2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Eska


__ADS_3

Matahari semakin panas menyengat, musim pancaroba yang menyapa membuat sebagian sisi bumi meredup, pertanda hujan akan hadir berkunjung, namun sebelum hadirnya kesejukan karena diguyur air langit tersebut, udara terasa panas, gerah dan gelisah melanda jiwa raga.


*****


"Kenapa bengong? Ambil amplop itu! Dan kamu masih diberi waktu tiga hari untuk berkemas." Suara Bram mengagetkan Rifki seketika.


Dengan ragu-ragu Rifki meraih amplop coklat tersebut. Perlahan-lahan ia merogoh kertas putih yang ada di dalamnya dan membuka kertas tersebut.


"Saya, benar-benar di pecat jadi kepala toko, Pak?" tanya Rifki yang tanpa sadar air matanya meleleh.


Erika, apa kamu mau mempunyai seorang suami pengangguran? Bapak, Ibu, Tania, bagaimana ini kalau aku tidak bisa lagi membantu kalian? batin Rifki teriris.


"Jadi cowok ko cengeng, nih tisu." Bram melempar tisu ke hadapan Rifki. Rifki gelagapan menangkapnya. "Coba baca yang keras!" perintah Bram.


Rifki akhirnya membaca surat tersebut seperti membaca UUD saat menjadi petugas upacara dulu sewaktu masih sekolah.


"Yang bertandatangan di bawah ini, saya,


Nama : Bramantyo Ardiansyah


Jabatan: Direktur ARD's Corp


Dengan ini memberhentikan dengan hormat kepada,


Nama : Rifki Fadhil


Jabatan: Kepala Toko Ardimart Cabang Cakung.


Dan mengingat prestasi penjualan di tokonya sangat spektakuler, maka kepadanya diberikan jabatan baru sebagai Manajer Operasional Toko Ardimart Cabang Cengkareng.


Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya..."


"Sudah paham kan maksud surat itu?" tanya Bram dengan suara basnya kepada Rifki yang terdiam memahami isi surat.


"Astaghfirullah, Masya Allah, untung saja saya tidak punya riwayat penyakit jantung, Pak, hahaha...," ucap Rifki yang kini sudah bisa tertawa lega.


"Karena prestasi penjualan tokomu bagus, maka jabatanmu saya naikkan menjadi manajer operasional toko, dan kamu saya pindah tugaskan di toko yang ada di Cengkareng," terang Bram.


"Terimakasih, Pak. Tapi kenapa harus di Cengkareng?" Tanya Rifki sedikit protes.


"Apa kamu mau saya pindahkan ke Papua? di sana gajinya lebih gede," sergah Bram menawari.


"Tidak, Pak. Saya terima di Cengkareng saja, paling cuma tiga puluh menit kalau tidak macet."


Rifki segera menyanggupi, takut sang direktur berubah pikiran dan membuangnya ke Papua. Aduh, bisa-bisa gagal nikah kalau sampai dia dibuang ke Papua.


"Jadi benar kamu di toko pacaran?" tanya Bram mengetes sekali lagi.


"Ah, bapak ini seperti tidak pernah muda saja," balas Rifki malah meledek.


"Sialan kamu, saya ini masih muda tahu. Masa tampang begini dibilang tua?" ucap Bram tidak terima.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud menghina bapak." Rifki memohon maaf.


"Saya masih dua puluh tujuh tahun loh, kamu pikir saya umur berapa?" Bram menjelaskan umurnya padahal Rifki tidak bertanya.


"Oh, saya kira sudah tiga puluhan tahun, Pak. Ternyata Bapak cuma beda umur dua tahun dari saya. Mungkin bapak suka merokok dan minum, akibatnya Bapak mengalami penuaan dini." Rifki mengungkapkan analisanya.


"Sok tahu kamu, kalau sudah tidak ada yang perlu ditanyakan kamu boleh keluar," usir Bram merasa tersindir.


"Saya belum tahu alamat toko yang di Cengkareng, Pak," ungkap Rifki.


"Siapa manajer kamu sebelumnya?" Bram membalas dengan pertanyaan.


"Pak Lucky, Pak," jawab Rifki.


"Tanyakan pada Lucky!" tukas Bram.


"Baik, Pak. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih, saya permisi, Pak." Rifki pamit undur diri.


Rifki beranjak dari kursi yang didudukinya, mengangguk sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan direktur tersebut.


