
Cinta, kata orang deritanya tiada akhir,
Namun karena cinta, aku rela air mataku mengalir,
menanti cinta itu sendiri yang entah kapan akan hadir,
karena cinta pula aku percaya suatu saat cintaku akan bersambut,
biar kini aku bertepuk sebelah tangan,
biar kini aku mencintaimu sendirian,
Biarpun kini pintu hatimu tertutup untukku,
Aku belum lelah untuk mengetuknya,
namun yang kutahu pasti Tuhan tak pernah tidur,
Dialah yang akan membukakan pintu hatimu untukku.
******************************
Dalam prinsip Niken, menikah itu seumur hidup sekali, jadi bagaimanapun perlakuan suaminya terhadapnya, ia akan sabar menunggu sampai kapanpun, ia yakin suaminya kelak akan mencintainya dengan sepenuh hati.
Tanpa sadar air matanya meleleh di pipinya, Niken menyekanya. Ia melipat kebayanya dan memasukkannya ke dalam paper bag. Niken melangkah ke luar dari kamar menuju ke halaman untuk menaruh kebayanya di mobilnya.
Niken kembali masuk ke dalam rumah.
Tidak ada satu orangpun, tapi pintu rumah tidak dikunci, benar-benar teledor, gumam Niken dalam hati.
Niken membelokkan langkahnya menghampiri rak piring, mengambil sebuah piring dan pisau, lalu ia menyomot dua buah mangga yang tadi ditaruhnya di atas meja makan.
Sepertinya duduk di gazebo belakang rumah sambil makan mangga asyik juga, pikirnya.
Niken menyeret kakinya menuju ke taman belakang rumah orangtuanya. Niken keluar lewat pintu dapur, dari sana sudah terlihat taman belakang rumah. Ternyata mama, papa dan para pembantunya sedang berkumpul di sana.
"Mama!" seru Niken menghampiri mereka.
Yang dipanggil pun menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, anak Mama datang. Kok sendirian? Mana suamimu?" pertanyaan sang Mama selalu saja begitu setiap Niken datang menemuinya, hal inilah yang membuat Niken menjadi jarang berkunjung ke rumah orang tuanya, dan Niken harus menyiapkan jawaban yang pastinya merupakan kebohongan.
"Mas Bram, ada meeting mendadak katanya, Ma," jawab Niken sambil memeluk dan cipika-cipiki kepada Mama Zaida.
"Wah, suamimu itu pekerja keras sekali, ya. Hari Minggu saja dia masih kerja," tutur Zaida. Niken hanya membalas dengan senyuman.
Niken kemudian duduk bersila di gazebo, meletakkan piring dan mulai mengupas mangga yang dia bawa. Zaida juga duduk disampingnya.
Tiba-tiba Zaida mengusap-usap perut Niken yang datar, membuat Niken terkejut.
"Bagaimana kabar di sini, Sayang? Apa sudah ada tanda-tanda cucu Mama mau launching?" tanya Zaida.
"Sabar, Ma. Niken serahkan semuanya sama Allah," jawab Niken sambil memotong mangga.
Gimana mau launching, Ma? disentuh suamiku saja belum pernah, batin Niken.
Sungguh kasihan kamu Niken, menikah sudah seumur jagung belum pernah disentuh sekalipun.
"Hemm, mangganya manis, Ma. Coba deh!" ucap Niken menawari mangga kepada Sang Mama untuk mengalihkan pembicaraan.
Flashback on
Ardi, ayahnya Bram adalah pemilik perusahaan Ardiansyah Corporation atau lebih dikenal dengan ARD's Corp, dia teman akrab Haidar, ayahnya Niken. Mereka adalah teman kuliah dan rekan bisnis.
Sejak kecil Niken sudah mengenal Bram, karena keluarga mereka sering kumpul-Kumpul untuk makan bersama, ataupun pesta kecil-kecilan. Niken adalah gadis yang periang.
Niken yang waktu kecil berbadan gendut selalu menjadi bahan olok-olokan Bram, Bram sering menyebutnya drum minyak. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah Niken untuk mendekati Bram.
Saat Bram terpuruk karena mamanya meninggal, Niken datang setiap hari untuk menghiburnya, bahkan membujuk dan menyuapinya untuk makan. Tetapi semua yang dilakukan Niken tidak merubah perasaan Bram sedikitpun.
Bahkan saat SMA Niken sengaja mendaftar di sekolah yang sama dengan Bram, saat Niken kelas 1 Bram sudah kelas 3 SMA. Hancur hati Niken saat tahu bahwa Bram sudah mempunyai kekasih teman sekelasnya.
