
Sayang, aku rindu senyummu.
Seperti rindunya kemarau pada sang hujan.
Namu yang kudapat hanya gurat kesedihan.
Senyum yang terukir di bibirmu kutahu hanya keterpaksaan.
Aku tahu, mungkin kamu kecewa dengan keadaan,
Maafkan aku.
Demi Allah, 1 detik di brangkar ini, kurasakan seperti seharian.
Kuharap dari dirimu, tak setetespun cinta menguap hingga ke awan.
Sayang, berdo'alah semua ini akan segera berlalu.
dan segera kita jelang kebahagiaan, aamiin..
Malam kian larut, namun mata Edos masih terjaga. Saat ini Edos sedang memandangi wajah istrinya yang tidur dalam dekapannya berhadapan di atas brangkar rumah sakit. Sesekali ia mengecup puncak kepala dan kening sang istri.
Merasa ada sesuatu yang mengusik, tubuh Tania menggeliat, namun matanya tetap terpejam, membuat Edos semakin gemas memandangi istri tercintanya.
Perlahan mata Tania terbuka, cahaya lampu yang pendar membuat matanya silau.
"Kok, nggak tidur, Yank?" tanya Tania.
"Capek tidur terus, besok kita pulang ya. Aku udah nggak betah di sini. Makanannya enggak enak," tutur Edos.
"Iya, tapi nunggu kunjungan dokter dulu," bujuk Tania.
"Dokter kapan datangnya?" tanya Edos lagi.
"Enggak tahu, aku kan bukan dokternya. Udah ah, aku capek mau tidur ngantuk banget," ucap Tania.
Tania kembali terlelap, namun mata Edos tetap tidak mau terpejam. Ia kini memainkan wajah istrinya, dari mulai memelintir rambut, menusuk-nusuk pipi dengan jarinya, mencubit hidung dan memencet-mencet mata supaya terbukapun tak luput dari keusilannya. Namun tidak juga dapat mengusir rasa kebosanannya.
Benar-benar bosan.
Edos meraih handphonenya yang ia taruh di samping bantal tidurnya.
Cekrek..cekrek,
Berulangkali ia mengambil gambar diri dan istrinya dari berbagai sudut yang ia bisa.
Bosan lagi,
Ia buka aplikasi berwarna biru. Terakhir ia buka malam hari setelah ijab qobul. Edos hanya menscroll kabar berita yang ada di berandanya.
Sepertinya ada sesuatu yang terlewat tadi. gumamnya.
Edos menscroll kembali ke atas. Ia menemukannya, sebuah iklan aplikasi novel online berisi penggalan cerita dan gambar.
Inikah aplikasi yang disukai oleh Tania?
Edos membaca sekilas sepenggal cerita yang ditampilkan dalam iklan tersebut.
Kayak cewek aja baca kisah romantis ginian, tapi sepertinya menarik buat ngisi kebosanan.
Ia menekan iklan tersebut. Sesaat kemudian dia dibawa ke play store, lalu muncul perintah buka, ia menekannya.
Travel Time,
Edos belum punya keinginan untuk login, ia hanya ingin membuka genre tersebut. Ia membaca salah satu judul novel bergenre travel time.
Sudah beberapa episode Edos baca. Sekarang ia mulai merasa kantuknya mendera, tetapi masih ingin membaca ceritanya, karena ia merasa ceritanya semakin menarik.
Edos sudah tidak dapat menahan kantuknya lagi. Tiba-tiba,
"Aw."
Mata Edos mengerjap kaget, ia melihat Tania sedang mengusap-usap kasar pipinya.
"Kenapa?" tanya Edos yang sudah sulit membuka mata.
"HP kamu ini, tadi jatuh kena pipiku," jawab Tania cemberut menyerahkan HP milik Edos yang dipegangnya, dan diambil oleh Edos.
Mendengar jawaban istrinya, Edos segera mengusap lembut dan menciumi pipi Tania.
"Maaf, Yank," ucapnya. "Udah, tidur lagi," bujuknya.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua akhirnya terlelap.
Pagi hari, Tania terbangun mendengar bunyi-bunyian seperti orang mendorong rak dorong yang terbuat dari seng. Ternyata perawat yang bertugas jaga sedang membagi dan menaruh baskom berisi air hangat untuk membasuh tubuh pasien di depan ruangan pasien.
Saat membuka mata, yang pertama kali dilihat oleh Tania adalah wajah tampan suaminya yang masih terlelap. Wajah tampan yang selalu tidak pernah bosan untuk dipandang.
