2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Perubahan Sikap Abizar


__ADS_3

"Sudah dong, Mbak jangan nangis lagi. Kalau riasannya luntur sia-sia dong kerja keras kita," pinta salah satu perias pengantin kepada Tania yang saat ini tengah duduk di kasur spring bed sambil menangis.


"Siapa yang nangis? Wong ini uluhnya keluar sendiri," elak Tania di sela isak tangisnya.


"Itu namanya nangis, Mbak," jelas penata rias.


"Yo wis kalian keluar saja sana. Aku juga enggak mau dirias," usir Tania.


Kedua perias pengantin itu hanya mendengus kesal, lalu merapikan peralatan make up dan properti lainnya. Mereka pun segera keluar dari kamar pengantin. Bersamaan dengan itu, tiga gadis teman Tania saat SMA muncul.


"Tania," sapa Rina. Gadis itu menghambur memeluk Tania. Lalu bergantian dengan kedua temannya, Sita dan Hilda.


"Udah mau dua kali aja, padahal kita belum sekalipun. Iya 'kan, Rin, Sit? " celetuk Hilda.


"Ya udah, kalian bertiga saja sana yang gantiin aku. Aku juga enggak mau nikah sama orang yang enggak cinta sama aku," ketus Tania.


"Tan, apa kurangnya Mas Abizar coba? Udah ganteng, kaya, dia juga sayang banget sama kamu kayaknya," cicit Sita.


"Dia emang sayang sama aku, tapi sebagai adik kakak bukan sebagai suami istri," kilah Tania.


"Kali aja nanti sayangnya jadi berubah cinta terhadap lawan jenis," timpal Rina.


"Kalian pada nggak ngerti perasaanku. Bukannya menghibur kalian malah nyalahin aku. Pulang saja sana kalian! Emang enggak ada yang sayang sama aku hiks hiks hiks," usir Tania. Kini tangisnya semakin pecah.


Hilda menggelengkan kepalanya menghadapi sikap teman-teman SMAnya yang di matanya kini sudah banyak berubah. Tania kini menjadi perempuan yang cengeng. Padahal dulu dia adalah gadis yang tahan banting. Latar belakang keluarganya yang miskin tidak membuat gadis itu minder dalam bergaul.


"Udah-udah, Sita, Rina. Enggak ajak Tania bicara lagi, riasan pengantinnya jadi luntur kan kalau dibawa nangis," ucap Hilda melerai teman-temannya.


Dewi muncul dari ambang pintu melangkah masuk. "Sayang, udah siap ya? Penghulunya udah datang," ungkapnya.


"Kok bisa sih, Ma nikah dadakan ada penghulu?" tanya Tania heran.


Jangan-jangan ini memang sudah direncanakan oleh para orang tuanya dari kemarin-kemarin, pikir Tania.


"Penghulunya itu temannya Edos, si Rizki yang jadi penyuluh di KUA. Dia teman kamu juga 'kan? Rizki cuma diminta untuk jadi saksi dari KUA biar bisa langsung didaftarkan pernikahannya besok pagi," tutur Dewi panjang lebar yang kini membuat Tania paham. "Kamu pasti ngira Mama udah ngerencanain pernikahan kamu ya?" tebaknya.


Saat ucapan Dewi terhenti terdengar pranata cara membacakan susunan acaranya. Prosesi akad nikah mulai berjalan hingga terdengar suara seorang laki-laki mengucapkan ijab qobul.


"Qobbiltu tazwiijaha wa nikaahaha linafsii bi dzalik"


"Bagaimana, para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.


"SAH!" seru mereka kompak.


"Alhamdulillahirobbil 'alamiin ...," sahut Rizki dan lain yang lainnya.


Do'a untuk kebahagiaan kedua mempelai pun dipanjatkan. Namun, bukannya terharu tangis Tania malah semakin pecah.

__ADS_1


"Ayo keluar, Sayang! Sungkeman dulu sama suami kamu," Dewi membimbing putri sulungnya keluar dari kamar.


