
Mobil itu akhirnya berhenti di pinggir jalan. Untung jalan tersebut sepi sehingga tidak mengganggu lalu lintas pengguna jalan yang lain. Namun, baru saja Tania bernafas dengan lega. Tiba-tiba terdengar gedoran kasar di jendela di sampingnya. Juga di jendela sebelah Farhan.
"Kak, Farhan takut," ucap remaja itu bergetar.
"Tenang, Dek, jangan panik. Sepertinya mereka sudah mengintai kita saat keluar dari gedung S&S motor tadi," pinta Tania terhadap adiknya.
Gadis itu merogoh ponselnya, ia membuka cepat layarnya dan menekan nomor panggilan darurat.
"Memang kakak bisa bela diri?" tanya Farhan ragu.
"Enggak," jawab Tania singkat. Ia menyesal sejak dulu saat SMP juga SMA tidak mengikuti ekstrakurikuler bela diri di sekolahnya. Dan kini penyesalan tersebut sudah tiada artinya.
"Kok kakak bisa tenang? Farhan bisa debus, tapi masih tingkat awal," ungkap Farhan khawatir.
"Orang-orang kepercayaan Papa Ardi sedang ke mari. Lagian mereka mungkin lebih dari dua, Dek, bukan lawan kita. Kita enggak mungkin menang. Ibarat mentimun mungsuh duren," sahut Tania yakin.
"Heh, malah ngobrol! Buka pintu! Kalau gak gue pecahkan nih kaca!" terdengar suara ancaman dan gedoran itu masih saja bikin berisik telinga.
Tidak jauh dari mobil Tania di belakangnya, ternyata Kemal mengikuti mobil tersebut. Perasaan pria itu sudah tidak enak sejak melihat mobil Tania keluar dari area parkir perusahaan papanya.
"Pa, ada yang menyekap cewek tadi," ucap Kemal saat menelpon sang papa.
"Maksud kamu cewek siapa?" Syahrul malah bertanya bingung.
"Cewek tadi yang anaknya om Syarif," sahut Kemal.
"Apa? Kerahkan orang-orang kamu!" titah Syahrul.
"Siap! Mereka udah bergerak, Pa. Kemal cuma kasih tahu Papa. Kemal tutup, Pa, assalamu'alaikum," ucap Kemal.
"Wa'alaikumussalam," jawab Syahrul.
"Astagfirullah, Syarif, maafkan aku yang malah membahayakan anak-anak kamu, harusnya aku tidak mengundang mereka kemari," sesal Syahrul frustrasi.
Pria paruh baya tersebut sudah bisa menebak siapa pelaku di balik peristiwa ini, tetapi ia belum punya bukti yang kuat untuk menyeret si pelaku ke kantor polisi. Kejadian ini mengingatkannya ke penculikan yang dilakukan terhadap Kemal beberapa tahun lalu. Saat itu Syahrul berencana mengangkat Kemal untuk menggantikan posisinya sebagai direktur utama.
Padahal Kemalnya juga belum tentu mau dijadikan sebagai direktur utama karena ia sudah mempunyai usaha sendiri. Ia lebih ingin memperbesar dan mengembangkan usahanya sendiri meskipun masih tetap sempat membantu perusahaan sang papa bila dibutuhkan. Sementara anaknya yang lain, mereka tidak bisa diandalkan. Masih senang menikmati masa remajanya dan belum ada ketertarikan untuk bekerja.
Syahrul menjadi tidak fokus dalam bekerja. Ia gelisah menunggu kabar dari Kemal, putranya.
Sementara Tania dan Farhan disekap dan dibawa ke sebuah bangunan kosong. Pencahayaan ruangan tempatnya disekap begitu remang-remang karena hanya diterangi sebuah lilin. Sepertinya itu adalah bekas gudang penimbunan minyak goreng yang sudah tidak dipakai lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Tania baru membuka matanya akibat terpengaruh obat bius.
Gadis itu meringkuk di lantai dengan tangan terikat lakban. Memperhatikan sekeliling, ia menemukan Farhan adiknya berada tidak jauh darinya dalam keadaan meringkuk juga sepertinya. Farhan masih memejamkan mata, entah ia tertidur atau pingsan. Tania beringsut sedikit demi sedikit menggeser tubuhnya mendekati Farhan.
"Farhan bangun, Dek!" ucapnya lirih.
Tania menoel tubuh Farhan dengan ujung kakinya. Farhan menggeliat. Ia juga melihat ke sekeliling, mungkin juga seperti yang dilakukan Tania tadi, mengumpulkan kesadarannya.
