
Di luar rumah ibunya Fauzan, seorang pria paruh baya tampak keluar dari dalam mobil. Pria tersebut mengenakan setelan jas berwarna abu gelap tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Tanpa mengucap salam ia membuka pintu. Saat pintu tersebut susah sekali dibuka, ia pun berteriak memanggil nama si pemilik rumah.
"Fatimah ... Fatimah!"
Bu Fatimah yang merasa namanya diserukan oleh seorang pria itupun cepat-cepat keluar dari dalam kamar. Ia melangkah tergesa menuju ke ruang tamu. Fauzan mengikuti langkah sang ibu di belakangnya. Namun, langkahnya yang panjang dapat melampaui langkah Bu Fatimah yang tenaganya sudah berkurang dimakan usia.
Fauzan membuka pintu. Di hadapannya kini berdiri seorang pria paruh baya yang sudah lama ia kenal.
"Ayah, kenapa teriak-teriak seperti seorang maling?" tanya Fauzan kepada pria paruh baya tersebut.
"Mana ada maling yang teriak?" sergah pria tersebut.
"Eh, iya. Maksud Ozan rentenir yang mau menagih hutang," ralat Fauzan.
"Aku memang mau menagih hutang," ucap pria baruh baya itu dengan songongnya.
"He, Zainal, sejak kapan aku punya hutang sama kamu?" tanya Bu Fatimah tidak terima kepada mantan suaminya yang ternyata bernama Zainal.
"Bukan kamu, Fatimah, tetapi anak kamu yang berhutang padaku dulu saat mau membuka usaha," sahut Pak Zainal.
"Heh, Zainal, apa kamu sudah jatuh sebegitu miskinnya sekarang setelah hidup bersama perempuan pelakor itu? Kamu sudah bangkrut hingga uang yang sudah kamu berikan untuk modal usaha anak kandung kamu sendiri mau kamu minta kembali," tanya Bu Fatimah dengan nada ejekan.
"Heh mana ada bangkrut? Yang ada usaha anak kesayangan kamu ini yang bangkrut. Makanya dia tinggalkan toko buku dan kafenya lalu memilih melarikan diri ke luar kota. Kalian pikir aku tidak tahu? Dan sebelum usahanya benar-benar bangkrut, aku mau meminta balik uang yang dulu aku berikan," sergah Pak Zainal.
"Aku enggak mengambil apapun dari toko buku dan kafe kecuali gajiku, Yah. Kalau Ayah mau meminta balik modal ayah, silakan ambil sendiri di toko atau minta saja sama Farah. Sekarang dia yang mengurus toko buku dan kafe," cetus Fauzan terhadap sang ayah.
"Ozan?" sergah Bu Fatimah menatap sang putra yang berada di sampingnya.
"Tenang, Bu. Semua akan baik-baik saja," ucap Fauzan sembari menggenggam dan mengelus punggung tangan sang ibu.
Bu Fatimah membuang napas kasar menatap putranya dengan perasaan khawatir. "Terus uang yang waktu itu bagaimana?" tanyanya berbisik.
"Sudah Ozan simpan di tempat yang aman, Bu. Ibu tenang saja," sahut Fauzan dengan berbisik pula. 'Aku yakin dia bisa mengelola uang itu dengan baik,' imbuhnya dalam hati.
"Sudah dengar apa kata Ozan kan, Zainal? Sana langsung ke toko, eneg perutku lihat muka kamu," suruh Bu Fatimah.
"Halah pura-pura, bilangnya eneg padahal di hati masih kangen," goda Zainal.
"Cuih, nggak ada maaf buat tukang selingkuh," pungkas Bu Fatimah sembari masuk ke dalam rumah.
"Ayah apa kabar? Sehat kan?" tanya Fauzan yang mencoba mengakrabkan diri kembali dengan sang ayah. Bagaimanapun juga pria di hadapannya ini adalah ayah kandungnya. "Silakan masuk, Yah," ucapnya.
"Tidak perlu, ayah mau langsung ke toko buku saja," sahut Zainal lalu berlalu pergi meninggalkan putranya yang masih terbengong.
Setelah mobil sang ayah hilang dari pandangan, Fauzan kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia kembali masuk ke dalam kamar ibunya.
