2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Menemui Om Syahrul


__ADS_3

Esoknya di sore hari, Tania beserta rombongan keluarganya berkunjung ke rumah Mbah Tohir dan Rahayu serta saudara Dewi lainnya. Dua hari dua malam mereka berada di kampung. Lalu kembali ke Jakarta hari Minggunya, karena Senin sudah harus kembali menjalani aktivitas. Meskipun kegiatan kuliahnya sekarang diisi dengan PKL dan itupun bertempat di perusahaan ayahnya sendiri.


Tania dan Prima di tempatkan di ARD's Corp, sementara Nadia yang semula memilih tempat PKL yang sama, ternyata ditarik oleh suaminya ke perusahaan Baskoro grup.


Hari Seninnya saat jam istirahat makan siang, Tania menjemput sang adik di rumah untuk bertemu dengan pemilik bengkel dan dealer sepeda motor S&S Motor di kantornya. Mereka diundang langsung ke kantor pusat yang bertempat di sebuah gedung persewaan.


"Kakak yakin ini tempatnya?" Tanya Farhan saat keduanya baru turun dari mobil.


"Kalau lihat di kartu namanya iya benar di sini. Kalau salah ya nggak apa-apa sekalian aja kita makan siang di sini. Ada restorannya juga kok di gedung ini," sahut Tania santai.


Tania menghentikan seorang pegawai yang lewat di depannya. Mereka kebetulan hendak makan siang di luar gedung.


"Mbak, mau tanya Kantor S&S Motor di mana ya?" tanyanya.


"S&S Motor ada di lantai 3 sampai 10, Mbak. Mbaknya langsung naik lift menuju ke lantai 3 saja, nanti bisa tanya langsung sama resepsionis di situ," sahut pegawai tadi.


"Oh, terima kasih, Mbak," ucap Tania seraya menundukkan kepala. Lalu gadis itu mengajak sang adik untuk mengikuti arahan dari pegawai tadi, masuk ke dalam lift dan naik menuju lantai tiga.


Keluar dari lift, mereka menuju ke resepsionis. " Mbak ruangannya Pak Syahrul di mana ya?" tanya Tania kepada pegawai tersebut.


"Apa sudah ada janji? Ini jam istirahat biasanya Pak Presdir keluar makan siang," tanya resepsionis merasa tidak yakin.


"Sudah, Mbak. Tolong bilang kami anak dari Pak Syarifuddin dari Pekalongan," sahut Tania.


"Sebentar ya," pinta pegawai tersebut yang langsung menekan tombol interkom. "Oh iya, adik berdua diminta langsung ke ruang Pak Presdir di lantai 10, silakan lewat lift khusus ini," sambungnya.


"Terima kasih, Mbak," sahut Tania dan Farhan bersamaan. Mereka lalu kembali menuju ke lift untuk naik ke lantai 10. Kata pegawai resepsionis tadi kalau sudah ada janji harusnya langsung ke lantai 10 langsung saja.


Saat masuk ke dalam lift, Farhan menekan tombol panah ke atas dan kode lantai tujuan. Ternyata telah ada seorang pria yang sudah berdiri di dalam lift tersebut. Pria berbalut setelan jas berwarna abu muda tersebut menatap Tania dan Farhan keheranan. "Siapa mereka? Pakaiannya kayak pegawai mau training. Berani-beraninya menggunakan lift khusus Presdir," batinnya.


"Kalian siapa dan mau ke mana?" tanya pria berusia sekitar tiga puluhan tahun tersebut.


"Saya dan adik saya anak temannya Pak Syahrul. Kami disuruh Pak Syahrul ke ruangannya Pak," jelas Tania.


"Kalian ini yang anaknya Om Syarif?" tebak pria itu.


"Bapak tahu?"


Belum sempat pria itu menjawab, pintu lift sudah terbuka, tetapi pria itu tidak keluar. Ia malah menekan tombol yang persis seperti yang ditekan Farhan saat pintu lift sudah tertutup kembali. Lift kembali bergerak dan tak lama kemudian berhenti.


"Ini lantai 10, mari saya tunjukkan ruangan pak Syahrul," ajak pria itu.

__ADS_1


Tania dan Farhan mengikuti kemana pria itu melangkah.


