
Tania membuka kulkas untuk mengambil es krim di freezer. Perempuan hamil itu memang tidak suka minum susu hamil maupun susu lainnya, tetapi ia menggantinya dengan makanan yang mengandung susu yang ia sukai seperti es krim dan es sup buah.
Tania mengambil es krim box dan menuangkan ke dalam mangkuk beling kecil. Wanita hamil itu lalu membawa mangkuk berisi es krim ke meja di ruang makan. ia pun duduk dan menikmatinya.
Dewi yang baru muncul di ruang makan pun ikut bergabung dengan putri sulungnya. Wanita berusia 40 tahunan itu duduk di kursi di hadapan Tania.
"Nanti pas melahirkan apa kamu mau cuti lagi, Sayang?" tanya Dewi membuka percakapan.
Tania menelan terlebih dahulu es krim yang sudah ada di dalam mulutnya sebelum menjawab. "Eng, sepertinya enggak deh, Ma. Masa cuti terus? Ngulang kuliah terus?Ya enggak lulus-lulus Tania nanti," sahutnya.
"Terus kamu mau tetap berangkat? Pasti kondisi badan kamu kan enggak fit. Kamu Cesar lagi kan? Kan belum ada satu tahun habis Cesar yang lalu pas lahirannya Attar," tanya Dewi lagi.
"Kebetulan HPL ini setelah ujian semester, Ma. Jadi Tania bisa gunakan jeda semester buat mulihin kesehatan setelah Cesar. Lagi pula Tania mau minta bantuan Mama buat biayain operasi Cesar yang paling bagus, yang satu hari bisa langsung jalan. Jadi kondisi kesehatan Tania bisa pulih lebih cepat dari yang dulu," ungkap Tania.
"Kalau masalah biaya sih kamu enggak usah khawatir. Mama sama papa yang tanggung semuanya. Kamu ini kayak sama siapa aja," timpal Dewi.
"Tania enggak enak sama Papa, Ma. Tania kan udah punya suami kaya," sesal Tania.
"Kamu ini ngomong apa sih, Sayang? Uang Papa sama Mama buat apa kalau bukan buat anak-anak dan cucu-cucu Mama sama Papa?" sergah Dewi.
Tania terdiam sejenak mendengar ucapan sang Mama. "Makasih banyak, Ma. Tania enggak bisa bayangin seandainya tidak ada Mama sama Papa," ucapnya haru.
"Kalau enggak ada Mama ya enggak ada kamu dong," kekeh Dewi.
"Kamu beneran baik-baik saja, Nak, ketika tahu Kak Bizar menikah lagi?" tanya Dewi sedih melihat nasib putri sulungnya yang sejak kecil selalu menderita.
Sejak masih di dalam kandungan Tania sudah ditinggalkan oleh ayahnya menikah dengan wanita lain. Lalu saat ia masih bayi dititipkan kepada bibinya, Rosiana, ditinggal merantau ke kota oleh ibunya ke Jakarta untuk bekerja. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar gadis itu sudah ditinggalkan oleh sang ayah untuk selama-lamanya.
Setelah bertemu kembali dengan ibu kandungnya pun hidupnya belumlah bahagia. Suaminya meninggal dan kini suami keduanya menikah dengan wanita lain saat statusnya masih sah sebagai suami Tania.
"Tania tidak apa-apa, Ma. Tania kasihan kepada Kak Bizar karena harus menanggung hidup Tania bersama anak yang bukan darah dagingnya. Tania tidak bisa melayani sepenuhnya Kak Bizar layaknya seorang istri. Kak Bizar juga tidak bisa menyentuh Tania karena saat menikah Tania sudah hamil anaknya Edos. Kak Bizar berhak hidup bahagia bersama wanita pilihannya, Ma," ungkap Tania membuat Dewi merasa semakin sedih.
"Kamu juga berhak hidup bahagia, Nak," ucap Dewi pilu.
"Tania bahagia kok, Ma, melihat orang Tania sayangi bahagia," ungkap Tania. "Jujur, Tania itu tidak mencintai Kak Bizar, Ma. Tania menyayangi kak Bizar layaknya seorang adik terhadap kakaknya. Tania juga tidak bisa menjalani pernikahan ini," lanjutnya.
