
"Nak, ibu mau menemani kamu tinggal di rumah mamamu, tapi siang hari saja ya. Malam hari ibu harus menemani Bapak," tutur Bu Retno.
Aduh, kenapa ibu malah menerimanya sih, padahal maksudku enggak mau tinggal di rumah itu. gerutu Tania dalam hati.
Tania melambaikan tangannya kepada Bu Retno agar mendekat, ia membisikkan sesuatu di dekat telinga Bu Retno.
"Bu, sebenarnya Tania enggak mau tinggal di rumah itu karena itu rumahnya Kak Bram juga, Tania enggak mau kalau tiba-tiba bertemu dengan Kak Bram, Tania benci dia, Bu. Kenapa ibu malah menerimanya?" bisik Tania.
Bu Retno membalas dengan bisikan pula. "Sudahlah, Nak. Kamu terima saja tinggal di sana, kasihan mamamu. Dia sangat merindukan kehadiranmu selama bertahun-tahun, sekarang ketika dia sudah menemukanmu kamu malah menolak untuk dekat dengannya," bisik Bu Retno membujuk Tania untuk tinggal di rumah mamanya.
"Tapi Tania takut ketemu si br*ngsek itu, Bu," ucap Tania was-was.
"Bram tidak tinggal di sana, Nak. Dia tinggal di apartemennya, dan sekarang dia mengangkat Mas Rifki untuk menjadi asisten pribadinya," tutur Bu Retno.
Tania terdiam menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Tidak berapa lama, dua orang perawat masuk ke dalam ruangan.
"Nona Tania, sudah boleh pulang ya, mari saya bantu melepas jarum infusnya," ucap salah seorang perawat. Tania menunjukkan tangannya yang dipasang infus. Dengan cekatan perawat tersebut melepaskan jarum infus dari tangan Tania.
"Sudah selesai, kami permisi," ucap perawat.
"Terimakasih ya, Suster," ucap Tania pada kedua perawat.
Kedua perawat tersebut pergi meninggalkan ruangan, Tania turun dari brangkar.
"Ayo, Ma. Aku sudah ingin mandi keramas," ajak Tania pada sang Mama.
"Iya, Sayang. Sebentar tunggu Mas Bizar kamu datang dulu," ucap Dewi sambil merapikan barang-barang milik Tania.
Tania menelpon Abizar, berulang kali tetapi tidak dijawab. "Ih, Kakak lagi di mana sih?" gerutu Tania. Dewi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa? Enggak sabaran amat sih," gerutu Abizar yang muncul di ambang pintu.
"Hehehe, kirain kakak belum berangkat ke sini," ucap Tania nyengir kuda.
"Bisa jalan enggak? Atau mau kakak gendong?" tanya Abizar.
"Nggak mau, malu-maluin ih," tolak Tania. Abizar terkekeh.
Mereka keluar dari ruangan, Abizar, Tania, Sisi, Bu Retno dan Dewi. Tania agak susah berjalan, karena luka di area v nya belum sembuh benar. Abizar yang melihatnya menjadi tidak tega.
"Kakak gendong saja ya, Dek!" tawar Abizar.
"Tidak usah, Kak," Tolak Tania.
Kini mereka telah masuk ke dalam mobil, mobil yang membawa mereka perlahan meninggalkan area rumah sakit.
Sementara di ruang Direktur Ardimart gedung ARD's Corp lantai 7, Bram dengan penuh wibawa telah duduk di kursi kebesarannya, di depannya sudah duduk berhadapan Lucky dan Sita, sementara di sofa Rifki duduk siap menyimak interaksi yang akan terjadi antara Presdir baru yang belum dilantik tersebut dengan anak buahnya.
"Apa kalian tahu, kenapa kalian dipanggil untuk datang ke tempat ini?" tanya Bram memulai pembicaraan. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja kaca di hadapannya.
"Saya belum tahu, Pak. Rifki belum mengatakannya," jawab Lucky tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Saya juga belum tahu, Pak," jawab Sita.
Bram membuka laptop yang ada dihadapannya, menghadapkan ke arah Lucky dan Sita.
"Silahkan kalian lihat dan pahami benar-benar video rekaman ini!" perintah Bram. "Ada beberapa video, silahkan kalian lihat semua," ucap Bram lagi.
