2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Anak Emas


__ADS_3

Nurlita bangkit dari duduknya, melangkah pergi ke luar meninggalkan kamar.


"Lita, mau kemana kamu?" seru juragan Burhan melihat istrinya pergi.


"Mau ke kamar Aris, Mas. Mau minta tolong Aris, kata Aris ada aplikasi google untuk mencari keberadaan seseorang," jawab Nurlita dengan berseru pula.


"Aris sedang pergi, Sayang," cegah Juragan Burhan.


Nurlita kembali duduk di sofa


"Mas Burhan tahu aplikasinya, tidak?" tanya Nurlita pada suaminya.


"Mas mana tahu aplikasi-aplikasi apaan? Mas tahunya masturbasi sama ejakulasi, hahaha," Juragan Burhan tergelak dengan ucapannya sendiri.


"Ih, udah tua masih mesum," cebik Nurlita.


"Biarpun tua suamimu ini masih strong loh, tiga kali dalam satu malam juga masih mampu," timpal Juragan Burhan.


"Tolong tanyakan sama Aris, Mas!" pinta Nurlita.


"Yang mas Burhanmu ini tahu, kita juga harus tahu email yang dipakai Azhar dan kata sandinya, memangnya kamu tahu?" Juragan Burhan balik bertanya. "Terkecuali kita sudah pasang GPS di hapenya, atau alat lain yang dipasang di mobil atau barang-barang lain yang dibawanya," terang Burhan lagi.


"Mana Lita tahu, Lita cuma tahu nelpon sama SMS tok, Mas. Mas Burhan kan tahu sendiri Lita kerjanya cuma di dapur. Mungkin saja Aris tahu, atau tanya temannya Azhar saja ya, siapa namanya tuh?" jawab Nurlita kemudian bertanya.


"Doni atau Rizki?"


"Iya, Doni. Gimana kabarnya tuh anak, sudah lama tidak kelihatan?" jawab Nurlita menguatkan.


"Telpon saja dia, kamu masih punya nomor teleponnya kan?"


"Cuma punya nomor Doni, sedangkan Rizki Lita tidak punya, Mas." jawab Nurlita.


"Ya sudah, telpon Doni saja," ujar Juragan Burhan.


"Lita telpon Doni dulu ya, Mas," ucap Nurlita meminta ijin pada suaminya untuk menelpon Doni.


Nurlita membuka ponselnya mencari kontak telpon Doni, kemudian ia melakukan panggilan WhatsApp. Panggilan terhubung.


"Assalamu'alaikum, Mama Edos," sapa Doni.


"Wa'alaikumussalam, Doni ganteng. Gimana kabar kamu? Sudah lama kamu enggak main ke rumah Mama," jawab Nurlita kemudian bertanya.


"Doni sekarang kuliah dan ngekost di Semarang, Mam. Jadi Doni belum bisa main ke rumah Mama. Edos gimana kabarnya, Mam? Doni hubungi dia kok enggak bisa."


"Itu dia, Don. Mama juga enggak bisa menghubunginya. Apa kamu hafal nama akun google Edos dan kata sandinya? Mama dengar ada aplikasi yang bisa mencari keberadaan seseorang."


"Oh iya, Mam. Ada, tapi yang Doni tahu itu aplikasi buat mencari keberadaan ponsel yang memakai akun google tersebut, Mam. Bukan untuk mencari keberadaan seseorang."


"Iya, Don. Apalah itu, kamu tahu kan nama akunnya?"


"Tahu, Mam. Nanti kukirim via chat aja ya, Mam."


"Belajar yang tekun ya, Nak. Jangan seperti Edos, disuruh kuliah tidak mau malah milih nikah."


"Siap, Mam. Doni tutup telponnya ya, Mam?"


"Iya, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam,"


Tut tut tut..


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tania sedang menikmati bakso mercon kesukaannya bersama sang suami, semangkok berdua



"Yank, kenapa tidak memesan sendiri saja? Nanti aku enggak kenyang," tanya Tania Khawatir kalau dia kurang porsi baksonya.


"Nanti kalau kurang bisa nambah lagi, Say," jawab Edos," sambil menyuapkan bakso kepada istrinya.


Dengan lahap Tania menerima suapan sang suami.

__ADS_1


"Aku mau makan sendiri, Yank. itu cabenya jangan dipisahin," pinta Tania berusaha merebut sendok sama garpu yang dipegang Edos.


"Nanti bisa sakit perut kamu kalau makan sama cabenya yang banyak begini," Edos berusaha menghindari tangan Tania.