"Bu, jadi mau besuk Tania enggak? Katanya sore ini pulang. Atau mau ikut Ozan pulang ke NTT," tanya Fauzan kepada sang ibu.
"Ibu ingin besuk Tania juga ingin ikut kamu ke NTT," sahut Bu Fatimah.
"Yaudah, ibu siap-siap saja untuk jenguk Tania. Keberangkatan ke NTT kita tunda besok pagi saja. Ozan juga mau mandi dulu," pungkas Fauzan.
Pemuda itu langsung pergi menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar ibunya. Namun, baru saja ia sampai di depan kamar, belum sempat ia memegang handel pintu, ponsel dalam saku celananya berdering.
__ADS_1
"Farah? pasti mau ngadu soal ayah?" gumamnya.
"Mas Ozan, Ayah datang ke toko tiba-tiba minta uang 5 M. Mana ada uang segitu?" cerocos Farah langsung dalam sambungan telepon lupa mengucap salam.
"Bilang saja yang sesungguhnya kalau uang kes nggak ada, sudah dibelanjakan dalam bentuk barang," sahut Fauzan.
"Tapi ayah meminta buku rekening, Mas," rengek Farah.
"Kasih saja rekening atas nama ku. Biar ayah bisa melihat isinya," suruh Fauzan.
"Tapi waktu itu Mas bilang?"
"Sudah Mas pindahkan ke tempat yang aman," sahut Fauzan.
"Ya udah, enggak apa-apa nih Farah kasihkan buku rekening yang itu?" tanya Farah sekali lagi.
"Iya, kasihkan saja. Udah ah, Mas gerah mau mandi habis kuras empang," pungkas Fauzan.
"Hihihi, jadi dikuras tho?" tanya Farah.
Fauzan malah menjawab pertanyaan sang adik dengan salam. Lalu melanjutkan tujuannya, membuka pintu kamarnya dan masuk.
*****
Sementara di kediaman Ardiansyah, Tania baru saja tiba di rumah tersebut setelah sehari semalam dirawat di rumah sakit.
"Kamar Tania atau kamar Atar, Ma?" tanya Tania yang baru mau masuk ke dalam rumah. Sementara bayinya digendong oleh omanya.
"Kamar kamu yang di atas saja ya, nanti naik lewat lift," sahut Dewi.
"Kamu enggak tahu kalau di rumah ini ada lift?" sergah Dewi.
"Baru tahu kalau di rumah ini ada lift. Emang sudah lama ya, Ma?" Sahutnya lalu bertanya.
"Sejak rumah ini direnovasi. Memang tersembunyi letaknya," sahut Dewi.
"Di mana?"
"Di dekat ruang makan," sahut Dewi.
"Maaf, Mbak Tania mau pakai kursi roda saja?" sela Reza bertanya.
"Tidak perlu, Za. Aku jalan kaki saja," tolak Tania.
Pelan, mereka melangkah menuju ruang makan. Sampai di depan pintu mereka menunggu pintu lift terbuka. Reza mempersilakan kedua Tania dan Dewi masuk. Ia pun membantu menekan-nekan tombol lift. Lift berhenti dilantai dua. Saat keluar dari lift tersebut Tania baru sadar jika ia memang baru menginjakkan kaki di ruangan tersebut
"Ternyata rumah yang ku tempati selama ini belum ku kenali sepenuhnya," gumam Tania yang masih bisa didengar oleh sang mama.
Dewi hanya tersenyum. "Mayeng mu kurang adoh, Nduk," ucapnya.
"Mama ada-ada aja, hidup Tania selama di Jakarta kan habis buat kuliah dan hamil," kekehnya.
"Setelah ini jeda dulu hamilnya," ucap Dewi yang seketika membuat Tania muram.
__ADS_1
Mereka keluar dari ruangan, ternyata ruangan tersebut berada di depan kamar Dewi dan Ardi. Mereka menuju ke tempat dimana kamar Tania berada. Reza membukakan pintu kamar Tania untuk Tania dan Dewi. Tania dan Dewi masuk ke dalam kamar.
"Cukup Mas Reza, sampai di sini saja. Tania mau istirahat," ucap Tania mencegah Reza untuk masuk ke kamarnya.
"Iya, Mbak. Saya permisi," sahut Reza.
