
**Cahaya mentari menerobos masuk melalui celah jendela,
Samar-samar terdengar deru bising kendaraan menguasai jalanan.
Aku masih terpuruk di sini,
Tak tahu kemana arah jalan pulang,
Sedang engkau yang harusnya menuntunku,
masih terlelap dalam mimpi panjangmu.
Bangunlah sayangku, hari sudah pagi.
Genggamlah tanganku, kita songsong masa depan yang ada di hadapan kita.
Siapa nanti yang menyeka air mataku?
Siapa nanti yang akan menuntun langkahku?
Siapa nanti yang akan menerangi hidupku?
Siapa lagi yang bisa memberiku semangat?
Sampai kapan kau akan menikmati tidur panjangmu ini.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Mbak Tania, hari ini sudah diperbolehkan pulang ya. Silahkan urus kepulangan ke bagian administrasi dulu," kata salah satu suster yang memeriksa Tania.
"Iya, Sus. Terimakasih ya," sahut Tania.
"Mari saya bantu melepaskan selang infusnya," ucap suster lagi, Taniapun menunjukkan tangan kirinya.
Setelah selesai melepas selang infus Tania, kedua suster tersebut meninggalkannya sendirian untuk pindah ke ruangan berikutnya.
Tania masih bersandar di sandaran brangkar, sudah 3 hari ia di rawat di rumah sakit, hari ini sudah diperbolehkan untuk pulang.
Ia beringsut untuk turun dari brangkar, menghampiri jendela. Pandangannya kosong menghadap ke luar. Yang menjadi fikirannya saat ini, ia harus pulang kemana? Sedang tempat tinggal belum punya, pekerjaan belum ada, suaminya masih asik terlelap belum mau bangun.
Sejenak pandangannya beralih pada cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
Apakah aku harus menjualnya? fikirnya.
Lama Tania berdiri dan terdiam di sana, bercengkrama dengan lamunannya sendiri. Hingga pintu ruangan tersebut seperti ada seseorang yang mencoba membukanya dari luar. Tania menoleh, demi mengetahui siapa yang mengunjungi ruangannya.
Ceklek,
Perlahan pintu terbuka, seorang wanita paruh baya muncul di sana.
"Bu Retno," ucapnya pelan.
Bu Retno, orang yang selama tiga hari ini menemaninya, orang yang terhindar dari kecelakaan karena hampir ditabrak oleh mobil yang dikendarai suaminya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Dek Tania. Katanya sudah boleh pulang ya? Kok belum siap-siap," tanya Bu Retno memastikan.
"Iya, tetapi saya bingung mau pulang kemana?" ucap Tania menundukkan kepala menghindar dari tatapan Bu Retno.
Bu Retno mendekati Tania dan mengelus pundaknya.
"Tinggallah di rumah ibu untuk sementara, untuk selamanya juga boleh kalau kamu mau, tetapi rumah ibu kecil, kalau kamu tidak betah kamu boleh mencari kontrakan yang lebih besar. Anggaplah ini sebagai penebus kesalahan ibu karena telah menyebabkan kalian kecelakaan dan sampai di rumah sakit ini," tawar Bu Retno tulus.
"Tapi, apa keluarga ibu yang lain mengijinkannya?" tanya Tania ragu.
"Mereka pasti bisa mengerti, ibu juga sudah meminta anak ibu untuk mencarikan lowongan pekerjaan untukmu," tutur Bu Retno.
Seketika wajah Tania yang suram menjadi sedikit berseri mendengar penuturan Bu Retno.
"Kamu kan nggak mungkin terus tinggal di rumah sakit ini menunggui suamimu yang entah sampai kapan sadarnya. Kamu juga butuh istirahat, Dek," tambah Bu Retno.
Mendengar kata suamimu, seketika wajah Tania kembali murung. Pagi ini Tania belum menjenguknya. Walaupun Edos belum tersadar, tetapi Tania selalu menyempatkan diri untuk berbicara dengannya, mengajaknya berkomunikasi.
Tania membuka loker meja yang ada di samping brangkarnya. Mengambil Sling bag yang ia pakai saat menjelang tragedi kecelakaan. Weist bag suaminya juga ada di sana. Dua benda yang berhasil selamat karena membelit di tubuh mereka.
Satu lagi tas besar yang berisi pakaiannya yang diselamatkan warga. Sementara koper milik Edos masih tertinggal di bagasi ikut terbakar bersama meledaknya mobil yang mereka tumpangi.
Tania membuka tas selempang milik suaminya, ada ponsel, uang tunai serta bermacam-macam kartu di dalamnya. Ia mendesah berat, rasanya seperti mimpi yang menyakitkan, tetapi ini nyata.
"Aku ke ruangan suamiku dulu ya, Bu!" pamit Tania pada Bu Retno.
"Baiklah, ibu tunggu di sini sambil membantumu berkemas," jawab Bu Retno.
Tania melenggang meninggalkan ruangan tempatnya di rawat menuju ke ruang ICU, langkahnya terhenti di depan ruangan tempat Edos di rawat. Mengatur nafas untuk menetralkan emosinya sejenak.
Di ruangannya, Edos terbaring dengan berbagai alat menempel di tubuhnya, matanya terpejam dan diam, hanya napasnya yang terdengar teratur dan berat.
