
Sebulan berlalu. Bram baru pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat subuh. Sampai di dalam kamar, ia mendapati Niken tengah tidur pulas. Ponselnya yang ia taruh di meja berdering. Bram meraih ponselnya, ternyata panggilan telepon dari Ardan, adik papanya.
"Halo, Om," sapa Bram.
"Hai, Bram. Aghni bilang kamu dan Niken sekarang tinggal di Bandung. Kenapa tidak pernah main ke rumah Om?" cecar Ardan.
"Belum sempat, Om. Nanti siang deh, Bram ajak Niken ke rumah Om,"
"Oke, nanti siang Kamu harus ajak Niken kemari, perkenalkan dia dengan adik-adik sepupu kamu," titah Ardan.
"In sya Allah, Om," janji Bram.
"Baiklah, sampai nanti. Assalamu'alaikum," Ardan mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Bram. Bram menaruh kembali ponselnya di meja.
"Siapa yang telepon sih, Mas? Sengaja ya bicara keras-keras biar Niken bangun," sungut Niken masih dengan posisi berbaring dengan suara serak.
Bram duduk di tepi kasur springbed. "Memang sengaja, tadi telepon dari Om Ardan adik Papa. Dia meminta kita main ke rumahnya," jawab Bram. "Ayo bangun! Kamu pasti belum sholat subuh kan?" imbuhnya bertanya.
"Sok tahu, tadi aku sudah sholat terus mengaji sebentar, tiba-tiba mataku ngantuk ya tidur lagi," cebik Niken.
"Eh makin besar ya dia," ucap Bram mengelus perut Niken.
"Udah mulai nendang lho, Mas," timpal Niken.
"Eh iya, mau jadi pemain sepak bola ya, Nak?"
"Sok tahu lagi, kalau dia cewek masa jadi pemain sepak bola," cebik Niken.
"Ih, bumil makin seksi dech, makin ngegemesin gini. Bikin Mas betah berdua lama-lama sama kamu " ucap Bram menangkup kedua pipi Niken.
Niken menepis tangan Bram.
"Olah raga sebentar yuk, sebelum kita ke rumah Om Ardan!" ajak Bram yang mulai tersenyum jahiliyah.
"Maksud Mas Bram kita ke rumah Om Ardan jalan kaki, joging dulu gitu?" Niken pura-pura tidak tahu maksud Bram. Bukan apa-apa sih, kalau Bram sudah mulai minta gituan bilang sebentar juga minimal paling tidak bisa sampai tiga jam. Untung saja kandungan Niken kuat, walaupun ditempa dan dihujam dengan benda tumpul berulang kali pun masih sehat-sehat saja.
"Aw," pekik Niken, Ia merasakan sakit di hidungnya karena cubitan Bram segera mendarat. "Kebiasaan deh KDRT," sungutnya.
"Makanya, kalau enggak mau KDRT yang nurut sama suami," sergah Bram.
"Niken kurang nurut yang bagaimana sih, Mas?" protes Niken yang dicap tidak nurut sama suami memanyunkan bibirnya.
"Banyak, Niken," jawab Bram.
"Apa? Kapan?" tanya Niken
"Mas ajak kembali ke Jakarta bilang belum siap. Mas ajak olah raga pagi enggak mau," tutur Bram menjelaskan.
"Kalau kita tinggal di Jakarta ... " Niken menghentikan kalimatnya, ia menghembuskan napas pelan. "Niken takut Mas Bram kembali jadi suami durhaka kalau kita tinggal di Jakarta, suka mabuk-mabukan, suka ngomongin aku kasar, enggak pernah peduli sama aku, terlalu sibuk bekerja, lupa sama Tuhan," tutur Niken dengan mata berkaca-kaca tidak berani menatap mata Bram. Bram masih setia menunggu istrinya mengeluarkan semua uneg-unegnya.
Niken kembali menatap Bram. "Niken lebih suka tinggal di sini, meskipun tempat tinggal kita sempit, tidak ada fasilitas mewah, tetapi disayang sama suami. Mas Bram juga sekarang tidak pernah mabuk-mabukan lagi, lebih dekat sama Allah. Hati Niken rasanya adem," tutur Niken lagi.
Bram mendesah pelan. "Mas sudah taubat, Niken. Mas akan berusaha menjauhi semua barang-barang terlarang tersebut. Mas ingin menjadi suami sekaligus imam dan panutan bagi anak-anak kita kelak," ucap Bram yang terlihat sungguh-sungguh.
"Iya, Niken sudah melihat dan merasakan kesungguhan Mas Bram kok. Dan soal olahraga pagi, memangnya Niken bilang kalau Niken enggak mau?" pungkas Niken.
"Jadi?" tanya Bram sumringah.
"Tapi jangan lam-- emmmmppphh." Bram langsung membungkam bibir Niken dengan bibirnya.