Lucky dan Sita memperhatikan adegan dalam video dalam laptop yang disodorkan oleh Bram tersebut. Lucky terlihat biasa-biasa saja, sementara Sita mulai ada ketakutan di wajahnya. Belasan menit kemudian.
"Sudah cukup kan Lucky?" tanya Bram.
"Sudah, Pak Bram," jawab Lucky.
"Sekarang coba ceritakan pada saya, apa kesalahanmu?" pinta Bram pada Lucky.
"Saya menemukan barang-barang di gudang yang sudah melampaui batas tanggal jual, Pak," jawab Lucky.
"Lalu?" ucap Bram menatap Lucky memintanya untuk meneruskan ceritanya.
"Saya menghukum anak buah saya untuk membayarnya dengan potong gaji, karena ini adalah bagiannya," jawab Lucky.
"Lalu kamu tidak mencari tahu siapa pelakunya?" tebak Bram.
"Maaf, Pak. Itu kesalahan saya," ucap Rifki meminta maaf.
"Apa sekarang kamu sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Bram.
"Sudah, Pak. Setelah melihat rekaman CCTV tadi saya sekarang jadi tahu, kalau dia pelakunya," jawab Lucky sambil menunjuk perempuan yang ada di sampingnya.
Bram mengalihkan pandangannya dari Lucky, sekarang pandangan Bram tertuju pada Sita. Sita menunduk ketakutan.
"Sita, kenapa kamu melakukannya?" tanya Bram masih dengan suara datar seperti seorang guru BP yang sedang menginterogasi muridnya yang bandel.
"Ssaya, ssaya disuruh, Pak," jawab Sita masih dalam posisi menunduk.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Bram lagi.
"Rina, Pak," jawab Sita.
"Cepat hubungi teman kamu yang bernama Rina itu, suruh dia kemari!" perintah Bram.
"Biar saya yang menjemputnya, Pak. Takutnya kalau yang menghubungi Sita, nanti dia malah melarikan diri," cegah Rifki.
"Oke, Rifki. Segera jemput dia," perintah Bram.
"Baik, Pak," sahut Rifki.
Rifki melangkah meninggalkan ruangan tersebut dan hilang dibalik pintu.
"Kita lanjutkan obrolan kita, sampai Rina teman kamu datang. Saya akan memeriksa berkas laporan penjualan terlebih dahulu," tukas Bram.
Bram kembali berkutat dengan pekerjaannya, ia harus segera menyelesaikan semua tugasnya di Ardimart sebelum acara pengukuhnnya sebagai Presiden Direktur ARD's Corp dilaksanakan. Sementara Sita dan Lucky nampak gelisah menunggu kedatangan Rina yang sedang dijemput oleh Rifki.
"Ini semua gara-gara kamu dan teman kamu si Rina itu, aku jadi kena dampaknya," tuduh Lucky pada Sita. "Kok kamu nggak mikir dulu, akibat dari perbuatan buruk kamu?" gerutunya.
"Maaf, Mas," itu saja yang bisa diucapkan oleh Sita.
Sementara itu, dalam waktu 15 menit Rifki telah memarkirkan mobilnya di area parkir Ardimart Cakung. Rifki keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam toko. Semua mata milik teman-temannya memandang takjub melihat penampilan Rifki yang berbeda dari biasanya.
Biasanya Rifki memakai celana jeans hitam ditambah dengan kaos seragam Ardimart dan bersepatu kets, sekarang ia mengenakan celana bahan warna abu tua, kemeja lengkap dengan dasi serta jas berwarna senada dengan celana serta bersepatu pantofel.
Rifki langsung menuju ke ruangan Erika, mengetuk pintu, masuk dan duduk di sana. Memandangi Erika yang sedang membelakanginya, sibuk berkutat dengan komputer di hadapannya.
"Assalamu'alaikum, calon istriku. Ibu dari anak-anakku," sapa Rifki pada kekasihnya.
Mendengar ucapan Rifki, Erika pun memutar kursinya. Erika terbelalak melihat penampilan Rifki sekarang.
"Wa'alaikumussalam," jawab Erika sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Rifki tersenyum menggoda. "Kenapa jawabnya cuma seperti Gareng? eh sepertiga maksudnya," tanyanya.
"Ini beneran calon suamiku?" tanya Erika tidak percaya.