"Mas Kemal, kok balik lagi? Masih kangen sama Sari ya?" tebak perempuan yang duduk di depan ruang Presdir.


"Percaya diri sekali kamu, Sari. Saya kembali karena dapat buntut, tuh!" jawab Kemal dengan gestur menunjuk ke arah Tania dan Farhan.


"Sepertinya Mas Kemal ini orangnya tidak sombong," batin Tania.


Kemal mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


"Ada apalagi, Kemal? Kamu ini sudah dewasa, masa masalah seperti itu harus Papa juga yang turun tangan sendiri," gerutu seorang pria tua yang duduk di kursi kebesaran ruangan itu.


"Enggak Presdir enggak sekretarisnya sama saja, percaya dirinya tinggi sekali," cibir Kemal. "Nih, ada cewek cantik dan cowok tampan kata mereka mau bertemu Papa," imbuhnya.


"Kalau mereka mau melamar jadi SPG ngapain dibawa ke sini?" Pak Syahrul masih protes melihat anaknya membawa masuk dua remaja berpakaian hitam putih.


Tania masih mengenakan pakaiannya untuk magang PKL-nya. Kebetulan hari Senin dan Selasa jadwal seragam atasan putih, bawahan hitam. Untuk kerudung menyesuaikan karena tidak semua peserta magang memakai penutup kepala. Sedangkan Farhan, pakaian yang dimilikinya selain seragam sekolah hanya celana jeans biru dan hitam, yang ia kenakan saat ini jeans hitam dan kaos lengan panjang berkerah berwarna broken white dengan garis abu-abu samar. Jadi mereka berdua terlihat seperti memakai seragam hitam putih.


"Pa, mereka ini anak-anaknya Om Syarif yang Papa tunggu-tunggu," jelas Kemal singkat karena ia sendiri padahal harus secepatnya pergi.


"Saya memang sedang menjalani PKL di sebuah perusahaan, Pak. Maaf tidak sempat ganti pakaian," sela Tania.


"Oalah, Om kira calon pegawai baru," ucap Pak Syahrul. Pria paruh baya itu lalu berdiri menghampiri Tania dan Farhan, menggandeng mereka dan mengajaknya untuk duduk di sofa. "Mari-mari silakan duduk, Nak."


"Kemal, kenapa kamu ikutan duduk? Tadi bilangnya ada janji makan siang sama Donita, harus segera cepat-cepat," cibir Syahrul kepada putranya.


"Memangnya Papa enggak ada niatan mau mengenalkan aku sama mereka apa?" tanya Kemal.


"Oh iya, Dewi, ini adik kamu? Siapa namanya? Kamu pasti sudah mendengar cerita tentang Om dari Paman kamu kan?" cecar Syahrul.


"Nama saya Tania, Om, bukan Dewi. Dewi itu mama saya. Ini adik saya, namanya Farhan," koreksi Tania.


Tawa menggelegar dari mulut Kemal. "Makanya Papa jangan selalu sok tahu," hardiknya.


"Kamu memang mirip sekali dengan Dewi waktu muda dulu. Apa kabar mamamu sekarang?" tanya Syahrul lagi


"Mama alhamdulilah sehat, Om," sahut Tania.


Mereka saling bercerita tentang keluarga masing-masing tanpa ada yang ditutup-tutupi. Syahrul memesankan banyak sekali makanan untuk Tania dan Farhan. Sementara Kemal akhirnya membatalkan janji makan siangnya bersama sang istri karena ingin ikut mendengar cerita dari tamu papanya ini.


"Jadi kamu dan Farhan ini beda ibu ternyata, Tania?" ucap Syahrul setelah membaca scan KK yang dikirim Tania ke ponselnya via aplikasi hijau.

__ADS_1


"Iya, Om. Saat saya masih di dalam kandungan mereka pisah. Setelah melahirkan saya, mama kembali ke Jakarta untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sementara saya dititipkan kepada Paman Hisyam dan istrinya. Ayah menikah lagi dengan ibunya Farhan," ungkap Tania.


