
Sudah tiga hari Tania menjalani pekerjaan sebagai pramuniaga di sebuah minimarket. Itu artinya sudah seminggu lebih Edos terbaring di rumah sakit. Tania mengambil sift pagi, antara pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB.
Tania pulang ke rumah Bu Retno dan istirahat di sana. Malam harinya ia gunakan untuk menunggui suaminya.
Siang ini matahari sudah tergelincir ke arah barat, Tania terbangun dari tidur siangnya, karena merasa seluruh badannya gerah. Meskipun sudah lebih dari satu minggu ia menghirup udara perkotaan, tetapi ia belum bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang sekarang.
Tania yang terbiasa hidup di lingkungan pedesaan dengan udara yang sejuk dan bersih dari polusi, kini harus merasakan udara kota yang panas dan penuh dengan asap kendaraan bermotor.
Tania bangkit, ia kemudian mengumpulkan baju-baju kotornya untuk dicuci. Ia mencuci di kamar mandi yang berada di belakang, karena memang tidak ada tempat khusus untuk mencuci baju di rumah Bu Retno. Kini ia tengah berkutat dengan cuciannya.
Selesai mencuci dan menggelar pakaiannya di tempat jemuran, Tania mandi, sholat ashar dan bersiap-siap supaya bisa sampai di rumah sakit sebelum maghrib, takut kemalaman di jalan, apalagi musim pancaroba seperti sekarang ini hujan bisa datang kapan saja tanpa ada pawang yang mengundang. Kalau hujan sudah datang, banjirpun turut serta hadir tanpa undangan juga.
Alhamdulillah, Tania sampai di rumah sakit tepat sebelum maghrib tiba, sebelum masuk ke ruangan tempat Edos dirawat, dia menyempatkan untuk sholat maghrib terlebih dahulu di Mushola rumah sakit, karena azan maghrib sebentar lagi berkumandang.
Ia segera menuju ke ruangan Edos di rawat sesaat setelah menyelesaikan sholatnya. Tania masuk dengan perlahan menghampiri brangkar, meraih dan mencium tangan suaminya lalu duduk di kursi di samping kiri brangkar. Tania selalu mengajaknya berbicara meskipun ia tahu bahwa Edos tidak bisa menyahutinya. Tapi kata dokter telinganya bisa mendengar.
"Assalamu'alaikum, Suamiku. Aku kembali datang untuk menemanimu," ucapnya membuka suara seraya mandangi wajah orang yang dicintainya, tangannya menggenggam dan mengelus-elus punggung tangan suaminya.
Tania diam sejenak, mencium kening suaminya. lalu menyandarkan kepalanya di sisi Edos, tangannya masih tetap menggenggam tangan Edos.
"Yank, ini hari ke tiga aku kerja di minimarket, aku seneng banget dapat teman baru. Oh ya, aku juga sudah ganti nomor HP baru loh."
Tania terus mengoceh meskipun Edos tidak menanggapinya. Lelah mengoceh Taniapun terlelap.
Tiba-Tiba ia berada di sebuah taman bunga yang indah. Di kejauhan terlihat olehnya dua sosok laki-laki berpakaian serba putih sedang bercengkrama. Tania mendekati mereka. Ia ragu, namun rasa penasaran siapa dengan kedua sosok tersebut mendorong langkahnya semakin mendekat.
Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui siapa kedua sosok laki-laki yang berpakaian serba putih tersebut.
"Ayah, Edos. Kalian ada di sini? kalian sudah saling kenal?" Tania menatap mereka satu per satu dengan tatapan heran.
"Sayang, kamu menyusulku ke sini? Aku sudah mau pulang," ucap Edos tersenyum pada Tania.
"Ayah, Bunda mana? Kenapa Ayah enggak bareng Bunda?" tanya Tania masih bingung.
"Kalian pulanglah! Tempat kalian bukan di sini. Suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan bundamu, Tania," perintah pak Syarif pada Tania tanpa menjawab pertanyaan Tania.
