
Malam semakin larut. Suasana di luar ruang rawat Tania tampak lengang. Hanya para perawat yang bertugas jaga yang lalu lalang. Tania menyisipkan amplop coklat yang dipegangnya ke bawah bantal yang ditindihnya. Ia menatap kosong plafon di ruangan tersebut. Ia paksa matanya untuk tidak berkedip, menahan air matanya agar tak jatuh. Namun, usahanya sia-sia.
"Jangan nangis, Tan. Kamu gak perlu membuang air matamu untuk hal ini. Harusnya kamu bersyukur sudah mendapat kebebasan yang selama ini kamu harapkan," suruhnya pada diri sendiri.
Tania berusaha menahan tangisnya, tetapi tidak bisa. Pertahanannya jebol juga akhirnya. Ia meluapkan tangisnya meskipun di area jahitan perutnya terasa sakit sekali.
"Menangislah, Tan supaya hatimu lega," suruhnya pada diri sendiri.
Tok tok tok
"Mbak Tania Sari Dewi," panggil perawat itu sembari masuk ke dalam ruangan mendekat ke brangkar. "Suntik anti biotik dulu ya, Mbak," lanjutnya lagi. Tania menghentikan tangisnya.
"Nangis kenapa, Mbak? Sakit ya? Ini anti biotik untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses penyembuhan ya, Mbak. Setelah ini sakitnya akan berkurang."
"Iya, terima kasih, suster," sahut Tania.
"Ibunya yang tadi nungguin ke mana, Mbak. Kenapa Mbak Tania dibiarkan sendirian?" tanya suster lagi keheranan.
"Tadi pulang sebentar, Sus. Nanti ke sini lagi kok," sahut Tania.
"Mbak Tania butuh apa? Mbak belum makan 'kan? Saya ambilkan makanan ya?" tawar Suster.
"Tidak usah, terima kasih, Suster. Nanti kalau udah kepengen saya ambil sendiri saja," tolak Tania.
"Kalau begitu mejanya saya dekatkan di samping brangkar ya, Mbak. Biar mudah dijangkau. Saya kembali ke ruang jaga, jika butuh sesuatu, tekan tombol panggil darurat saja," ucap suster lalu menarik meja yang di atasnya terdapat nampan berisi nasi dan lauk-pauk hingga berada di samping brangkar.
"Terima kasih, Suster," ucap Tania.
"Sama-sama, saya permisi ya, Mbak," ucap suster jaga tersebut lalu pergi meninggal kan Tania sendirian hanya ditemani bayinya.
Tania pun akhirnya terlelap. Entah berapa lama ia tertidur. Hingga terdengar suara bayinya yang menangis kencang. Entah mengapa bayi Tania kali ini menangisnya kencang sekali. Tania membuka matanya.
"Bita haus ya?" tanya seorang perempuan yang tengah mengambil Bita dari dalam box.
"Mbak Siti? Mama enggak ke sini lagi?" tanya Tania kepada perempuan tersebut yang ternyata adalah Siti.
"Ibu katanya besok ke sininya lagi," ucapnya sambil membawa Bita yang belum reda tangisnya mendekati Tania.
Tania melirik jam yang bertengger di dinding. Jarum pendek menunjuk angka 2. Masih dini hari.
"Sini, Sayang. Haus ya?" ucap Tania menerima Bita di pangkuannya yang telah dialasi bantal.
Bita akhirnya terlelap kembali setelah puas menyusu. Namun beberapa saat kemudian tangisnya pecah lagi semakin keras.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit ya?" tanya Tania bingung.
"Mungkin tali pusarnya tersenggol atau kekencangan, Mbak. Coba di lihat," cetus Siti.
Tania membuka tali popok yang dipakai Bita. Ternyata tali pusar bayi tersebut tidak ditutupi apa-apa selain diaper perekat yang sudah turun.
"Wah, Bita pup ya, Sayang. Minta ganti popok," ucap Tania.
__ADS_1
Dengan dibantu Siti, Tania mengganti popok Bita. Siti membalutkan gurita rekat agar tali pusar yang baru terpotong tersebut aman dari gerakan. Bita pun kembali dibaringkan ke dalam box bayi. Namun belum lima menit ia berbaring ia kembali menangis kencang. Siti pun kembali mengambil Bita. Digendongnya bayi mungil tersebut sambil mendendangkan sholawat Sifa. Diiringi goyangan lenggak-lenggok ke kiri dan kanan.
