
Suara burung berkicau menandakan fajar telah menyingsing. Kokok ayam pun mengiringi suasana pagi. Deru kendaraan dan lalu lalang manusia mulai memadati jalanan. Orang-orang telah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Sudah siap?" tanya juragan Burhan pada Nurlita.
"Sebentar lagi," jawab Nurlita sambil merapikan kerudungnya di depan cermin. "Mas, sudah telepon Abizar?" tanya Nurlita Kemudian.
"Belum, kamu saja yang telpon!" jawab Burhan balik memerintah, ia melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya dari belakang. "Udah cantik kok," ucapnya menyandarkan janggutnya di ceruk leher Nurlita.
Nurlita malah menampilkan wajah masamnya. "Jadi selama ini Lita tidak cantik?" simpulnya.
Burhan menegakkan kembali kepalanya, dia meraih kedua pundak Nurlita supaya istrinya menghadapnya.
"Memang, selama ini istriku ini tidak cantik, Tapi cantik banget. Meski kamu tidak cantik pun, Mas Burhan tetap cinta sama kamu, dari dulu Mas ngebet pengen nikah sama kamu, sampai kubuat kamu tek dung duluan," tutur Juragan Burhan sambil tersenyum menggoda. Nurlita jadi tersipu karena mengingat masa lalu.
Burhan meraih dagu istrinya, sehingga kini mata mereka saling beradu, ia menunduk menatap wajah cantik sang istri. Bibir pria yang mulai menghitam karena asap tembakau tersebut tanpa aba-aba kini ******* bibir istrinya yang masih terlihat ranum.
Nurlita membalas perlakuan suaminya. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang suami, kakinya agak berjinjit untuk mempertahankan ******* bibir suaminya. Sesaat mereka terbuai dalam lingkaran nafsu.
"Sudah, ayo berangkat," ucap Nurlita menepis anggota tubuh dan tatapan suaminya. "Atau mau kita tunda sampai besok pagi?" tanya Nurlita menggoda.
Barang-barang yang akan di bawa sudah dimasukkan ke dalam mobil. Kini mereka melangkah beriringan menuruni tangga, Nurlita memeluk lengan kiri suaminya.
Di halaman rumah, Aris sudah duduk di kursi kemudi siap untuk berangkat.
Burhan dan Nurlita keluar dari pintu rumah, di belakang mereka nampak Likha mengikuti.
"Titip rumah, tolong jaga dengan baik ya, Likha. Bapak sama ibu berangkat dulu," pesan Nurlita kepada Likha.
"Inggih, Bu. In sya Allah,' jawab Likha.
"Jangan lupa, bunga-bunga dan tanaman ibu lainnya disiram ya, Likha. Dua hari sekali saja, kalau keseringan disiram malah busuk," ucap Nurlita lagi.
"Iya, Bu. Likha akan ingat. Ibu berapa lama di Jakarta?" jawab dan tanya Likha.
"Kemungkinan sampai dua minggu, sudah ya Ibu berangkat," tutur Nurlita mengulurkan tangan kanannya. Likha meraih uluran tangan Nurlita dan menciumnya.
Saat Nurlita sampai di mobil, juragan Burhan sudah duduk di dalam mobil di samping kursi kemudi.
"Lho, Papa kok duduk di depan. Itu kan untuk tempat duduk Sisi," seru Nurlita.
"Sisi bareng kamu saja di belakang, Ma. Biar Aris fokus nyetir," jawab Juragan Burhan.
"Yah, nggak bisa manja-manja donk," sesal Nurlita. Juragan Burhan menoleh ke luar mendengar perkataan istrinya tersebut.
"Cuma beberapa jam doang, Sayang. Nanti di kamar hotel atau di rumah Dewi aku akan manjakan kamu sampai puas," ucap Juragan Burhan menggoda dengan lirih agar tidak di dengar oleh Aris, padahal Aris yang berada di sampingnya mendengar dengan jelas.
Nurlita hanya tersenyum malu.
"Benar-benar tidak ada yang bukain pintu buat aku, Nih," ucap Nurlita kesal. Kedua pria yang ada di depan diam saja.
Nurlita Membuka pintu belakang kemudi sendiri, kemudian duduk dan menutup pintu kembali.
"Nanti kalau lewat pasar, mampir sebentar ya, Aris. Ibu mau beli ikan asap buat oleh-oleh Dewi," pinta Nurlita pada Aris.
