2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Atar Terkena Step


__ADS_3

Bu Fatimah bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia tidak berbohong, tetapi ia sudah diwanti-wanti oleh putra sulungnya untuk tidak membocorkan nomor ponsel yang digunakan oleh Fauzan saat ini.


"Kenapa, Bu? Ibu tidak membawa telepon genggam?" cecar Tania.


"I iya, Nak. Ibu juga tidak bisa bermain telepon genggam. Kalau telepon rumah ibu hafal nomornya," sahut Bu Fatimah yang saat ini tengah duduk di kasur spring bed memangku Bita.


"Ya udah, tidak apa-apa Bu. Tidak usah saja," tolak Tania.


"Sepertinya Bita lapar nih," ucap Bu Fatimah.


"Iya, Bu. Sini biar Tania susui," sahut Tania meraih Bita dari pangkuan Bu Fatimah.


Sementara di lantai bawah tepatnya di ruang tamu.


"Sebenarnya om sudah mau kirim berkas itu ke emailnya Edi, belum sempat saja, tapi karena kebetulan kamu di sini, mendingan kamu saja yang bawa sekalian berkas itu," ungkap Ardi.


"Baik, Om. Saya akan bawa berkas itu dan sampaikan langsung kepada Pak Edi," sahut Fauzan.


"Kalau begitu Om ambil langsung saja berkas itu sekarang biar enggak lupa," cetus Ardi.


"Iya, silakan, Om," sahut Fauzan.


Ardi pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Fauzan sendirian di ruang tamu. Sementara Fauzan yang kini hanya sendiri di ruang tamu yang luas itu pun bingung harus melakukan apa. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari ruangan. Mengamati pernak pernik yang ia temukan di setiap sudut ruangan serta hiasan dinding. Tiba-tiba terdengar sebuah salam dari ambang pintu. Seorang gadis belia muncul dan masuk ke dalam ruangan tanpa disuruh. Betapa terkejutnya Fauzan saat melihat siapa yang datang. Di belakang gadis itu seorang pemuda tampan mengikutinya.


"Tan Tania? Dari mana kamu? Kapan kamu keluar?" cecar Fauzan yang terlihat shock mendapati wanita yang dihindarinya dan disangka mendekam di kamarnya karena baru pulang habis operasi, ternyata kini baru kembali bepergian, bersama pemuda tampan pula. Lalu tadi yang ia lihat berada di atas balkon siapa? Atau hanya halusinasinya saja.


"Siapa dia? Tania? Kamu kenal?" cecar pemuda tampan yang bersama gadis itu.


"Enggak kenal," sahut gadis itu. Melihat wajah shock tamu di rumahnya, timbul niat iseng di benak si gadis. "Anda siapa? Anda kenal saya?" tanya gadis itu.


"Kamu benar-benar lupa sama Mas? Atau pura-pura lupa, Tan?" sergah Fauzan mulai frustrasi mengingat gadis yang dicintainya ternyata tidak mengenalinya.


"Dah lah, yuk, Rel. Kita langsung masuk aja," ucap gadis itu mengajak teman laki-lakinya untuk masuk lebih ke dalam rumah.


Fauzan memandangi kepergian sepasang anak cucu Adam tersebut hingga tidak kelihatan batang hidungnya. Rasa kecewa nampak tersirat di wajahnya mengingat sikap cuek dari gadis pujaannya.


"Fauzan!"


Sebuah suara kembali mengagetkannya. Fauzan pun menoleh.


"Om Ardi," sahutnya seraya mengelus dada.


"Kenapa berdiri di situ? Ayo duduk di sini!" ajak Ardi sembari mendudukkan dirinya di sofa. Fauzan pun menurut tanpa menyahut.


"Gimana, Om? Apakah berkasnya sudah ketemu?" tanya Fauzan setelah duduk berhadapan dengan tuan rumah.


"Sudah, ini berkasnya, tapi masih ada satu lagi yang dibawa oleh Reza," sahut Ardi.


"Berkas itu mau dititipkan ke saya sekalian atau bau dikirim via email saja?" tanya Fauzan lagi.


"Berkas yang satunya lagi tidak mendesak kok, mungkin akan Om bawa sendiri ke sana, sekalian meninjau perkembangan pembangunan hotel sudah sampai mana?" cetus Ardi.

__ADS_1


"Baiklah, saya juga mau sekalian ajak ibu berlibur ke sana, Om," ungkap Fauzan.


"Wah, bagus itu. Kapan rencana berangkat?" tanya Ardi.