"Ayo kita pulang, Sayang," ucap Edos lembut membelai puncak kepala Tania.
"Tapi, Ayah belum menjawab semua pertanyaanku, Yank," sergah Tania parau menatap Edos.
Dan ketika Tania hendak meminta jawaban kepada Pak Syarif kembali, sosok Pak Syarif sudah tidak ada di tempat semula.
"Ayah.. Ayah.. Ayah.."
Tania terus memanggil ayahnya, pandangannya memutar ke segala penjuru mencari sosok sang Ayah.
"Berisik!" terdengar suara seorang laki-laki.
Tania membuka matanya, ternyata masih di rumah sakit. Ia tertidur masih dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya bersandar di brangkar. Eh, tunggu! Tadi siapa yang berbicara?
Tania menegakkan tubuhnya, perhatiannya tertuju pada suaminya yang sudah melepas alat bantu pernapasan.
"Edos! Alhamdulillah akhirnya kamu siuman," ucap Tania histeris memeluk tubuh suaminya, air matanya keluar dari pelupuk matanya.
"Aw, sakit Yank," rintih Edos.
__ADS_1
Tania merenggangkan pelukannya.
"Eh, maaf. Saking senengnya jadi lupa," ucapnya seraya menghapus air matanya.
Tania menekan tombol emergency. Tidak lama kemudian datang dua perawat. Kedua perawat tersebut langsung memeriksa keadaan Edos.
"Denyut nadi normal, tekanan darah juga normal, sudah bisa dipindah ke ruang perawatan ya, Mas. Pak dokter besok pagi baru bisa datang. Apa ada keluhan?" ucap salah seorang perawat.
"Kaki saya kenapa tidak merasakan apa-apa ya, Sus?" tanya Edos.
"Besok siang bisa dilakukan Rontgen dan CT-scan, untuk memastikannya, Mas. Sekarang sudah larut malam, silahkan istirahat kembali sambil menunggu petugas memindahkan Anda, ya," ucap perawat.
Kedua perawat tersebut pergi meninggalkan Edos dan Tania.
"Haus, Yank," ucap Edos tiba-tiba.
Tania yang tanggap segera mengambilkan air mineral, membuka tutupnya, memasukkan sedotan dan mendekatkannya pada mulut Edos. Edos menyedot air tersebut beberapa kali. Tania meletakkan kembali minuman tersebut di atas nakas. Dan kembali memeluk suami tercinta yang dirindukannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu di halaman rumah Paman Hisyam, siang itu Aris baru saja memarkirkan mobilnya.
"Ini benar, Ma. Edos tinggal di sini?" tanya Abizar pada sang Mama.
"Edosnya enggak tahu di mana. Ini rumah pamannya Tania," jawab Nurlita.
Abizarpun langsung menuju ke depan pintu rumah Hisyam. Dan mengetuk pintu rumah. Nurlita mengikutinya dari belakang, heran dengan sikap putranya.
"Assalamu'alaikum," ucap Abizar memberi salam.
Pintupun dibuka dari dalam,
"Kakak? Kok bisa bareng sama Bude?" ucap Sisi terkejut. Nurlita pun tidak kalah terkejutnya.
"Kalian sudah lama kenal?" tanya Nurlita.
"Tamu siapa, Sisi?" tanya Hisyam dari dalam.
"Kak Abizar sama Bude, Yah," seru Sisi.
Hisyam pun keluar terkejut melihat kedatangan dua orang tersebut.
"Silahkan masuk, silahkan duduk, Kakak, Bude," ucap Sisi mempersilahkan kedua tamunya sambil melirik ke arah mobil.
Nurlita, Abizar dan Hisyam pun duduk.
"Dulu waktu kecil, Abizar pernah diajak Papa main ke sini, Ma. Setelah itu Bizar sering main sendiri ke sini, kadang pulang sekolah," ungkap Abizar.
Hisyam masih di buat pusing dengan kedua orang tamunya tersebut.