"Lah, di Jakarta juga pasti banyak yang jual, Bu," sahut Aris.
"Tapi pasti beda rasanya, dari panggang buatan sini, Ris," kekeuh Nurlita.
"Terserah Ibu dech." Aris akhirnya menyerah.
Aris mulai melajukan mobilnya, tujuan pertama kali adalah menghampiri Sisi di rumah Paman Hisyam. Butuh waktu 30 menit perjalanan dengan menggunakan mobil. Rumah Sisi berada di daerah perbukitan, dekat dengan perkebunan teh milik Juragan Burhan.
Aris menghentikan mobil yang dikendarainya saat masuk halaman rumah Paman Hisyam. Ia keluar dari mobil dan melangkah menuju ke teras rumah Paman Hisyam.
Sementara Aris menjemput Sisi ke dalam rumah, Nurlita merogoh ponsel dari dalam tasnya untuk menelpon Abizar putra sulungnya. Panggilan terhubung, tetapi tidak diangkat oleh Abizar. Nurlita menurut panggilan kemudian memanggil ulang.
"Nggak diangkat, Mas," ucap Nurlita frustasi sambil menekan-nekan layar ponselnya.
"Mungkin masih di pesawat, Sayang, jadi ponselnya dinonaktifkan," tutur Burhan mencoba meredakan kekesalan istrinya.
"Iya juga ya, Mas. Kok aku nggak kepikiran ya."
Akhirnya Nurlita menyudahi aksinya menelpon Abizar yang tidak kunjung mendapat jawaban.
Sementara Aris di ruang tamu sedang menunggu Sisi. Ternyata Sisi keluar hanya menjinjing tas ransel di tangan kanannya, gaya berpakaiannya simpel dan kasual.
"Udah, gitu doang, Dek? Tidak ada barang yang mau di bawa lagi?" tanya Aris yang melihat Sisi hanya membawa barang yang sedikit, karena yang dia tahu peralatan perempuan itu banyak sekali.
"Memangnya mau bawa barang apalagi, Mas?" tanya Sisi heran.
"Dress panjang yang kemarin Mas belikan sudah dibawa, kan?" tanya Aris.
"Sudah kok, Mas." Sisi menurunkan tas ranselnya di meja tepat di depan Aris. "Mas Aris bisa periksa apa yang Sisi bawa," tutur Sisi.
"Nggak perlu lah, Dek. Ayo kita berangkat. Ayah dan bunda Mana?" tanya Aris.
__ADS_1
"Mereka sudah berangkat kerja, Mas."
"Oo, Tapi kamu sudah berpamitan sama mereka, Kan?" Tanya Aris memastikan takut nanti ia terkena marah dari orang tuanya Sisi karena membawa kabur anak gadis semata wayangnya.
"Sudah, Mas. Mereka tadi malam juga sudah menitipkan aku sama Pakde Burhan dan Bude Lita kok." terang Sisi.
Aris menjinjing tas ransel Sisi, sesampai di teras ia meletakkan tas tersebut di lantai. Sisi menutup pintu terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah.
Praharsi Abdillah dan Ahmad Fahristiawan
Inilah gaya mereka saat di teras rumah, Sisi mengenakan baggypant warna coklat kaos dan kerudung pashmina warna hitam serta jaket sweater Hoodie warna merah marun. Kaca mata dengan bingkai bulat bertengger di atas hidungnya.
Sedangkan Aris mengenakan celana jeans berwarna hitam, dan kaos lengan pendek berwarna silver, kacamata dengan bingkai berwarna hitam juga menghiasi wajahnya. Mereka berdua memakai tas selempang yang sama.
Aris memasukkan handphonenya ke dalam tas selempang yang bergelayut di pundaknya kemudian menjinjing kembali tas ransel milik Sisi. Mereka kemudian melangkah mendekati mobil. Aris membukakan pintu mobil untuk Sisi. Sisi duduk di samping Nurlita.
Aris kembali menutup pintu mobil dan berjalan memutari mobil untuk meletakkan tas ransel di bagian belakang hingga sampai di kursi kemudi. Aris mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Jadi mau beli ikan asap tidak, Bu? ini sudah dekat gerbang Tol," tanya Aris pada Nurlita.
"Jadi, Aris," jawab Nurlita.
Aris membelokkan mobilnya menuju ke sebuah pasar.
