2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Tak Terduga 2


__ADS_3

Entah mengapa keinginan Burhanudin untuk melakukan study banding di negara Jepang semakin kuat di hati dan fikirannya, padahal di negara sendiri saja banyak sekali pabrik teh yang hasil produksinya berkualitas ekspor tidak kalah dari teh yang dihasilkan oleh Negeri Sakura tersebut.


Mungkin sikap kekeluargaan yang selama ini ditampilkan oleh Mr. Hiro yang menyebabkan dorongan tersebut semakin kuat.


Pukul sebelas siang waktu Jepang pesawat yang ditumpangi Burhan telah mendarat di Bandara Kansai Osaka Jepang. Ia keluar dari Bandara dan mencegat taksi, kebetulan sekali ada taksi yang lewat saat itu.


Burhan menunjukkan secarik kertas yang bertuliskan alamat Mr. Hiro, ia tidak menginap di hotel melainkan di kediaman Mr.Hiro, sopir taksi memahaminya. Mereka saat ini seperti dua orang bisu yang tidak dapat bicara dan hanya memakai gerakan tubuh sebagai pengganti ucapan.


Kira-kira 1,5 jam dalam perjalanan, taksi yang ditumpangi Burhan telah sampai di depan sebuah rumah tradisional khas Jepang yang besar dan mewah. Setelah membayar sesuai argo, Burhan menapakkan kakinya di tanah dengan menenteng tas ransel di tangan kanannya.


"Arigatou," ucapnya sambil membungkukkan badan menghadap supir taksi mencontoh kebiasaan Mr. Hiro saat berinteraksi dengannya. Hanya itu yang dia bisa dari kebiasaan orang Jepang.


Burhan mulai melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Mr. Hiro yang luas dan hijau. Seorang pelayan laki-laki tampak berjalan cepat tergopoh-gopoh menyambut kedatangannya.


"Hai," sapa Burhan sambil membungkukkan badan kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut hanya tersenyum.


"Welcome Mr. Burhan. You are already waiting for Mr. Hiro inside," tutur pelayan tersebut.


Oalah, kenapa aku bisa lupa kalau aku bisa bahasa Inggris ya. Gerutu Burhan dalam hati. Ia memukul kepalanya sendiri.


Hebat kamu Burhan, Author malah nggak bisa bahasa Inggris, bahasa Jawa saja kacau.


Burhan berjalan mengikuti langkah pelayan tersebut masuk ke dalam rumah. Matanya nampak celingukan mengamati ornamen serta perabot yang mengisi setiap ruangan yang dilewatinya. Sehingga pelayan tadipun jadi memelankan langkahnya.


"Please, this is your room, sir!" ujar pelayan menunjukkan kamar untuk Burhan dan meletakkan tas ransel nya di sana. "Now come with me! Mr. Hiro is waiting for you in his room," ajaknya.


"Okay," sahut Burhan. Setelah itu ia kembali mengikuti langkah kaki sang pelayan.


Sampailah mereka di ruangan yang dimaksud pelayan tadi.


"Please sir," ucap pelayan mempersilahkan masuk.


Di dalam ruangan nampak seorang pria paruh baya dengan Kimono membalut tubuhnya sedang duduk menikmati teh Matcha khas Jepang. Mr. Hiro langsung berdiri demi melihat kedatangan Burhan, dan menjabat tangan pemuda tersebut dengan senyuman yang merekah.


"Selamat datang, Burhan. Bagaimana perjalanan Anda?" sapa Mr. Hiro dengan logat khas Jepang nya.


"Terimakasih, Mr. Hiro. Alhamdulillah perjalanan saya sangat menyenangkan meskipun melelahkan," jawab Burhan sekedar basa-basi.


Ternyata Mr. Hiro juga seorang muslim, mereka terlebih dahulu melakukan sholat Dzuhur berjamaah. Kemudian melanjutkan kembali bincang-bincang dengan di temani teh Matcha khas Jepang.


Sebenarnya perut Burhan sudah keroncongan karena belum makan siang, saat sampai di rumah Mr. Hiro sudah lewat dari jam makan siang. Tadi pagi hanya sarapan di pesawat. Mengingat jadwal waktu makan orang Jepang yang katanya harus tepat waktu, maka Burhan berusaha menahan rasa laparnya mau minta kepada pelayan malu.


Pukul 2 siang, Burhan baru dipersilahkan istirahat di kamar yang disediakan oleh pemilik rumah untuknya. Burhan membuka tas ranselnya, ia hanya mendapati sebungkus emping melinjo balado yang diselipkan oleh istrinya di antara lipatan pakaian.

__ADS_1


Untung petugas bea cukai mengembalikan emping mlinjo tersebut tadi saat menggeledah tas ranselnya mencurigainya sebagai barang terlarang. Sehingga bisa untuk mengganjal perutnya saat ini.


Oh iya, hampir lupa. Jam 5 sore aku harus menelpon Nurlita. Gumam Burhan.


Sebelum berangkat tadi pagi Burhan berpesan kepada istrinya untuk menunggu telepon darinya di wartel milik tetangganya, karena jaman dulu belum ada handphone.


Tepat pukul 3 sore waktu Jepang, Burhan keluar kamar untuk meminjam telepon. Ia bertemu dengan seorang pelayan.