"Ehm ehm."
Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi kegiatan termehek-mehek mereka. "Ada apa ini, Ma, Tania?" tanyanya menghampiri dan duduk di sisi Dewi. Pria tersebut kemudian merangkul istrinya yang tiba-tiba menangis setelah kedatangannya.
"Mama cuma sedih dengan nasib Tania, Pa. Sedari di dalam kandungan hidupnya selalu menderita," sesal Dewi menangis di pelukan sang suami.
"Mama aja yang berlebihan tuh, Pa. Tania biasa-biasa aja kok," elak Tania.
"Tuh, Ma, anak kitanya aja enggak sedih kok," tunjuk Ardi. "Lalu langkah kamu kedepannya bagaimana, Tan?" Ardi beralih kepada putri sambungnya.
"Ya jalani apa yang ada saja lah, Pa. Tania belum bisa berfikir jernih. Yang pasti Tania belum mau jadi janda untuk yang kedua kali dalam waktu secepat ini. Biarlah anak Tania yang kedua ini di akta kelahiran statusnya menjadi anaknya Kak Bizar, toh dia memang keponakannya," sahut Tania.
__ADS_1
"Apapun keputusan kamu, papa akan dukung. Kalau pun kamu mau cerai, papa akan sewa pengacara terbaik untuk mengurusnya," tawar Ardi.
"Iya, Pa. Untuk saat ini Tania belum ingin mengambil langkah apapun pokoknya," sahut Tania.
"Sudahlah, Ma. Jangan nangis lagi, jadi jelek kan," ucap Ardi mengusap pipi Dewi. "Suatu saat juga pasti Tania bahagia, Ma. Dia pasti akan menemukan seseorang yang menyayangi dan membahagiakannya seperti Papa buat Mama," imbuhnya yakin.
"Senyum, Ma. Tania aja bisa senyum," ucap Tania dengan senyum dipaksakan.
Setelah perbincangan dari hati ke hati tersebut Tania lalu tidur di kamar Atar dan membaringkan Atar di kasur yang sama dengan dirinya.
Tania memeluk dan menciumi pipi dan puncak kepala Atar yang tengah tertidur beberapa kali secara bergantian seraya mengungkapkan sebuah harapan untuk sang putra di masa yang akan datang.
"Robbii hablii minas sholihiin ... Ya Allah jadikanlah keturunanku anak-anak yang salih," ucapnya dalam do'a.
"Besok kalau Atar udah besar jadi anak yang salih ya nak, yang sayang sama Bunda dan adik kecil," ucapnya mengajak bicara putranya yang masih terlelap. Tania pun lalu ikut terlelap.
*****
Hari ini Tania harus mengikuti kuliah Etika Bisnis di kelas Manajemen Sumber Daya Manusia. Ada 21 SKS yang harus ia lalui yang terbagi menjadi 7 mata kuliah.
Tania sudah standby di kelas sebelum perkuliahan dimulai. Ternyata dosennya kali ini seorang perempuan muda yang berusia kira-kira beberapa tahun di atas Tania bernama Salma. Perempuan muda dengan hijab lebar itu menyampaikan materi dengan luwes namun mengena di otak mahasiswanya.
Usai mata kuliah ini masih ada dua mata kuliah lagi, setelah ini dan terakhir setelah jeda istirahat.
Saat Tania sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas, ternyata Salma, dosennya yang baru saja memberikan materi Etika Bisnis menghampirinya.
"Iya, Bu," sahut Tania mengangguk.
"Apa bisa nanti kita ngobrol sambil makan-makan di kafe misalnya," tawar Salma.
"Bisa, Bu. Kapan kira-kira ibu berkenan?" tanya Tania.
"Nanti istirahat sekalian makan siang bagaimana?" tawar Salma lagi.
"Bisa banget, Bu. Nanti Ibu share saja tempatnya, Tania pasti akan datang ke sana," sahut Tania menyetujui.
"Oke, saya tunggu di kafe Mentari," ucap Salma.
"Iya, Bu. Boleh bawa teman enggak, Bu?" tanya Tania.