Niken memutuskan untuk pindah sekolah, di sana dia bertemu dengan Erika yang berasal dari keluarga sederhana. Erika waktu itu belum jadian sama Rifki, tetapi mereka sudah akrab.
Sejak saat itu Niken putus kontak dengan Bram, ia hanya mendengar kabar bahwa Bram kuliah di luar negeri. Sementara Niken setelah lulus SMA ia melanjutkan di sebuah sekolah designer di Jakarta.
Niken menurut saja saat orang tuanya menjodohkannya dengan Bram, tanpa ia menanyakan dulu kepada Bram apakah ia mau menikah dengan Niken atau tidak.
Malam itu usai pesta pernikahan mereka, para tamu sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka sedang berada di kamar hotel yang sudah di boking.
Bram nampak berdiri mondar-mandir tidak sabar menunggu Niken yang sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Niken keluar dari kamar mandi sudah berganti baju dengan gamis rumahan dari bahan rayon fiskos warna kuning kunyit dengan kerudung warna senada.
"Kemasi barang-barangmu segera! aku akan antar kamu pulang," perintah Bram yang mengagetkan Niken.
Niken hanya mengangguk kemudian mengemasi barang-barangnya, hanya gaun pengantin yang ia bawa, sementara kebaya pengantin yang ia pakai tadi pagi saat ijab qobul ia tinggal di kamarnya di rumah orangtuanya.
"Ayo, Mas!" ajak Niken yang telah siap untuk pulang.
Bram berjalan di depan sementara Niken mengikutinya di belakang. Bram membawa Niken ke rumah barunya, hadiah dari Papa Ardi untuk pernikahan mereka berdua.
Bram menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, Niken duduk di hadapannya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bram.
"Kamu jangan pernah berharap jika aku akan menganggapmu sebagai istriku!" tukas Bram. Niken hanya menghela napas.
Bram kemudian menyodorkan 2 lembar kertas yang berisi surat perjanjian.
"Bacalah surat itu, kemudian tandatangani!" perintah Bram dengan ketusnya.
Niken hanya membaca sekilas kemudian langsung menandatanganinya di tempat yang tertulis namanya yang sudah ditutup materai, ia tak perduli isi surat perjanjian tersebut merugikan ataupun menguntungkan baginya.
__ADS_1
Bram pun melakukan hal yang sama, ia menandatangani pada kolom yang bertuliskan namanya dan telah ditempeli materai, tidak ada saksi dalam surat perjanjian itu.
Bram kemudian membagi kunci yang tadinya satu gantungan menjadi 2 gantungan. Ia mengambil 1 surat dan satu kunci.
"Kamu simpan suratnya 1, aku satu!" ucapnya saat beranjak berdiri hendak meninggalkan rumah.
"Mas mau kemana?" tanya Niken dengan keras, yang ditanya mengentikan langkahnya kemudian menoleh.
"Bukan urusanmu, urusi urusanmu sendiri!" tukasnya.
Baiklah, ini sudah keputusanku, kuatkan hamba ya Allah.
Niken menatap tubuh orang yang telah resmi menjadi suaminya tersebut hingga hilang di balik pintu. Ia berjalan ke arah pintu, menutup dan menguncinya.
Niken melanjutkan langkahnya menuju kamar, menghempaskan tubuhnya di ranjang berukuran queen, ia tidak menyangka pernikahan impiannya dengan laki-laki pujaan hatinya akan bernasib seperti ini.
Satu hari, dua hati bahkan sampai satu Minggu lamanya Bram tidak pulang, akhirnya Niken juga tidak pulang ke rumah tersebut, ia menghabiskan waktunya dengan mendesain dan menjahit baju hasil rancangannya di sebuah butik yang ia rintis bersama teman kuliahnya di sekolah designer.
Sementara Bram frustrasi dipaksa menikah dengan Niken, gadis yang ia merasa tidak ia kenal sebelumnya. Sedangkan kekasihnya tidak tahu entah ke mana.
Hampir tiap malam Bram menghabiskan waktunya di Bar, dan pulang ketika sudah larut bahkan dinihari. Ia tidak pulang ke rumah melainkan ke apartemennya.
Flashback off
Niken masih menikmati mangga arum manis dengan mama, papa dan pembantunya. Mama Zaida banyak memberikan wejangan tentang kewajiban seorang istri, melayani suami itu ibadah dan sebagainya.
Kalau di rumah ini lama-lama bisa-bisa aku keceplosan, dan rahasia rumah tanggaku yang selama ini kututup rapat bisa-bisa terbongkar, dan Mama pasti akan menyuruhku untuk minta cerai. Aku enggak mau menjadi janda, ucap Niken dalam hati.
"Ma, Pa, Niken pamit pulang ya!" ucap Niken dengan gelisah.
