2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Bertemu Mbah


__ADS_3

Subuh ini, malam masih menyisakan dinginnya. Bram terjaga dari mimpi indahnya, namun ia enggan untuk membuka netranya. Rasanya ada sesuatu yang hangat dan kenyal menempel di kulitnya. Penasaran dengan sesuatu tersebut, Bram membuka matanya, betapa kagetnya dia saat mendapati tubuh Niken dan dirinya sama-sama polos, hanya tertutup bed cover.


Bram kembali mengingat kejadian semalam. Ternyata tadi malam ia bercinta dengan Niken, bukan Tania.


Perasaan tadi malam aku menyebut-nyebut nama Tania, kenapa sekarang Niken yang tidur denganku? Kenapa Niken diam saja saat kupanggil dengan nama Tania? Pasti Niken sangat kecewa, pikir Bram.


Bram jadi merasa malu dengan Niken. Dengan hati-hati ia melepaskan lengannya dari tubuh Niken. Ia menyibak selimut, terkejut, bahagia dan menyesal luruh menjadi satu dalam hatinya saat menemukan bercak merah membekas di kain sprei.


"Terimakasih, telah menjaganya untukku. Maaf, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu," ucap Bram seraya mengecup kening Niken.


Ia bangkit dan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia harus segera pergi dari rumah itu sebelum Niken bangun dan melihatnya. Dengan cepat Bram mengenakan pakaiannya kembali, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas dan keluar dari rumah.


"Sial, mobilnya pasti dibawa Rifki lagi," umpatnya saat sampai di halaman tidak menemukan mobilnya.


Bram memesan taksi online untuk pergi ke apartemennya. Beberapa menit kemudian sebuah taksi online berhenti di depannya dan membawa ia pergi dari gerbang rumah tersebut.


Di dalam kamar, Niken baru saja membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan, terasa berbeda dari ruangan saat ia bangun setiap harinya. Ia baru menyadari ternyata ia berada di dalam kamar utama rumahnya.


Barusan aku seperti dicium oleh Mas Bram, dia berterimakasih dan meminta maaf padaku, jadi semua itu cuma mimpi. Berarti yang semalam dia mencumbui aku begitu mesra dan romantis itu juga cuma mimpi, pikir Niken dalam hati.


"Terimakasih ya Allah, telah memberiku mimpi yang indah," ucap Niken.


Niken bangkit dari tidurnya, "Aw," serunya.


Niken merasakan sesuatu yang sakit di bawah perutnya. Ia menangis, "Ternyata ini bukan mimpi," ucapnya.


Tangis Niken semakin bertambah ketika mengingat Bram mencumbuinya tetapi bibirnya memanggil-manggil nama Tania. Dengan susah payah Niken menyeret kakinya ke kamar mandi, menyalakan kran air. Mandi air hangat mungkin bisa meredakan rasa sakitnya.


Lama Niken berendam, hingga ia kembali terlelap, suara burung berkicau di taman membangunkannya. Niken bangkit dan membilas rambut dan tubuhnya di bawah guyuran air shower. Memakai handuk dan berganti pakaian, mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat shubuh.


Meski agak tertinggal, tapi sepertinya matahari belum keluar dari peraduannya. Jadi masih ada waktu untuk menunaikan sholat. Dalam do'a, Niken curhat kepada sang pencipta, bahwa ini mungkin adalah hubungan suami istri untuk yang pertama dan terakhir buat mereka, Niken dan Bram.


Kalau benih yang ditanam Bram bisa tumbuh, maka Niken bertekad akan membesarkannya sendiri, dia akan menggugat cerai Bram setelah melahirkan. Kalau benih yang ditanam Bram tidak sampai jadi orok, maka Niken juga akan mengajukan gugatan cerai setelah memastikan selama 2 bulan setelah ini, ia hamil atau tidak. Niken sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sudah saatnya Niken bangkit, dia berhak hidup bahagia.


Niken duduk berselonjor kaki, menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Jarum pendek di jam dinding sudah melewati angka 8, pasti anak-anak di butik sudah datang. Niken meraih gawainya. Mencari kontak Dian di sana, lalu men-dial nya.


"Mbak Niken, Butik belum buka ya?" tanya Dian yang lupa mengucap salam.


