
Tania berangkat ke kediaman Juragan Burhan bersama Kedua orang tuanya dengan mobil yang disupiri oleh Pak Joko. Ia tidak mengajak Nina ikut serta karena mobil tersebut hanya dapat menampung 4 orang dewasa.
Hari ini adalah hari yang telah disepakati untuk acara pembacaan surat wasiat yang ditulis oleh almarhum Muhammad Azhar Firdaus alias Edos.
Saat tiba di halaman rumah Juragan Burhan sebagian orang telah menunggu kedatangan mereka. Tania lah yang pertama kali keluar dari mobil.Tanpa mempedulikan Atar yang tengah dipangku sang mama, ibu muda yang baru lepas masa Iddah tersebut setengah berlari menghampiri Nurlita yang berdiri dengan mata basah oleh air mata karena tidak bisa menahan haru.
Tania langsung menghambur memeluk ibu mertuanya itu. "Maafin Tania, Ma," ucapnya tergugu.
Nurlita hanya mampu membalas pelukan menantunya itu dan mengusap punggungnya. Dalam benak Nurlita memang ada sedikit pikiran yang menyalahkan Tania atas meninggalnya Edos. Tetapi sisi dewasanya selalu menimpali, Edos meninggal karena Allah sudah berkehendak. Setelah beberapa saat berpelukan erat dengan sang menantu, ada sesuatu yang disadari oleh perempuan paruh baya itu.
"Sayang, kamu isi lagi?" tanya Nurlita tepat di telinga Tania.
Orang-orang yang berada tidak jauh dari mereka berdua menajamkan penglihatan dan pendengaran mereka demi ingin mengetahui apa jawaban Tania.
"Hah apa, Ma? Ma- maksud Mama apa?" cengo Tania di antara isakan tangisnya.
Tania bukanlah wanita bodoh yang tidak mengerti apa maksud pertanyaan sang mama mertua, tetapi ia masih berusaha menyangkal semuanya. Semua tanda-tanda dan perasaan yang mengarah kepada wanita yang sedang hamil. Hanya saja Tania memang tidak mengalami mual. Sehingga kuat baginya untuk menyangkal bahwa ia dalam kondisi hamil.
"Kamu hamil lagi 'kan?" Nurlita mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang menjurus ke arah tuduhan.
Tania melepas pelukannya. "Enggak tahu, Ma. Tania belum sempat periksa," elaknya.
"Belum sempat periksa atau sengaja enggak mempedulikannya? Kamu kan sudah pernah hamil, masa tidak tahu rasanya hamil itu seperti apa?" tuduh Nurlita.
"Maaf, Tania mau menyapa yang lain dulu, Ma," Tania sengaja menghindar dari pembicaraan Nurlita.
Tania menyapa satu per satu orang-orang yang dikenalnya hingga masuk ke dalam rumah.
"Kakak? Kakak kapan pulang?" tanya Tania yang melihat Abizar duduk di karpet.
"Kemarin, duduk sini," sahut Abizar menepuk tempat tidak jauh darinya duduk.
Tania maju mendekat dan duduk tidak jauh dari tempat Abizar duduk. Satu per satu yang lain pun ikut duduk di ruangan itu.
Seluruh orang yang berkepentingan dengan acara ini kini telah hadir di ruang tamu kediaman juragan Burhan. Juragan Thohir dan Istrinya juga sudah hadir di tengah-tengah mereka. Juga kakek dan nenek Edos yang merupakan orang tua dari Nurlita telah duduk di karpet yang digelar di ruang tamu. Tidak ada pengacara yang dikaitkan dengan pembacaan surat wasiat ini ternyata karena Edos tidak memiliki warisan.
Surat yang ditulis Edos saat ia masih hidup ini dititipkan kepada salah seorang pegawai PT. Jala Thea, pabrik teh yang dibangun oleh Juragan Burhan. Saat itu Edos merasa kesehatannya semakin menurun. Ia sering merasakan sakit di kepala bagian belakangnya. kadang keluar ingus dari hidungnya padahal ia tidak sakit flu.