"Kak, kita di mana?" tanyanya setelah matanya bertabrakan dengan sang kakak.
"Kakak tidak tahu," sahut Tania. "Kita harus cari cara untuk keluar dari sini segera, Dek. Ini sudah malam, dan seharian kakak belum memerah ASI," cetusnya.
"Bocor, Kak?" tanya Farhan yang memerhatikan dada sang kakak yang terlihat basah hingga tembus ke kerudungnya.
"Iya, agak sakit juga," lirih Tania tanpa berusaha menutup-nutupinya kepada sang adik. Farhan sepertinya masih polos. Di otaknya tidak ada pikiran mesum. Apalagi terhadap kakak seayahnya yang kalau menikah, ialah yang menjadi walinya.
__ADS_1
Seorang pria tinggi besar berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan tempat mereka disekap.
"Woi, sudah bangun ternyata kalian," ucap pria tersebut yang Tania yakini adalah orang yang sama yang menggedor pintu mobil.
"Siapa kamu? Kenapa Kamu menculik kami? Ambil saja barang-barang milik kami, tapi lepaskan kami!" cecar Tania.
"Enak saja mau dilepaskan. Kalian ini sudah kami dapatkan dengan susah payah dan kami belum mendapat bayaran dari orang yang menyuruh kami," tolak pria itu.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat.
"Gawat, Bos," ucap orang itu terengah-engah.
"Apa?" tanya orang yang disebut bos itu tak percaya.
"Di luar ada beberapa orang datang kemari, sepertinya mereka mau menyelamatkan tawanan kita," jelas pria tambun tersebut.
Tania dan Farhan sontak memerhatikan kepada kedua orang tersebut.
"Yang benar kamu?" tanya pimpinan komplotan tersebut yang dipanggil bos. Ia meninggalkan ruangan tersebut tanpa memedulikan jawaban dari anak buahnya.
"Bos, mendingan kita pindahkan tawanan kita, sebelum mereka masuk, Bos," seru anak buahnya yang tidak digubris oleh si bos.
Saat pimpinan komplotan tersebut sampai di ruang depan. Ia mengintip melalui jendela atau celah kecil. Pria itu bahkan sempat merasa heran dan bingung. Sebab orang-orang di luar sana malah bertarung dengan sesama komplotannya.
Melihat mereka kini hanya berdua, Tania berbicara kepada sang adik. "Han, bisa lepasin ikatan di tangan kakak, tidak?" bisiknya pada sang adik.
"Mana bisa, Kak. Tanganku juga terikat," sahut Farhan.
"Kakak kepikiran Bita sama Atar, Dek. Kalau malam Bita enggak pernah nyusu pakai botol. Gimana kondisinya sekarang? Dada Kakak juga udah terasa sakit," rintih Tania dengan air mata yang mulai berderai.
"Tapi kita tidak bisa bergerak bebas dengan tangan terikat seperti ini, Dek," keluh Tania.
"Yang penting kita keluar dulu, Kak, soal membuka tali ikatan kita cari cara sambil jalan. Kakak bisa bangun, kan?" cetus Farhan.
Farhan dan Tania berdiri. Mereka mengendap-endap keluar dari ruangan penyekapan. Namun, saat mereka baru bisa keluar dari ruang tengah, seseorang melihatnya.
"Heh, mau kemana kalian?" seru pria tambun tersebut.
*****
Di ruang kerja di rumahnya, Ardi menerima telepon dari Fauzan sembari menunggu info dari Bram tentang kabar Tania dan Farhan.
"Om, apa terjadi sesuatu terhadap Tania?" Tanya Fauzan saat ia menelpon Ardi. "Barusan ia telepon, tetapi pas saya angkat tidak ada pembicaraan apapun. Lalu saya tutup secara sepihak, pas saya telepon balik nomornya sudah tidak aktif," lanjutnya.
"Om sudah mengerahkan orang-orang Om untuk mencari mereka. Dugaan sementara mereka diculik," timpal Ardi.
"Astaghfirullah. Mereka? Maksud Om Tania dan kedua temannya?" tanya Fauzan.
"Bukan temannya, Zan, tapi Tania dan Farhan adik laki-lakinya. Sepertinya baru saja menemui sahabat almarhum ayah kandungnya di kantornya, dia pemilik S&S motor. Itu pamitnya sama Om tadi saat jam istirahat siang," tutur Ardi.
"Ya Allah, semoga mereka baik-baik saja," harap Fauzan.