"Aku tidur di rumahku, Yan. Kamu bawa kunci cadangan kan?" tanya Niken.


"Mbak Niken sakit ya?"


"Mbak sedikit kurang enak badan, tolong kamu urus butik ya," pinta Niken.


"Iya, Mbak. Mbak Niken istirahat saja," sahut Dian.


"Oh iya, Yan. Kalau Ririn datang, bilangin ke dia untuk mempersiapkan keberangkatan ke Bandung. Sepertinya Mbak akan menetap di sana dalam waktu yang lama."


"Eh, iya Mbak."


"Butik yang di sini aku percayakan ke kamu. Udah ya, Mbak tutup telepon nya. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Setelah memutuskan sambungan teleponnya, Niken kembali berfikir, mungkin memang ini jalannya. Harus berpisah dengan Bram, harus merelakan Bram memilih orang lain yang dicintainya, cinta tidak harus memiliki.

__ADS_1


Ternyata aku tidak sekuat wanita di serial yang tayang di TV ikan terbang, aku memilih untuk menyerah saja, aku sudah lelah selalu disakiti, aku lelah menanti cinta yang tak pasti, ucap Niken dalam tangisnya.


Pukul sembilan Niken sudah siap untuk berangkat ke Bandung, sebelum sampai di butik ia mampir ke rumah mertuanya terlebih dahulu, menitipkan kunci rumah kepada Siti, dan berpesan padanya agar setiap satu minggu sekali rumah tersebut dibersihkan.


Sampai di Butik Niken langsung menuju ke kamarnya, mengambil koper yang sudah disiapkannya. Di ruang pajang bertemu dengan Dian. "Apa Feri sudah datang?" tanya Niken pada Dian.


"Belum, Mbak. Tapi Ririn sudah datang,"


"Oh, ya sudah. Mbak mau ambil koper sebentar."


Niken bergegas naik ke lantai dua, sebentar kemudian dia kembali dengan menyeret sebuah koper.


"Feri dan Ririn sudah datang, Mbak, mereka sudah menunggu di mobil," ucap Dian memandang ke arah Niken.


Niken memeluk Dian, "Mbak pamit ya, jaga butik ini dengan baik," Niken berpamitan pada Dian dan pegawai lainnya yang sudah seperti saudara.


"Hati-hati ya, Mbak. Kabari kami kalau sudah sampai."


Niken keluar dari butik, menghampiri mobilnya yang sudah terisi Feri, sang sopir di kursi kemudi dan Ririn di sampingnya.


"Jadi, Mbak Niken di belakang sendirian nih? Enggak apa-apa dech biar longgar," ucap Niken yang bertanya dan dijawabnya sendiri.


Ririn terkekeh, "Mbak Niken lucu, tanya sendiri dijawab sendiri," ucapnya.


"Habis kalian enggak mau menjawab," sewot Niken.


"Sudah siap berangkat, Mbak? Tidak ada yang perlu dibawa lagi kan?" tanya Feri memastikan.


"Sudah, Fer,"


"Kira-kira sampai di Bandung jam berapa, Fer?" tanya Niken pada Feri.


"Tergantung, Mbak. Kalau enggak macet bisa dua jam, kalau macet bisa sampai 4 jam," jawab Feri sambil tetap fokus mengemudi.


💦💦💦💦💦


Satu minggu sudah Tania berada di kampung. Hari ini Dewi tiba di rumah orangtuanya Juragan Thohir dan Istrinya, Rahayu, atau biasa dipanggil Mbah Ayu. Dewi, Ardi dan Aghni, mereka sedang berkumpul. Adik-adik Dewi dan keponakannya juga berada di sana.


"Dewi, apa kamu tidak bilang sama Mas kamu Burhan kalau kamu mau datang ke sini?" tanya Mbah Ayu yang berada di ruang tengah bersama Dewi.


"Aku sudah bilang sama Azhar, pas mereka mau pulang ke sini seminggu yang lalu, Mak," jawab Dewi.


"Aku sudah kepingin lihat anak sulung kamu, kamu telepon gih," suruh Mbah Ayu.


"Tania lagi hamil muda, Mak. Kasihan kalau kita suruh datang kemari. Jalannya berkelok-kelok. Mending kita yang ke sana, Mak."


Mbah Ayu terdiam.