Tania hanya menurut saja. Tania memakai kebaya berwarna putih dipadu dengan jarik batik sogan. Meskipun kebaya itu tidak ketat melekat ditubuhnya, tepati karena potongan kebaya itu mengikuti lekuk tubuhnya sehingga perut Tania yang sedikit menonjol jadi terlihat membuncit. Tania berjalan dengan mata berkabut karena kebanyakan menangis. Namun, baru beberapa langkah berjalan, tubuh Tania tiba-tiba limbung, kakinya lunglai seperti tidak bertulang. Seperti tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Akhirnya tubuhnya jatuh ke lantai.


"Tania! Tania pingsan," pekik Dewi yang panik melihat Tania pingsan.


"Pengantin wanitanya pingsan," seru seorang perempuan lain.


"Tolong jangan dikerubungi bapak-bapak, ibu-ibu. Tolong ambilkan minyak kayu putih," seru Nurlita. "Ini kenapa bisa pingsan, Wi?" tanyanya kepada wanita yang menjadi adik ipar sekaligus besannya tersebut sambil memijit kaki Tania yang kepalanya sudah berada di pangkuan sang mama.


"Dari tadi itu Tania nangis terus, Mbak," Dewi menjawab pertanyaan Nurlita juga sambil menangis.


"Biar Bizar bawa ke klinik terdekat, Ma," ucap Abizar yang entah sejak kapan berada di dekat mereka.


Pemuda yang baru saja mengucapkan ijab qobul itupun segera menggendong tubuh perempuan yang telah resmi menjadi istrinya tersebut ala bridal style. Dengan langkah cepat Abizar membawa tubuh Tania masuk ke dalam mobil. Dewi tidak ikut mengantar Tania karena ia harus menjaga Atar yang tengah tidur di dalam kamar lain.


Abizar kebingungan saat ia sampai di mobil. Ia meletakkan tubuh Tania di jok belakang, tetapi ia masih berfikir siapa yang akan menjaga Tania di belakang? Kalau dia jatuh bagaimana?


"Mas Bizar, kami boleh ikut ya?" ucap Sita yang tiba-tiba berada di belakang Abizar bersama kedua temannya.


"Iya, tolong pegangi tubuh Tania di belakang," sahut Abizar.


"Hilda, kamu duduk di depan ya, aku sama Rina jaga Tania di belakang," pinta Sita lagi.


"Kok aku sih yang di depan?" protes Hilda.


"Jadi ikut enggak? Ayo cepat masuk," perintah Abizar yang sudah siap melajukan mobilnya menatap tajam ke arah Hilda yang masih belum masuk ke dalam mobil, sementara kedua temannya sudah duduk di belakang menjaga Tania.


Hilda pun dengan wajah cemberut duduk di kursi samping kemudi. Setelah gadis itu masuk, Abizar langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat ketiga gadis teman Tania tersebut merasa menyesal telah ikut ke dalam mobil tersebut.


Sampai di klinik Tania langsung ditangani oleh dokter. Kebetulan klinik yang terdekat adalah klinik kandungan.


"Bapak suaminya ibu Tania ya? Silakan masuk dokter Sifa mau bicara," tanya seorang perawat yang muncul dari pintu ruang pemeriksaan.


Abizar pun mengangguk dan mengikuti perawat tersebut masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan tersebut dapat Abizar lihat jika Tania sudah sadar. Ia masih terbaring ranjang periksa dengan dokter yang masih menggerakkan alat USG di perutnya.


"Silakan duduk, Pak ..." pinta dokter Sifa.


"Abizar, dok," Abizar menyahut.


"Begini, Pak Abizar. Kehamilan istri anda sudah masuk minggu ke 20. Tolong dijaga emosinya jangan sampai stress, karena ini bisa mempengaruhi pertumbuhan janinnya juga bisa menyebabkan keguguran," ungkap dokter Sifa memberikan nasehat.


"Ha-hamil, dok?" cengo Abizar.


"Kok bapak seperti kaget gitu? Padahal sudah hampir lima bulan loh usia kandungannya," tanya dokter Sifa.


"Kami baru saja menikah, dok. Saya tidak tahu kalau istri saya sedang hamil," ucap Abizar.

__ADS_1


Abizar sock mendengar penuturan dokter Sifa jika Tania sedang hamil. Itu artinya ia tidak bisa langsung membelah duren sampai istrinya itu melahirkan dan masa nifasnya selesai.


