab Pak Trisno.


Nurlita kembali beralih ke Tania, "Ayo, Sayang," ajaknya. Ia mengajak Tania ke sebuah kamar yang ada di lantai bawah. "Sebenarnya kamarnya Azhar ada di lantai atas, karena kamu sedang hamil sementara kamar kalian di sini," tuturnya.


"Tidak apa-apa, Ma. Ini juga sudah mewah buat Tania," sahut Tania.


Tania melangkah masuk, mengedarkan pandangannya menyapu ke semua sudut ruangan, mirip rumah orang jepang, itu kata hati Tania. Ia pun duduk di tepi kasur spring bed, diikuti oleh mama mertuanya.


"Rumah ini sebenarnya milik Mr. Hiro, seorang investor asal Jepang. Rumah kami yang sebenarnya masih satu kampung dengan rumah ayah kamu. Rumah itu sekarang dijadikan sebagai gudang produksi teh," tutur Nurlita.


"Oo, gudang teh itu," ucap Tania paham. "Apa berarti Edos juga tinggal di sana, Ma?" tanyanya.


"Dia lahir di rumah itu, Sayang. Namun kemudian kami pindah ke sini setelah Kakak kamu Abizar ditemukan," jawab Nurlita.


"Ditemukan? Kak Bizar sempat hilang, Ma?" tanya Tania kaget.


Nurlita terlihat sedih, "Kakek kamu tidak menyetujui pernikahan kami, dia membayar orang untuk menculik dan membuang kakakmu yang waktu itu masih bayi. Dan Papa Burhan menemukannya di rumah Mr. Hiro saat pergi ke Jepang," tuturnya.


Tania mengusap punggung mama mertuanya, memberikan simpatinya. Nurlita mengela napas.


"Sekarang Kak Bizarmu juga jarang pulang ke sini, Azhar suami kamu juga sudah punya kehidupan sendiri, rumah sebesar ini rasanya sepi untuk ditinggali hanya kami berdua, Mama dan Papa Burhan," tutur Nurlita lagi.


Tok tok tok


"Siapa?" tanya Nurlita berseru.


"Likha bawa minuman buat Mbak Tania, Bu," jawab Likha.


"Masuk saja, Likha."


Likha muncul di ambang pintu, membawa minuman dan cemilan untuk Tania, dan menaruhnya di meja.


"Terimakasih, Likha," ucap Nurlita. "Diminum tehnya, Sayang. Mama ke dapur ya biar kamu bisa istirahat," pamit Nurlita.


.


.


.


TBC


Terimakasih sudah setia menunggu Tania. 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2