
Sang Surya mulai tergelincir ke arah barat,
Hamparan awan putih menggaris di langit biru,
Seakan tak rela jika siang mulai menjelang,
Sementara embun pagi nampak menguap kembali ke cakrawala,
Burung-burung bernyanyi ceria di atas sana,
Namun tak dapat mengalahkan wajah cerianya Edos dan Tania.
Dengan sekuat tenaga akhirnya Edos dapat mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah!"
Semua yang hadir lalu berucap dengan serentak.
"Saaaah."
Akhirnya do'a pun dipanjatkan, setelah itu Edos disuruh melingkarkan cincin pernikahannya ke jari manis Tania dan juga sebaliknya.
"Nah, sekarang kamu sudah boleh mencium kening istrimu! Kamu juga Tania, kamu harus mencium tangan suamimu, karena ditangan itu ada berjuta keberkahan dan pahala," ucap Pak Penghulu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sedangkan Edos tidak henti-hentinya bersyukur di dalam hati, karena akhirnya tujuan dia untuk menikahi gadis pujaan hatinya terlaksana juga.
Selanjutnya mereka disuruh untuk menandatangani beberapa dokumen dan juga buku nikah. Akhirnya surat izin menyentuh, sudah di kantongi oleh laki-laki yang sekarang sah menjadi suaminya Tania. Mereka mendapatkan buku nikahnya masing-masing disaksikan oleh beberapa tetangga tania dan juga beberapa sahabat Edos yang diajak nya lewat chat whatsapp secara dadakan.
"Sekarang sudah tidak ada yang bisa memisahkan kita walaupun itu adalah orang tuaku," ujar Edos sedikit berbisik kepada Tania yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Setelah mereka bertukar cincin pernikahan lalu salah seorang pegawai KUA, membacakan hak dan kewajiban sebagai seorang suami dan istri. Keduanya terlihat sangat fokus mendengarkan apa yang diucapkan oleh pegawai tersebut.
"Sekarang kalian berdua harus selalu saling mendukung dan juga saling percaya, baik itu dalam keadaan suka maupun duka. Jangan hanya cintanya hadir di saat sedang pacaran, tetapi setelah menikah cintanya hilang dimakan ayam."
"Loh kenapa bawa ayam segala, Pak? Saya kan menikahi Tania, bukan menikahi ayam."
"Hahaha, maksud saya banyak orang setelah menikah, bangunnya selalu siang. Jadi rezekinya dimakan sama ayam begitu, Edos," jelas pegawai PPA tersebut dengan senyuman yang tak bisa dimengerti.
🌸🌸🌸🌸🌸
Para tamu telah pulang ke rumah masing-masing, sekarang yang tinggal hanya Tania beserta keluarga pamannya. Paman Tania langsung mengajak kedua pasutri yang baru menikah tersebut untuk berbicara, karena Sang Paman merasa aneh sebab tidak ada satu orang pun keluarga Edos yang hadir di pernikahan keponakannya tersebut.
"Maaf, Nak Edos. Tadi malam mama mu datang ke sini secara baik-baik untuk melamar Tania, tetapi kenapa ketika pernikahan mu dia tidak menampakkan batang hidungnya? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Paman Hisyam beruntun seperti durian runtuh karena ingin memastikan nasib keponakannya.
"Mama tidak berani datang, Paman. karena tiba-tiba saja papa pulang dari Bandung tadi pagi," jawab Edos dengan jujur kepada sang paman istrinya.
"Kamu harus tahu satu hal, bahwa Tania sudah paman asuh sejak kedua orang tuanya meninggal dan sekarang tugasku sebagai seorang paman telah selesai. Sekarang berpindah ke pundak mu sebagai suaminya, paman tidak mau jika suatu saat Tania ditindas oleh keluargamu hanya karena kemiskinannya."
__ADS_1
Paman Hisyam menasehati Edos tentang status keponakannya, dia tidak ingin gadis yang selama ini sangat disayanginya menjadi bahan tertawaan dan juga ditindas oleh keluarga suaminya.
"Paman tenang saja, karena saya sudah punya rencana untuk mengajak Tania pindah ke kota Jakarta jauh dari keluarga besar saya."
Paman Hisyam terlihat mengangguk angguk kan kepalanya tanda mengerti.
"Kami sekalian mohon pamit, Paman. Karena besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke Jakarta," pamit Edos kepada Paman Hisyam. "Kami harus secepatnya pergi meninggalkan kota ini sebelum papa saya mengetahui keberadaan saya. Karena seharusnya saat ini saya sudah berada di Jepang untuk mengikuti jejak kakak saya, Paman," papar Edos.
Paman Hisyam terperangah kaget mendengar penuturan Edos. Laki-laki yang hampir berkepala empat itu tidak habis pikir dengan langkah yang diambil Edos, pemuda tersebut berani mempertaruhkan masa depan yang sudah dipersiapkan oleh orangtuanya untuk dirinya, dan meninggalkan fasilitas kemewahan hanya demi keponakannya yang miskin.
"Jakarta itu keras, Nak Edos. Kalau kalian tidak pandai membawa diri, maka kalian akan tertindas. Pesan paman, kalian jangan loss kontak dengan paman, ya."
"In sya Allah, Paman. Kami akan sering-sering kirim kabar kepada Paman," jawab Edos sambil menggenggam tanga Tania. "Iya kan, Say?" tanya Edos meminta dukungan dari Istrinya.
"Iya, Paman. Tania bakal sering telpon paman kok," sahut Tania.