Tidak cukup puas Tania mengamati setiap inci lekuk wajah suaminya, ia mengecup sekilas bibir suaminya. Dipandangnya lagi wajah orang yang masih belum mau membuka mata tersebut. Tania beralih mencium kening Edos cukup lama.
Tania melirik jam yang menempel di dinding, masih pukul setengah lima pagi. Pelan-pelan ia melepas pelukan suaminya dan beranjak turun dari brangkar. Ia menyeret kakinya menuju ke kamar mandi, ia mandi dan berwudhu.
Tania keluar dari kamar mandi kemudian sholat di samping brangkar. Ia sholat dengan khusyuk, kemudian berdzikir kepada Sang Khaliq, memohon ampunan atas segala dosa yang telah ia perbuat.
Tania berdiri, melepas dan melipat mukena yang dipakainya, menaruhnya ke dalam lemari kecil di samping brangkar.
Ia kemudian keluar mengambil baskom besar yang berisi air hangat, ditaruhnya baskom di bawah brangkar. Ia mengambil washlap lalu dimasukkan ke dalam air.
Tania berdiri menatap suaminya, membelai lembut rambutnya.
"Bangun, Yank," ucapnya mendekat ke telinga Edos.
__ADS_1
Dengan susah payah Edos membuka mata.
"Jam berapa?" tanyanya dengan mata yang masih sulit terbuka.
"Jam lima," jawab Tania singkat.
"Ah, masih pagi." jawab Edos yang kian merapatkan matanya.
"Aku bersihkan tubuhmu. Nanti airnya keburu dingin," Ucap Tania menaikkan suaranya satu oktaf.
"Yaudah, bersihkan saja. Tapi aku masih ngantuk," sahut Edos, dengkurannya mulai terdengar kembali.
"Huft," Tania mendengus kasar.
Iapun dengan telaten membersihkan kulit sekujur tubuh suaminya yang kembali tertidur. Gorden ruangannya masih tertutup, Tania dengan susah payah mengganti pakaian Edos dengan kaos oblong dan sarung batik.
Tania mengembalikan baskom ke tempat semula, di depan ruangan pasien di samping pintu. Ia kembali ke dalam ruangan dan duduk di sebuah kursi di samping brangkar.
Mas Rifki sudah dapat kursi roda second belum ya. Gumam Tania pada diri sendiri.
Tania meraih ponselnya, hendak menghubungi nomor Rifki namun takut mengganggu tidurnya.
Sementara Edos baru membuka matanya, ia melihat pakaian yang dipakainya sudah berbeda dari sebelumnya. Ia mencoba duduk dengan bertumpu pada kedua tangannya, bersandar pada sandaran brangkar.
"Say, ini baju siapa?" tanyanya pada Tania sambil menjumput kaos yang dipakainya.
Tania menoleh menghadapnya.
"Baju aku, Yank," jawab Tania.
"Bajuku mana?" tanya Edos lagi.
Pertanyaan yang sepele, namun kenapa berat rasanya untuk dijawab bagi Tania. Tania menghela nafas panjang.
"Koper kamu, masih tertinggal di mobil, Yank," ucap Tania tersendat. "Dan mobilnya meledak sesaat setelah kita berhasil dikeluarkan." Imbuhnya tidak dapat menahan air mata.
Edos memandang pilu istrinya.
"Udah, jangan nangis, sini!" ucap Edos membentangkan kedua tangannya ingin memeluk Tania.
Taniapun menghambur ke pelukan suaminya. Edos menyambut, menepuk-nepuk punggungnya.
"Jangan sedih lagi, Tuhan masih sayang sama kita. Harta masih bisa kita cari, pakaian masih bisa kita beli, tetapi nyawa tidak ada yang menjualnya."
Tania tidak menyahut ucapan suaminya, air matanya mengalir begitu deras, selama dua minggu ini ia hanya menyimpan sendiri kesedihannya. Ia tidak punya tempat untuk berkeluh kesah.
Sekarang suaminya telah siuman, setelah puas menangis, rasanya beban berat yang menghimpit di dada Tania seakan menghilang.
"Jadi, apa kita bisa pulang hari ini?" tanya Edos setelah tangis Tania mereda.
Tania memandang suami yang masih mendekapnya.
"Kenapa harus nunggu nanti sore?" tanya Edos lagi.
"Nunggu dokter, Yank. Lagian Mas Rifki belum kasih tahu, udah dapat kursi roda apa belum." jelas Tania.
"Siapa itu Mas Rifki, kamu manggilnya mesra banget. Kenapa enggak beli kursi roda di toko saja?" tanya Edos beruntun.