"Om benar-benar menyesal dulu belum bisa mengembalikan uang yang Om pinjam dari ayah kamu saat usahanya bangkrut. Namun, setelan usaha Om berkembang pesat dan Om telah memiliki uang untuk mengembalikan ke Syarif, Om kehilangan jejak ayah dan ibu kalian. Om tidak tahu alamat tempat tinggalnya, hanya tahu nama kabupatennya saja. Apalagi jaman dulu belum ada handphone. Komunikasi tidak semudah sekarang. Sambil terus mencari keberadaan ayah kamu, akhirnya Om alihkan uang itu menjadi kepemilikan saham sebesar 50% atas nama ayah kamu," ungkap Syahrul.


"Lalu bagaimana Om Syahrul bisa bertemu dengan Paman Hisyam?" tanya Tania.


"Satu bulan yang lalu Om sedang ada kunjungan ke salah satu dealer cabang. Om lihat orang yang mirip sama ayah kamu mau membeli sepeda motor. Om hampiri orang itu, ternyata dia adiknya ayah kamu, Hisyam. Om baru tahu kalau ayah kamu telah lama meninggal," sahut Syahrul penuh sesal.


"Ayah meninggal saat saya kelas enam SD, Om," ucap Tania.


"Jadi kamu sudah pernah menikah dan sudah punya anak dua, Tania? Om kira kamu masih gadis, tidak kelihatan seperti ibu-ibu," tanya Syahrul lagi tidak percaya dengan apa yang ia baca di kartu keluarga milik Tania. Kemal yang mendengar kalimat papanya itu tampak terkejut, terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Setelah lulus SMA, saya menerima lamaran dari teman sekelas saya, Om. Namun, suami saya meninggal saat saya anak saya yang pertama masih berumur tiga bulan," ungkap Tania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Maaf, bukan maksud Om untuk mengungkit masalah itu," ucap Syahrul tidak enak hati. "Oh iya, jadi sekarang Tania tinggal dengan mama kembali, lalu Farhan?" tanyanya, mengingat Farhan adalah anak dari Syarif dengan istri keduanya. Ia berfikir bahwa Dewi dan ayah tiri Tania bukan siapa-siapa Farhan.


"Saya sekolah di pondok pesantren, Om. Kalau pulang ya ke rumah mamanya kak Tania," sahut Farhan.


"Tinggal di rumah Om saja ya, Farhan. Mamanya Tania dan suaminya itu bukan siapa-siapa kamu . Sementara rumah Om itu juga rumah ayah, karena harta yang Om punya itu milik ayah kalian. Om akan biayai sekolah kamu setinggi-tingginya. Kalau kamu sudah lulus S2, Om akan kasih kamu jabatan yang bagus di perusahaan ini," pinta Syahrul.


"Pa, jangan lupa, Papa juga punya anak kandung sendiri loh," Kemal mengingatkan.


"Ya tidak akan lupa dong, Kemal. Tapi papa ingat kalau mereka ini mempunyai hak 50% atas harta kekayaan kita. Apalagi ayah mereka sudah meninggal. Jadi papa tidak mau ada harta anak yatim yang papa makan," koreksi Syahrul.


"Terima kasih, Om. Untuk urusan tempat tinggal saya, saya harus membicarakannya dengan mama Dewi dan papa Ardi, orang tua angkat saya," ucap Farhan.


"Ardi?" beo Syahrul. "Suami Dewi sekarang namanya Ardi?" tanya Syahrul.


"Iya, Om, namanya Ardiansyah? Om kenal?" tanya Farhan.


"Sepertinya Om kenal," terka Syahrul. "Kalau begitu akhir pekan ini, Om akan mengundang kalian sekeluarga untuk makan malam. Sekalian Om meminta ijin untuk Farhan tinggal di rumah Om saat dia pulang dari pondok pesantren," ungkapnya.


"Baik, Om. Saya akan sampaikan undangan ini kepada papa dan mama," sahut Tania.


Setelah perbincangan panjang itu. Tania pamit untuk kembali ke ARD's Corp karena sudah terlalu lama meninggalkan jam kerjanya. Tania juga harus mengantarkan Farhan kembali ke rumah. Sebenarnya Farhan bisa saja ikut kakaknya ke perusahaan dan menunggu sampai dia pulang, tetapi ia lebih memilih untuk pulang. Di rumah ia bisa membantu menjaga Farhan sebab besok paginya ia sudah harus kembali ke pesantren.


Namun, saat di perjalanan tiba-tiba mobil yang dikendarai Tania oleng, ban depan sebelah kiri sepertinya kempes.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2