"Boleh donk," sahut Salma. "Kamu ping nomor WhatsApp ibu, ibu kan belum simpan nomor WA kamu," imbuhnya lalu dosen muda itu berpamitan untuk pergi.
Saat istirahat Tania mengajak kedua sahabatnya, Nadia dan Prima bertemu dengan Salma di sebuah kafe yang sudah dishare di aplikasi hijau.
Mereka bertiga tiba di ruangan yang telah diresvasi oleh dosen mereka sebelum dosennya tersebut datang. Mereka lebih dahulu memesan makanan saat seorang pelayang masuk ke dalam ruangan.
"Kamu mau makan apa, Tan?" tanya Nadia sambil membolak-balik buku menu.
__ADS_1
"Apa aja makanannya? Aku lagi pengen makan oseng kulit mlinjo," sahut Tania.
"Dasar wong ndesit bumil satu ini! Mana ada makanan kayak gitu di kafe? Kamu mbok jangan aneh-aneh kunuh, Tan?" cicit Nadia dengan kalimat bercampur dialek Kuningan nya.
"Ya udah, aku pesan es karamel latte sama sate taichan," sahut Tania. "Pakai lontong ya," imbuhnya.
"Oke. Kamu mau pesan apa, Pim?" tanya Nadia beralih kepada Prima.
"Aku pesan nasi putih, cumi krispi plus sambal sama minumnya macchiato dingin ya, Mbak," ucap Prima kepada pelayan.
"Iya, Mbak. Mbaknya mau pesan apa?" tanya pelayan beralih kepada Nadia.
"Em, aku es mocca latte sama ini aja, Mbak," tunjuk Nadia di buku menu kepada pelayan.
"Mi Jawa? Masing-masing pesanan satu porsi ya, Mbak?" Tanya pelayan memastikan.
"Iya," sahut mereka kompak.
Pelayan pun pergi meninggalkan ruangan. Bersamaan dengan itu sepasang anak manusia masuk. Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang usia mereka sebaya.
Tania terkejut. "Lho, Pak Ustadz Amar kok bisa bareng sama Bu Salma?" tanyanya bingung.
"Bu Salma ini teman saya, Tan," sahut Amar.
"Teman apa? Sekolah atau kuliah? Atau teman baru ketemu karena sama-sama jadi dosen?" cecar Tania.
"Kami berteman sejak SMA, Tan," sahut Salma.
"Orang bilang tidak ada pertemanan sejati antara laki-laki dan perempuan melainkan salah satu dari mereka jatuh cinta," ucap Tania bijak.
"Betul," timpal Amar setuju dengan ucapan Tania.
"Kami juga teman di tempat tidur kok, Tan," kekeh Salma.
"Oh, jadi Pak Amar sama Bu Salma suami istri?" simpul Nadia. Prima yang sejak tadi fokus dengan ponselnya seketika mengalihkan perhatian kepada sang dosen mendengar ucapan dosennya.
"Kapan kalian nikah? Kok Pak Amar enggak ngasih undangan Tania? Bukannya terakhir kita ketemu status Pak Amar masih lajang ya?" cecar Tania mengernyitkan alisnya.
"Kenapa saya harus ngasih undangan pernikahan ke kamu? Kamu saja nikah enggak ngundang-ngundang. Lagian tahu dari mana kamu kalau status saya waktu itu masih lajang?" sergah Amar.
"Tania nikah kan emang enggak ngundang siapa-siapa, Pak. Pipim sama Nanad yang sohib kental Tania saja enggak sempat Tania undang kok. Iya 'kan, Pim, Nad?" cicit Tania meminta dukungan sama sahabatnya. "O... jadi maksud Pak Amar sama Bu Salma ngajak Tania makan di kafe ini cuma mau pamer kalau kalian udah nikah ya," pungkasnya menebak.
"Bukanlah, ngapain kami pamer sama kamu. Pamer itu sama yang belum nikah. Lah kamu nikah dan punya anak, lagi tek dung lagi sekarang," sergah Amar.
"Lalu buat apa, tumben-tumbenan?" tanya Tania lagi.
"Emang nggak boleh ya sekali-kali kami traktir cewek spesialnya sahabat kami?" Tanya Salma.
__ADS_1
******