"Oh iya. Mas Rifki itu anaknya Bu Retno, orang yang hampir kamu tabrak waktu itu. Aku manggil Mas karena dia lebih tua dari aku saja," tutur Tania.
"Terus, kenapa kamu nggak pakai kartu ATM ku? nomor pinnya kan udah kukasih tahu," tanya Edos lagi.
Astaga, apa aku harus jujur kalau kartunya sudah tidak bisa dipakai lagi, gumam Tania.
Tania mendesah pelan sebelum berbicara kembali.
"Semua kartumu ditolak oleh pihak bank, Yank. Mungkin papamu sudah memblokirnya," jawab Tania.
"Astaga, Papa tega sekali sama anak sendiri." gerutu Edos.
"Maafkan aku, Say. Harusnya aku tidak membawamu ke kota ini. Aku pikir bisa membuatmu bahagia, ternyata hanya kesengsaraan yang kuberikan," sesal Edos.
Tania memandang wajah suaminya.
"Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi, Yank. Karena aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, kita akan melewatinya sama-sama. Ini adalah ujian seorang istri, ketika suami tidak memiliki apa-apa," tutur Tania.
"Oh, ujian istri itu ketika suami tidak memiliki apa-apa, lalu ujian suami apa?" tanya Edos hanya mengetes Tania saja.
"Ujian suami? ya, ketika istri tidak memakai apa-apa lah, ups."
Tania menutup mulutnya dengan tangan, ia tersipu malu telah keceplosan dalam berucap. Seketika tawa Edos meledak.
"Hahaha, istriku sudah pintar sekarang," puji Edos.
Sedangkan yang dipuji berusaha menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.
"Eh, tunggu Say." Edos menangkup wajah istrinya. "Ini kenapa membiru?" tanya Edos mengusap pipi Tania.
"Kamu lupa, Yang. Tadi malam udah KDRT?" Tania menjawab dengan pertanyaan.
"KDRT?" tanya Edos bingung. "Oh, maaf, Say. Aku kan nggak sengaja. Masa dibilang KDRT," protes Edos pada istrinya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu, Abizar semakin gelisah memikirkan Tania. Ia merasa ada sesuatu yang menimpa adik sepupunya itu, meskipun dari foto yang dia lihat di aplikasi biru memancarkan rona kebahagiaan. Abizar tidak bisa bekerja dengan baik jika belum mendengar kabar darinya.
Abizar mencoba menghubungi seseorang,
"Assalamu'alaikum, Keponakan Tante yang paling ganteng," sapa seorang wanita berusia 40 tahunan di ujung telepon.
"Bu Lek, Tania berada di Jakarta sekarang," tutur Abizar.
__ADS_1
"Tania? Maksudmu Tania anak Tante?" tanya wanita itu.
"Iya, Bu Lek. Apa dia ke rumah Bu Lek?" Tanya Abizar.
"Tidak, dia tidak kesini. Memangnya kapan dia ke Jakarta? Sama siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Sudah sejak dua minggu yang lalu Bu Lek, dia ke Jakarta bersama suaminya, Azhar," jelas Abizar.
"Suaminya? Jadi Tania sudah menikah?" tanya Dewi. Wanita itu adalah Dewi, adik perempuan Juragan Burhan. Dia adalah ibunya Tania.
"Dia menikah dengan Azhar, adikku Bu Lek. Tapi Nomor telepon keduanya tidak ada yang aktif," jawab Abizar.
"Bizar, tolong Tante dikirimi foto Tania dan suaminya yang sekarang ya!" pinta Dewi.
"Iya, Bu Lek. Nanti Bizar kirim lewat WA saja," Jawab Abizar.
"Tolong juga, cari tahu keberadaanya," pinta Dewi lagi.
"Pasti, Bu Lek. Bizar akan berusaha mencarinya," jawab Abizar. "Sudah dulu ya, Bu Lek. Nanti kalau ada kabar tentang Tania lagi kita saling kabar-kabari ya."
"Iya, Bizar. Terimakasih udah kasih tahu Tante."
"Sama-sama, Bu Lek. Assalamu'alaikum." Abizar mengakhiri panggilannya dengan salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dewi.
[Ini foto Tania dan Azhar, Bu Lek.]
Dewi yang sedang duduk di sofa kamar tidurnya termenung memandangi foto Tania dan Edos dalam pesan WhatsApp yang dikirim Abizar.