"Ibu turun di sini saja, Aris," pinta Nurlita.
"Sebentar, Bu. Ini sekalian cari tempat parkir," sahut Aris.
Aris memarkirkan mobilnya di area parkir depan pasar ia mematikan mesin mobil.
"Jangan lama-lama lho, Bu!" cegah Aris pada Nurlita.
"Cerewet kamu, Ris!" hardik Nurlita.
Sisi terkekeh mendengarnya. Aris menoleh ke belakang.
"Ih, ternyata ada yang senang aku diomelin," sindir Aris. Sisi hanya diam menyibukkan diri dengan gadget nya.
Nurlita sudah keluar dari mobil lewat pintu samping. Ia melangkah menuju ke dalam pasar langsung menuju ke bagian lapak penjual ikan.
Nurlita menghampiri penjual panggang atau ikan asap yang pertama kali ia temui. Kebetulan di lapak yang digelar orang tersebut juga ada ikan salmon panggang. Nurlita membeli ikan salmon asap, ikan manyung asap dan ikan layang asap.
Ikan salmon asap
Aris kembali menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil menuju ke gerbang tol di Warungasem Batang. Ia mulai menambah kecepatan laju mobilnya setelah melewati kilometer 2.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Sementara di Jakarta, di rumah pasangan Ardi dan Dewi, seorang gadis belia tengah memarkirkan mobilnya di garasi.
Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju ke teras rumah, gadis tersebut nampak memencet bel. Tak lama berselang Siti membukakan pintu.
"Mbak Aghni, sudah sampai. Mbak Agni dari Bandung nyetir mobil sendiri?" tanya Siti melongok keluar mencari-cari seseorang.
"Mbak Siti nyari siapa sih?" tanya Aghni pada Siti. Aghni pulang sendirian kok," ucap Aghni menepis pandangan Siti, kemudian masuk ke dalam rumah.
"Mama di mana, Mbak," tanya Aghni berseru karena sudah agak jauh dari Siti.
"Mungkin lagi mandi, Mbak. Tadi baru selesai bantu Mbak Siti masak," jawab Siti berseru pula sambil menutup pintu.
Aghni setengah berlari menuju ke kamarnya di lantai atas. Membuka pintu dan langsung menghempaskan tubuhnya di kasur springbednya.
Sesaat ia memejamkan mata menikmati rasa nyaman yang menerpanya, hingga ia merasa pengap karena AC belum dinyalakan dan Jendela yang belum terbuka, mungkin Siti lupa membukanya karena sibuk memasak hari ini.
Aghni beranjak dari tidurannya, ia menyeret kakinya membuka pintu yang terhubung ke balkon. Aghni berdiri di tepi balkon, memandang keluar dengan tangan kanan menopang dagu hingga ke pipinya. Pemandangan di balkon kamar Aghni ini menghadap ke halaman.
Aghni Kamalia Ardiansyah
Wajahnya memang mirip dengan Tania, tapi pipi Aghni lebih chuby.
"Eh, anak Mama sudah pulang, kok enggak minta dijemput Pak Budi?" seru Dewi mendekat di belakang Aghni.
Aghni membalikkan badan dan memeluk sang Mama, "Aghni ingin kasih kejutan ke Mama," ucapnya.
"Kamu bawa mobil sendiri, Sayang? Enggak takut kena Razia? Kamu kan belum punya SIM?" tanya Dewi beruntun tangannya menggrepe tubuh sang anak karena menghawatirkan keselamatan putri bungsunya.
"Aghni enggak baik-baik saja kok, Ma. Mama tidak usah khawatir."
"Tapi lain kali nggak boleh gitu lho, kamu kan bisa naik taksi atau pesawat, atau minta jemput," tukas Dewi. "Perjalanan jauh itu sangat berbahaya, Sayang."
__ADS_1
"Iya, Mama. Emmuach, Aghni kangen," ucapnya menciumi pipi sang Mama.
Aghni melihat pak satpam membuka pintu gerbang.
"Siapa yang datang itu, Ma?" tanya Aghni pada sang Mama.
Dewi menoleh ke bawah ke arah pintu gerbang. "Oh, Kak Abizar. Tadi dia telpon sudah sampai di Bandara," jawab Dewi.
"Aghni mau menemuinya, Ma," ucap Aghni masuk ke dalam kamar, keluar dari kamar berjalan menuruni anak tangga.
