2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Mi Ayam Tanpa Ayam


__ADS_3

"Kak, Kak Abizar!" panggil Tania.


Ia membuka kamar Abizar yang berada di samping kamar Edos di lantai dua. Kosong. Lampu kamar itu juga belum dinyalakan.


Tania meraba dinding untuk mencari saklar. Biasanya tidak jauh-jauh dari pintu.


Tak


Seketika kamar itu menjadi terang, tetapi Tania tidak menemukan Abizar di kamar tersebut.


"Kak Abizar di mana?" gumam Tania.


Tania tetap semakin masuk ke dalam kamar. Ia perhatikan sekeliling. Matanya terfokus pada laci nakas yang sedikit terbuka. Perempuan itu membuka lebar laci nakas. Sebuah buku diary kini menjadi pusat perhatiannya. Jemari lentik itu terulur meraih benda persegi empat tersebut.


Saat Tania hendak membuka buku diary yang ia yakin adalah milik kakak sepupunya, sesuatu terjatuh dari dalam buku itu. Tania pun perlahan membungkuk untuk meraih benda itu. Ia pandang lekat-lekat gambar yang ada di dalam foto itu. Seorang anak perempuan kecil yang diapit oleh dua orang laki-laki.


"Ini kan fotoku, ternyata Kak Abizar menyimpan foto ini." Tania berbicara sendirian. "Ini foto kak Abizar. Terus anak laki-laki ini? Edos? Astaga, berarti sejak kecil aku dan Edos sudah saling kenal? Kenapa selama ini aku enggak tahu ya?" gumamnya lagi.


Saat Tania hendak membuka kembali buku kecil itu.


Sret


Tiba-tiba sebuah tangan merampas buku tersebut dari belakang.


"Lancang kamu!" umpat orang tersebut yang tentu saja membuat Tania berjengit kaget.


Tania mengerucutkan bibirnya. "Kakak kok gitu? Kita kan udah jadi suami istri," cibirnya.


Abizar melempar buku diarynya ke atas lemari supaya Tania tidak bisa meraihnya lagi.


"Huh, pelit!" cibir Tania lagi.


Abizar berbalik ke arah Tania lalu berkata, "Tidur di kamar kamu gih, udah malam."


Tania mendengus lalu duduk di tepi kasur spring bed. "Di kamarku udah ada Nina sama Atar."


"Ya udah tidur di kamar Azhar sana," usir Abizar lagi.


"Takut," sahut Tania.


Abizar tertawa. "Hahaha masa takut? Takut karena kamu udah bunuh dia?" cibir Abizar


Demi apapun tuduhan Abizar sungguh sangat menyakitkan hati Tania. "Kakak kok tega ngomong gitu?"


"Emang kenyataannya gitu 'kan? Coba kalau dulu Azhar ikutin saran kakak buat kuliah sambil bantu kakak urus perusahaan papa yang di Jepang enggak nikah dan melarikan diri sama kamu ke Jakarta. Dia nggak akan mengalami kecelakaan. Mungkin sekarang dia masih sehat-sehat saja," ucap Abizar.


"Kok kakak ngomong kayak gitu sih? Bisa aja 'kan pas dia berangkat ke Jepang pesawatnya jatuh dan malah meninggal lebih cepat. Jika Allah sudah berkehendak siapa yang bisa nolak. Takdir manusia itu udah ada di lauhul Mahfudz, bambang," timpal Tania kesal dengan argumen suami barunya. "Kakak ini kayak enggak percaya sama adanya Tuhan," pungkasnya sambil berlari keluar dari kamar Abizar.


"He, mau kemana kamu?" cegah Abizar menarik tangan Tania, tetapi dapat ditepis oleh yang punya tangan.


"Tidur di kamar Edos seperti perintah Kakak," sahut Tania sambil berlalu.


Setelah menutup pintu kamar, Tania langsung merebahkan diri di kasur. Ia membaringkan tubuhnya miring. Ada tendangan dari dalam perutnya tetapi masih samar. Hanya ketika ia sedang diam saja gerakan itu terasa.


"Nak, kamu mulai menunjukan diri ya sekarang? Bunda sekarang sudah bisa merasakan kehadiran kamu, Sayang," Tania berbicara sambil mengelus perutnya. "Coba kalau Ayah kamu masih ada, pasti dia akan merasa bahagia karena dia bisa membuktikan kalau dia tidak mandul seperti apa yang dituduhkan orang selama ini. Sekarang Ayah udah enggak ada, enggak ada lagi yang sayang sama kita. Cepat lahir ya, Nak. Jadilah anak yang kuat, yang sayang sama bunda dan kakak Atar," sesalnya.