Maafkan Bunda, Nak. Bunda tidak bermaksud meninggalkanmu, tetapi keadaan saat itulah yang memaksa Bunda untuk pergi. Semoga kita dapat dipertemukan kembali, agar Bunda bisa menebus kesalahan Bunda selama ini. Batin Dewi menangis mengingat kejadian masa lalunya.
Seorang laki-laki paruh baya menghampirinya. Laki-laki dengan balutan celana warna abu-abu dan kemeja putih, ia duduk di samping Dewi sambil memegang dasi.
"Ada apa, Ma? Kenapa mama menangis?" Tanya Laki-laki tersebut. Dia adalah Ardi, suami kedua Dewi.
Pandangan Dewi tidak bergeser dari tempat semula.
"Tania sekarang berada di Jakarta, Pa. Dia sudah menikah dengan Azhar. Abizar barusan yang kasih tahu Mama," jawab Dewi. "Tapi tidak ada yang tahu keberadaan Tania sekarang dimana," tambahnya.
Ardi hanya mendengarkan keluh kesah sang istri.
"Mama ingin bertemu dengannya, Pa. Tapi Mama takut dia menolak Mama."
Ardi meletakkan dasi yang dipegangnya di meja. Ia bermaksud meminta Dewi untuk memakaikan di kerah lehernya seperti yang biasa Dewi lakukan setiap pagi. Namun ternyata istrinya tersebut sedang bersedih teringat anaknya.
Ardi merengkuh tubuh Dewi ke dalam dekapannya.
"Sabar ya, Ma. Mudah-mudahan kita segera menemukannya. Dia pasti bisa menerima Mama jika dia sudah tahu yang sebenarnya."
Ardi mencoba menenangkan istrinya yang sedang galau.
"Sudah dong sedihnya, Papa bisa telat ke kantor nih, kalau Mama masih sedih terus kayak gini. Papa juga nggak bisa ninggalin Mama dalam keadaan seperti ini," bujuk Ardi.
"Astaghfirullahal'adzim, jam berapa sekarang, Mas?" ucap Dewi sambil melihat tampilan jam di HP yang dipegangnya. "Kenapa Papa belum berangkat?" tanyanya pada suaminya tanpa merasa berdosa.
"Udah tahu suamimu ini tidak bisa pakai dasi sendiri, masih nanya," cibir Ardi.
"Udah tahu istri lagi sedih, masih saja manja," balas Dewi.
Dewi mengambil dasi yang ada di meja, meraih kedua pundak suaminya untuk menghadap kepadanya.
"Makanya kalau Mama lagi memakaikan dasi ke Papa diperhatikan. Sudah belasan tahun melihat hal seperti ini setiap hari, masih enggak bisa juga."
Ardi hanya tersenyum memandangi wajah istrinya yang menurutnya sangat lucu. Ia hanya menirukan ucapan Dewi dengan bibirnya tanpa suara.
Tadi nangis-nangis, sekarang ngomel-ngomel enggak jelas. Dasar wanita, moodnya enggak bisa ditebak, selalu berubah-ubah setiap waktu. gerutu Ardi.
Tapi terus terang aku lebih suka kamu yang seperti ini. Walau hati ini kadang jengkel mendengar omelanmu. Aku tidak tega melihatmu terus-terusan bersedih melihatmu belasan tahun menahan kerinduan ingin bertemu dengan anak pertamamu. Meski sekarang sudah ada Tania kedua, Buah cinta kita, Aghni.
Dewi, apapun penilaian orang terhadapmu, kau tetap Dewiku. Dewi penolong yang mampu membuatku bangkit dari keterpurukan setelah kepergian Aina untuk selamanya. Kamu juga bisa menjadi ibu sambung yang baik, yang menyayangi Bram seperti anakmu sendiri. Kamu pahlawan dalam hidupku dan anakku.
"Pa, kok malah melamun? Ayo kita sarapan dulu," ucap Dewi menyadarkan Ardi dari lamunannya seketika.
"Papa sarapan di kantor saja ya, Ma. Sudah keburu siang," sahut Ardi.
"Oo, gitu. Maafin Mama ya, Pa. Gara-gara Mama, Papa jadi telat dech ke kantornya," sesal Dewi.
"Sstt, udah. Sekali-sekali makan di kantor nggak masalah kok buat Papa," ucap Ardi.
Ardi mengecup singkat kening istrinya, Dewi pun meraih tangan suaminya, lalu mencium nya.
"Baik-baik di rumah," tukas Ardi meninggalkan Dewi.
Dewipun mengangguk menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.
.
.
.
Selamat membaca,
semoga suka
jangan lupa like dan komen ya
terimakasih πππ
__ADS_1