Sementara di lantai bawah.
"Mas Feri," sapa Ririn pada seseorang pada sambungan teleponnya.
"Ada apa, Rin? Eh, sejak kapan panggilan kamu ada embel-embel di depan namaku?" tanya Feri.
"Aku enggak mau tinggal di sini menemani Mbak Niken sendirian. Pokoknya kamu harus pindah ke sini," rengek Ririn
"Kok sendirian? Bukannya Pak Bram suami Niken juga tinggal di situ?" tanya Feri.
"Maka dari itu, mereka setiap waktu selalu mengumbar kemesraan. Kamu dengar suara-suara enggak sih?" sungut Ririn.
"Suara-suara?"
Ririn menjauhkan ponsel dari telinganya, dan menjunjung tinggi ponselnya mengarah ke lantai atas beberapa saat. Lalu mendekatkan ponselnya kembali ke telinga.
"Gimana? Udah dengar?" tanya Ririn lagi.
__ADS_1
"Iya, dengar samar-samar. Lalu, lalu kamu pingin kayak mereka?" goda Feri.
"Iya," jawab Ririn singkat.
"Apa?" jawaban Ririn membuat Feri kaget. "Kamu gila? Kamu berasal dari keluarga terhormat, jangan permalukan keluarga kamu, Rin!"
"Kita nikah dulu lah, Mas," cetus Ririn.
Feri kembali menganga tidak percaya. Ririn? Bahkan tidak pernah ada dalam deretan bidadari-bidadari pujaan hatinya. Menikah dengan dia? Tanpa pacaran? Ini anak sudah kesambet jin di butik Niken kali ya.
"Kenapa diam? Mas, aku enggak punya pacar. Aku juga enggak punya teman cowok selain Mas Feri. Kita sudah kenal dari orok, kita tetanggaan. Orang tua kita juga saling kenal satu sama lain," timpal Ririn.
"Menikah itu butuh pemikiran dan persiapan yang matang, Rin," tutur Feri.
"Pikirkan dan persiapkanlah, Mas! Tetapi aku tidak akan memberikan tawaran dua kali," pungkas Ririn. "Assalamu'alaikum," Ririn menutup panggilannya.
Ririn baru tersadar dengan apa yang telah dia lakukan. Ia merutuki dirinya sendiri. "Dasar bodoh! Apa yang telah aku lakukan? Bagaimana jika setelah ini Mas Feri malah menjauh dariku jika bertemu? Aghhh ... Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
*******
"Ada apa, Fer?" tanya Bu Cici mamanya Feri saat melihat putranya menghampirinya yang sedang memasak di dapur.
"Ririn mengajak Feri menikah, Ma," jawab Feri menyugar rambutnya kasar.
"Apa? Kalian pacaran?" Bu Cici mematikan kompor. Ia mendekati putranya yang sedang duduk di kursi meja makan. "Kalian tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama kan, Fer? Ririn tidak hamil di luar nikah kan?" cecar Bu Cici.
"Mama? Apaan sih, kita cuma berteman," cebik Feri.
"Wah, kamu kalah satu langkah dari Ririn nih," Bu Cici malah manas-manasi anaknya.
"Mama ini, bukannya kasih solusi," cebik Feri.
"Nikahi saja Ririn, Fer! Dia berasal dari keluarga baik-baik. Kamu sudah mengenalnya dari kecil. Keluarga kita dan keluarganya sudah saling mengenal," cetus Bu Cici.
"Feri pikir-pikir dulu sambil joging dech, Ma," ucap Feri yang lalu bangkit dan meninggalkan Bu Cici.
"Yang fokus jalannya, jangan melamun!" seru Bu Cici. Bu Cici kembali melanjutkan acara masaknya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Selama satu bulan ini, setiap hari Nurlita selalu datang di rumah Tania untuk menemani menantunya tersebut. Ia didrop oleh Aris pagi hari dan dijemput saat pulang sore hari.
"Sarapan dulu, Ma," Tania menawari Nurlita sarapan. Saat mertuanya tersebut baru datang, Edos dan Tania sedang sarapan pagi.
"Jadi, Ma. Nanti berangkat pukul sembilan. Mama mau ikut nganter?" jawab dan tanya Edos di sela makannya.
"Ya ikut donk, mama ingin tahu perkembangan cucu mama," jawab Nurlita.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Tania membawa piring dan peralatan makan yang kotor lainnya ke dapur untuk dicuci. Selesai mencuci piring ia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Sebentar ia membuka pesan WhatsApp di ponselnya, salah satunya dari Nadia.
Nadia
[Tan, kemungkinan aku nggak bisa nerusin kuliah lagi bareng kamu, beasiswaku sudah dicabut karena aku ambil cuti, Tan.]
