
Hari berganti hari seiring dengan perkembangan Bita yang kini mulai bisa tengkurap. Tania semakin bisa menyesuaikan diri dengan kesibukannya dan juga perannya sebagai seorang ibu bagi Atar dan Bita.
"Ada apa, dek?" tanya Tania pada suatu hari saat menerima panggilan telepon dari adik sepupunya, Sisi. Setelah ia menjawab salam.
"Kakak gimana kabarnya?" Sisi menjawab dengan pertanyaan.
"Kakak alhamdulillah sehat," sahut Tania.
"Ayah sakit, Kak. Dia bilang pengen ketemu sama Kak Tania. Kalau kakak ada waktu, kakak pulang kampung ya. Sama Kak Farhan juga," ungkap Sisi.
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un," ucap Tania.
"Kak Tania, ayah itu lagi sakit belum meninggal," protes Sisi.
"Astaghfirullah, Sisi, sakit juga musibah 'kan. Sebagai umat muslim kalau terkena musibah itu sebaiknya kita mengucap kalimat tarjik. Masa kakak dengar paman sakit ngucap alhamdulilah?" protes Tania.
"Tapi Sisi sedih dengarnya," timpal Sisi.
"Kakak lagi PKL, gimana ya?" ucap Tania bimbang dan berfikir sejenak. "Ya udah deh Jum'at depan kakak usahain pulang kampung habis magang," cetus Tania.
"Iya, Kak. Sisi tunggu," ucap Sisi.
"Udah dulu ya, kakak mau ketemu dedek Bita dulu. Seharian belum ketemu dia soalnya," pamit Tania dalam panggilannya.
"Iya, Kak. Titip cium buat Atar sama Bita ya, assalamu'alaikum," sahut Sisi mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumussalam," sahut Tania.
Tok tok tok
Terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Belum sempat Tania menyuruh masuk kepada si pengetuk, pintu tersebut sudah dibuka dari luar. Muncul seorang perempuan berkerudung dengan Bita di gendongannya.
"Bunda, Bita udah kangen pengen sama Bunda nih," ucap perempuan tersebut sembari melangkah ke dalam kamar menghampiri Tania yang masih duduk di sofa.
"Mbak Niken? Kok Sama Bita? Arkan-nya mana?" cecar Tania meraih Bita dari tangan Niken.
Niken menjatuhkan bobot tubuhnya di sambung Tania. "Di bawah tuh sama papanya," sahutnya. "Bita susui dulu bentar, kamu nya udah ditunggu mama sama papa di ruang makan," lanjutnya memberi tahu.
"Iya, Mbak. Bunda juga udah kangen sama Bita dan Kak Atar," ucap Tania seraya menciumi gemas pipi gembil bayinya.
"Ya udah, Mama Niken tunggu di bawah ya, Bita sayang," pamit Niken sembari bangkit lagi dari duduknya. Lalu mengelus pipi Bita pelan. Sebenarnya mau mencubit tapi kasihan.
"Iya, Mama," sahut Tania mewakili Bita.
Usai menyusui Bita sampai puas, Tania bergabung dengan yang lainnya di ruang makan setelah sebelumnya memasrahkan Bita kepada Neni. Ada Bram dan Niken yang juga duduk melingkar di meja makan.
"Pa, Ma, Tania Jum'at lusa mau pulang kampung. Tadi Sisi telepon dia bilang Paman Hisyam sakit," ungkap Tania sekalian meminta ijin kepada kedua orang tuanya.
Mereka semua yang duduk melingkari meja makan kompak mengalihkan pandangan kepada Tania.
"Sama siapa? Naik apa? Terus nanti Bita sama Atar bagaimana?" tanya Dewi, sang mama.
"Paman minta Tania sama Farhan ke sana, Ma. Mungkin naik travel. Tania juga bingung mau bawa Atar atau Bita," ungkap Tania.
"Mas Bram saja yang antar. Jum'at besok kan?" sela Bram membuat Niken seketika melirik tajam terhadap pria yang duduk di sampingnya tersebut. "Sama Mbak Niken juga lah pasti. Kamu mau kan, Sayang?" Pria itu beralih kepada wanita di sampingnya.
"Mas, Arkan itu masih kecil," timpal Niken.
"Tidak apa-apa lah sekali-kali buat melatih kekebalan tubuhnya," sahut Bram.
__ADS_1
"Kita ke sana rame-rame aja, ajak Neni dan Siti sekalian untuk membantu menjaga Atar," cetus Ardi yang kemudian mendapat persetujuan dari semua.