Rona bahagia kini menghiasi wajahnya saat berjalan melewati koridor, ia tersenyum kepada siapa saja yang berpapasan dengannya walaupun ia tidak mengenalnya. Senyumnya seketika memudar ketika ia teringat pada Erika dan Tania.


Bagaimana Erika dan Tania nanti kalau aku sudah pindah? batin Rifki merasa khawatir.


Rifki kini telah duduk di kursi kemudi mobil box yang ia bawa.


Aku harus segera menikahi Erika.


Rifki terlihat sedang menelepon seseorang.


"Assalamu'alaikum, Rifki." Suara seorang wanita menyapa di ujung telepon.


"Niken, kamu lagi sibuk?" tanya Rifki.


"Biasalah, kesibukanku kalau tidak menggambar ya menjahit. Ada apa memangnya?" jawab wanita itu, dia adalah Niken istri dari Direktur Bram.

__ADS_1


"Kamu punya koleksi kebaya pengantin, tidak?" tanya Rifki lagi mengutarakan maksudnya.


"Aku hanya fokus ke busana muslim, Rifki. Belum pernah mencoba bikin kebaya, memang mau buat siapa?" Niken membalas pertanyaan Rifki dengan pertanyaan pula.


"Buat Erikalah, memang mau buat siapa lagi."


"Rifki, kebaya pengantin itu cuma dipakai sekali saja seumur hidup, daripada beli mending sewa aja. Atau kalau mau, kebaya pengantinku boleh kok dipinjam." Niken menawarkan kebaya pengantinnya.


"Serius boleh dipinjam?" tanya Rifki memastikan.


"Serius, buat kalian apa sih yang enggak boleh," jawab Niken tulus. "Tapi kebayanya masih ada di rumah Mama," imbuhnya.


"Terus aku yang ambil di rumah mama kamu atau gimana?"


"Gini saja deh, hari Minggu besok aku mau ke rumah mama, biasalah lepas kangen sekalian ambil kebaya. Terus hari Senin nya, Kamu ajak Erika ke butik ku, gimana?" usul Niken.


"Oke dech," sahut Rifki.


"Udah ya Rif, sampai ketemu hari Senin."


"Iya, Niken. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah menutup panggilannya, Rifki meletakkan ponselnya di jok sebelah kiri yang kosong dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kantor pusat ARD's Corp.


Hanya butuh waktu 15 menit, kini ia tengah memarkirkan mobil box yang ia bawa di halaman Ardimart Cakung. Rifki keluar turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam toko.


Rifki melangkah ke dalam toko dengan menampilkan wajah datar, ia pura-pura bersedih. Ia langsung masuk menuju ke ruangan dan duduk di kursinya dan melakukan pekerjaannya.


Saat waktu istirahat tiba, Erika yang kepo menghampiri Rifki dan duduk berhadapan di depan Rifki.


"Mas, tadi Tania bilang Mas dipanggil menghadap Pak Direktur, ada apa?" tanya Erika membuka percakapan.


"Aku dipecat, Ay. Ada yang ngelaporin kalau kita di sini sering pacaran, aku diberi waktu tiga hari untuk berkemas," jawab Rifki memasang muka serius. "Apa kamu masih mau menikah dengan pria pengangguran seperti aku?" tanya Rifki menguji Erika.


"Kenapa mesti enggak mau? Kita kan sudah lama menjalin hubungan, Mas. Bahkan sejak sebelum kita berdua mendapatkan pekerjaan," jawab Erika.


"Tapi bagaimana jika setelah nikah nanti, aku tidak bisa memberimu nafkah?" tanya Rifki lagi.


"Mas, rizki itu bisa datang dari siapa saja, nggak harus dari suami," Erika mengungkapkan argumennya.


"Itu rizki, kalau Rifki?" Rifki mencoba memelencengkan pemikiran Erika.


"Kalau Rifki datang di dunia ini hanya untuk Erika," jawab Erika tersenyum.


"Oke, Senin besok kita ke butiknya Niken!" ajak Rifki.


"Itu bibir kalau tanya satu-satu kenapa? Aku cium tahu rasa nanti," ucap Rifki mengancam. "Kita ke butiknya Niken buat pinjam kebaya pengantin," tutur Rifki.