Abizar pernah mendengar sebuah kajian yang disampaikan oleh seorang Ustadz, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda yang artinya "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka janganlah ia menyirami air spermanya ke ladang orang lain" (HR. Abu Daud).


"Kalian udah deposit duluan ya?" tebak sang dokter.


"Deposit gimana sih, dok? Dia itu istri adik saya, adik saya meninggal 4 setengah bulan yang lalu," jelas Abizar kepada sang dokter. Sebenarnya enggak penting juga dia mengungkapkan semua itu kepada dokter di klinik itu, tetapi ini bisa membuat perasaan Abizar lega dan menolak tuduhan zina dari sang dokter.


"Terserah kalian lah, saya tidak peduli. Ini saya kasih resep vitamin, tolong ditebus di apotek ya," ucap dokter Sifa sembari menulis.


Setelah selesai pemeriksaan, Abizar membimbing Tania keluar dari klinik menuju ke mobilnya. Abizar melajukan mobilnya ke kota, tujuannya adalah untuk menebus resep di apotek yang ada di kota. Juga mengantar ketiga teman Tania ke tempat kost dan ke rumahnya karena hari sudah malam.


"Kak," panggil Tania yang kini duduk di samping Abizar di jok depan.


"Nanti saja ngomongnya kalau udah sampai di rumah," sahut Abizar tanpa menoleh karena sedang fokus menyetir.


Namun, bagi Tania sikap kakak sepupu yang kini telah resmi menjadi suaminya itu terasa dingin seperti kulkas saat musim hujan kepadanya tidak seperti sebelumnya. Apa dia kecewa karena istri yang baru saja dinikahinya telah hamil.


Tania tidak lagi mengajak Abizar berbicara. Ia memandang jalanan yang dilaluinya kini nampak banyak perubahan. Area persawahan semakin sempit bertarung dengan bangunan baru. Mereka seperti berlomba-lomba untuk muncul di permukaan bumi.


Sampai di halaman juragan Burhan, Abizar juga tidak membukakan pintu untuk istrinya. Ia meninggalkan Tania yang terbengong-bengong mendapati perubahan sikap kakak sepupunya itu. Saat sampai di pintu masuk Tania berpapasan dengan Papa, Mama, Mbah Kakung dan Mbah putrinya keluar dari dalam rumah.


"Sayang, mama tinggal pulang ke Jakarta dulu enggak apa-apa 'kan? Kamu di sini saja dulu barang satu minggu," pamit Dewi kepada putrinya.


"Ma, tapi Tania masih mau curhat sama Mama. Atar juga gimana?" rajuk Tania yang belum rela mamanya pulang.


"Atar udah sama Nina di dalam. Tadi Aris jemput dia," sahut Dewi menangkup kedua pipi Tania. "Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi Atar akan punya adik. Jaga baik-baik ya dia di dalam sana," imbuhnya lagi sambil mengelus perut putrinya.


"Mama udah tahu?" tanya Tania heran, padahal ia belum sempat cerita.


"Tadi mama telepon Hilda kenapa sampai malam kalian belum pulang juga," sahut Dewi.


"Ma, kenapa enggak besok pagi aja pulangnya. Memang Mama udah enggak kangen sama Mbah Kakung dan Mbah Putri?" rajuk Tania lagi.


Dewi menghela napas. "Mama harus menemani papa kamu pulang, Sayang. Papa tidak bisa lagi menunda kepulangannya karena besok pagi harus meeting dengan klien penting," jelasnya.


"Kan ada Mas Bram yang sekarang pegang perusahaan," Tania masih berusaha menahan kepulangan sang mama.


"Barusan Mas Bram telepon bilang kalau anaknya masuk rumah sakit, jadi tidak bisa menggantikan papa meeting," jelas Dewi lagi.


Tania memeluk sang mama. Ia belum rela mamanya pergi meninggalkannya.


"Sayang, di sini kan udah ada Kak Abizar yang jadi suami kamu. Kamu curhatnya sementara sama dia dulu ya. Nanti kalau kamu udah pulang ke Jakarta, Mama akan luangkan waktu penuh untuk kamu," ucap Dewi.


"Tapi kak Bizar sekarang jadi dingin sama Tania, Ma," cicit Tania.


"Masa sih?"

__ADS_1


__ADS_2