Suatu hari Edos sedang berkunjung ke pabrik ditemani oleh seorang mandor bernama Pak Rusdi. Edos berdiam diri di ruang kerjanya. Saat keluar pemuda itu menyerahkan sebuah amplop kepada Pak Rusdi.
"Pak Rusdi, tolong simpankan amplop surat ini dengan baik dan serahkan kepada Papa saya jika suatu saat terjadi sesuatu terhadap saya. Tolong minta kepada Papa saya untuk membukanya setelah habis masa Iddah istri saya. Jika saya masih sehat wal Afiat tolong simpankan saja," pinta Edos kepada Pak Rusdi.
"Baik, Den Mas. In sya Allah saya akan simpan surat ini sebaik-baiknya," sahut Pak Rusdi menyanggupi.
__ADS_1
Pak Rusdi benar-benar menjaga amanatnya. Ia menyimpan amplop surat itu kemudian menyerahkan amplop itu kepada juragan Burhan saat acara tahlilan malam ke tiga meninggalnya Edos.
Atar kini tengah masuk bulan ke delapan usianya. Bayi laki-laki itu kini sedang aktif-aktifnya belajar merangkak. Ia tidak bisa diam. Jika orang yang menjaganya terlena sedikit saja akan bisa fatal akibatnya. Atar yang baru belajar merangkak dengan perutnya tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi para orang dewasa yang mengerubunginya.
"Ini mau langsung dibacakan atau gimana? Atau mau nunggu satu tahun lagi?" kekeh Juragan Burhan.
Mendengar Juragan Burhan hendak memulai acara, Dewi hendak membawa Atar cucunya ke taman yang ada di halaman rumah.
"Langsung dibaca saja, Kang. Aku bawa Atar keluar dulu ya, biar tidak merecoki kalian," pamit Dewi.
"Tidak usah keluar, Wi. Ini cuma baca surat saja kok tidak ada susunan acara resmi. Atar tidak akan mengganggu," cegah Juragan Burhan.
"Iya, Kang. Atar Sayang sini Eyang Putri pangku," ucap Dewi.
Juragan Burhan mulai membuka amplop besar berwarna coklat yang sudah dipegangnya dari tadi.
"Saya akan bacakan surat ini, kalian semua yang menjadi saksi," ucap Juragan Burhan. Para tamu sudah tidak sabar ingin mendengar apa isi dari surat itu.
...Pada hari ini Selasa tanggal empat bulan Januari tahun sekian, Saya, Muhammad Azhar Firdaus bin Burhanudin At-thohiri dengan penuh kesadaran mengajukan wasiat untuk tiga orang yang paling saya sayangi, yaitu :...
Untuk Papa dan Mama saya tercinta, Papa Burhan dan Mama Nurlita, saya meminta bagian warisan untuk saya nanti diberikan kepada anak saya yang akan lahir dari Rahim istri saya, Tania.
Untuk Kakak kandung saya Abizar bin Burhanudin: Kak, aku wariskan Tania kepadamu. Tolong jaga dan lindungi Tania dan anak-anaknya seperti kakak menjaga diri kakak sendiri. Nikahi dia segera setelah habis masa Iddahnya.
...Demikian surat wasiat ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat dilaksanakan....
^^^Dibuat di: Pekalongan^^^
^^^Pada tanggal: 4 Januari tahun sekian^^^
^^^Hormat saya,^^^
^^^Muhammad Azhar Firdaus^^^
"Tidak! Tania belum mau menikah lagi. Apalagi dengan Kak Abizar. Tania tidak mau," seru Tania seketika setelah juragan Burhan baru selesai membacakan surat wasiat tersebut.
"Tania, tenang dulu, Nak," Dewi menenangkan putri sulungnya.
"Tapi Tania belum mau menikah, Ma," tolak Tania sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tania, tapi ini wasiat dari mendiang suamimu yang harus dipenuhi," bujuk Abizar.
Tania pun segera bangkit dan berlari masuk ke dalam kamarnya yang ada di rumah itu. Ia mengunci pintu kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas kasur spring bed. Tania menangis tergugu.