"Anak cantik, anak baik, tidur ya. Mbak Siti tahu Bita udah pengen pulang kan? Iya besok kita pulang ke rumah Opa Ardi ya, Sayang," ucap Siti pada bayi mungil tersebut.
Setelah dirasa cukup Bita lelap, Siti pun meletakkan kembali ke dalam box bayi. Siti merasa lega karena setelah ditunggu beberapa lama Bita masih anteng. Siti melangkah ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia memandangi anak majikannya yang tidur lelap di atas brangkar. Perasaan iba kini bersemayam di dalam hatinya. Tidak berapa lama ia pun ikut terlelap juga.
Tania terjaga saat ada petugas mengantarkan sarapan pagi. Ternyata sudah pukul setengah tujuh pagi, tetapi matanya masih terasa berat untuk dibuka. Ekor matanya bergantian melihat ke arah box bayi dan sofa. Di sana Bita dan Siti sama-sama terlelap.
Setelah matanya dirasa cukup tidak pedih lagi, Tania berusaha untuk duduk dengan berpegangan pada handel brangkar yang berbentuk jeruji. Ia berusaha bangkit meskipun bagian perutnya terasa sangat sakit. Setelah itu ia menurunkan kakinya setelah menurunkan pagar pembatas yang dijadikan handel brangkar.
Sebenarnya ia mau mengambil makanan, tetapi ia tidak dapat menjangkaunya. Perutnya lapar karena sejak kemarin siang mulutnya tidak kemasukan apapun kecuali teh hangat buatan sang mama tadi malam. Mau membangunkan Siti, ia merasa kasihan. Namun, perutnya kini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Mbak Siti, bangun sudah siang, Mbak!" seru Tania membangunkan Siti. Namun tetap bergeming.
Cukup lama Tania memanggil untuk membangunkan Siti, tetapi Siti tidak kunjung bangun juga. Akhirnya Tania menekan tombol panggil darurat dan seorang suster pun datang membuka pintu.
"Sekalian saya suntikan anti biotik dulu ya, Mbak," ucap suster tersebut saat tiba di ruangan.
"Iya, Sus," sahut Tania.
"Mau makan dulu atau dibersihkan dulu badannya?" tanya suster itu memastikan setelah selesai menyuntikkan anti biotik ke ujung selang infus.
"Saya mau makan dulu saja, Sus. Sudah lapar soalnya," sahut Tania.
Suster itu lalu menarik meja makan beroda, mendekatkannya ke hadapan Tania.
"Ya udah, selamat menikmati sarapan paginya ya, Mbak. Nanti saya ke sini lagi untuk membersihkan badan Mbak Tania sekalian melepas kateter, supaya Mbak Tania bisa langsung belajar berjalan ke toilet," ucap suster tersebut sebelum pergi.
"Iya, Sus. Terima kasih ya," ucap Tania.
"Wuih, bawa pasukan? Ruangannya enggak muat wei," sergah Tania saat mereka berdua baru masuk.
"Ya gimana donk? Mereka maksa pengen ikut," sahut Nadia sembari membantu Tania untuk duduk.
"Enggak apa-apa sih, gantian masuknya dua orang," timpal Tania.
"Udah bisa jalan, Tan?" tanya Nadia.
"Udah, tadi udah latihan ke toilet sama ambil Dede di box," sahut Tania.
"Mbak Nanad, Mbak Pipim, minumannya mau di luar bareng teman-teman atau mau Mbak Siti bawakan ke Sini?" tanya Siti yang baru saja masuk sehabis membeli minuman dan makanan ringan untuk teman-teman kuliah Tania.
"Biar nanti kalau pengen kami ambil sendiri, Mbak Siti. Terima kasih ya," sahut Nadia.
"Tan, sakit enggak sih operasi cesar itu? Kok kamu enggak kapok juga? Baru satu tahun operasi udah operasi lagi," cecar Prima dengan masa bodohnya.
"Nanti juga kamu akan ngerasain sendiri, Pim. Kalau menurutku ya enggak sakit lah, kan sebelum operasi dibius dulu. Sakitnya baru terasa setelah biusnya ilang, sakit banget," tutur Tania.
"Jangan ngomong gitu, Tan. Enggak sakit kok, Pim. Aku malahan kepengin ngalamin lagi. Pengen segera hamil dan melahirkan bayi. Tolong kabulkan do'aku ya Allah. Mudah-mudahan di sini segera hadir," ucap Nadia sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Aamiin," Tania dan Prima kompak mengaminkan do'a Nadia.