"Kenapa, Mak? Apa selama waktu hampir 26 tahun ini hubungan Mak e dan Mbak Nurlita belum membaik?" tanya Dewi. "Kasihan cucu-cucumu, Mak. Gara-gara kalian enggak akur, mereka jadi tidak saling mengenal dengan sesama cucu. Contohnya Tania dan Azhar, mereka sudah terlanjur menikah karena mereka tidak tahu kalau mereka itu masih satu Simbah."


Dari ruang depan Aghni muncul. "Ma, Kak Tania datang bareng Pakde, Bude dan Kak Edos," tutur Aghni memberitahukan.


"Tania?" tanya Mbah Ayu.


"Iya, Mbah. Kak Tania datang. Ayo kita ke depan, Mbah," ajak Aghni.

__ADS_1


Dari ruang tamu Tania sudah menyerobot masuk karena membuntuti Aghni. "Mama!" serunya menghambur ke pelukan sang Mama.


"Eh, enggak usah lari!" seru Dewi membahas pelukan Tania.


Dewi memperkenalkan Tania pada Simbah dan saudara-saudaranya. Mata Tania berkaca-kaca.


Kenapa dulu aku enggak punya siapa-siapa?" batinnya.


Di belakang Tania, Nurlita juga masuk ke ruang tengah dan mencium punggung tangan Mbah Ayu, kemudian duduk di samping Aghni. "Aghni, Bude bawa makanan untuk kita makan bersama masih ada di mobil. Ayo bantu Bude bawa kemari!" ajaknya.


Mendengar kata makanan Aghni langsung antusias, "Ayo Bude!" sahutnya.


Aghni dan Nurlita menuju halaman ke tempat mobil terparkir dan mengusung makanan yang telah dimasak dan dipersiapkan oleh Siti, membawanya ke ruang tengah.


Sebuah mobil Honda Civic Genio tiba-tiba berhenti dan memarkir di halaman mobil Edos. Namun pengemudinya belum mau keluar. Edos mengetuk kaca mobil tersebut.


"Kakak, ayo keluar! Di dalam sebentar lagi pada makan besar." ajak Edos.


Abizar keluar dari mobil dan langsung memeluk adik satu-satunya, dan kemudian melepas pelukannya. "Kamu baik-baik saja, Dek?" tanyanya memperhatikan tubuh Edos dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Edos hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Adikmu baik-baik saja, Kak. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Lihat, aku sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa kursi roda," ucapnya.


"Tapi Doni bilang waktu itu kamu pingsan saat kembali ke Jakarta?" tanya Abizar memastikan.


"Oh, itu cuma karena kelelahan," sangkal Edos memungkiri kenyataan yang sebenarnya. "Ayo, sudah ditunggu di dalam!" ajaknya


Edos dan kakaknya berjalan memasuki rumah kakek mereka dengan Abizar di belakang tubuh Edos.


"Mbah, ada yang mau ketemu sama Simbah," ucap Edos pada Juragan Thohir.


"Siapa?" tanya Juragan Thohir.


"Kakakku, Mbah," jawab Edos.


Abizar muncul di belakang tubuh Edos kemudian mencium punggung tangan Juragan Thohir. Juragan Thohir langsung memeluk tubuh Abizar dan menangis.


"Maafkan Simbah yang sudah jahat sama kamu, Abizar!" ucap Juragan Thohir.


"Bizar juga minta maaf baru menemui Simbah sekarang," sahut Abizar.


Hari ini adalah pertemuan untuk pertama kali juragan Thohir dengan Abizar dan Tania. Namun dengan Abizar lain, karena Abizar adalah cucu yang dulu pernah dibuang oleh orang suruhan Juragan Thohir ke panti asuhan dan ditemukan oleh ayahnya di Jepang.


.


.


.


**TBC


Ini hari Selasa ya, pasti sudah pada dapat 1 vote dari NT kan? Ayo buat dukung Tania!


Terima kasih atas dukungannya.


Bram : "Mak Kusay, kenapa part mantap-mantapnya di-skip, enggak asik ah."

__ADS_1


Mak Kusay :"Kasihan yang jomblo, enggak bisa praktek, Mak takut dosa, di chapter sebelumnya kan sudah ada, Bram**."


__ADS_2