Rifki mencubit pipi Erika gemas.
"Aw, sakit, Mas," pekik Erika. Rifki langsung menutup mulut Erika dengan telapak tangannya.
"Jangan keras-keras Ay, nanti dikiranya aku udah ngapa-ngapain kamu lagi," gerutu Rifki. Rifki melepaskan tangannya.
"Mas mau jemput aku buat akad nikah? bukannya masih satu bulan lagi ya?" tanya Erika.
"Tadi ada, kenapa Mas Rifki berpakaian seperti ini?" tanya Erika.
"Karena mulai hari ini aku diangkat jadi asisten pribadi Pak Bram, Ay," jawab Rifki.
"Lalu Mas Rifki menjemput Rina buat apa?" tanya Erika.
Rifki menjawab dengan berbisik, "ternyata yang mengerjai Tania waktu itu dan kemarin itu Rina dan Sita," ucapnya.
"Oo," Erika ber-o ria sambil membelalakan mata, seketika telapak tangannya kembali menutup mulutnya kembali. "Ya Allah," pekiknya lagi.
"Jadi---,"
Belum sempat Erika meneruskan kalimatnya, Rifki sudah membungkam mulut Erika dengan bibirnya. Mendapat serangan yang mendadak, Erika seperti kehabisan oksigen, ia memukul-mukul punggung Rifki sekuat tenaga.
"Mas Rifki pengen aku mati?" cerca Erika setelah bibirnya terlepas, ia nampak ngos-ngosan dan terbengong atas apa yang terjadi padanya barusan.
"Kamu dibilangin jangan teriak-teriak," ucap Rifki tidak mau kalah. "Udah ya, Ay. Aku mau cari Rina dulu," pamit Rifki yang tidak didengar oleh Erika. Rifki melangkah keluar dari ruangan Erika.
"Rina," panggil Rifki yang kebetulan melihat Rina lewat.
"Eh, Mas Rifki. Ada apa, Mas?" tanya Rina.
"Ikut aku sekarang juga!" perintah Rifki.
"Tapi ini belum selesai, Mas," jawab Rina yang menunjukkan barang-barang dan buku expedisi di tangannya.
"Tinggal saja, ikut aku ke kantor Pak Bram sekarang!" tukas Rifki.
Rina akhirnya menuruti perkataan Rifki. Ia mengikuti Rifki melangkah keluar dari toko. Rifki membukakan pintu mobil untuk Rina di kursi depan di samping kursi kemudi, menutup pintu kembali setelah Rina duduk.
Rifki melangkah memutari mobil dan duduk di kursi kemudi. Rifki melajukan mobil dengan pelan.
"Ada apa Pak Bram tiba-tiba mau ketemu saya, Mas?" tanya Rina menoleh pada Rifki ketika dalam perjalanan.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri," jawab Rifki tanpa menoleh.
Lima belas menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman gedung ARD's Corp. Rifki mengentikan mobilnya di depan pintu menuju lobi.
"Rina, kamu turun di sini dulu, tunggu aku di lobi, aku mau memarkirkan mobil dulu di basemen," ujar Rifki.
__ADS_1
"Iya, Mas Rifki," jawab Rina.
Rina keluar dari mobil dan berjalan masuk ke lobi. Rina duduk di kursi sembari menunggu Rifki selesai dari memarkir mobil. Tidak sampai 5 menit Rifki pun muncul.
"Ayo, Rin," ajak Rifki.
Rina membuntuti kemanapun Rifki melangkah. Masuk dan keluar lift hingga sampai ke ruangan Direktur.
Tok tok tok
Rifki mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar perintah dari dalam ruangan.
Rifki membuka pintu ruangan. "Saya membawa Rina, Pak," ucapnya sambil berdiri, Rina berdiri di belakangnya.
"Kenapa baru sampai? Kebiasaan kamu, Rif. Dikasih tugas malah pacaran," sungut Bram.
Rifki mengerutkan keningnya.
"Pacaran sih boleh Rif, tapi mbok ya adegannya jangan disiarin langsung," cela Bram.
"Maksud anda apa, Pak?" tanya Rifki masih bingung.
"Kamu lupa ya, kalau CCTV seluruh Ardimart terhubung dengan ponsel dan laptop saya? Apa perlu saya tunjukkan adegan ciuman mu di hp saya?" ungkap Bram.
