
Operasi penanaman saluran pembuangan cairan dari otak di tubuh Edos berhasil dilakukan. Biaya untuk operasi tersebut Doni meminta bantuan kepada Abizar, satu-satunya keluarga Edos yang diberi tahu tentang keadaan Edos. Selama dirawat di rumah sakit, Doni, Rifki, Erika dan Niken bergantian menjaga Edos. Saat siang hari Niken datang, terkadang bergantian dengan Erika jika kosong. Sementara di malam hari Rifqi kadang menemani Doni berjaga. Doni terpaksa pulang pergi Semarang -Jakarta setiap hari karena harus kuliah. Ia meminta bantuan biaya transportasi kepada Abizar karena harus naik pesawat atau kadang naik kereta api untuk pulang pergi Jakarta-Semarang.
Satu bulan kemudian Edos sudah diperbolehkan pulang. Ia sudah bebas beraktivitas asal jangan sampai kelelahan dengan syarat harus rutin kontrol ke rumah sakit tempat ia menjalani operasi.
Edos pulang ke rumah Ardiansyah. Saat itu di rumah tersebut sedang mengadakan pengajian empat bulanan kehamilan Tania.
Beberapa hari kemudian Edos sempat dilarikan ke rumah sakit kembali karena adu jotos dengan Bram saat pemuda itu diundang ke kantornya.
***
"Mas Rifki enggak bermaksud membuat kamu kembali sedih dengan mengingatkan ini semua, Tan. Mas cuma ingin kamu tahu bahwa kesehatan tubuh Edos sudah lama bermasalah," pungkas Rifki.
"Kenapa kalian merahasiakan ini semua dari aku, Mbak, Mas?" tanya Tania. "Mungkin jika aku tahu dari awal aku bisa membantu menjaga Edos agar tidak kelelahan, atau minimal selalu mengingatkannya agar jangan terlalu lelah," sesalnya dalam tangis.
"Semua sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, Tan. Sekuat apapun kamu merawat Edos, jika ini sudah menjadi kehendak-Nya, tetap saja kamu tidak bisa melawannya. Lagi pula waktu itu kamu sedang hamil, kami tidak mau keadaan Edos mempengaruhi kehamilan kamu dan berdampak buruk pada bayi yang kamu kandung," ucap Rifki panjang lebar.
"Kalian jahat!" cicit Tania yang masih sesenggukan. Erika dan Niken tidak dapat lagi menahan tangis. Sementara Rifki hanya berkaca-kaca.
Tangisan Tania tiba-tiba berhenti saat ia melihat siluet tubuh seseorang dengan pakaian seperti milik Edos masuk melalui pintu samping. Tania menyeka air matanya kemudian bangkit dari kursi.
"Ini aku lagi pingsan atau mimpi sih, Mbak?" tanya Tania kepada Niken tiba-tiba.
"Kenapa, Tan. Kamu masih sadar kan? Coba Mbak Niken cubit," Niken pun menjalankan ucapannya. "Sakit enggak?" tanyanya memastikan.
"Sakit, Mbak. Berarti ini bukan mimpi?" tanya Tania lagi.
"Maksud kamu apa, Tan?" tanya Niken heran. Tania tidak menjawab, pandangannya masih ke arah pintu tempat orang mirip Edos tadi menghilang.
"Mau kemana, Tan?" tanya Niken lagi melihat adik iparnya pergi.
Tania tetap tidak menjawab, gadis itu mengikuti orang yang dicurigainya sebagai Edos. Ternyata pemuda itu menuju ke belakang rumah, tempat orang-orang membakar sate karena baru saja selesai memotong daging kambing. Tania sangat yakin kalau orang itu adalah Edos suaminya yang dikabarkan telah meninggal. Eh, bahkan di hadapan Tania sendiri Edos meninggal. Lalu siapa dia?
"Edos!" seru Tania memanggil laki-laki itu, tetapi orang yang dipanggil Edos itu tidak menyahut. Wong dia bukan Edos.
Pemuda itu terus berjalan karena tidak merasa namanya dipanggil. Tania yang berhasil mengejarnya menarik baju yang dipakai oleh pemuda tersebut. Seketika pemuda itu berbalik badan.
"Tan? Kamu di sini juga?" tanya pemuda itu. Namun, Tania masih menatapnya tajam.
"Ada apa sih, Tan?" tanya pemuda itu lagi.
"Baju kamu, kenapa kamu pakai baju milik Edos?" todong Tania.