"Edos, kenapa kamu membuat surat wasiat tanpa mempedulikan perasaan ku, kamu jahat Edos, sangat jahat!" umpat Tania.
Tania terus meraung-raung di dalam kamarnya menyalahkan almarhum Edos. Ia juga merasa dirinya bodoh karena tidak mengetahui kondisi kesehatan Edos saat mereka bersama. Bahkan ia mengetahuinya dari orang lain. Sebenarnya berkali-kali Edos mengutarakan firasatnya kepada Tania, tetapi berulangkali pula Tania menepisnya. Tania malah menganggap Edos mendahului kuasa Allah.
"Ternyata Edos sudah lama menulis surat wasiat itu, kenapa selama ini aku tidak mempercayai semua tanda-tanda yang ia berikan saat berpamitan," sesal Tania.
Tok tok tok
Terdengar pintu kamar diketuk dari luar.
"Tania Sayang! Buka pintunya ini mana sama Atar," panggil Dewi sambil diselingi ketukan pintu.
"Buka aja, Ma. Enggak dikunci kok," sahut Tania agak sedikit berteriak.
Terdengar suara pintu digeser. Pintu rumah ini masih sama seperti dahulu. Modelnya seperti rumah khas Jepang. Muncullah Dewi yang sedang menggendong Atar di ambang pintu. Perempuan yang usianya baru memasuki 40 tahun itu duduk di tepi kasus spring bed tanpa ranjang yang ditiduri Tania dengan memangku Atar.
"Tania, bersiap-siaplah," ucap Dewi kepada putrinya
"Bersiap-siap? Bersiap-siap untuk apa, Ma?" tanya Tania.
"Kamu harus segera menikah dengan Kak Abizar. Papa Burhan sudah mengutus Aris untuk menjemput Paman Hisyam yang akan menjadi wali nikah kamu. Kalian akan melangsungkan pernikahan hari ini juga," ungkap Dewi.
"Apa? Ya Allah, Ma. Tania sudah bilang enggak mau menikah saat ini, apalagi dengan Kak Abizar yang seperti kakak kandung Tania sendiri," cicit Tania.
"Tania, ini wasiat almarhum suami kamu, Sayang. Kamu tahu tidak kalau wasiat orang yang sudah meninggal itu harus dilaksanakan. Jika tidak, di alam kubur sana arwahnya tidak akan tenang," tutur Dewi lembut.
Tania tidak menjawab perkataan mamanya.
"Kamu cukup menikah dengan Kak Abizar. Kak Abizar itu baik loh, kamu sudah lama mengenalnya kan. Dia juga menyayangi kamu. Jika kalian cocok kalian bisa melanjutkan pernikahan ini, tetapi jika kalian nanti tidak cocok, kalian bisa bercerai. Kami selaku orang tua tidak memaksa, sayang. Kami hanya ingin kamu menjalankan apa yang telah diwasiatkan oleh almarhum suami kamu supaya di alam kubur sana Edos bahagia," imbuh Dewi.
Tania masih diam berfikir.
"Bagaimana? Jika iya perias pengantin sudah ada di depan," tanya Dewi memastikan.
Tania hanya mengangguk lemah.
"Ya sudah, sekarang susui Atar dulu. Sekalian Mama kasih tahu mereka kalau kamu sudah siap dirias," pinta Dewi.
"Suruh mereka tunggu 15 menitan buat nyusuin Atar, Ma," ucap Tania.
__ADS_1
Tania meraih Atar dari pangkuan sang mama. Dewi keluar dari kamar Tania. Ia langsung ke ruang tamu untuk menemui perias pengantin yang sudah menunggu.
Dalam benak Dewi masih tidak menyangka, Ia dan suami pulang ke kampung halaman Tania untuk mengantar sang putri mendengarkan pembacaan surat wasiat. Ternyata kali ini ia harus menyaksikan putrinya menikah untuk yang kedua kalinya. Apakah pernikahan Tania kali ini akan sama seperti pernikahannya yang pertama tanpa ada resepsi? Padahal orang tua kedua belah pihak baik pengantin laki-laki maupun perempuan saat ini sangat mampu untuk mengadakan resepsi di gedung mewah mana pun.