2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Cek Kehamilan


__ADS_3

Sudah tiga minggu Niken menetap di Bandung. Ia menjalani aktifitas seperti biasa yang ia lakukan di Jakarta. Membuat sketsa rancangan design, menyerahkan rancangannya kepada pegawainya dan mengirim rancangan tersebut kepada asistennya di beberapa butik miliknya untuk direalisasikan menjadi sebuah baju pria atau wanita.


Karena pegawai di butiknya yang di Bandung belum banyak, maka ia pun kadang turun tangan sendiri untuk menjahitnya.


Sebenarnya Niken bisa saja bekerja di perusahaan orangtuanya, mengingat dia adalah anak tunggal dari Tuan Haidar, jadi mau tidak mau, nanti dialah yang akan menjadi pemimpin di perusahaan milik papanya tersebut.


Namun jiwa Niken bertolak belakang dengan usaha perusahaan yang digeluti oleh orang tuanya yang bergerak di bidang properti, ini terbukti bahwa Niken lebih memilih sekolah fashion daripada sekolah bisnis ataupun kontruksi.


Pagi itu Niken sedang menikmati nasi timbel yang ia beli dari penjual keliling untuk sarapan paginya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, namun ia belum ingin mengangkatnya. Akhirnya bunyi itu berhenti sendiri.


Beberapa saat kemudian ponsel itu berbunyi kembali. Orang-orang di sekitar Niken menatapnya dengan horor karena merasa terganggu.


"Aku kok malah ngeri dengan tatapan kalian," ucap Niken di sela makannya pada para pegawainya.


"Mau Ririn angkatin enggak, Mbak?" Ririn menawarkan jasa angkat telepon.


"Tidak usah, paling sebentar lagi juga berhenti sendiri," tolak Niken.


"Kalau ternyata penting bagaimana?" tanya Ririn lagi, padahal di dalam hatinya berkata 'tapi kan berisik, Mbak.'


"Kalau penting nanti juga telepon lagi," jawab Niken santai sambil menyuap makanan ke mulutnya. Entah mengapa akhir-akhir ini Niken doyan banget makan, bahkan porsinya lebih banyak dari saat dia berada di Jakarta. Mungkin karena di Bandung udaranya terasa dingin jadi banyak makan.


"Mbak Niken sekarang makannya banyak, enggak takut gemuk?" tanya Ririn agak menakutkan. Pasalnya badan gemuk itu sejak dulu menjadi momok bagi sebagian kaum wanita.


Niken meneguk air putih yang diambilnya dari dispenser. Barulah setelah itu ia membuka ponselnya. Melihat siapa yang yang barusan menelponnya sepagi ini.


"Rifki?"


Dial, tersambung, diangkat.


"Assalamu'alaikum, Rifki. Ada apa? Tumben pagi-pagi telepon,"


"Niken, apa kamu hamil?" tanya Rifki langsung.


"Hamil? kenapa kamu tanyakan itu?" Niken heran.


"Siapa yang hamil, Mbak?" tanya Ririn yang memperhatikan interaksi majikannya saat menelepon.


Niken hanya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sambil berucap, "sssttt."


"Beberapa hari ini Pak Bram sering mual dan muntah, kepalanya pusing, dan enggak bisa makan apapun, karena apapun yang ia makan langsung keluar. Setelah diperiksa, ternyata kondisinya normal, dia tidak sakit apa-apa," tutur Rifki.


"Lalu apa hubungannya dengan aku yang hamil?" tanya Niken.


"dokter Ryan bilang mungkin karena itu akibat kehamilan simpatik," jawab Rifki.


"Kehamilan Simpatik?"


"Seorang suami bisa mengalami nyidam, mual dan muntah seperti yang dialami oleh wanita hamil pada umumnya karena terkena sindrom kehamilan simpatik," jelas Rifki.


"Oo, tapi sepertinya bukan aku. Mungkin pacar Mas Bram yang lain barangkali. Aku belum telat mens soalnya," sangkal Niken.


"Hahaha, pacar Pak Bram yang lain? Pak Bram itu tidak punya pacar, Niken."


"Mana tahu dia punya pacar tanpa sepengetahuan kamu."


Rifki terdiam, mungkin yang dikatakan Niken ada benarnya juga. Dia kan tidak selalu ada 24 jam di samping Bram.