Oalah, Tan. Memangnya di dunia ini yang punya baju seperti itu cuma Edos tok, Tan? Pemuda itu menunduk ke bawah memandangi baju yang dirinya pakai, lalu mendongak lagi. "Kenapa? Baju ini udah dia kasih ke aku dari lama, Tan?" ungkapnya.
"Lepas!" suruh Tania. Tania tidak menerima bantahan.
Pemuda yang ternyata Doni itu membelalakkan matanya. "Yang benar saja, Tan? Kamu mau lihat aku buka baju?" godanya dengan seringai tipis di wajahnya.
__ADS_1
Menyadari tindakannya yang keliru, Tania kaget seketika. "Pokoknya ganti baju kamu, jangan pakai baju punya Edos. Pinjam kek sama Mas Rifki. Aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus ganti baju ini. Kamu pakai baju dia ini malah bikin aku tambah sedih tahu," pungkas Tania tanpa boleh dibantah lagi.
Doni menghembuskan napas kasar. Sementara perempuan yang memaksanya mengganti baju itu meninggalkannya dalam keadaan terbengong. "Maaf, Tan!" lirihnya.
Tania masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan Attar. Sudah saatnya kloningan Edos kecil itu meminum ASI. Akhirnya gadis yang moodnya akhir-akhir ini berubah-ubah tersebut menemukan putranya di ruang tengah bersama Nina-sang baby sitter dan orang-orang yang tidak Tania kenal sedang berbincang-bincang di sana. Entah apa yang mereka bicarakan Tania tidak peduli.
"Nina, siniin Attarnya biar aku susuin," pintanya.
Tania meraih Attar dari pangkuan Nina. Ia lalu mencari ruang privasi untuk menyusui Attar. Tampak kini di hadapannya pintu kamar yang entah kamar punya siapa. Tania memegang gagang pintu. Ia memutar gagang pintu dan mendorong pintu tersebut. Ternyata tidak dikunci.
Dengan segera Tania pun masuk karena Attar sudah mulai meracau tidak karuan. Ibu muda itu berjalan menuju ranjang, membaringkan Attar di sana. Ia menyusul dengan berbaring di samping Attar yang sudah merengek tidak sabar untuk disusui. Tania dengan segera membuka resleting gamis dan mengeluarkan isinya. Ia langsung menyumpal mulut mungil Attar dengan ujung benda itu. Bocah mungil itu langsung menghisapnya dengan kuat.
Kurang lebih lima menitan Tania memandangi wajah anaknya, ekor matanya tiba-tiba menangkap bayangan seseorang sedang berdiri memandang dirinya dari depan lemari sana.
"Haaaaa!" seketika Tania berteriak.
Attar menangis kencang, mungkin antara kaget karena mendengar jeritan sang bunda atau karena sesuatu yang ia hisap dicabut dengan paksa. Tania reflek mencabut miliknya dan menutup dadanya kembali.
"Doni!" pekik Tania lagi sambil berusaha untuk mendiamkan Attar dengan menepuk-nepuk bok*ngnya.
"Astaga, Tania. Kenapa sih kamu senang banget ngintilin aku?" sergah Doni mengemukakan alibi.
"Ada apa, Tan?" tanya Niken yang masuk ke dalam kamar bersama beberapa orang karena mendengar teriakan Tania.
"Enggak tahu tuh Tania, Mbak Niken. Tadi maksa aku buat ganti baju, tapi pas aku ganti baju di kamar ini dia nyelonong ikut masuk terus berbaring di ranjang," adu Doni dengan kata-kata ditambahi bumbu-bumbu penyedap dan tersenyum menyeringai.
"Benar begitu, Tan?" Niken memastikan.
"Kamunya aja masuk kamar main nyelonong aja enggak permisi," kilah Doni.
"Kan aku dalam keadaan genting, Atar udah nangis kejer karena lapar," sahut Tania tidak mau disalahkan.
"Ya udah selesai kan ganti bajunya, Don. Keluar yuk, biarin Tania nyusuin Attar dulu," ajak Tania.
Doni, Niken dan yang lainnya pun keluar dari kamar meninggalkan Tania dan Attar.
"Kamu sengaja 'kan, Don? Lihatin Tania kayak gitu tadi," sergah Niken ketika mereka sampai di luar.
"Masa ada pemandangan indah dilewatin gitu aja sih, kan sayang, Mbak. Rugi donk," cicit Doni.