Tania langsung menutup pintu kamarnya lalu dengan langkah tertatih-tatih ia menuju ke ranjang dan duduk di sana. Dewi heran melihat perubahan raut wajah anaknya. Ia meletakkan Bita di tengah kasur spring bed lalu duduk di samping sang anak.
"Kenapa?" tanyanya.
"Mungkin Tania tidak bisa hamil lagi, Ma," ucap Tania. "Pas operasi dokter Albert sempat meminta ijin sama Tania langsung untuk membersihkan kista di rahim Tania yang mengenai indung telur, kata dokter Albert kemungkinan indung telur itu akan diangkat juga," imbuhnya lagi.
"Tidak apa-apa, Nak. Kamu kan sudah ada Atar dan Bita. Sudah cukup untuk menemani hidupmu sampai kelak di hari tua. Lagi pula itu semua hanya prediksi dokter, tetapi Allah maha pengatur segalanya. Jangan berkecil hati ya," timpal Dewi mencoba menghibur putrinya.
"Iya, Ma," sahut Tania.
"Istirahat ya, Sayang. Mama mau lihat Papa dulu lagi apa," pinta Dewi yang hanya dijawab anggukan oleh Tania.
Setelah Dewi keluar dari kamar Tania, bukannya istirahat, Tania malah membuka pintu akses menuju ke balkon. Saat sampai di balkon, ia mendengar deru mobil berhenti. Suara mobil itu seperti asing. Tania seketika menuju sisi balkon bagian depan yang agar bisa melihat halaman. Tempat itu di depan kamar Aghni.
Tania melihat seorang pria keluar dari mobil. Pria yang sangat ia kenal meskipun baru beberapa kali bertemu. Pria itu lalu memutari bagian depan mobil untuk membukakan pintu penumpang di sebelahnya. Saat pintu terbuka, seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam mobil. Pria itu menggandeng si perempuan paruh baya menuju ke teras. Tania tampak terkejut dengan perasaan tak menentu saat pandangan mereka beradu. Fauzan tampak menatapnya dalam beberapa detik lalu memutusnya dan berlalu.
"Mas Fauzan, kamu kah pemilik uang itu?" gumam Tania.
"Tania, di sini rupanya? Mama cari-cari di kamar tidak ada," seru Dewi.
"Kenapa, Ma. Bita bangun ya?" tanya Tania.
"Bukan, itu ibunya Mas Fauzan datang mau jenguk kamu dan Bita," sahut Dewi.
Tania mengasikkan sebelah alisnya. "Kok Mama bisa kenal Mas Fauzan?" sergah Tania.
"Eh, mama enggak kenal banget kok, cuma pernah tahu dia temannya Rifki, temannya Niken juga," elak Dewi memutus agar Tania tidak bertanya lebih tentang Fauzan.
"Oo ..."
Tania memang pernah mendengar jika Rifki, Erika dan Niken itu berteman akrab, dulu bahkan sering main ke rumah ini mengunjungi Bram, tetapi Tania baru mendengar jika ada Fauzan juga yang menjadi teman akrab mereka. Mereka kembali meninggalkan balkon dan masuk ke dalam kamar Tania.
"Ini Tania, Bu Fatimah," ucap Dewi memperkenal anaknya.
"O ini yang namanya Tania? Pantas anaknya cantik sekali, ibunya juga tidak kalah cantik," ucap Bu Fatimah penuh dengan pujian.
"Ah, ibu berlebihan," elak Tania. "Mas Fauzannya mana?" lanjutnya bertanya.
"Fauzan ada di bawah ditemani sama Papa kamu. Dia baru boleh ke kamar ini kalau kalian sudah sah."
"Uhuk uhuk," seketika Tania terbatuk, rasa sakit tidak dapat ia tahan di area perutnya.
"Kenapa, Nak?" tanya Bu Fatimah khawatir, tetapi Tania belum mampu menjawabnya
"Ini minum air putih dulu," ucap Dewi sambil menyodorkan segelas air putih.
Tania meminum air yang diberikan oleh sang mama. Setelahnya ia nampak mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, kegiatan ini dilakukannya berulang-ulang hingga batuknya berhenti.
__ADS_1
"Bu, Tania boleh meminta nomor telepon Mas Fauzan yang aktif?" pinta Tania.