Kurang puas dengan apa yang disuapkan sang suami, Tania mengambil sendok dan garpu lagi yang masih bersih.


"Kamu pesan sendiri saja kenapa sih, Yank," suruh Tania.


"Aku masih kenyang, Say. Tadi kamu bilang pengen makan bakso bareng aku," cicit Edos.


"Tapi jangan dibersihin juga cabenya, aku lagi pengen makan orang, nich," sungut Tania.


"Nanti makan aku saja," ucap Edos tersenyum jahil.


"Ish, kayak udah bisa berdiri aja," desis Tania.


"Kamu yang pimpin," tukas Edos.


"Mana bisa? aku kan belum pernah," protes Tania sambil menyuap bakso ke dalam mulutnya.


Setelah menghabiskan semangkok bakso, Edos dan Tania memutuskan untuk pulang. Tania mendorong kursi roda yang diduduki suaminya. Sampai di rumah, Tania kembali mendorong kursi roda Edos hingga di ruang tamu.


Tania menghentikan kursi roda suaminya saat sampai di ruang tamu, dan mengambilkan Walker milik Edos. Edos beralih berjalan dengan bantuan Walker ke kamar mandi. Mereka berjalan beriringan.


Di kamar mandi Tania membimbing suaminya untuk duduk di closetd untuk buang air kecil.


"Kamu ke kamar duluan saja, Yank. Aku mau ambil air wudhu, belum sholat isya," ujar Tania setelah Edos selesai.


Tanpa menjawab, Edos keluar dari kamar mandi setelah dibukakan pintu oleh Tania. Setelah Edos keluar, Tania barulah buang air kecil kemudian berwudlu.


Tania masuk ke dalam kamar saat Edos sedang duduk di kasur bersandar pada dinding berkutat dengan ponselnya. Ia mengambil mukena yang ada di atas lemari, kemudian melaksanakan sholat isya.


Usai sholat Tania berzikir dan berdo'a, dia tidak meminta dalam do'anya, melainkan memohon ampun, memuji dan berterimakasih.


"Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di saat mereka masih kecil, begitu banyak dosa ku setiap saat, hanya engkaulah maha pengampun segala dosa. Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberiku kesempatan untuk menikmati indahnya dunia ini, engkau telah memberiku orang-orang yang baik di sekelilingku. Terimakasih ya Allah, Engkau telah memberiku suami yang mencintaiku, kau juga memberiku keluarga, bapak, ibu serta kakak yang menyayangiku seperti keluarganya sendiri. Ya Allah, terimakasih. Engkau telah memberiku kecukupan rizki, sehingga aku masih bisa bertahan hidup di kota orang ini. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil a khiroti hasanata wa qina adzabanar, aamiin.."


Tania membuka dan melipat peralatan sholatnya kemudian mengembalikan ke tempat semula. Ia duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Hemmm," Tania menjawab pertanyaan Edos dengan dehaman.


Tania meraih ponsel yang dipegang Edos, dan meletakkan di lantai sebelahnya. Edos memerosotkan tubuhnya hingga posisinya sekarang berbaring, Tania pun juga demikian. Kini mereka berhadapan.


Edos menciumi kening Tania, tangan kanannya melingkar di pinggang istrinya tersebut. Ia memandangi wajah Tania, ada rasa sesak di dalam dadanya mengingat usia pernikahan mereka yang sudah lebih dari dua bulan tetapi ia belum bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, menafkahi istrinya lahir maupun batin.


"Ada apa, Yank?" tanya Tania memandangi wajah sang suami.


"Tidak ada apa-apa," jawab Edos.


"Jangan bohong, pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan," terka Tania.


"Maafkan aku, belum bisa menjadi suami kamu seutuhnya." Edos mengucapkan kata maaf dengan menahan perasaannya.


"Sstttt, jangan ngomong seperti itu!" larang Tania. "Kita ini masih ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang terpenting buatku sekarang kita tidak kekurangan makanan dan pakaian, tempat tinggal bisa kita pikirkan sambil jalan, yang penting kamu sembuh dulu," tutur Tania memandangi wajah suaminya.


"Tapi seharusnya..."


Ucapan Edos seketika terputus, Tania membungkam mulut suaminya dengan ******* bibirnya, entah dari mana datangnya kekuatan itu, Edospun membalas ciuman tersebut.


Sesekali Tania melepaskan pagutannya karena ia kehabisan napas, pasokan oksigen ditubuhnya seakan hampir habis.


