2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Bersamamu Kembali


__ADS_3

Niken terduduk berlutut di teras rukonya memandang hujan. Ia tergugu menyesali tindakannya yang telah mengabaikan Bram. Nasi sudah menjadi bubur, Bram telah pergi dengan membawa kekecewaan. Niken pun sama kecewanya, mungkin ini akhir kisah mereka, mungkin juga tidak, itu semua kan hanya asumsi Niken saja.


Niken semakin menunduk merutuki kesalahannya. Dengan lancangnya dua bulir bening menyeruak melalui kedua sudut matanya terus mengalir mengimbangi sang hujan. Hingga ia tidak menyadari sebuah taksi terparkir di depannya.


Sang sopir keluar dari dalam mobil, membuka payung untuk menghalau hujan dari tubuh sang penumpang. Sang sopir membukakan pintu untuk penumpang, keluarlah seorang pria dari dalam mobil tersebut, tangannya menenteng beberapa papperbag dan kotak yang mungkin isinya makanan.


Pria itu nampak mengernyitkan keningnya mendapati seorang wanita berlutut menunduk seperti sedang menangis. Kemudian ia menghampiri wanita tersebut mensejajarkan tubuhnya dengan sang wanita.


"Kenapa duduk di luar? Ayo masuk, di luar dingin nanti kamu sakit lagi," ucap Pria tersebut dengan percaya dirinya.


Niken mendongakkan wajahnya yang tadi menunduk. Ia terkejut menatap orang yang tadi disangkanya telah pergi ternyata kini ada di depan matanya. ia langsung memeluk suaminya. "Mas Bram, aku kira Mas Bram sudah pergi." lirihnya dalam isak tangisnya.


Bram menjatuhkan semua barang bawaannya demi membalas pelukan Niken. "Mana mungkin Mas pergi begitu saja. Mas Bram sudah jauh-jauh datang dari Jakarta buat kamu, Niken. Mas benar-benar tulus minta maaf sama kamu. Mas ingin menata keluarga kecil kita seutuhnya, membesarkan anak-anak kita berdua cuma dengan kamu."


"Tapi mulut Mas Bram selalu menyebut nama Tania," Niken mencebik kesal.


"Mas janji tidak akan lagi, Sayang. Mas sadar cuma kamu yang mencintai Mas Bram tulus, sejak kecil hingga sekarang," tutur Bram.


"Terus kenapa Mas tadi enggak ada, Mas Bram sengaja sembunyi ya? Mancing biar Niken keluar," tebak Niken.


"Hahaha, ngapain Mas harus sembunyi?" tanya Bram mencolek hidung Niken.


"Terus?"


"Mas barusan beli makanan buat kita makan, kamu belum makan malam kan?"


Niken jadi tersipu menyangka Bram telah pergi.


"Kan bisa delivery order, Mas," protes Niken.


"Mas Bram pengen lihat langsung makanannya, Sayang. Dua minggu terakhir ini Mas nggak bisa kemasukan makanan apapun," tutur Bram. "Bener nih, enggak mau ajak Mas Bram masuk?" tanya Bram lagi.


"Pantesan Mas Bram sekarang jadi kurusan, ternyata enggak pernah makan," cibir Niken tersenyum.


Bram bangkit, lalu mengambil bungkusan kotak makanan yang tadi ia jatuhkan, memindahkannya di tangan kiri. Sementara tangan kanannya membantu Niken untuk bangkit.


Niken bangkit dengan bantuan Bram, ia menurut saja tangannya ditarik oleh suaminya tersebut masuk ke dalam ruko.


"Dapurnya mana, Niken?" tanya Bram melihat-lihat ruangan di butik Niken tetapi tidak menemukan dapur.


"Itu, di balik tangga, tetapi tidak ada meja makannya," sahut Niken.


Bram menghentikan langkahnya, "Terus biasanya kalau makan di mana?" tanyanya lagi.


"Di sini, Mas. Kita menggelar karpet," jawab Niken.


"Mana karpetnya?" tanya Bram lagi.


Niken mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan karpet yang biasa digunakan untuk alas duduk ketika makan. "Mana ya? Kok nggak ada. Bentar ya, Mas?" pamitnya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Bram.


Niken naik ke lantai dua, menghampiri kamar Ririn yang terletak tidak jauh dari kamarnya. Niken langsung membuka pintu melihat Ririn yang sedang berbaring berkutat dengan ponselnya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Ririn menyadari kehadiran Niken.