"Ya Sudah, kalian istirahat sana. Paman juga mau pulang, paman capek," pamit Paman Hisyam. "Ayo Sisi, Pulang! Kamu mau jadi obat nyamuk di sini?!" serunya kepada Sisi anaknya untuk pulang bersama.
"Bentar, Yah. Masih banyak piring yang kotor ini, nanti Sisi pulang sendiri saja, Yah," sahut Sisi yang masih sibuk memunguti piring dan gelas yang kotor.
Paman Hisyam dan keluarganyapun pamit untuk pulang ke rumahnya yang berada tidak jauh dari rumah Tania.
Edos masuk ke dalam kamar Tania untuk mengganti bajunya karena badannya terasa gerah. Ia membuka koper dan mengambil T-shirt kemudian melepas jaz dan kemeja putih yang sejak pagi tadi membalut tubuhnya. Sarung batik khas karesidenan Pekalongan masih di posisi semula.
Setelah memakai kaos T-shirt nya Edos merebahkan tubuhnya diatas ranjang, ranjang besi kuno peninggalan turun temurun nenek Tania. Tanpa Edos sadari ternyata Tania sudah terbaring disisinya.
Edos berpaling ke tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut. Hiasan kepalanya sudah terlepas, namun masih memakai kebayanya.
"Enggak bisa nyopotnya, Yank," sahut Tania.
"Nyopot apanya?"
Tania bangkit dan duduk memunggungi Edos.
"Ini," ucapnya, tangannya memegang kancing bungkus model kerucut yang berderet dari leher hingga ke pinggang.
Edospun ikut bangkit dan duduk di belakang sang istri.
"Sini aku bantu," Edos berujar sambil beringsut maju.
Tangannya mulai melepas satu per satu kancing kebaya pengantin milik Tania. Mata Edos tak berkedip demi melihat pemandangan yang sekarang nampak di hadapannya, punggung yang begitu putih dan mulus tanpa cela. Sesekali Edos menelan salivanya kasar.
"Udah selesai belum, Yank?" tanya Tania tiba-tiba.
"Belum, saay..." sahut Edos terbata-bata.
Tangannya mulai melingkar di pinggang Tania, jiwa lelakinya bangkit.
__ADS_1
"Kalau belum kenapa berhenti?" Tania mulai protes.
"Belum aku gigit," ucap Edos lirih di telinga Tania.
Bibir dan hidungnya kini menelusuri ceruk leher dan punggung Tania. Tania bergidik menahan sesuatu, ia menepis tangan Edos dan membalikkan badan menghadap ke arahnya.
"Kenapa, Say? bukankah kita sudah halal," tanya Edos heran dengan tanggapan dari istrinya.
"Aku pingin pipis, Yank," jawab Tania.
Tania bangkit dan turun dari ranjang, ia segera mengambil baju daster yang sudah disiapkannya, dengan cepat dia mengganti kebaya dan rok bawahan yang dipakainya dengan daster tersebut, lalu keluar dari kamar menuju ke kamar mandi yang letaknya jauh dari kamarnya di belakang.
Edos menyugar rambutnya dengan kasar, merasa kecewa dengan tingkah Tania. Edos menghempaskan kasar tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba,
Brugggh..
"Aw.. arrrgh..."
"Astaghfirullahal'adzim, Yank. Ditinggal sebentar saja sudah ngamuk."
Tania tergopoh-gopoh mendapati suaminya yang terlentang di atas ranjang yang ambruk sebelah. Tania kembali teringat kalau baut di ranjangnya memang kurang sebelah, tapi selama ini tidak terjadi apa-apa karena ia hati-hati saat menidurinya.
"Ranjang kamu ini yang nggak mau kutiduri," cicit Edos.
"Ranjangnya pengen dinikahi dulu sebelum ditiduri, Yank," ledek Tania sambil tertawa.
Tania menarik tangan suaminya untuk bangun, tetapi tenaganya tidak lebih kuat dari tenaga Edos.
"Yang sudah dinikahi saja belum kutiduri. Aku ingin meniduri yang sudah kunikahi terlebih dahulu."
Edos berkata kepada Tania yang sekarang berada dalam dekapannya. Tania menurut saja apa yang dilakukan suaminya terhadapnya. Jarak wajah mereka sangat dekat sehingga mereka dapat merasakan nafas dari pasangannya, jantung merekapun berpacu lebih cepat dari biasanya.
Posisi Tania masih berada di atas tubuh Edos. Merasa tidak mendapat perlawanan dari istrinya, Edospun semakin memberanikan diri untuk bertindak lebih jauh, ia mulai mengh*isap bibir ranum Tania yang selama ini hanya menjadi impiannya. Tangannya menjalar kemana-mana bak pohon kacang panjang tanpa lanjaran.
Tania hanya menuruti saja tindakan Edos, sesekali ia membalas ciuman suaminya tersebut. Tania sadar bahwa statusnya sekarang adalah istri sah Edos, sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya.
Edos merebahkan tubuh Tania di sampingnya, sekarang posisi mereka menjadi berbalik, tubuh Tania berada di bawah Kungkungan Edos.
Tania kembali merasakan pagutan demi pagutan pada beberapa bagian tubuhnya. Namun ketika ia merasa ada benda keras menempel di bawah sana, Tania mendorong tubuh Edos kuat-kuat hingga terjengkal.
"Aw.." teriak Edos.
"Maaf," ucap Tania.
"Kenapa, Sayang? Kita kan sudah halal," tanya Edos frustrasi.
"Anu...," sahut Tania ragu sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
*************
Memangnya anumu kenapa, Tania?