"Mendingan kamu beli testpek deh buat memastikan, apakah kamu hamil atau tidak," pinta Rifki.


"Iya, nanti kalau sempat aku mampir ke apotik beli testpek dulu. Tapi kamu jangan coba-coba bocorin keberadaanku ke dia lho," pinta Niken.


"Insya Allah siap, Tuan putri."


"Awas kalau sampai kamu bocorin keberadaanku ke dia, aku bakal PHK kamu jadi Rifki," ancam Niken. Rifki asal kata Rofaqo berarti teman.


"Dia itu pintar IT, pasti dengan mudah bisa melacak dimana kamu berada tanpa aku bilang sama dia, Niken," ungkap Rifki.


"Ya iya, biar dia kerja keras sendiri. Asal jangan kamu yang kasih tahu dia," jelas Niken.


"Kamu yakin dia bakal nyari kamu, mana dia peduli sama kamu?" Rifki akhirnya menyanggupi.


"Hahaha, aku kepedean ya? mana mungkin dia mencari aku, apalagi setelah kejadian malam itu."


"Kamu masih mengharapkan dia kembali kepada kamu? Setelah dia memperlakukanmu selama ini?" tanya Rifki.


"Tidak, aku ingin cerai saja."


Ingin cerai, itu hanya perkataan Niken di mulutnya, sedangkan jauh di dalam lubuk hatinya, Niken masih berharap ia akan dicintai oleh suaminya.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya, Niken. Takut Pak Bram curiga. Lain kali kita sambung lagi. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Niken menutup ponselnya, sejenak berfikir, apa benar yang dikatakan oleh Rifki. Ada rasa rindu pada suaminya. Namun ada juga tekad untuk melupakannya.


Kenapa aku harus tes kehamilan? menstruasi ku saja belum telat. Aku hamil atau tidak, tidak ada kaitannya dengan Mas Bram. Aku sudah biasa tidak bertemu dengan dia. Aku pasti bisa melupakannya. Cinta yang lama tidak dipupuk pasti akan mati. Move on, Niken. Move on! batin Niken.


Niken memutuskan untuk melakukan tes kehamilan setelah ia memastikan benar-benar terlambat datang bulan, maksimal satu minggu dari jadwalnya. Sedangkan jadwal haidnya tinggal tiga hari lagi.


"Siapa yang hamil, Mbak?" tanya Ririn yang tiba-tiba kepo.


"Mas Bram, eh," Niken cepat-cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya karena reflek keceplosan.


"Apa?" pekik Ririn.


"Enggak usah kenceng-kenceng juga kali, Rin," seringai Niken. "Maksudnya kata Rifki tiba-tiba Mas Bram beberapa hari ini mengalami morning sicknes seperti yang dialami oleh sebagian wanita hamil, dia mual dan muntah juga kepalanya pusing," imbuhnya.


"Pak Bram sakit ya Mbak?" tanya Ririn yang sudah tidak sabar dengan penjelasan Niken.


"Setelah diperiksa oleh dokter ternyata dia enggak sakit apa-apa," jawab Niken.


"Kok bisa, Mbak?"


"Itu dia, dokternya bilang kemungkinan Mas Bram terkena sindrom kehamilan simpatik, makanya Rifki nanya ke aku, aku hamil atau tidak?" Tutur Niken.


"Mbak Niken tes kehamilan saja, atau pergi ke dokter kandungan sekalian biar di USG," Ririn memberikan saran.


"Nanti saja lah, kalau aku benar-benar telat mens satu minggu, jadwal siklus mens aku saja masih kurang tiga hari kalau enggak salah," tolak Niken.


Lagian aku hamil atau tidak, pasti juga tidak akan bisa mengurangi penderitaan Mas Bram. Mungin saja ada wanita lain selain Tania yang dia hamili. Mungkin juga ini memang karma buat dia karena telah menterlantarkan seorang istri, gerutu Niken dalam hati.


Niken memulai kegiatan pagi ini dengan membuka butik, kemudian melakukan kegiatannya sehari-hari, berkutat dengan kertas dan pensil. Ada beberapa pelanggan yang meminta dibuatkan rancangan untuk seragam seluruh anggota keluarga dalam waktu dua minggu. Sehingga ia sangat sibuk untuk menyelesaikan rancangan dalam waktu satu minggu. Selanjutnya mengaplikasikan menjadi bentuk pakaian jadi dalam waktu satu minggu lagi.