Mereka pun berangkat Jum'at sore seperti rencana Tania. Farhan sudah dijemput Jum'at paginya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, mobil rombongan tiba di halaman rumah peninggalan ayah Tania sekitar pukul sepuluh malam. Sisi yang selama ini meninggali rumah itu membukakan pintu.
"Kok kamu di sini, dek? Yang merawat paman siapa?" heran Tania.
"Em, eh, kan ada bunda. Lagian ayahnya juga udah sembuh," sahut Sisi tergagap. Ia langsung menutup mulutnya dengan punggung tangannya karena keceplosan sebelum ngacir dari hadapan kakak sepupunya.
"Tolong bikinin minuman buat kami ya," seru Tania.
"Iya, Kak," seru Sisi menjawab permintaan Tania tersebut.
Tania mengajak rombongan keluarganya masuk ke dalam rumah. Karena kamar di rumah tersebut hanya ada tiga, maka ia membaginya satu kamar untuk Bram dan Niken, satu kamar untuk Ardi dan Dewi, dan satu kamar lagi untuk dirinya, Siti dan Neni. Karena ada tiga bayi yang ikut bersama mereka, jika kurang tempat tidur bisa menggelar karpet. Sopir yang mengantar mereka Agus dan Joko biar tidur di sofa atau depan televisi. Sementara Farhan tidur di rumah pamannya, Hisyam.
Keesokan paginya Hisyam bertandang menemui Tania dan rombongan keluarganya di rumahnya.
"Lho, Paman, Sisi bilang sakit? Tania rencananya mau jenguk Paman nanti siangan dikit," ungkap Tania. Mereka kini tengah bercengkrama di ruang tengah sehabis sarapan.
"Paman cuma masuk angin, kok. Sisi aja berlebihan. Lagipula Paman kan sudah kangen sama cucu-cucu Paman. Atar sini sama Mbah," ucapnya lalu mendekati Atar yang tengah bermain bersama opanya.
Hisyam menyalami Ardi, Dewi dan Bram. "Apa kabar Pak Ardi? Maafkan saya sudah merepotkan Anda jauh-jauh datang kemari," ucapnya.
"Alhamdulillah sehat, Hisyam. Santai saja, kedatangan kami kemari bukan karena kamu kok, tetapi kami memang ingin refreshing sejenak melupakan pekerjaan," sahut Ardi.
Dari arah pintu belakang Rosiana muncul membawakan nampan berisi gelas. Di belakangnya Sisi membawa piring berisi singkong keju di tangan kiri dan tangan kanan membawa cerek berisi teh panas.
"Kok pakai repot-repot sih Ros," sapa Dewi tidak enak.
"Tidak repot kok, Mbak. Ini juga Singkong ambil dari kebun sendiri. Tadi pagi-pagi ayahnya Sisi juga sempat ambil durian di kebun belum sempat dibawa ke sini," ungkap Rosiana.
"Nanti saja, kami baru saja sarapan kok," tolak Dewi.
"Ya sudah, bibi dan Sisi ambil duriannya dulu kalau begitu," pamit Rosiana.
Sisi dan ibunya pun kembali menghilang dari rumah tersebut.
"Memang ada berapa pohon duriannya, Hisyam?" tanya Ardi melanjutkan obrolan.
"Em, yang di kebun milik Tania sekitar sepuluh pohon yang sudah besar dan tua, Pak. Kalau yang baru berumur tiga tahunan ada dua puluhan pohon jenis durian bawor. Kebetulan saya beli bibitnya langsung dari Banyumas," sahut Hisyam.
"Wah, sekarang lagi panen raya nih ceritanya? Kalau berbuah satu pohon itu bisa mencapai berapa buah paman?" Kali ini Bram ikut menimpali.
"Dua ratusan buah ada kayaknya," sahut Hisyam.
"Itu dua puluh pohon paman urus sendiri semua?" Niken ikut menyela dengan pertanyaan.
"Tidak, paman sudah tidak sanggup kalau mengurus pohon sebanyak itu. Paman cuma mengurus dua pohon saja yang lainnya paman jual kepada Juragan Duren," sahut Hisyam. "Karena inilah salah satu alasan paman nyuruh Tania pulang kampung, biar ikut menikmati hasil panen duriannya," imbuhnya.
"Salah satu, Paman? Biasanya juga ditransfer. Paman udah lupa cara transfer uang ya?" seloroh Tania.
"Ya ndaklah," elak Hisyam.
"Atau ada maksud lain?" selidik Tania.