Aghni menemukan kakak sepupunya sedang duduk di sofa ruang tengah.
"Kak Bizar!" panggil Aghni.
Abizar menoleh menampilkan wajah tampannya.
Abizar Burhanudin
Aghni menghempaskan pantatnya di samping Abizar dan memeluknya dari samping. Abizar sejenak terhanyut dalam pelukan adik sepupunya namun kemudian ia melepaskannya.
"Aghni, jangan seperti ini!" tolak Abizar.
"Kakak ini aneh, biasanya kalau kita ketemu juga seperti ini," protes Aghni heran dengan sikap aneh Abizar.
Entahlah, sejak Edos dan Tania yang saudara sepupu bisa menikah, Abizar jadi risih dan menjaga jarak.
"Tapi kita cuma saudara sepupu, kita bukan mahram, Aghni," terang Abizar.
"Tapi dari dulu aku cuma anggap kakak sebagai kakakku saja tidak lebih, atau jangan-jangan kakak suka sama Aghni ya," goda Aghni.
Abizar tersenyum geli. "Mana mungkin Kak Bizar jatuh cinta sama cewek manja kayak kamu," sergah Abizar mencubit pipi kiri Aghni. "Hati Kak Bizar sudah terpatri untuk seseorang," imbuhnya dengan pandangan menerawang jauh.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Tania tiba di minimarket, ia langsung menuju ke tempat mesin fingerprint di pasang. Tetapi ketika ia hendak mengambil kartu untuk absen, ia kaget tidak ada di dalam dompet kartunya juga tidak tergantung di lehernya.
Tania merasa panik, takut ID card-nya hilang. Ia mengeluarkan semua isi tasnya di atas meja.
"Aduh, bagaimana ini kalau sampai ID card-ku hilang?" gerutu Tania.
Erika yang mendengar suara berisik, segera keluar menemui Tania.
"Ada apa, Kamu cari ini?" Tanya Erika meletakkan ID card di meja.
Tania tersenyum nyengir sambil menepuk jidatnya sendiri. "Astaghfirullah al'adzim, kok aku bisa lupa ya, kemarin kartu ini aku titipkan sama Mbak Erika," ucapnya. "Terimakasih, Mbak," ucapnya lagi.
"Iya, sama-sama, Tania. Tadi udah aku gesekin juga kok," sahut Erika.
"Oh, udah ya? Makasih lagi ya, Mbak," ucap Tania lagi.
"Iya, Mbak ke ruangan ya, Tan," pamit Erika.
"Iya, Mbak."
Erika masuk ke dalam ruangannya, sementara Tania menuju ke ruangan ganti. Tania keluar sudah memakai seragam Ardimart. Kini ia berjalan menuju ke gudang penyimpanan.
Sampai di gudang penyimpanan, Tania membelalakkan matanya kaget. Ia tidak mendapati jajanan dan bahan makanan lain yang ia tinggalkan di sana kemarin siang. Tania mencoba mencari-cari namun tidak menemukannya.
Rencananya hari ini Snack dan bahan makanan tersebut akan ia bawa pulang semuanya, biar dijual oleh Bu Retno dan Pak Rasyid, tapi ternyata barang-barang tersebut sudah berpindah tempat.
Tania keluar dari gudang dan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Erika. Sampai di depan pintu ruangan, Tania mengetuk pintu tiga kali dan langsung masuk ke dalam ruangan, menghempaskan pantatnya di kursi di hadapan Erika.
"Ada apa lagi, Tania?" tanya Erika heran.
"Mbak lihat barang yang kemarin aku tinggal di gudang, tidak?" tanya Tania menjawab pertanyaan Erika dengan pertanyaan pula.
Erika menautkan kedua alisnya. "Tidak, Tan. Mbak siang ini belum masuk ke gudang," jawabnya.
Tania nampak lesu menyilangkan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya di meja. "kalau ada yang ngambil terus yang dipotong gaji orang tersebut sih enggak apa-apa, kalau yang dipotong tetap gaji aku, padahal aku masih mau menabung untuk biaya operasi Edos, juga untuk menebus cincin pernikahanku di pegadaian, Mbak," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar, Tania. Pasti ada jalan keluar dalam setiap masalah." Erika mencoba menghibur Tania.
**TBC.
.
.
.
Selamat membaca semoga suka
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1
Terimakasih๐**๐๐