Anda
[Kita bicarakan lagi nanti sore ya, Nad. Aku mau siap-siap periksa ke klinik kandungan.]
Setelah membalas pesan dari Nadia, Tania hanya perlu membenahi dandanannya sebentar lalu keluar dari kamar.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Nurlita pada Tania saat menantunya tersebut menghampirinya.
"Sudah, Ma. Ayo! Aris sudah datang kan?"
"Sudah ada di halaman, Sisi juga mau ikut katanya," jawab Nurlita.
"Mau ngapain ikut? Mau ikut periksa juga?" tanya Tania lagi.
"Mau nemenin Aris katanya," jawab Nurlita.
"Ada-ada saja," Tania menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka masuk ke dalam mobil.
"Kita mau ketemu dokter siapa, Mbak Tania?" tanya Aris sebelum menstarter mobilnya.
"Aku masih bingung dokter siapa? Aku kan belum pernah periksa di sini," jawab Tania.
"Buku pink-nya dibawa kan, Sayang?" tanya Nurlita.
__ADS_1
"Ada di dalam tas, Ma," jawab Tania.
"Biasanya kalau jam segini dokter masih tugas di rumah sakit, jadi ke rumah sakit saja ya, Mbak?" tanya Aris.
"Iya, Aris." jawab Tania.
"RSI atau Anugrah, Mbak?" tanya Aris lagi.
"Anugrah saja, Ris," jawab Tania.
Aris pun mulai menjalankan mobilnya.
"Aku mau telepon Papa Ardi bentar ya, mumpung ingat," pamit Tania.
"Assalamu'alaikum, Tania. Kamu sudah lahiran?" tanya Ardi langsung dalam sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalam, belum, Pa. Tapi Tania telepon karena ada sesuatu yang lain. Ini soal Nadia, Pa," jawab Tania.
"Nadia teman kamu yang kena tusuk waktu itu?" tanya Ardi.
"Betul, Pa. Tadi dia bilang kalau beasiswa kuliahnya dicabut karena dia ambil cuti. Dia tidak bisa lagi meneruskan kuliahnya kalau beasiswanya dicabut, Pa," tutur Tania.
"Lalu kamu minta Papa buat membiayai kuliahnya?" tebak Ardi.
"Bukan, Pa. Dia pasti enggak akan mau kalau seperti itu. Tania minta tolong sama Papa untuk mengurus ke bagian administrasi kampus supaya beasiswa Nadia dikembalikan," jelas Tania.
"Akan Papa usahakan, Sayang. Nama lengkapnya siapa?" jawab Ardi.
"Asa Nahdiana, Pa," jawab Tania.
"Oke, sudah, itu saja?" tanya Ardi.
"Itu saja, Pa. Terima kasih ya, Pa. Assalamu'alaikum," ucap Tania.
"Wa'alaikumussalam."
Setelah menjawab salam, Ardi beralih menelepon seseorang, terhubung.
"Assalamu'alaikum, Om Ardi," suara seseorang menyapa di telepon.
"Wa'alaikumussalam, Rasya. Maaf, apa Om mengganggu kesibukan kamu?" tanya Ardi.
"Sedikit, Om. Kebetulan saya tidak ada jam mengajar. Ada apa, Om?"
"Begini, Om dapat amanat dari Tania, dia bilang beasiswa kuliah yang diberikan kepada Nadia sudah dicabut, apa beasiswa tersebut bisa dikembalikan?" tanya Ardi.
"Nadia?" Hati Rasya bergetar saat menyebut nama tersebut.
"Iya, nama lengkapnya Asa Nahdiana. Om si bisa saja membantu membiayai kuliahnya, tapi Tania bilang dia pasti tidak akan mau," tutur Ardi.
"Nanti saya tanyakan ke bagian keuangan, Om."
"Terima kasih ya, Rasya. Maaf sudah mengganggu."
"Sama-sama, tidak apa-apa, Om. Saya malah senang jika bisa membantu."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah menutup telepon, Rasya segera menekan tombol interkom.
"Ifada, apa pencabutan beasiswa atas nama Asa Nahdiana bisa dibatalkan?"
"Maaf, Pak. Sudah tidak bisa, karena berkasnya sudah bapak tanda tangani, dan beasiswa tersebut sudah dialihkan kepada mahasiswa lain."
"Oh, sudah tidak bisa ya," sesal Rasya.
"Iya, Pak. Salinan berkasnya masih ada di meja Bapak, di dalam map warna merah."
"Ya sudah, terima kasih,"
Rasya menghembuskan napas lalu menyugar rambutnya dengan kasar.
"Astaghfirullah al'adzim, Nadia. Kenapa harus aku yang selalu menjadi penyebab penderitaan kamu?"
.
.
__ADS_1
TBC.
Tararengkiuuh 😘😘😘