"Sebenarnya itu yang mau paman sampaikan," sahut Hisyam.
Tania menatap serius ke sang Paman, bersiap mendengar apa yang akan disampaikannya.
"Satu minggu yang lalu paman kedatangan tamu dari Jakarta. Dia mengaku teman ayahmu dulu saat ayahmu bekerja di sana," Hisyam mulai bercerita.
__ADS_1
"Siapa, Syam?" Dewi menyela.
Hisyam baru ingat jika Dewi dulunya adalah istri kakaknya. Dia menjadi tidak enak karena Ardi juga berada di ruangan tersebut. Hisyam rikuh menatap Ardi.
"Saya tidak apa-apa, lanjutkan saja ceritamu, Syam," ungkap Ardi.
"Baiklah. Namanya Syahrul Ramadhan, Mbak kenal?" tanya Hisyam.
"Sebentar, emm ... Apa istrinya bernama Kemala?" sahut Dewi sejenak berfikir untuk mengingat.
"Iya, dia bilang istri pertamanya dulu bernama Kemala, tetapi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu," sahut Hisyam.
"Inna lillahi wa Inna ilaihi raji'un," serentak yang ada di ruangan tersebut berucap kompak seperti paduan suara.
"Pak Syahrul Ramadhan ini datang ke sini bersama istri keduanya bernama Triana. Beliau bercerita dulu saat membuka usaha bengkel beliau mendapat pinjaman modal pertama dari Kang Syarif. Tetapi saat usaha Kang Syarif bangkrut beliau belum bisa mengembalikannya. Sekarang usahanya sudah maju, beliau sudah memiliki cabang bengkel dan dealer resmi di beberapa kota di Jakarta dan daerah lain. Bertahun-tahun beliau mencari alamat rumah Kang Syarif. Beliau juga baru tahu kalau kang Syarif sudah meninggal. Beliau ingin bertemu dengan ahli waris dari kang Syarif," ungkap Hisyam.
"Paman tahu nomor teleponnya?" tanya Tania.
"Iya, ini kebetulan beliau kasih kartu nama ke paman, katanya disuruh menyampaikan ke kamu dan Farhan," Hisyam merogoh selembar kartu nama dari saku bajunya lalu menyerahkannya kepada Tania. "Ini ada alamat rumahnya juga," imbuhnya.
"Ayah senang dikasih motor tuh sama Pak Syahrul, Kak," cibir Sisi.
"Motor apa, Paman?" tanya Tania.
"Itu motor Cessa, paman pakai buat nyari rumput," sahut Hisyam.
"Paman masih memelihara kambing punya tetangga? Kan paman udah sering sakit," tanya Tania khawatir.
"Ada sepuluh ekor, itu uang pemberian Pak Syahrul paman belikan kambing kok. Jadi bukan milik tetangga, tetapi kambing milik paman sendiri. Buat mengisi kegiatan saja dari pada nganggur," ungkap Hisyam.
"Memangnya paman sudah enggak kerja di kebun teh," tanya Tania curiga.
"Kebun tehnya kan udah ndak ada," ungkap Hisyam.
"Apa? Kebun teh kang Burhan sudah enggak ada?" tanya Dewi shock.
"Yang di desa ini kontraknya dengan PTPN tidak diperpanjang. Kalau yang di dekat pabrik ya masih ada, tetapi kan kejauhan bolak-balik kalau mau pindah kerja di sana," ungkap Hisyam.
"Sejak kapan, Paman?" tanya Tania.
"Sudah sejak lima bulan yang lalu paman menganggur," ungkap Hisyam.
"Jadi bibi juga sudah lima bulan menganggur?" Tania beralih kepada Rosiana.
"Iya, bibi jadi pengacara kata Sisi," seloroh Rosiana menjawab pertanyaan Tania membuat seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tergelak.
Tania jadi kepikiran, kenapa Pak Denya yang menjadi mantan mertuanya itu tiba-tiba tidak memperpanjang kontrak penanaman teh dengan PTPN yang sudah terjalin puluhan tahun itu. Apa karena Edos kini telah tiada sehingga orang tuanya kini malas mengembangkan usahanya, tetapi kan asih ada cucu mereka Bita dan Atar yang akan menjadi ahli warisnya kelak. Juga mungkin anak-anak yang akan lahir dari istrinya Abizar. Tania jadi ingin mengunjungi mantan mertuanya tersebut. Juga mengunjungi kakek neneknya di kampung atas sana.
.
.
.
TBC
Terima kasih udah menghiasi laporan mingguan ku 😍
__ADS_1