"Can I help you sir?" tanya pelayan.


"Can I borrow the phone?" Burhan bertanya balik.


"Of course, please sir!" jawab pelayan sambil menunjukkan letak pesawat telepon berada.


Burhan mengangkat gagang telpon, setelah memencet tombol kode angka SLJJ (Sambungan langsung jarak jauh) untuk Indonesia, ia kemudian menekan tombol kode area dan terakhir nomor telepon tetangganya yang sudah menjadi langganan.


Sementara itu Nurlita sedang duduk di bangku tunggu wartel tetangganya sejak pukul setengah 5 sore. Ia membawa serta putranya yang kini sudah berusia 6 bulan. Baru tadi pagi dia melepas keberangkatan suaminya, rasa rindunya sudah menggebu.


"Mbak Lita, ada telpon dari Mas Burhan," seru operator wartel.


Nurlita nampak kaget bercampur girang segera berdiri menerima telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum, Mas. Udah sampai ya? Bagaimana kabarmu?" Nurlita yang sudah menunggu sejak tadi tidak sabar ingin mengetahui kabar suaminya.


"Ish, pertanyaanmu beruntun kayak durian runtuh, mana yang harus Mas jawab duluan?" Burhan malah balik bertanya bingung mau menjawab pertanyaan istrinya yang mana lebih dahulu di ujung telepon sana.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, istriku tercinta. Mas sudah sampai di rumah Mr. Hiro tadi siang jam setengah 1, dan alhamdulillah keadaan Mas baik-baik saja, Sayangku," jawab Burhan dengan senyum terukir di wajahnya. "Oh ya, bagaimana kabarmu dan anak kita?" tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah, Mas. keadaan Lita baik-baik saja, Dedek juga tidak rewel nih Lita ajak juga. Dedek, ini Papa Sayang, Dedek mau ngomong?" sahut Nurlita sambil berinteraksi dengan putranya.


"Halo jagoan Papa, baik-baik sama Mama ya Sayang, jangan rewel dan jangan nyusahin Mama ya!" ujar Burhan memberikan nasehat kepada putranya seakan putranya sudah memahami kalimatnya.


"Iya, Papa. Papa juga baik-baik ya di sana. Jangan telat maem!" jawab Nurlita menirukan suara anak kecil.


"Udah dulu ya Sayang, ini Mas pinjam telpon orang soalnya, takut tagihannya nanti membludak," pamit Burhan.


"Iya, Mas. Mas hati-hati ya!" pesan Nurlita.


"Iya, Sayang. Udah ya, Assalamu'alaikum." Burhan mengakhiri panggilannya.


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, dadah Papa." Nurlita menutup teleponnya.


"Terimakasih ya, Fat. Ada ongkosnya enggak nih?" tanya Nurlita pada operator wartel untuk memastikan dia harus membayar atau tidak.

__ADS_1


"Khusus buat Mbak Lita, Kalau cuma terima telepon tidak ada ongkosnya, Mbak," canda operator tersebut.


"Terimakasih ya," ucapnya sambil melangkah pergi.


"Kembali kasih, Mbak Lita," seru operator wartel.


Saat kembali dari Wartel, di tengah jalan Nurlita berpapasan dengan Adik iparnya, Dewi. Perempuan itu tergesa-gesa dan menenteng sebuah tas besar seperti berisi pakaian.


Mau kemana anak itu? Padahal dia baru saja melahirkan, kok seperti mau pergi jauh. Sudahlah tidak usah ikut campur urusannya, toh dia juga benci padaku sama seperti orangtuanya, batin Nurlita.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pukul 19.00 waktu Jepang, seorang pelayan memanggil Burhan untuk makan malam bersama dengan anggota keluarga Mr. Hiro. Semua anggota keluarga Mr. Hiro sudah berkumpul melingkari meja makan.


Burhan duduk berhadapan dengan Mr. Hiro, ia tertegun mengamati seorang anak yang duduk tepat di sebelah kiri Mr. Hiro.


"Ichiro, ini Om Burhan. Kasih salam, Sayang," titah Mr. Hiro.


"Selamat malam Om Burhan, Saya Ichiro," ucap Ichiro.


"Anak pintar," puji Burhan.


Sesuatu kini mengganjal di fikiran Burhan, siapa anak itu sebenarnya. Mengapa dia berbeda dengan anggota keluarga Mr. Hiro yang lain, wajahnya familiar sekali.


Usai makan malam mungkin waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Mr. Hiro. Setelah seluruh anggota keluarga pergi. Kini tinggal dirinya dan Mr. Hiro.


"Mr. Hiro, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada anda," ungkap Burhan ketika itu.


"Silahkan Burhan, apakah kamu ingin membicarakan kegiatanmu selama di sini? kita bisa memulainya besok pagi," tebak Mr. Hiro.


"Iya Mr. Hiro, selain itu adalagi yang ingin saya ketahui, yaitu tentang Ichiro."


Kalimat Burhan ini seketika membuat Mr. Hiro kaget, namun ia tetap tenang demi mendengar penuturan Burhan selanjutnya. Burhan menceritakan tentang putra pertamanya yang hilang tujuh tahun silam.


.


.


.


Heppy reading


semoga suka

__ADS_1


jangan lupa like n komennya


Tararengkiuuh 😘😘😘


__ADS_2