Erika hanya mengernyitkan keningnya, kedua tangannya kini menopang wajahnya demi mendengarkan penuturan dari Rifki selanjutnya.


Kedua tangan Erika kini diraih oleh Rifki dan digenggamnya.


"Erika, aku mau jujur yang sebenarnya, aku dikasih jabatan manajer di Cengkareng. Dan setelah acara serah terima jabatan itu kita akan segera menikah," ungkap Rifki akhirnya.


"Alhamdulillah." Hanya itu yang diucapkan Erika, tetapi raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan. Lelehan bulir bening menyeruak dari sudut matanya.


"Jangan nangis donk, Ay! Masa mau jadi nyonya manajer kok nangis," goda Rifki.


"Aku menangis karena bahagia, Mas. Lagian nyonya manager masa kebayanya pinjam?" protes Erika.


"Itu cuma usulan Niken, Ayang. Kalau kamu enggak mau kita bisa beli kok. Niken bilang kebaya pengantin itu dipakai cuma sekali seumur hidup, jadi daripada mubazir uangnya mendingan nyewa, dan Niken mau meminjamkan cuma-cuma kebaya pengantinnya untuk kamu," papar Rifki.


"Aku cuma bercanda kok, Mas. Lagian calon suamiku kan cuma manajer toko, bukan manajer perusahaan gede, nggak jauh berbeda dari jabatannya yang sekarang." Erika mengoreksi ucapannya.


"Terimakasih atas pengertian mu, Ay," ucap Rifki.


Rifki merasa bersyukur memiliki kekasih seperti Erika, gadis itu tidak banyak menuntut macam-macam. Mereka sekarang kembali melakukan aktifitas masing-masing.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara itu, setelah melaksanakan sholat dhuhur dan makan siang, Tania melayani suaminya untuk meminum obat.


"Mau tiduran atau di kursi aja, Yank? Sebentar lagi aku berangkat kerja soalnya," tanya Tania yang mengkhawatirkan Edos kalau pindah ke kasur sendiri.


"Sebenarnya masih ingin jalan-jalan sih," sesal Edos.


"Besok pagi, janji dech aku temani kamu jalan-jalan. Lagian sekarang udaranya panas banget, Yank," janji Tania.


"Ya udah, ayo! Aku mau tiduran aja," ucap Edos akhirnya.


Tania membantu memapah suaminya dari kursi roda ke tempat tidur. Tempat tidur tersebut hanya sebuah kasur spring bed berukuran 160 cm x 200 cm dengan ketebalan 20 cm. Edos menyandarkan punggungnya pada dinding kamar.


Tania hendak beranjak untuk siap-siap berangkat kerja.


"Sini dulu, Say," pinta Edos menepuk kasur disebelahnya.

__ADS_1


Tania menoleh dan berkata, "Aku mau siap-siap, Yank."


"Ck, bentar doank, tadi di rumah sakit enggak mau," protes Edos.


"Janji lho!"


Tania menyandarkan punggungnya di samping Edos. Edos meraih tangan Tania, ditautkan jemarinya dengan jemari istrinya.


"Say?" panggil Edos.


"Hemmm." Tania menyahut Edos dengan dehaman.


"Cincin kamu dimana?"


Tania kaget, ia bingung harus menjawab apa.


"Eh, ada kok, Yank. Aku simpan di dalam tas. Jariku kemarin gatal-gatal pakai cincin, mungkin alergi, ya aku simpan sajalah," jawab Tania berbohong.


"Masa ia alergi? itu kan cincin emas murni dan berlian asli, Say," ucap Edos masih menyelidik tidak percaya.


"Sejak kecil aku kan tidak pernah memakai perhiasan, Yank. Bisa saja kan alergi," Tania masih berusaha menutupi kebohongannya.


Sebenarnya cincin itu aku gadaikan untuk menutupi biaya rumah sakit kita, Yank. Tapi aku janji akan menebus secepatnya. Mudah-mudahan kamu tidak menggeledah isi tas ku, Tania berkata dalam hati.


Edos memerosotkan tubuhnya hingga posisinya kini merebah karena ia mulai mengantuk, mungkin efek minum obat tadi. Tania membelai rambut Edos hingga suaminya terlelap. Ia mencium kening suaminya lama, hingga tiba-tiba terdengar bunyi klakson motor dari depan rumah.


Tania beranjak dan setengah berlari menuju depan rumah.


"Mas Rifki?" seru Tania.


