2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Malam Do'a Bersama


__ADS_3

Malam ini di kediaman Ardiansyah sekeluarga akan diadakan acara do'a bersama yang akan ditujukan untuk almarhum Muhammad Azhar Firdaus suaminya Tania.


Acara dimulai dari bakda Maghrib dengan pembacaan kitab suci Al-Qur'an oleh dua orang hafiz. Setelah shalat isya acara kembali dilanjutkan dengan pembacaan surah Yaasiin dan Tahlil oleh para tamu undangan yang dipimpin oleh seorang ustadz.


Tamu undangan lainnya satu per satu mulai berdatangan. Tania masih di dalam kamarnya tengah menyusui Attar. Ponselnya di atas nakas bergetar memperlihatkan notifikasi pesan masuk.


"Bunda buka pesan dulu ya, Dek," ucapnya kepada sang putra. Ia beringsut meraih ponselnya tanpa melepaskan tautan di bibir Attar.


Banyak chat yang masuk di sana. Salah satunya dari Fauzan.


[Tania, Mas sudah di rumah kamu. Kamunya di mana?] Fauzan.


[Tania masih di kamar, Mas. Lagi nyusui Attar.] Anda.


[Acaranya udah mau dimulai ini] Fauzan.


[Dimulai aja, ini kan urusan kaum bapak-bapak. Kaum emak-emak mah urusannya di belakang bagian makanan.] Anda.


[Berarti bukan urusan saya dong, saya kan masih Mas-mas (emoticon tertawa)] Fauzan.


Tania mengulum senyum saat membaca pesan dari Fauzan yang ini. Ia lalu mengetik balasan.


[Enggak ada tuh urusan Mas-mas. Adanya urusan bapak-bapak dan urusan Emak-emak. Tinggal Mas-mas ini mau masuk Bapak-bapak atau Emak-emak. (emoticon tertawa)]™Anda.


Tidak ada balasan lagi dari Fauzan, mungkin karena acaranya memang benar-benar sudah dimulai. Tania pun meletakkan baby Atar ke dalam box bayi. Ia pun membenarkan kerudung dan riasannya lalu melangkah ke luar dari kamar.


"Nin, Atar udah tidur di kamar. Kamu di sini saja ya biar kalau Atar bangun kedengaran. Aku mau ke depan dulu," ucap Tania kepada Nina.


"Baik, Mbak," sahut Nina.


Saat sampai di ruang tengah, acara telah sampai pada pertengahan pembacaan surah Yaasiin. Tania duduk di antara tamu wanita di ruang tengah tersebut. Sementara tamu laki-laki di ruang tamu dan di halaman.


"Maaf, Pak Ardi, yang meninggal itu sebenarnya siapa?" tanya seorang tamu undangan yang juga relasi bisnis kepada Ardi saat acara pengajian telah selesai. Mereka tengah mengantri mengambil makan jalan.


"Keponakan dan menantu saya, Pak Saikhul," sahut Ardi.


"Bukannya menantu Pak Ardi ini perempuan? Istrinya Bramantyo kan?" tanya pria tersebut lagi.


"Kalau yang ini lebih tepatnya menantu istri saya, Pak. Suami dari anak pertama istri saya dengan suaminya yang terdahulu," Ardi menjelaskan lebih rinci lagi.


"Oo, berarti anak Pak Ardi ini janda muda donk. Boleh lah dijodohkan dengan anak saya nanti. Anak saya juga duda cerai," ucap bapak-bapak yang lainnya.


Fauzan yang mendengar percakapan para pria dewasa itu seketika hatinya memanas. Matanya merah menahan emosi.


"Hahaha, kalau urusan itu sih saya tidak bisa ikut campur, Pak," kekeh Ardi. "Dulu saya hampir besanan sama Pak Baskoro tetapi tidak jadi karena anak bungsu saya tidak mau dijodohkan," ungkapnya.


"Wah, berarti pak Ardi ini masih punya anak gadis?" Seorang pria lain menyahut dengan pertanyaan.


"Iya, Pak Johan, anak gadis saya yang bungsu masih SMA di Bandung. Monggo silakan dinikmati hidangan seadanya," sahut Ardi yang kemudian memutus topik yang menurutnya tidak bermanfaat dengan mempersilakan untuk menikmati hidangan. Membuat hati Fauzan seketika menjadi lega.