__ADS_1
"Eh kata orang tua biar cepat bisa pakai anak pancingan lho, Nad," cetus Prima.
"Iya sih, tapi Mas Rasya enggak mau mengadopsi anak dari panti asuhan, lha wong dia juga punya panti asuhan. Dia maunya mengadopsi anak yang udah kenal seluk beluk orang tuanya bagaimana," timpal Nadia.
"Eh, Atar aja biar diadopsi sama Nanad, Tan. Kamu pasti lebih fokus ngurusin si kecil. Atar pasti kurang kasih sayang," cetus Prima.
"Bagus juga ide kamu, Pim. Brilian juga otak mu kadang-kadang. Boleh kok kalau mau ikut menjaga Atar, Nad, tapi ya jangan diadopsi juga kali. Gimana nanti kata orang? Begitu juga kan masih punya orang tua yang mampu. Bisa-bisa nanti ada berita viral : cucunya pemilik ARD's Corp diadopsi oleh putra pemilik Baskoro Group," tolak Tania panjang lebar.
Nadia dan Prima kompak tertawa mendengarnya.
"Jangan keras-keras tertawanya dong. Aku lagi enggak bisa mengimbangi tertawa kalian ini," keluh Tania yang semakin membuat Nadia dan Prima kembali tertawa bahkan semakin keras melihat penderitaan Tania. "Dasar teman enggak ada akhlak lihat temannya kesusahan malah tambah kenceng ketawanya," umpatnya dengan wajah cemberut.
"Iya iya, Tan. Aku berhenti tertawa nih," ucap Nadia sambil berusaha menghentikan tawanya.
"Woi, gantian dong, Pim, Nad! Ditungguin dari tadi juga," sela salah seorang teman mereka dari ambang pintu.
Iya, yuk Pim gantian sama yang lain. Kasihan mereka sudah meluangkan waktunya ke sini. Kita keluar dulu ya, Tan," pamit Nadia kepada Tania.
Saat Nadia dan Prima keluar dari ruangan, Salma dan Amar masuk.
"Lho kok Bu Salma dan Pak Amar masuk duluan? Teman-teman Tania udah nunggu dari tadi lho. Harusnya kalian mengantri di belakang mereka. Enggak sportif ih pasangan dosen satu ini," cerocos Tania terhadap pasangan suami istri dosennya.
"Udah bela-belain besuk ke sini masih dihardik aja. Pulang yuk, Beti," sahut Amar.
"Lho kok jadi besti panggilannya? Perasaan Habibati?" tebak Tania.
"Beti bulan besti. Itu dari kata Habibati diambil kata bati-nya. Biar keren jadi Beti,” koreksi Amar.
"Kenapa enggak jadi besti aja sekalian?" tanya Tania diiringi sedikit tawa tertahan. Karena ia belum mampu untuk tertawa kencang.
"Enggak spesial dong jadinya kalau Bestie, itu kan panggilan untuk teman," protes Amar.
"Tan, Mbak Salma chat kok enggak dibaca sih? Ditelepon juga enggak diangkat. Untung tadi pas masuk tanya dulu sama petugas di depan," sela Salma memotong pembicaraan suami dan mahasiswanya.
"Eh ponsel? Tania belum membuka ponsel dari kemarin sore, Bu. Haduh, jangan-jangan udah mati kehabisan baterai lagi," sahut Tania yang baru teringat akan ponselnya setelah Salma menyinggung soal teleponnya yang tidak diangkat.
"Kamu simpan di mana memangnya?" tanya Amar.
"Kemarin aku simpan di tas selempang kecil. Mungkin di laci itu," sahut Tania yang hendak turun dari bed.
"Kamu diam saja di sini, Tan. Biar Mbak ambilkan," cegah Salma yang kembali menyebut dirinya dengan sebutan Mbak.
Salma membuka laci yang ditunjuk Tania dan benar saja di sana ada tas selempang kecil. Salma mengambilnya dan langsung menyerahkan kepada Tania. Tania segera merogoh ponselnya setelah tas tersebut ada di tangannya.
"Untung masih hidup," ucapnya sembari menekan-nekan layar ponselnya. Namun, beberapa saat kemudian ia tampak membelalakkan matanya.
"Kenapa, Tan?" tanya Amar penasaran.
.
.
__ADS_1
.
TBC