Tania masuk ke dalam ruangan, memandang pilu tubuh orang yang dicintainya. Ia menarik kursi mendekati brangkar, membenarkan letak brangkar, membetulkan letak selang yang terlihat tidak nyaman dipandang.
Tania duduk di kursi dan menggenggam tangan Edos, memandang dengan seksama wajah orang yang dicintainya.
"Yank, aku sudah diperbolehkan untuk pulang, kamu tidak apa-apa kan di sini sendirian, aku akan sering mengunjungimu di sini. Aku pamit ya, yank. Nanti sore aku akan ke sini lagi," pamit Tania.
Tania mencium tangan Edos, lalu keningnya, bangkit dari duduknya dan melangkah pergi ke luar dari ruangan ICU.
Ia kembali ke ruangan tempatnya semula dirawat. Bu Retno sudah menunggunya di depan ruangan.
"Ayo, Bu. Kita ke bagian administrasi dulu ya, Bu!" ajak Tania pada Bu Retno.
Mereka berdua berjalan kembali menyusuri lorong rumah sakit mencari keberadaan ruang administrasi. Setelah menemukannya, Tania terlibat interaksi dengan petugas yang ada di sana, kemudian kembali menghampiri Bu Retno yang duduk di kursi tunggu.
Bu Retno dan Tania melangkah keluar dari rumah sakit, dan menaiki angkot. Angkotpun segera melaju.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara di rumah orang tua Edos, Nurlita berkali-kali melakukan panggilan telepon terhadap nomor ponsel Edos, tetapi tidak pernah aktif. Ia merasa cemas dan gelisah.
Apa yang terjadi dengan putraku, semoga dia baik-baik saja. Batin Nurlita.
__ADS_1
Kini ia beralih ke nomor telepon putra sulungnya, Abizar. Setelah menemukan nomor WhatsApp Abizar, Nurlita menekan ikon panggilan video terhadap putra sulungnya tersebut.
Tak lama berselang di ponsel Nurlita terpampang betapa tampannya putra sulungnya itu.
"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Abizar menampilkan senyum manisnya di layar ponsel Nurlita.
"Wassalamu'alaikum, Mama kangen," Ucap Nurlita yang sudah tak mampu menahan air matanya.
"Bizar juga kangen banget sama Mama. Mama kenapa nangis? Tidak biasanya Mama seperti ini," Tanya Abizar pada Nurlita.
"Adikmu, Bizar. Mama telpon berkali-kali nomornya tidak aktif," ucap Nurlita yang semakin terisak.
"Mungkin baterai HPnya habis, Ma. Mama nggak usah berfikiran macam-macam. Memangnya dia kemana, Ma?" ucap Abizar menenangkan hati mamanya.
"Adikmu sudah menikah dengan Tania, Nak. Dan dia katanya mau merantau ke Jakarta," jawab Nurlita.
"Apa, Ma? Edos udah nikah? Tania? Bizar sepertinya pernah mendengar nama itu," tanya Abizar berfikir.
"Kamu kenal Tania? Dia teman sekelas adikmu waktu SMA," tutur Nurlita.
"Iya, Ma. Sepertinya Bizar mengenalnya, tapi di mana Bizar lupa, Ma," ucap Bizar masih berfikir.
"Abizar, pulang ya Sayang, rumah sepi nggak ada Edos," rengek Nurlita pada putra sulungnya seperti anak kecil membuat Abizar tersenyum geli.
"Maaf, Ma. Bizar belum bisa pulang, masih banyak pekerjaan di sini. Minggu depan dech Bizar janji mau pulang," ucap Abizar menghibur Mamanya.
"Beneran, Lho ya Minggu depan pulang," ucap Nurlita memastikan.
"Beneran, Mamaku Sayang. Udah ya Ma, Bizar mau lanjut kerja," pamit Abizar.
"Yaudah sana lanjut kerja, tapi jangan terlalu ngoyo kerjanya, sampai-sampai kamu lupa mencarikan menantu buat Mama," sungut Nurlita menasehati putra sulungnya.
"Hahaha, Mama ini. Jodoh itu sudah ada yang ngatur, Ma," kilah Abizar.
"Tapi kalau kamu nggak berusaha, mana bisa jodoh mendekat," timpal Nurlita. "Umur kamu itu lebih tua tujuh setengah tahun lho dari adikmu, adikmu saja sudah nikah," imbuhnya.
"Bizar pasrahkan pada yang diatas saja, Ma. Assalamu'alaikum."
Abizar langsung menutup Videocall dari Mamanya.
"Wa'alaikumussalam. Dasar Abizar, Mama masih kangen kok sudah dimatikan," gerutu Nurlita.
Sementara Abizar yang berada di ruangannya duduk bersandar sambil berfikir.
Gadis kecil itu, apa dia yang menikah dengan Edos? mungkin saja Tania yang lain. Kalau benar dia yang menikah dengan Edos, berarti Edos telah menikahi adik sepupunya sendiri. Gumam Abizar mengingat wajah gadis kecil dari yang hadir di masa lalunya.
.
.
.
Terimakasih udah mau baca
__ADS_1
jangan lupa like n komen ya
πππ