__ADS_1


[Tania, kalau masa Iddah kamu sudah selesai, bolehkah Mas menggantikan tugas-tugas yang ditinggalkan oleh suami kamu? Menjaga kamu dan anak-anak kamu.] Fauzan.


Entah mendapat keberanian dari mana Fauzan bisa mengirimkan chat kepada Tania seperti itu. Mungkin karena hatinya memanas saat mendengar percakapan rekan-rekan bisnis Ardiansyah saat selesai acara tadi. Pria itu kini tengah membaringkan tubuhnya di ranjang king size kamarnya. Lama ia menunggu balasan dari pesannya tersebut. Namun, mungkin karena Tania sedang sibuk pesan itu belum juga berubah centang warna biru hingga pemuda itu tertidur.


*****


Saat subuh Tania terbangun dari tidur lelapnya. Ia merasakan sakit yang amat sangat di sekitar punggungnya saat ia berusaha untuk bangun. Pada saat yang bersamaan Atar anaknya juga terbangun dan menangis.


"Astaghfirullah!" pekiknya. "Allah, jangan engkau ambil nyawaku dulu, aku ingin bisa membesarkan Atar, dialah satu-satunya peninggalan Edos," rintihnya dalam tangis.


"Ada apa, Mbak Tania?" tanya Siti yang melongok ke dalam kamar saat mendengar suara Tania.


"Tolong gendong Atar, Mbak Siti. Aku enggak bisa bangun. Punggungku rasanya sakit sekali buat bangun," sahut Tania.


Siti pun tanpa menjawab langsung mengambil Atar dari box bayi. Lalu kembali menghampiri Tania.


"Mbak Tania mau apa lagi? Mbak Siti ambilkan. Atau mau Mbak Siti telponkan dokter?" tawar Siti.


"Eng - enggak perlu, Mbak Siti enggak usah panggil dokter. Tania cuma minta ambilkan air putih sama Paracetamol saja, Mbak, tolong bawa ke sini," pinta Tania.


"Baiklah, Siti ambilkan dulu air putih dan Paracetamol ya," pamit Siti.


Bukan karena apa-apa Tania tidak mau diperiksa oleh dokter, ia hanya tidak ingin apa yang menjadi firasatnya ternyata sebuah kenyataan. Ia belum bisa menerima semua itu.


"Mbak Tania kenapa?" tanya Nina yang baru saja masuk ke dalam kamar Tania.


"Iya, Mbak. Ayo Dede Atar sama Mbak Nina," sahut Nina. Lalu gadis itu meraih Atar dari gendongan Siti.


Siti pun keluar dari kamar Tania untuk mengambilkan sesuatu yang diminta oleh gadis itu.


"Kamu udah shalat subuh kan, Nin?" tanya Tania memastikan.


"Sudah, Mbak. Tadi cepat-cepat kemari karena mendengar suara ribut-ribut," sahut Nina.


Nina keluar dari kamar Tania membawa Atar. Tidak lama kemudian Siti masuk membawakan segelas air putih dan tablet Paracetamol. Siti meletakkan dua buah barang yang yang dipegangnya di atas nakas. Lalu ia menoleh ke arah Tania.


"Ayo Mbak Siti bantu untuk duduk," tawar Siti.


Tania mengulurkan tangannya yang disambut oleh Siti.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Siti dan Tania bersamaan. Tania mengerang merasakan sakit.


Tania akhirnya kini pada posisi duduk. Siti menyerahkan segelas air putih kepada Tania, lalu membuka sebutir tablet Paracetamol dari kemasannya. Menyerahkan tablet itu kepada Tania. Tania membasahi tenggorokannya dengan air putih kemudian menelan pil itu. Ia dorong kembali obat yang diminumnya dengan air putih hingga masuk ke dalam melewati tenggorokan.


"Sudah, Mbak. Terima kasih, Mbak Siti sekarang bisa keluar," ujar Tania.


"Iya, Mbak Tania, sama-sama," sahut Siti. Wanita itupun keluar dari kamar Tania kembali.


Setelah rasa sakitnya sedikit berkurang, Tania beranjak dari tempat tidur. Ia harus segera melaksanakan shalat subuh sebelum waktunya habis. Tania melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.