"Sudah ya, Zan, Om mau telepon Bram dulu, mau menanyakan perkembangan pencarian terhadap Tania dan adiknya," pamit Ardi.
"Iya, Om. Kalau ada kabar tolong kabari Fauzan ya," pinta Fauzan.
__ADS_1
"Insyaallah ya, Zan. Assalamualaikum," ucap Ardi.
Belum sempat Ardi melakukan panggilan kepada kontak anak sulungnya. Bram sendiri sudah meneleponnya.
"Ada apa, Bram? Apa Tania dan Farhan sudah kalian temukan?" cecar Ardi sesaat setelah panggilan terhubung.
"Boro-boro ditemukan, Pa. Pas kita masuk Tania dan Farhan sudah dipindahkan dari gudang itu. Padahal tadi jelas-jelas mereka dibawa masuk ke gudang itu," ucap Bram kecewa.
"Lho, kok Bisa?" tanya Ardi heran.
"Ternyata Om Syahrul juga mengerahkan para bodyguard untuk mencari Tania dan Farhan. Dan orang-orang kita melawan mereka yang dikira komplotan penculik Tania dan Farhan. Pas Kita sadar, mereka sudah pindahkan Tania dan Farhan ke tempat lain," tutur Bram panjang lebar.
"Astaghfirullah, gimana keadaan mereka saat ini? Papa mesti ngomong apa kalau mama kamu tanya, Bram?" sesal Ardi.
"Bram janji enggak akan pulang sebelum mereka ditemukan, Pa," ucap Bram.
"Jangan, Nak. Kasihan Niken dan anak kamu nanti," cegah Ardi.
"Jadi Mereka belum ditemukan, Pa? Papa kok malah tenang-tenang saja di ruangan ini? Apa karena mereka bukan anak kandung Papa?" Dewi tiba-tiba memberondong Ardi dengan berbagai tuduhan yang mengalir dari pikirannya sendiri.
Ardi kaget melihat Dewi sudah berada di ruangan tersebut entah sejak kapan.
"Ma, bukan begitu," elak Ardi.
"Papa enggak kasihan Bita dari tagi menangis susah didiamkan. Mama enggak tahu lagi harus bagaimana menghadapinya," keluh Dewi dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Sayang, Papa ini sudah tua enggak mungkin bisa ikut bertarung dengan komplotan para penculik itu. Tenaga papa sudah lemah. Memangnya mama mau Papa berkelahi melawan mereka lalu terjadi sesuatu sama papa? Itu yang mama mau? Biar Mama bisa cari pengganti Papa?" goda Ardi pura-pura mengerucutkan bibirnya.
Dewi terdiam menyadari kekeliruan ucapannya karena rasa khawatirnya yang berlebihan terhadap Tania. Bagaimana tidak? Anak yang dilahirkannya sejak umur satu bulan ia tinggalkan dan baru bertemu setelah usianya hampir dua puluh tahun, dan kini ia dikabarkan hilang tidak tahu rimbanya. Betapa kacau pikirannya.
Karena tidak ada sahutan dari sang istri atas pertanyaannya, Ardi akhirnya mengeluarkan jurus pamungkasnya. "Kalau memang itu yang mama mau ya sudah. Papa akan pergi menyusul Bram untuk mencari Tania. Kalau Papa juga ikut hilang seperti Tania, Mama tidak usah mencari. Mungkin memang sudah waktunya Papa berpisah dengan Mama. Papa ini sudah tua," ucapnya.
Seketika Dewi menghambur ke pelukan sang suami. "Maaf, bukan begitu maksud Mama, Pa. Mungkin Mama terlalu panik memikirkan Tania, sementara Bita terus-menerus menangis tidak mau diam," ucapnya.
"Papa paham Mama tidak bermaksud seperti itu," timpal Ardi.
"Mama harus bagaimana, Pa? Mama harus melakukan apa?" tanya Dewi.
"Telepon Niken, suruh kemari. Mungkin Bita bisa berhenti menangis disusui olehnya," cetus Ardi.
"Tapi ini sudah malam, Pa. Sudah pukul sepuluh. Pasti Niken sudah tidur," timpal Dewi.
"Dicoba dulu, biar papa saja yang telepon. Kalau dia takut menyetir sendiri kemari biar Reza yang jemput," cetus Ardi.
"Okelah kalau begitu, mudah-mudahan Niken mau datang kemari," harap Dewi yang mulai bisa tenang.
.
.
TBC
Terima kasih telah menghiasi laporan mingguan ku 😘
__ADS_1