💦💦💦💦💦


Satu minggu setelah mengantarkan Tania ke Jakarta, Edos, Abizar dan Aris kembali ke kampung karena harus kembali ke pekerjaan mereka. Kini dua minggu sudah Tania kembali menjalani hari tanpa suami di sisinya.


Sore itu Tania hendak memeriksakan kandungannya yang kini usianya sudah memasuki bulan ke 5 ke rumah sakit. Ia mengirim pesan WhatsApp ke nomor WhatsApp suaminya.


Anda


[Assalamu'alaikum, Suamiku Sayang, nanti aku mau ketemu Dedek.]


centang 2


centang 2 biru


Suamik


[Wa'alaikumussalam, Dedek siapa?😟]


Anda


[Maksud aku, nanti mau periksa kehamilan ke rumah sakit.]


Send


Centang dua biru langsung


Suamik


[Oo 😍 .. Sama siapa?]


Anda


[Sama Mama, minta diantar Mas Rayan.]


Send


Centang dua biru


Suamik


[Hati-hati ya, Sayang.]


Anda


[Iya, kamu juga hati-hati 🥰]


Send


Suamik

__ADS_1


[🥰 Nanti kabari ya, Sayangggg. Assalamu'alaikum.]


Anda


[Wa'alaikumussalam,]


Send


Setelah menyimpan ponselnya ke dalam tas, Tania keluar dari kamar, bertemu dengan Mama Dewi di ruang tengah. Sejak kembali dari kampung di Batang dan Pekalongan, kamar Tania sekarang pindah di lantai satu, yang sebelumnya hanya ditempati kalau ada tamu atau saudara yang menginap saja. Kamar tersebut yang sekarang di tempati oleh Tania.



"Sudah siap, Sayang?" tanya Dewi.


Tania mengangguk seraya menjawab, "Sudah, Ma."


"Ayo kita ke luar! Rayan sudah menunggu sejak tadi," ucap Dewi.


Mereka melewati pintu ruang tengah dan ruang tamu, melanjutkan langkah menghampiri mobil yang terparkir di halaman dengan seorang pemuda yang tengah duduk di kursi kemudi.


"Mas Rayan sudah lama?" tanya Tania saat masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.


"Yah, cukuplah kalau untuk mandi dan siap-siap," jawab Rayan santai.


"Memangnya Mas Rayan enggak mandi dari rumah?" tanya Tania lagi dengan bodohnya. Tania terkikik sendiri dengan pertanyaan yang ia ucapkan.


"Mandilah, kalau enggak mandi mana ada Rayan seganteng ini, Tan?"


"Sudah ... berangkat, Rayan! nanti kesorean lho," ujar Dewi.


Rayan menjalankan mobil, menyalakan MP3 di dashboard mobil.


"Berasa jadi sopir taksi aku, di depan sendiri doang penumpangnya di belakang," seloroh Rayan.


"Lalu kalau enggak mau sopir taksi, Mas Rayan maunya jadi sopir apa? Delman?" sahut Tania.


"Itu sih kusir, Tatan," cela Rayan yang pengen menoyor kepala Tania saja rasanya kalau enggak ada mamanya.


Udah minta anterinnya maksa pakai banget, suka bikin gedek lagi. Kalau belum punya suami udah aku buntelin kamu, Tan ... Tan, terus aku pajang di depan pintu kamar, gerutu Rayan tersenyum-senyum sendiri.


Tania menatap punggung Rayan yang bergetar karena menahan tawa. "Jangan bilang Mas Rayan lagi mikirin sesuatu yang enggak-enggak sama aku lho, awas saja!" ancam Tania.


Sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ke ruang tunggu di depan ruangan Poliklinik kandungan atau Poli Obgyn. Mereka duduk sambil menunggu antrean. Tania mengirim pesan WhatsApp kepada suaminya.



[Lagi nunggu antrian.]


Send


Centang 2 biru


Suamik


[Mana Mas Rayan?]



[Tuh, orangnya lagi minum air.]


Suamik


[Minum air? Kok seperti lagi buka HP?]


Anda


[Maksudnya sambil menyelam minum air, Yank 🤣🤣🤣


Dia itu lagi periksa email laporan kantornya]


Send


.


.


.


TBC


Terimakasih semuanya, maaf telat nggak bisa konsen, udah mulai tugas Sarkat 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2