__ADS_1


"Tania belum bangun, Siti?" tanya Dewi yang baru saja muncul di dapur untuk menengok Siti yang tengah mempersiapkan menu sarapan.


"Sudah kok, Bu. Tapi tadi Mbak Tania mengeluh punggungnya sakit," jawab Siti.


"Sakit? Kemarin-kemarin iya mudah lelah. Ibu kok punya firasat ya," gumam Dewi.


"Firasat? Baik atau buruk, Bu?" tanya Siti.


"Belum tahu ah ini baik atau buruk," sahut Dewi bimbang. "Ibu mau tengok Tania dulu ya, Ti. Kamu butuh bantuan Ibu tidak?" tawar Dewi.


"Tidak, Bu. Semuanya hampir selesai kok," sahut Siti.


"Ya udah kalau gitu," ucap Dewi sambil melenggang pergi.


*****


Sementara itu Fauzan yang masih menunggu balasan pesan dari Tania berkali-kali ia membuka ponselnya masih sama tidak berubah warna.


"Ada apa dengan mu, Tania? Perasaan kemarin-kemarin tidak seperti ini," gumamnya.


Fauzan menyandingkan ponselnya di dekat bantal saat terjaga dari lelapnya ia tidak pernah absen melongok kembali pesan yang dikirim kepada Tania. Ia terjaga pada pukul 1 dini hari, pukul 2, 3 dan akhirnya ia bangun saat subuh.


Habis subuh ia membuka mushaf Al-Qur'an sebentar, menghadiahkan bacaannya untuk almarhum ayahanda tercinta dan ia teringat kepada ayahanda dan suaminya Tania yang ia jumpai di dalam mimpi pagi itu. Meskipun Fauzan tidak tahu nama lengkap ayahanda Tania dan nama lengkap Edos baru ia ketahui tadi malam.


Sehabis subuh Fauzan jalan-jalan pagi di sekitar jalan dekat rumahnya. Saat ia melongok pesannya masih saja centang itu berwarna abu-abu. Pemuda itu pulang ke rumah dan bersiap untuk berangkat kerja.


Sementara wanita yang sejak tadi malam diharapkan membuka dan membalas pesan oleh Fauzan baru teringat tentang ponselnya tadi pukul setengah delapan saat ia hendak berangkat kuliah.


Tadi malam batre ponselnya ngedrop, jadi langsung ia ces dalam keadaan mati. Tadi pas berangkat kuliah ia juga langsung cabut dari colokan dan langsung memasukkannya ke dalam kantong tas. Sesampai di kampus ia tidak sempat membuka ponselnya karena perkuliahan telah dimulai.


Tania baru bisa membuka ponselnya saat dosen yang baru saja memberi materi kuliah keluar dari ruang kelas. Ia sangat terkejut banyak notifikasi pesan dan panggilan tidak terjawab yang masuk. Ia membuka satu per satu pesan dan sangat terkejut setelah membaca pesan dari Fauzan.


"Maksudnya apa coba?" Gumam Tanua. Tania bukanlah gadis bodoh yang tidak mengetahui apa maksud dari pesan itu.


"Ada apa, Tan?" tanya Nadia yang duduk di samping Tania.


"Coba kamu baca ini." Tania menyodorkan ponsel yang masih menyala itu ke hadapan Nadia.


Nadia tidak bisa menahan tawa saat membaca pesan di ponsel milik Tania.


"Bukannya pria ini yang kemarin-kemarin bikin kamu kehilangan konsentrasi ya?" sergah Nadia.


"Au ah, tapi ya enggak secepat ini juga keles. Kan masa Iddah ku selesai sebulan lagi. Dan aku belum mengenal siapa pria ini lebih dalam," timpal Tania.


"Kaya ukhti-ukhti gitu sih, Tan, pengenalannya setelah menikah. Pacaran halal," cetus Nadia.


"Aku belum siap, dodol. Aku belum bisa melupakan Edos. Lagi pula saat ini aku hanya ingin fokus kuliah hingga lulus S1 dan membesarkan Atar saja. Belum ingin menjalin sebuah hubungan apapun," sahut Tania.


"Balas aja gih sesuai apa yang ada di hati kamu," ujar Tania.

__ADS_1


__ADS_2