Dari balik pintu Abizar mendengarkan curhatan Tania kepada calon anak keduanya. Abizar membuka sedikit pintu kamar yang ditempati oleh Tania karena memang Tania tidak menguncinya. "Kakak sayang sama kalian, Tania," pekiknya dalam hati.

__ADS_1


"Sekarang sudah ada yang gantiin tugas Ayah, Sayang. Dia papa Abizar, tetapi Papa Abizar sekarang malah benci sama Bunda," adu Tania kepada mahluk yang bersarang di dalam kandungannya.


"Kita pulang ke rumah Mbah Dewi besok pagi ya, Nak. Di sini Bunda bosan enggak ada kegiatan, enggak ada teman juga. Lagian tugas kuliah bunda udah menumpuk, kalau enggak dicicil terbengkalai," ucap Tania lagi.


Kruyuk kruyuk


Tiba-tiba perut Tania berbunyi hingga terdengar keluar.


"Kamu lapar ya, Sayang?" tanya Tania kepada dirinya. "Oh, kamu pengen makan seblak?" tanyanya lagi.


"Tteokboki? Rabboki juga? Uh ..." gumam Tania.


"Di dapur ada bahannya enggak ya?" Tania bangkit dari kasur lalu keluar dari kamar.


Abizar yang melihat Tania akan keluar langsung lari menuju ke kamarnya dan bersembunyi.


"Seblak? Tteokboki? Rabboki?" gumam Rifki.


Rifki membuka ponselnya, memastikan di aplikasi food delivery apa ada restoran Korea dekat rumahnya yang mau delivery malam-malam begini. Kalau seblak mungkin di dapur ada bahan-bahannya.


Sementara Tania sesampai di dapur langsung membuka kulkas, mencari bahan-bahan yang sekiranya bisa dijadikan seblak. Ia akan membuat sendiri saja. Mau minta tolong Likha takut perempuan itu sudah tidur dan merasa terganggu. Sembari menyuapkan bahan dan alat untuk membuat seblak, Tania menelpon seseorang.


"Halo, Tan," suara seorang wanita terdengar di ujung telepon.


"Assalamu'alaikum, Mbak Mutia lagi sift malam?" tanya Tania.


"Wa'alaikumussalam, iya, Tan. Mbak Mut pulang pukul 2 dini hari nanti. Ada apa?" sahut seseorang yang dihubungi Tania yang ternyata adalah Mutia, kakak tirinya.


"Ada restoran Korea dekat situ yang masih buka enggak? Tania pengen Rabboki dan Tteokboki," tanya Tania.


"Iya, Mbak. Tania tutup dulu ya."


"Iya, Tan. Nanti kalau udah dapat Mbak Mut kabari ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menjawab salam dari Mutia, Tania langsung mengeksekusi bahan-bahan untuk membuat menjadi seblak. Tania menuangkan seblak yang sudah matang ke dalam mangkuk dan membawanya ke meja makan. Ia duduk siap untuk menikmati hasil jerih payahnya.


Namun, baru sesuap ia mencicipi kuahnya, Tania letakkan kembali sendok di atas mangkuk. Salah dia sendiri sih, mencicipi kok tidak dari tadi saat masak. Tania terbiasa memasak mengira-ngira dengan perasaan saja, tidak ia cicipi. Tania menghela napas, lalu melipat kedua tangannya di atas meja.


"Kenapa bengong?" sebuah suara bariton mengagetkan Tania.


"Kakak ngagetin aja deh," cicit Tania kepada Abizar yang kini duduk di sampingnya.


"Wah, kamu bikinin seblak buat kakak ya? Pengertian banget sih istri kakak ini, tahu aja kalau suaminya lagi lapar," puji Abizar yang langsung menggeser mangkuk berisi seblak itu ke hadapannya.


Tania membulatkan matanya melihat kelakuan suami barunya yang langsung menyantapnya dengan lahap. "Kak, itu kan enggak enak. Itu juga sendok bekas Tania," jelasnya.


"Enak kok. Mau kakak suapi? Ini seblak terenak yang pernah kakak makan tahu," sangkal Abizar. Ya iyalah terenak yang pernah ia makan, orang Abizar baru pertama kali ini makan seblak.


"Itu sendok bekas Tania," ulang Tania lagi.


"Memangnya kenapa kalau bekas kamu?" Abizar menghentikan suapannya. "Kita ciuman? Tania, kita bahkan sudah menikah," jelasnya.