Zaida dan Haidar memandang heran anak semata wayangnya.
"Nggak menginap saja, Nak? Atau nunggu suamimu jemput? Mama kan masih kangen, kamu sudah lama enggak tidur di rumah ini," bujuk sang Mama mencegah Niken untuk pergi.
Niken berusaha mencari alasan, "emh, tadi ada pelanggan ku mau ambil pesanan, Ma. Kasihan kalau dia lama nunggu."
"Ya, udah. Tapi besok-besok sering-sering kemari ya, Sayang," pinta Zaida mereda.
"Pasti, Ma."
Niken memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan mama dan papanya dan berlalu pergi.
"Pa, Papa merasa ada yang aneh enggak sih sama anak kita?" tanya Zaida pada suaminya.
"Mungkin itu cuma perasaan mu saja, Ma," sahut Haidar menetralkan ucapan istrinya.
"Ah Papa enggak peka, Niken itu seperti menyembunyikan sesuatu, Pa." Zaida masih kekeuh dengan argumennya, naluri seorang ibu memang lebih kuat dari siapapun.
Sementara Niken melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah orangtuanya. Kini ia telah sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah, rumah yang selama enam bulan ditinggalkannya, gerbang rumah tersebut terbuka sendiri karena sensornya terhubung dengan mobil yang dipakai pemiliknya.
Rumah itu nampak kotor, banyak rerumputan yang tumbuh dan meninggi. Niken memarkirkan mobilnya di garasi. Terbersit dalam fikirannya untuk meminta bantuan pada seseorang, tapi siapa?
Niken
[Gaess ada yang libur ngga? butuh bantuan nich.]
Arya
[Bantuan apa, Beb? aku transfer dari Ausi π€π€]
Erika
[Bantuan apa, Tuan Putri? Erika siapπ€π€, bentar lagi pulang kerja.]
Niken
[Wah wah wah, hari Minggu kerja. Bisa cepat jadi konglomerat nihπππ]
Rifki
[Kamu kayak nggak tahu perusahaan suamimu saja, Niken. Kan tidak ada libur, juga buka 24 jam tiap hari.]
[Iya iya, jadi gimana ada yang mau bantuin enggak? ntar aku share loc tempatnya.]
Rifki
[Ocre, aku siap, Tuan Putri.]
Erika
[Ocre, aku siap, Tuan Putri.
Aku ikut ya, Mas!]
Rifki
[Iya, Ay.]
Niken
[Oh iya, bawa makanan dan minuman sekalian, Erika. Di sini tidak ada apa-apa soalnya, nanti kuganti.]
Erika
[Siip, don't worry, Tuan Putri.]
Niken menutup chatnya dan melakukan panggilan Videocall pada mama mertuanya. Panggilan terhubung.
"Assalamu'alaikum, Mama!" sapa Niken.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Dewi
"Alhamdulillah sehat, Ma. Mama sendiri bagaimana kabarnya?" jawab Niken kemudian kembali bertanya.
"Alhamdulillah Mama juga baik, Sayang. Niken kapan kau ke rumah Mama lagi?" sahut Dewi kemudian bertanya lagi.
"In sya Allah, kalau ada waktu senggang, Ma. Oh ya, Tukang kebun di rumah Mama, siapa namanya? Tolong suruh kemari, ke rumah Niken ya, Ma!" Niken langsung mengutarakan maksudnya.
"Oh, si Karim? Sama Siti juga nggak? Mereka pasangan ideal loh," seloroh Mama Dewi.
"Boleh-boleh, Ma. Sama Siti juga. Udah ya, Ma. Niken mau bersih-bersih dulu," pamit Niken.
"Iya, Sayang. Mama juga mau panggil Karim dan Siti dulu," jawab Dewi.
"Terimakasih, Mama."
"Kembali kasih, Sayang."
Keduanya sama-sama menutup panggilan. Tidak berselang lama, Rifki dan Erika tiba di rumah Niken, gerbang langsung terbuka sendiri karena Niken membukanya dengan remote control dari dalam rumah.
Erika masuk ke dalam rumah dan meletakkan barang bawaannya di meja ruang tamu.
"Sendirian, mana Rifki?" tanya Niken yang baru muncul dari dalam melihat Erika sendirian.
"Mas Rifki kembali ke toko lagi, mau jemput adiknya ke sini juga," jawab Erika.
"Wah, udah pakai embel-embel 'Mas' ternyata. Eh, adiknya? Adiknya yang mana lagi? bukanya sudah meninggal karena kecelakaan waktu kecil?" tanya Niken terkejut.