"Mama?" tanya Hisyam bingung. "Apa Abizar ini, anak Nyonya? jadi dia kakaknya Edos," tebak Hisyam.
"Abizar ini anak sulungku, Hisyam. Dia kakaknya Edos. Tapi jangan panggil Nyonya juga, donk. Panggil Mbak Lita saja!" jawab Nurlita.
Hisyam makin frustasi dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Astaghfirullah al'adzim. Apa itu artinya Edos dan Tania itu saudara sepupu?" tanya Hisyam, Nurlita kembali terkejut.
"Apa? Sepupu? maksudnya?" tanya Nurlita yang juga masih belum mengerti dengan keadaan sebenarnya.
"Tania itu anaknya Tante Dewi dengan suami pertamanya, Ma. Almarhum Om Syarif. Tante Dewi meninggalkannya ketika Tania masih bayi," tutur Abizar terlihat menahan kesedihan.
"Mas Syarif memang sudah menganggap Mbak Dewi sudah meninggal. Dan jika Tania menanyakan keberadaan ibunya, dia meminta untuk menjawab bahwa ibunya sudah meninggal sejak Tania masih bayi," tutur Hisyam yang juga menahan rasa sedih.
"Apa papamu tahu, kalau Tania itu keponakannya?" tanya Nurlita pada anak sulungnya, Abizar.
"Papa tahu kok, Ma. Bahkan Papa yang dulu mengenalkan Tania pada Bizar bahwa dia sepupu Bizar," jawab Abizar.
"Kalau papa kamu tahu bahwa Tania itu keponakannya, kenapa dia melarang Edos dan Tania untuk menikah?" tanya Nurlita seperti bertanya pada diri sendiri.
"Siapa yang melarang mereka menikah?" suara Barito yang sangat familiar itu tiba-tiba muncul dari ambang pintu mengejutkan mereka. Mereka bertiga serempak menoleh.
"Kang Burhan?" ucap Hisyam.
"Mas Burhan?" ucap Nurlita.
"Papa!" ucap Abizar.
Orang yang sekarang menjadi pusat perhatian tersebut dengan santainya duduk di kursi yang kosong.
"Saya tidak pernah melarang mereka menikah, saya cuma ingin mereka melanjutkan pendidikan, minimal mereka punya ijazah S1 lah, tidak bodoh seperti saya!" ucap Burhan tegas. "Azharnya saja yang tidak sabaran," imbuhnya.
"Astaghfirullah al'adzim, betapa bodohnya saya selama ini. Kang Burhan sering bilang kalau dia punya dua putra Abizar dan Azhar, ternyata Azhar itu Edos," ucap Hisyam baru menyadari kebenarannya.
"Mereka kan sudah menikah, jadi kita tidak usah mencampuri urusan mereka, mereka sendiri yang sudah memilih jalan hidup mereka. Kalau mereka butuh sesuatu, mereka juga pasti akan menghubungi kita. Sudah, nggak usah pikirkan mereka!" tukas Burhan pada semua yang ada di ruangan tersebut.
Semua yang hadir terdiam membenarkan ucapan Burhan.
Dari arah belakang nampak Rosiana, istri Hisyam membawa nampan berisi teh manis dan cemilan.
"Silahkan di minum tehnya, Kang Burhan, Mbak dan Abizar!" ucap Rosiana mempersilahkan setelah menyajikan apa yang dia bawa di meja.
"Kok Bunda yang buat minuman, Sisi mana?" Tanya Hisyam pada Rosiana.
"Bunda tidak tahu, Yah. Di dalam tidak ada," jawab Rosiana.
"Tadi kulihat Sisi di depan sama Aris." Burhan menyahut memberitahukan keberadaan Sisi.
"Wah, sepertinya kita bakalan besanan lagi, nih," celetuk Nurlita membuat seisi ruangan tertawa.
.
.
.
Terimakasih yang sudah mau baca.
jangan lupa like dan komen ya
Terimakasih juga yang udah vote
__ADS_1
πππ