Tania tidak menyahut ucapan Abizar lagi. Ia hanya menikmati pemandangan saat Abizar begitu lahap menikmati seblak buatannya dengan mata berbinar.


"Kamu kenapa bikin seblak enggak mau makan?" tanya Abizar saat ia telah menghabiskan seblak tersebut.

__ADS_1


"Lidah dan tenggorokanku rasanya enggak enak, Kak. Pengen makan macam-macam, tapi sampai di tenggorokan enggak enak, pahit sama asam gitu. Enggak enak deh pokoknya," jelas Tania.


"Mual?" tanya Abizar.


"Dikit, padahal kemarin-kemarin enggak, tapi setelah ketahuan hamil jadi manja gini," ungkap Tania.


"Kakak boleh sentuh perut kamu?" tanya Abizar meminta ijin.


Tania mengangguk malu-malu. Abizar agak membungkuk, lalu mengusap-usap perut Tania dengan telapak tangannya.


"Dek, kenalin ini Papa. Meskipun Papa enggak boleh jenguk kamu, nanti pas kamu udah lahir jangan lupakan Papa ya. Jangan bikin Bunda susah juga," ucap Abizar yang seketika mendapat cubitan di lengannya. "Aw!" pekiknya lebay.


"Kakak kok ngomongnya gitu?" protes Tania.


"Emang benar 'kan kakak enggak bisa jenguk dia karena dia lahannya Edos," jelas Abizar.


"Jadi Kakak bersikap dingin sama Tania karena itu?" Tania malah balik bertanya.


Abizar mengangguk lalu menjawab, "Kakak takut enggak bisa nahan diri kalau dekat kamu."


Tania sekarang paham mengapa sikap Abizar kemarin-kemarin dingin terhadapnya. Ia juga tidak bisa memungkiri hal itu, ia memang belum halal sepenuhnya untuk Abizar. Mungkin ada baiknya juga buat Tania. Ia juga belum siap tiba-tiba harus melayani Abizar sebagai seorang suami padahal selama ini hubungan mereka hanyalah kakak beradik.


"Jadi kamu mau makan apa? Kamu masih lapar kan?" tanya Abizar memutus lamunan Tania.


"Emm ..." Tania berpikir sejenak. "Mi ayam kayaknya enak," ucapnya.


"Ya udah, tunggu di sini kakak buatin. Minya pakai mi instan tidak apa-apa ya?" pinta Abizar.


Tania mengangguk. "Ijo-ijonya pakai pakcoy ya, Kak," pintanya.


"Iya kalau ada," sahut Abizar sambil berlalu.


"Di taman samping kayaknya ada," terka Tania. Ibu mertuanya memang menanam sayuran bercampur tanaman hias di teras samping rumah.


Untung Tania lupa kalau ia tadi pengen Tteokboki dan Rabboki. Jam segini mana ada restoran Korea yang masih buka? pikir Abizar. Mutia juga belum mengabari ada restoran Korea dekat Ardimart tempatnya bekerja masih buka. Pasti sudah pada tutup karena ini sudah lewat tengah malam.


Tania menunggu suaminya membuatkan Mi ayam untuknya rasa kantuknya datang. Namun, karena perutnya sangat lapar, ia menahan kantuk itu.


"Nih, makan mumpung masih anget," suruh Abizar menyodorkan semangkuk mi di hadapan Tania.


Tania menajamkan pandangannya pada mi yang ada di dalam mangkuk itu. Pasalnya di dalam mangkuk mi ayam itu tidak kelihatan ayamnya.


"Mana ayamnya, Kak?" tanya Tania.


"Ayamnya belum disembelih, jadi pakai telur. Kalau pakai daging ayam kan dipotong atau disuwir-suwir, nah itu malah satu ekor ayam utuh enggak disuwir-suwir," sahut Abizar dengan senyum jahilnya.


"Tetap saja namanya bukan mi ayam," cebik Tania.


Namun, Tania memakannya juga hingga habis. Abizar nampak senang memandangi istrinya yang memakan makanan buatannya dengan lahap.


"Kak, kita pulang ke Jakarta besok siang ya. Soalnya tugas kuliah Tania udah menumpuk," pinta Tania.


"Iya. Minggu depan juga kakak sekalian mau balik ke Jepang," sahut Abizar.


"Apa kakak akan selamanya tinggal di Jepang? Tinggal di sininya sebentar banget. Kakak kan sudah punya istri," tanya Tania.


"Iya, nanti kalau kamu sudah lulus kuliah, mau kan ikut Kakak tinggal di Jepang?" Abizar menjawab pertanyaan Tania dengan pertanyaan pula.

__ADS_1


__ADS_2