Edos yang tadi pasif sekarang mengambil alih peran. Ia mulai mengeksplor wajah, leher hingga ke dada Tania. Tangan kanannya mulai menyusup ke dalam baju yang dipakai istrinya dan bermain-main di sana.


Tania pun demikian, tangan kanannya menjambak rambut Edos demi menahan gelenyar aneh yang ia rasakan karena permainan jari-jari tangan Edos pada benda miliknya.


"Say," panggil Edos.


"Emhmhh.." Tania menjawab panggilan Edos hanya dengan desahan.


"Pegang punyaku!" suruh Edos


"Ini rambut punyamu," jawab Tania malas.


"Adik kecilku yang bawah," ucap Edos parau.

__ADS_1


"Adik? Mamamu melahirkan lagi?" tanya Tania.


"Ck, mana tanganmu?" tanya Edos, tangannya kini melepas pegangannya, mencari tangan Tania dan menuntunnya untuk memegang pada benda propertinya.


Dengan malu-malu Tania mulai memegang benda milik Edos tersebut dan memainkannya.


Edos mendesah ketika merasakan benda miliknya dibuat mainan oleh Tania. Ia kembali melakukan aksinya mengeksplor bagian dada Tania, sementara jari-jarinya memainkan sesuatu milik Tania yang kini sudah mulai basah. Situasi semakin panas. Adik kecilnya kini sudah menegang kuat, tetapi kakinya belum mampu untuk menopang tubuhnya.


"Tania," panggil Edos meminta lebih.


"Edos," panggil Tania parau.


"Kamu naik, Sayang," pinta Edos.


Tania membelalakkan matanya kaget.


"Tapi.." Tania merasa takut dan malu.


"Ayo, Sayang. Apa kamu mau kita berhenti sampai di sini, dalam keadaan kita seperti ini?" tanya Edos yang frustasi.


Akhirnya dengan perasaan takut dan malu, tubuh Tania yang polos bangkit dan duduk di atas perut suaminya yang sudah polos juga entah sejak kapan.


"Masukin, Sayang!" perintah Edos lagi.


Dengan ragu-ragu Tania mencoba memasukan benda pusaka milik Edos ke dalam miliknya. Namun baru pucuk kepalanya saja menyentuh bagian bibir milik Tania, ia sudah merasa kesakitan.


"Issshh..," rintihnya.


Tania menghentikan aksinya, dengan cepat Tania menggulingkan tubuhnya membelakangi Edos.


"Aku enggak bisa, Yang. Sakit," ucap Tania terisak.


Edos memiringkan tubuhnya menghadap ke Tania. Ia merengkuh tubuh Tania ke dalam pelukannya dari belakang.


"Ya udah, untuk sementara sampai di sini saja untuk latihan. Maafin aku, jangan nangis ya," Edos berusaha menenangkan Tania.


Sekarang Edos berfikir keras, bagaimana caranya untuk menidurkan kembali adik kecilnya yang masih berdiri tegak tersebut. Ia mengambil kain untuk lap, dan kemudian melakukan aksinya seperti saat malam pertama yang gagal waktu itu, Arisan. dikocok-kocok ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Sementara di tempat yang lain, dua orang gadis tengah berbicara dalam sambungan telepon.


"Halo, gimana pekerjaanmu tadi siang?" tanya seorang gadis pada teman ngobrolnya.


"Beres, tapi sepertinya pelajaran yang kita kasih kurang greget dech, sepertinya dia biasa-biasa saja," jawab gadis satunya yang diajak ngobrol.


"Hemmm.., gimana caranya biar cewek kampung itu jera?"


"Kita harus bikin cewek kampung itu mempermalukan nama baik perusahaan, biar dia dihukum dan dipecat sekalian."


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya gadis penelepon.


"Aku sudah memikirkan apa rencana kita selanjutnya nanti saja kukirim lewat chat. Aku takut ada yang mendengar pembicaraan kita."


"Bagus, biar tahu rasa tuh cewek kampung. Enak saja, kita melamar pekerjaan harus melewati seleksi yang ketat, udah gitu dua bulan masa training dengan gaji 50% saja. Eh, kok dia masuk tanpa melewati prosedur seperti kita, dia itu dianak emaskan sama Mas Rifki, sekarang Mas Rifki sudah pindah, kita harus kasih shock therapi buat cewek kampung itu."


"Oke, baiklah. Sekarang tutup telponnya, kita sambung via chat."


"Oke."


Tut tut tut


.


.


.


Happy reading semoga suka


like dan komen yang banyak ya


Tararengkiyu๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2