Rifki hanya nyengir kuda, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tolong ambilkan satu kursi lagi, Rifki. Minta pada Hilda," perintah Pak Bram.
"Baik, Pak," sahut Rifki. Ia keluar ruangan menemui sekretaris Hilda yang duduk di depan ruang Direktur.
"Hilda, ada kursi nganggur satu saja tidak?" tanya Rifki.
"Kursi? Oh itu, Mas," Hilda menunjuk ke arah kursi lipat yang ada di sudut ruangan.
"Terimakasih, Hilda," ucap Rifki yang bergegas mengambil sebuah kursi tersebut.
"Sama-sama, Mas Rifki," sahut Hilda tersenyum.
Rifki kembali ke dalam ruang Direktur sambil membawa kursi, meletakkan kursi tersebut di samping Sita duduk.
"Silahkan duduk, Rina," ucap Rifki mempersilahkan Rina untuk duduk. Ia kembali duduk di sofa.
Rina duduk di kursi yang disediakan oleh Rifki. Bram menghentikan pekerjaannya, sekarang ia menatap Rina.
"Rina, apa kamu tahu, untuk apa kamu saya suruh untuk datang ke mari?" tanya Bram.
"Tidak tahu, Pak. Mas Rifki belum mengatakannya," jawab Rina.
Bram menyandarkan punggungnya di kursi. "Langsung saja pada inti permasalahannya," ucap Bram. Ia mengambil nafas dalam-dalam, sejenak ia menghembuskannya pelan. "Yang pertama, kamu dengan sengaja telah menyembunyikan barang-barang toko, yang jika ditemukan nanti sudah tidak layak jual. Apa kamu sengaja mau menjatuhkan reputasi Ardimart sebagai minimarket yang menjual barang-barang kadaluarsa?" tanya Bram.
"Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu," sangkal Rina.
"Lalu apa maksud kamu sebenarnya?" tanya Bram.
"Saya cuma mau ngasih pelajaran buat Tania, Pak," jawab Rina.
"Memangnya ada apa dengan Tania, Kenapa dia harus diberi pelajaran?" tanya Bram.
"Karena Tania diistimewakan, Pak. Dia bisa masuk sebagai karyawan tanpa seleksi dan tanpa training seperti karyawan lainnya," jawab Rina.
"Baiklah, saya tampung dulu alasan kamu. Sekarang inti permasalahan ke dua, di hotel Merysta kemarin lusa, kamu menyuruh Sita memberikan jus buah yang sudah kamu beri obat perangsang, apa tujuan kamu?" tanya Bram lagi yang sudah tidak bisa lagi menahan amarah, ia semakin geram dengan apa yang diucapkan oleh anak buahnya.
"Itu pelajaran kedua, Pak. Karena saya pikir pelajaran yang pertama tidak memberikan dampak yang signifikan bagi Tania, sepertinya Tania biasa-biasa saja menerima hukuman dari Pak Lucky," tutur Rina gemetar.
"Apa kalian tidak berfikir akibat yang akan diterima oleh Tania? Apa kalian tahu kalau kalian telah melakukan tindakan kriminal? Saya bisa saja melaporkan kalian ke kantor polisi dan menjebloskan kalian ke dalam penjara," ancam Bram.
"Maafkan kesalahan kami, Pak! jangan laporkan kami ke kantor polisi, saya tidak mau dipenjara, Pak," ucap Rina.
"Iya, Pak. Saya juga tidak mau masuk penjara, Pak. Kasihanilah saya, Pak. Ibu saya sakit keras, siapa yang akan mengurusnya kalau saya dipenjara?" ucap Sita memohon.
"Lalu mengapa kalian tidak kasihan dengan Tania? Dia dan suaminya mengalami kecelakaan saat baru sampai di kota ini hingga membuat suaminya koma selama 10 hari dan ketika sadar kaki suaminya lumpuh, tanpa pekerjaan dia harus membiayai dirinya dan suaminya," ungkap Bram.
"Maafkan Kami, Pak!" pinta Rina memohon.
.
.
.
TBC
Terimakasih like, komen, rate 5 dan vote kalian semua.
__ADS_1
Tetap kami tunggu komen terbaik
salam cinta dari Author 😘😘😘