"Karpet yang biasa kita pakai untuk alas saat kita makan di mana?" tanya Niken menjawab pertanyaan Ririn.


"Oh, tadi sepertinya Ririn tinggal di teras deh, Mbak. Kan habis kita bawa ke rumah sakit," jawab Ririn nyengir kuda.


"Ayo ambil, sekalian kita makan bareng sama Mas Bram," ajak Niken sambil berlalu. Ririn mengikuti dari belakang.


"Mbak Niken nggak takut apa, kalau Mas Bram suka sama aku?" tanya Ririn menggoda.

__ADS_1


"Mbak Niken sudah kebal, Ririn," jawab Niken santai.


Sampai di lantai dasar, Niken mengambil piring, sendok dan gelas, sementara Ririn pergi ke luar ruko untuk mengambil karpet yang tertinggal di teras.


Tak butuh waktu lama, Ririn masuk kembali dengan menenteng gulungan karpet dan segera menggelarnya. Kemudian mengambil air minum yang belum sempat di ambil oleh Niken. Sementara Niken menuang makanan-makanan yang dibeli oleh Bram ke atas piring.


Mereka makan bertiga dengan suasana canggung karena belum terbiasa, dan ini pertama kali bagi Niken merasakan makan malam bersama Bram. Hanya sesekali terdengar celetukan keluar dari mulut Ririn yang membuat mencoba mengusir suasana canggung di antara mereka.


Usai makan Niken merasa canggung untuk menawari Bram tidur di kamarnya. Alih-alih menawari kamar tidur, Niken malah mengajak Bram sholat berjamaah. Sedangkan Ririn memilih masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Mas, kita sholat jama'ah ya!" itu yang keluar dari mulut Niken.


"Iya nanti, biar makanannya turun dulu. Bisa langsung keluar makanan yang aku makan kalau langsung sholat," jawab Bram.


Bram merasa tubuhnya lebih baik sejak bertemu dengan Niken. Ia tidak mual dan muntah lagi, mungkin benar kata mama tirinya bahwa obat sakitnya adalah maaf dari Niken, istrinya yang ia hamili. Bram jadi tersenyum sendiri memandangi Niken sambil duduk menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kenapa Mas Bram senyum-senyum, ada yang lucu sama Niken ya?" tanya Niken yang heran pada sikap suaminya. Niken memperhatikan tubuhnya, sejak dari rumah sakit memang dia belum mandi, mungkin ia terlihat kucel di mata Bram, pikir Niken.


"Kamu kurus dan pucat, tapi terlihat cantik," tutur Bram.


"Namanya juga orang baru sembuh dari sakit, pasti pucat," timpal Niken.


"Maksud kamu tadi bilang sama Ririn kalau kamu sudah kebal apa?" tanya Bram yang penasaran dengan ucapan Niken saat turun dari tangga.


"Oo ... , ternyata Mas Bram dengar?"


"Ya dengarlah, orang kamu di tangga aku di bawah tangga." timpal Bram.


"Aku enggak ada maksud apa-apa kok, Mas," jawab Niken meralat.


Sebenarnya maksud yang dimaksud Niken karena selama ini ia mencintai Bram sendirian dan tidak pernah mendapatkan balasan dari rasa cintanya tersebut. Bahkan Bram berulangkali menjalin cinta dengan perempuan lain tanpa memperdulikan perasaan Niken. Tapi mungkin cinta Niken terhadap laki-laki tersebut sudah terpatri dalam jiwanya sehingga tidak bisa berpaling dari laki-laki yang saat ini berada di hadapannya sekarang, laki-laki yang sudah mengambil separo jiwanya, yang sudah mengikatnya dengan janji suci pernikahan.


"Iya," jawab Niken singkat beranjak dari duduknya untuk mengambil air wudhu.


Setelahnya mereka shalat isya berjamaah lalu bersiap-siap untuk istirahat.


"Niken belum bisa meninggalkan butik ini untuk ikut Mas Bram pulang," tutur Niken.


Saat ini mereka sedang berbaring di kasur springbed kamar Niken, Niken memunggungi Bram yang memeluknya dari belakang, tangan kanannya sebagai bantalan kepala Niken, sementara tangan kirinya mengelus-elus perut Niken yang masih rata.


"Tidak apa-apa, Mas akan mengunjungi kalian satu minggu sekali ke sini, yang penting kamu bisa jaga diri," balas Bram. "Terima kasih ya, Sayang," ucapnya lagi sambil menciumi kepala Niken yang sudah lepas kerudung.