"Harusnya sore ini sih Om, ambil penerbangan terakhir, tapi karena ibu mendadak mengajak ke sini jadi ditunda sampai besok pagi," sahut Fauzan.


"Kamu enggak pamitan sama Tania?" tanya Ardi.


"Emm enggak perlu kayaknya, Om," sahut Fauzan. "Ketemu saja barusan pura-pura enggak kenal," cibirnya dalam hati.


Hari sudah menjelang Maghrib, tetapi Bu Fatimah belum turun juga dari lantai dua kamar Tania. Fauzan duduk dengan gelisah. Berkali-kali Fauzan melirik ke arah ruang tengah terapi wanita paruh baya itu belum muncul juga. Hati Fauzan gelisah menanti kemunculan sang ibu. Mau menghubunginya via telepon, tetapi sang ibu tidak memegang ponsel. Ia juga ingin seseorang lain muncul pula di ambang pintu tersebut, tetapi rasanya tidak mungkin karena Tania tidak mungkin leluasa berjalan kaki. Lalu tadi siapa yang baru datang bersama seorang pemuda? Rasanya jika dipikir-pikir lagi tidak mungkin itu Tania, tetapi Fauzan tidak sedang berhalusinasi.


Samar dari dalam ruang tengah seorang wanita mendekat, tetapi bukan dua orang yang diharapkan oleh Fauzan tadi. Ia adalah Neni, pengasuh Atar yang kini datang tergopoh-gopoh dengan menggendong anak asuhnya.


"Maaf, Pak Ardi, Mas Fauzan, ada Pak Joko atau Mas Reza di mana ya? Atar badannya panas banget tadi sempat kejang, mau saya bawa ke rumah sakit," ucap baby sitter Atar tersebut.


"Apa? Atar panas?" Tanya Ardi panik, cucunya yang beberapa hari ini luput dari perhatiannya juga perhatian orang-orang di rumah itu karena fokus mereka tertuju pada sang bundanya dan Atar sendiri yang baru lahir yaitu Tania dan Bita. Kasihan sekali Anak sekecil Atar yang harusnya masih ASI harus berbagi kasih sayang dengan sang adik yang kini telah hadir di saat usianya baru genap satu tahun.


"Iya, Pak, tadi sempat kejang juga," sahut Neni.


"Sini! Biar sama saya. Kamu persiapkan saja keperluan Atar pakaian dan lainnya," sela Fauzan mengulurkan tangannya merah Atar dari gendongan Neni.


"Iya, Mas, sudah Neni siapkan kok tinggal ambil," ucap Neni menyerahkan Atar kepada Fauzan. "Neni ambil dulu ya," pamitnya lalu kembali meninggalkan ruang tamu.


"Panas banget suhu tubuhmu, Sayang," ucap Fauzan merasakan panas tubuh Atar yang bersentuhan dengan kulitnya.


"Om, sebaiknya jangan kasih tahu Tania. Tolong nanti kasih tahu kepada ibu saya kalau saya mengantar Atar ke rumah sakit. Mungkin keberangkatan Saya ke NTT akan tertunda lagi jadi saya kembalikan berkas itu kepada Om lagi. Saya pergi dulu," pamit Fauzan.


"Hati-hati di jalan ya, nanti saya menyusul," ucap Ardi.


Sampai di samping mobilnya ia membuka pintu samping penumpang, membiarkan Neni masuk dan meletakkan tas jinjing yang di bawanya di bawah jok. Fauzan lalu menyerahkan Atar untuk dipangku oleh Neni. Ia sendiri masuk dan duduk di kursi sopir langsung menyalakan mobilnya. Saat ia hendak menginjak gas, seseorang mengetuk kaca jendela samping. Seorang wanita terlihat di sana, ternyata ia adalah Nurlita.


"Saya boleh ikut ya, saya neneknya Atar," pinta Nurlita memohon.


"Silakan, Bu," sahut Fauzan setelah membuka akses kunci pintu.


Nurlita masuk dan duduk di samping Neni. Fauzan lalu menjalankan mobilnya keluar meninggalkan kediaman Ardiansyah.


"Sudah dikasih Paracetamol belum, Nen?" tanya Nurlita kepada Neni.


"Saya enggak berani, Bu. Sekarang kan lagi viral beredar berita ada banyak sirup Paracetamol ditarik dari peredaran karena menyebabkan kasus gagal ginjal terhadap 70 anak," sahut Neni.


Sampai di rumah sakit terdekat, Fauzan menghentikan mobilnya di depan lobi. Ia segera keluar untuk membukakan pintu untuk Neni dan Nurlita.