"Ayo, mau berangkat bareng nggak?" tanya Rifki.


"Eh, ia sebentar aku ambil tas dulu, Mas," sahut Tania yang langsung menghilang dari balik pintu, dan muncul kembali dalam hitungan detik.


"Mas Rifki sengaja jemput Tania, ya?" tanya Tania saat ia sudah bertengger di belakang Rifki dan Rifki sudah menjalankan sepeda motornya


"Kepedean kamu, Tan. Mas tadi baru nganter Erika," sanggah Rifki.


"Kirain sengaja jemput adik ketemu gede tersayang," sesal Tania menampakkan wajah kecewa.


"Iya, Mas Rifki memang sengaja jemput kamu, kalau enggak sengaja mana mungkin dari rumah Erika ke minimarket bisa nyangkut di rumah?" papar Rifki. "Tapi tinggal tiga hari ini saja aku antar jemput kamu, karena besok lusa Mas Rifki sudah pindah tugas ke Cengkareng."


"Oo, jadi Mas tadi dipanggil ke kantor pusat dapat surat mutasi?" tanya Tania.


"Bukan surat mutasi, lebih tepatnya SK," jawab Rifki.


"SK? Mas Rifki naik jabatan ya?" Tania mencoba mencerna ucapan Rifki.


"Iya, Alhamdulillah."


Tak lama kemudian, sampailah mereka di minimarket dan melakukan tugas sesuai job masing-masing.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hari Minggu yang dinantikan telah tiba, hari dimana para pekerja rehat dari segala rutinitas yang penat. Memang sebagian besar perusahaan, lembaga pemerintah, sekolah negeri maupun swasta banyak yang memberlakukan lima hari kerja, tetapi bagi minimarket yang buka 24 jam hari Minggu pun tetap buka.


Sesuai dengan janjinya kepada Rifki, Niken kini mengunjungi orangtuanya untuk melepas rindu sekalian mengambilkan kebaya pengantin untuk dipinjamkan kepada Erika.


Niken tengah memarkirkan mobilnya di halaman rumah orangtuanya. Niken membuka pintu di sampingnya dan turun dari mobil. Ia kemudian membuka pintu belakang untuk mengambil mangga harum manis yang dibelinya dari penjual mangga di pinggir jalan yang dilaluinya.


"Assalamu'alaikum, Mama!" serunya membuka pintu memanggil sang Mama. Namun yang dipanggil tidak menampakkan batang hidungnya.


Niken langsung membawa kakinya menuju ke dapur, namun lagi-lagi tidak ada mamanya di sana. Ia meletakkan mangga yang dibawanya di atas meja makan, lalu setengah berlari ia menaiki tangga. Membuka pintu kamar kedua orang tuanya, kosong.


Niken memutuskan untuk masuk ke dalam kamar yang telah lama ditinggalkannya, Niken sudah tidak pernah menempati kamar tersebut sejak ia menikah. Ia membuka pintu kamarnya perlahan yang memang tidak pernah ia kunci.


Niken melangkah perlahan menghampiri lemari pakaiannya. Membuka pintu tersebut dan mengambil kebaya pengantin yang tergantung di sana. Niken duduk pada spring bed queen size nya sambil memandangi kebaya pengantin kesayangannya, kebaya rancangannya sendiri.


Niken memang belum pernah membuat kebaya untuk orang lain, butiknya hanya memproduksi busana muslimah, ia belum berani untuk membuat kebaya pengantin, disamping biayanya mahal, ia masih takut karyanya tidak laku di pasaran.


Dalam prinsip Niken, menikah itu seumur hidup sekali, jadi bagaimanapun perlakuan suaminya terhadapnya, ia akan sabar menunggu sampai kapanpun, ia yakin suaminya kelak akan mencintainya dengan sepenuh hati.


Tanpa sadar air matanya meleleh di pipinya, Niken menyekanya. Ia melipat kebayanya dan memasukkannya ke dalam paper bag. Niken melangkah ke luar dari kamar menuju ke halaman untuk menaruh kebayanya di mobilnya.


.


.


.


TBC


Terimakasih, udah mau baca


jangan lupa like n komen ya!


*********************************

__ADS_1


Buat Author yang selalu memberi semangat aku buat nulis, syafakillah, semoga lekas sembuh dan segera pulih ya Uni, aamiin..



__ADS_2