"Untuk apa, Mas?" tanya Niken.


"Kamu sudah mau memaafkan Mas Bram yang berulang kali menyakiti hati kamu," jawab Bram tulus.


"Yang penting Mas Bram sungguh-sungguh mau berubah, ini kesempatan terakhir buat Mas," tutur Niken sedikit mengancam.


Bram melepas tangan kanannya yang mulai terasa kebas dari kepala Niken pelan. Ia meraih ponselnya dari dalam saku celananya yang belum ganti sejak dari rumah sakit. Ia membuka aplikasi mobil banking di ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


"Minta nomor rekening bank kamu donk, Sayang," pintanya pada Niken.


Niken bangkit, meraih ponselnya yang berada di meja kecil. Kemudian membuka ponsel tersebut.


"Ini, Mas," tunjuk Niken pada Bram.


Bram menerima ponsel Niken, lalu kembali mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi di ponsel Niken. Niken mengambil kembali ponselnya dan terbelalak kaget saat melihat isinya.


"Banyak sekali, Mas?" tanya Niken.


"Itu sebagai pengganti nafkah yang belum pernah Mas berikan ke kamu," jawab Bram. "Udah, tidur yuk! Sudah malam," imbuhnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Mas," ucap Niken tulus. "Apa Mas enggak mau ganti baju?" tanyanya.


"Mas cuma bawa kaos oblong buat pulang besok lusa."


"Pakai aja, Mas. Besok pagi Niken cuci baju yang ini, pasti besok lusa sudah kering, atau kalau Mas mau, Mas bisa ambil stok di butik," janji Niken.


"Baiklah," Bram segera mengganti bajunya di hadapan Niken, Niken masih risih melihat Bram memperlihatkan auratnya di depannya, meskipun ia telah lama menjadi istri sah Bram, ia menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Bram tersenyum jahil melihat kelakuan istrinya tersebut. "Kenapa kamu tutup matamu? Kamu kan sudah melihat semuanya, Niken."


Niken tidak menjawab, ia membaringkan tubuhnya dengan mata masih terpejam. Bram pun menyusul Niken ke tempat tidur setelah selesai berpakaian. Mungkin karena selama di rumah sakit mereka habiskan untuk tidur jadi saat ini mereka tidak mengantuk.


*******


Esoknya pagi-pagi sekali Tania sudah menelepon Rayan.


"Ada apa?" tanya Rayan dengan suara serak di sambungan telepon.


"Mas Rayan, ih jam berapa ini kok baru bangun?"


"Memangnya kenapa, suka-suka aku donk," jawab Rayan sewot. "Oh iya, Tan. Hari ini aku enggak bisa jemput kamu. Nanti kalau kamu mau berangkat kuliah minta antar supir papa kamu saja ya," imbuhnya.


"Iya enggak apa-apa kok, Mas," jawab Tania. Memang aku mau bilang Mas Rayan enggak usah jemput kok, hihihi, batin Tania.


Tumben nih anak enggak protes kayak biasanya, batin Rayan.


"Terus kamu ngapain telepon aku pagi-pagi begini? Ganggu orang lagi istirahat saja," hardik Rayan.


"Hehehe, mau bilang kalau hari ini Mas Rayan enggak usah antar jemput Tania, Mas," jawab Tania polos.


"Cuma itu?" tanya Rayan.


"Iya," sahut Tania.


"Baguslah, aku masih ngantuk mau tidur lagi, assalamu'alaikum,"


Tania memasukkan ponselnya ke tas selempang, kemudian melangkah ke luar rumah, Edos sudah menunggunya di halaman dengan melakukan gerakan stretching ringan untuk meregangkan otot-ototnya.


Edos memandang istrinya yang berjalan menghampirinya. "Kita mau kemana, Say?" tanyanya.


"Kita ke rumah sakit ya, Yank," usul Tania.


"Oke, Yuk let's go!" sahut Edos menyanggupi.


Mereka masuk ke dalam mobil Tania. Edos membawa mobil tersebut ke rumah sakit tempat Nadia dirawat.


"Yank, nanti kita pulang ke rumah Bu Retno ya, aku kangen gado-gado buatannya," pinta Tania.


"Iya, aku juga kangen," jawab Edos memandang istrinya sekilas dan tersenyum.


Tanpa mereka sadari ada mobil yang mengikuti mereka sejak mereka keluar dari gerbang rumah Ardiansyah.


.


.


.


TBC


Terima kasih semua yang sudah menunggu dan memberi dukungan.😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2