"Langsung ke IGD ya, Nen. Saya parkir mobil dulu," suruhnya.


"Iya, Mas," sahut Neni.


Neni dan Nurlita keluar menuju ke IGD, Atar digendong oleh Neneknya sedangkan Neni menjinjing travel bag. Sementara Fauzan membawa mobilnya ke area parkir rumah sakit.


Sampai di IGD Atar langsung dibaringkan di brangkar. Dua orang tenaga medis langsung menangani. Atar menangis kencang saat pergelangan tangan kanannya disuntik hendak dipasang selang infus. Namun sudah dicari-cari tidak juga ditemukan pembuluh venanya. Siapapun yang mendengar tangisannya pasti tidak akan tega.

__ADS_1


Petugas itu terpaksa mencabut jarum yang sudah tertancap dan kembali melakukan hal yang sama di pergelangan tangan sebelah kiri. Namun tidak juga menemukan pembuluh vena di tangan tersebut. Jarum itupun kembali dicabut.


Atar masih menangis kencang. Tangan dan kakinya dipegangi oleh Neni dan Nurlita untuk menenangkan. Sementara petugas medis itu memegang dan menekan-nekan pergelangan kaki untuk mencari pembuluh darah di sana.


"Sebentar ya, Dek. Kakak mau cari pembuluh vena di kaki adek. Adeknya gendut jadinya pembuluh venanya tidak kelihatan. Bismillahirrahmanirrahim," ucap salah seorang petugas medis tersebut.


Atar sudah di tidak menangis lagi, tetapi tangisnya kembali pecah manakala ia merasakan pergelangan kaki kanannya ditusuk jarum infus. Akhirnya selang infus itu bisa dipasang di pergelangan kaki kanan. Setelah beberapa saat tangisnya kembali reda.


Atar kembali menangis lagi saat petugas medis menyuntiknya lagi, mengambil sampel darah untuk keperluan tes laboratorium. Fauzan baru masuk ke ruang IGD saat Atar sudah mereda tangisnya dan terlelap tidur karena kelelahan.


"Mas Fauzan, tadi suster bilang disuruh ke bagian administrasi untuk mengurus pendaftaran," ungkap Neni.


"Sudah kok, kamu bawa KKnya Tania tidak?" tanya Fauzan balik.


"Enggak bawa, Mas. Saya enggak kepikiran sampai ke situ," sahut Neni.


"Ya sudah tidak apa-apa," timpal Fauzan lalu ia kembali keluar lagi menuju ke bagian administrasi.


Beberapa saat kemudian Fauzan kembali ke ruang IGD, barulah Atar dipindahkan ke ruang rawat.


*****


Kembali ke kediaman Ardiansyah.


Di kamar Tania tengah berkumpul Dewi, Bu Fatimah dan Aghni. Saat sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ada orang yang kembali mengetuk pintu.


Aghni membukakan pintu. Ternyata Reza yang datang.


"Mas Reza, ada apa?" tanya Aghni.


"Maaf, Bu Fatimah ditunggu Mas Fauzan di bawah," sahut Reza.


"Oo, sudah mau pulang Fauzannya? Kalau begitu Ibu langsung pamit pulang ya, Tan. Besok besok in sya Allah ibu ke sini lagi," pamit Bu Fatimah kepada Tania sesaat setelah mendengar ucapan Reza.


Bu Fatimah pun melangkah keluar kamar dan turun ke lantai bawah diikuti oleh Reza.


"Maaf, Bu, sebenarnya Mas Fauzan sudah tidak berada di rumah ini. Saya terpaksa berbohong supaya Mbak Tania tidak mendengar berita ini," ungkap Reza saat mereka berada di ruang tengah.


Di ruangan tersebut telah ada Farel dan juragan Burhan yang tengah berbincang-bincang.


"Apa yang terjadi?" tanya Bu Fatimah sedikit cemas.


"Atar kena step, Bu. Tadi Mas Fauzan mengantar Neni membawa Atar ke rumah sakit. Ibu mau saya antarkan pulang atau menyusul Mas Fauzan ke rumah sakit? Saya tidak bermaksud mengusir ibu loh," sahut Reza lalu bertanya.


"Antar Ibu ke rumah sakit saja. Juga ingin mengetahui keadaan Atar sekarang," sahut Bu Fatimah.


.


.


.

__ADS_1



Terima kasih kepada pembaca yang telah menghiasi laporan mingguan ku. 🙏


__ADS_2