"Ceritanya panjang, Tania itu datang dari kampung bersama dengan suaminya, mereka mengalami kecelakaan mobil saat menghindari ibunya Rifki yang hendak menyeberang jalan. Dan sekarang mereka tinggal di rumah Rifki." tutur Erika.
Siti dan Karim sudah datang, mereka segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Niken, Siti membersihkan lantai rumah, sementara suami Siti membersihkan dan merapikan rumput yang ada di taman.
Tidak lama berselang, Rifki dan Tania juga telah sampai di halaman rumah Niken, Tania turun dari boncengan motor Rifki.
"Rumah siapa ini, Mas?" tanya Tania bingung dengan Rifki yang membawanya ke sebuah rumah.
"Ini rumah Pak Bram, direktur tempat kerja kita," jawab Rifki. "Ayo masuk!" ajaknya kemudian melangkah masuk, Tania mengikutinya dari belakang.
"Assalamu'alaikum," ucap Rifki langsung nyelonong masuk. Tidak ada yang menjawab.
"Duduk, Tan! Mungkin mereka lagi di dapur," ucap Rifki mempersilahkan Tania duduk.
Tanpa menjawab Tania langsung duduk di sofa. Ia memperhatikan isi ruangan, kotor.
"Apa rumah ini, tidak ditinggali ya, Mas?" Tania bertanya pada Rifki yang duduk di hadapannya.
"Iya, karena Pak Bram lebih suka tinggal di apartemennya," jawab Rifki.
"Orang kaya memang suka menghambur-hamburkan uang ya, rumah segede ini kan pasti harganya milyaran, kok ya diterlantarkan," lirih Tania berbicara sendiri.
"Iya, mending diserahin ke kita ya, Tan," timpal Rifki.
"Heleh, Mas Rifki. Memangnya mampu mengurus rumah segede ini? Gajimu per bulan pasti cuma cukup buat bayar listriknya doank, terus mau makan apa tiap hari?" sindir Tania meremehkan Rifki.
"Jual aja barang-barangnya satu persatu, hahaha..," jawab Rifki diiringi gelak tawa. Taniapun jadi ikut tertawa.
Sementara di dapur, Erika sedang membantu Niken membuat Es sirup. Sirup Erika yang membawa dari minimarket, sementara es batu Siti yang membawa dari rumah mertua Niken, karena kulkas di rumah Niken masih kosong.
"Itu di depan kok rame banget, ada siapa saja?" tanya Niken pada Erika mendengar suara riuh dari arah ruang tamu.
"Paling mereka sudah sampai," jawab Erika.
"Mereka seakrab itu? Kamu nggak ada rasa cemburu gitu?" tanya Niken lagi pada Erika.
"Awalnya sih aku sempat cemburu juga, karena Mas Rifki begitu perhatian sama dia. Tapi semakin ke sini, aku menjadi lebih mengenalnya, rasa cemburu itu berubah menjadi rasa kasihan. Tania bukanlah wanita yang patut dicemburui, dia cewek yang setia, dia sangat mencintai suaminya walaupun, suaminya kini hanya mampu duduk di kursi roda," ungkap Erika menceritakan sedikit tentang Tania.
"Astaga, jadi suaminya lumpuh?" tanya Niken terkejut yang hanya dijawab anggukan oleh Erika. "Aku jadi penasaran seperti apa dia?" tanya Niken pada diri sendiri.
Niken mengambil Es sirup dalam teko kaca yang telah jadi dibuat oleh Erika, dan membawanya ke ruang tamu, Erika mengikutinya dengan membawa 6 buah gelas.
"Rame banget ya?" ucap Niken yang baru muncul di ruang tamu.
"Eh, Niken kenalin ini Tania, Tania kenalin ini Niken istri bos kita," ucap Rifki memperkenalkan Niken dengan Tania.
Mereka berdua saling mengulurkan tangan dan menyebut nama masing-masing.
"Cantik, ternyata masih muda, masih muda kok sudah menikah?" ucapan Niken membuat Niken terbelalak kaget.
"Biasa, Mbak Niken. Orang kampung kan nikahnya masih kecil-kecil," jawab Tania polos.
"Tapi tidak terlihat seperti orang kampung kok," ucap Niken yang membuat Tania terhibur.
"Ah, Mbak Niken bisa saja," seloroh Tania tersipu karena terus ditatap oleh Niken.
Niken terus memandangi wajah Tania yang begitu familiar. Wajahnya mirip seseorang, rasanya begitu dekat, tetapi siapa? Niken belum bisa menemukanya.
"Ehemm," terdengar suara dehaman yang mengagetkan Niken.
.
.
Happy reading semoga suka
Terimakasih atas dukungannya
jangan lupa like dan komen ya
πππ
__ADS_1