"Dasar kucing kamu, Don!" cicit Niken.
"Hahaha, kucing bukannya langsung embat ya, Mbak. Doni kan cuma liat doang," seringai Doni.
"Ya gila aja kalau kamu langsung embat istri sahabat kamu sendiri yang keadaanya masih dalam suasana berkabung," cibir Niken.
"Ya enggak lah, Mbak. Aku enggak sejahat itu lah. Tadi aku juga kaget kok tiba-tiba Tania nyelonong masuk langsung nyusuin Attar saat aku belum selesai ganti baju. Aku pikir dia sengaja maksa aku buat ganti baju dan dia menyusulku," ungkap Doni.
__ADS_1
"Wah, bakalan ada yang CKBK nih," goda Niken.
"CKBK apaan sih, Mbak? Biasanya kan CLBK," tanya Doni.
"Cinta yang dulu kandas bersemi kembali."
"Hahaha, Mbak Niken sok tahu," cibir Doni.
"Don, tolong kamu bantu bapak-bapak bikin berkat!" ucap Bu Retno menyela perbincangan Niken dan Doni.
"Siap, Bu," sahut Doni.
Bakda duhur pembuatan nasi kotak untuk berkat sudah rampung dikerjakan. Nasi kebuli dan gulai kambing sudah dibagikan kepada warga sekitar dan kerabat dekat. Pukul 14.00 sesuai rencana akan ada pembacaan kitab Barzanji dan rangkaian acara aqiqah. Orang tua Erika mengundang ibu-ibu jama'ah Barzanji untuk membacakan kitab Barzanji dan sholawatan.
"Tan, kamu bisa baca kitab Barzanji 'kan? Nanti tolong kamu yang buka," ucap Erika meminta tolong.
"Kok aku sih, Mbak. Kan ada ustadzah ketua jama'ah, enggak enak lah. Nanti dikira amplop buat ketua aku yang embat lagi," tolak Tania.
"Kata ibu Bu ustadzah berhalangan hadir, Tan. Tadi beliau sudah kirim pesan, sementara ibu-ibu yang lain baru belajar, jama'ah ini kan baru terbentuk," ungkap Erika.
"Duh ... gimana ya, Mbak? Aku takut mengecewakan," ucap Tania nervous.
"Nggak apa-apa, nggak ada yang tahu juga kali," bujuk Erika.
"Kok mainnya todongan gini sih, Mbak. Aku kan udah lama enggak baca Barzanji-an," sergah Tania.
"Ya mau gimana lagi, Tan. Bu Ustadzahnya itu udah menyanggupi, tetapi tiba-tiba ada keperluan mendadak," timpal Erika.
"Iya, Tan, kamu aja yang pimpin. Nanti Mbak Niken bantu deh," tawar Niken.
"Serius Mbak Niken bisa baca Barzanji?" tanya Tania meragukan.
"Mbak Niken bantu dengan do'a," imbuh Niken.
"Beneran lho ya, Mbak Niken nanti yang baca doanya?" todong Tania.
"Eh, maksudnya Mbak Niken bantu dengan do'a. Bukan Mbak yang baca do'a," Niken meralat ucapannya.
"Huh, kirain Mbak Niken benaran bisa," cibir Tania.
"Tenang, Tan. Nanti do'a penutupnya ada Pak Ustadz yang bacakan. Sekarang beliau masih di perjalanan," sela Rifki.
"Ya udah mulai gih sana, Tan. Itu ibu-ibu jama'ah sudah pada siap tinggal menunggu dipimpin," suruh Erika.
"Oke, Mbak. Nanti pas pembacaan maulid sambil berdiri si dedek bayi diedarkan keluar 'kan?" Tania memastikan.
"Oke, siip," Erika mengacungkan jari jempolnya.
__ADS_1
Tanpa ba bi Bu Tania langsung mengambil sebuah kitab Barzanji dan mikrofon yang telah disediakan di ruang tamu. Untung dulu sewaktu di kampung Tania gemar Barzanji-an dan Addiba'i bersama teman-temannya di mushola dekat tempat tinggalnya.
Terdengar Tania mulai membacakan tawasul diikuti dengan surat Alfatihah lalu melantunkan sholawat nabi dengan lagu India Tum hi ho dengan suaranya yang mendayu-dayu. Ibu-ibu mengikuti dengan semangat. Semua yang hadir sampai tercengang mendengar suara janda muda satu itu. Ah, janda memang selalu di depan.