
Dua bulan setelah melahirkan baby Atar, Tania memboyong anaknya tersebut kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan kembali kuliah di semester yang akan datang. Mereka berangkat hanya diantar oleh Edos. Tania terpaksa mengikhlaskan kembali Edos untuk menyetir mobil dari Pekalongan hingga Jakarta.
Mereka transit di Indramayu, di rumah orang tua Nadia atas permintaan Mamak karena Nadia menikah secara dadakan dengan Rasya - dosennya.
Sekitar pukul sembilan pagi, mereka sampai di rumah orang tua Nadia. Tetapi ia tidak melihat keberadaan sahabatnya tersebut. Sampai akhirnya baby Atar menangis kencang karena kegerahan, mungkin. Atau memang ia menginginkan ASI.
Tania membawa masuk putranya yang saat ini sedang menangis kencang ke dalam rumah. Karena ia tidak mungkin untuk menyusui baby Atar di depan umum meskipun ditutup dengan kain.
Sampai di dalam rumah, Tania mengetuk pintu kamar yang ia yakini sebagai kamar Nadia. Karena di depan kamar itu dihias berbeda dengan kamar yang lain.
"Nanad, buka pintunya dong. Aku mau numpang nenenin baby Atar nih sebentar. Kasihan, sudah enggak sabar dia," seru Tania.
Nadia pun membuka pintu. Perasaan Tania tambah dongkol melihat pasangan pengantin ternyata benar berada di dalam kamar. Padahal para tamu jauh-jauh datang untuk menjadi saksi dan memberikan do'a restu untuk pernikahan mereka. Eh, malah ditinggal mesra-mesraan di dalam kamar. Apa mereka pikir sebentar lagi dunia mau kiamat sehingga tidak bisa menunggu sampai nanti malam.
"Dasar pengantin enggak ada akhlak! Di luar tamu masih banyak kok ya sempat-sempatnya mesra-mesraan di dalam kamar," hardik Tania pada pasangan pengantin baru itu.
"Siapa yang mesra-mesraan? Kita juga udah mau keluar kok mau makan, iya kan, Pak?" elak Nadia menolak tuduhan Tania, mencoba meminta dukungan dari suaminya. Ia menarik tangan suaminya melangkah menghampiri meja makan.
"Udah jadi suami kok masih dipanggil pak, pak saja sih, Nad?" gumam Tania yang masuk ke dalam kamar diikuti oleh Edos di belakangnya. Ia membaringkan baby Atar di ranjang springbed, lalu berbaring miring untuk menyusuinya.
Edos menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Ia tidak mau ada seseorang yang memergoki istrinya yang sedang menyusui bayinya di dalam kamar. Ia menyusul Tania berbaring di samping baby Atar. Memandangi iri baby Atar yang dengan rakusnya menyedot ASI dari ibunya.
"Senangnya kamu dek bisa ***** sama bunda. Ayah malah udah dua bulan puasa," gumam Edos yang masih bisa didengar oleh telinga Tania. Seketika mata Tania melotot ke arahnya dan telapak tangannya mendarat sempurna di lengan Edos.
"Gitu amat sih, Bun. Udah maksa suami puasa, dikasih pelototan lagi. Terus ini kapal kenapa bisa sampai di lengan sih?" celetuk Edos. Kali ini bukan hanya pelototan, tetapi punggung jari telunjuk kanan Tania juga mendarat dengan sempurna di kening Edos.
"Tanganku kapalan juga karena suami enggak pengertian, enggak bantu pekerjaan rumah. Masa bantu nyuci bajunya dedek cuma sampai dua minggu doang. Cuma sampai luka jahitanku sembuh. Udah sembuh langsung ditinggal kerja," hardik Tania.
"Mau gimana lagi, Yank? Pekerjaan di pabrik lagi banyak-banyaknya. Ini aja ditinggal nganter kamu balik ke Jakarta enggak ada yang bantu Papa," keluh Edos. "Lagian kamu uang banyak buat apa sih? Kan bisa minta tolong sama tetangga buat nyuciin. Itung-itung ngasih rejeki pada orang yang tidak mampu kan," imbuhnya.
"Aku enggak enak, Yang kalau nyuruh orang lain nyuciin kotoran apalagi kotoran anak kita," ungka Tania.
"Kan cuma kotoran bayi, Yank. Enggak begitu baik kan," jelas Edos.
"Tetap saja enggak enak," ucap Tania.
Pukul satu siang Tania membawa anaknya keluar dari kamar karena tadi sempat tertidur. Edos dengan setia mengikuti istri dan anaknya tersebut kemanapun melangkah.
Pasangan pengantin kembali masuk ke dalam kamarnya untuk dirias berganti busana. Mereka selanjutnya duduk di pelaminan. Para tamu undangan dihibur oleh group tarling asal Cirebon yang disewa oleh Mamak. Acara berlangsung meskipun sederhana.
Menjelang Ashar Tania dan Edos ikut bergabung dengan rombongan pengiring pengantin pria pulang kembali ke Jakarta. Sementara pasangan pengantin masih tetap tinggal mungkin sampai satu minggu di Indramayu. Sampai di rumah orang tua Tania mereka disambut hangat oleh Dewi dan Ardi di teras rumahnya.
"Kok baru sampai, Sayang?" tanya Dewi sambil menyambut Baby Attar ke dalam gendongannya.
"Iya, Ma. Tadi mampir di rumah mamaknya Nanad lama, Nanad nikahan. Baby Attar pas di sana rewel, jadi kami pinjam kamar dan tertidur," jawab Tania sambil menyerahkan Baby Atar kepada Dewi.
Edos mencium kedua punggung tangan pasangan suami istri itu bergantian.
"Nanad nikahan? Kok Mama enggak dikasih tahu ya? Jadi nikah sama kakaknya Rayan yang dosen kamu itu?" cecar Dewi.
"Iya, Ma. Nanad nikah sama Pak Rasya. Mungkin acaranya sederhana dan terkesan tertutup, Ma. Jadi enggak mengundang banyak orang," jelas Tania.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kamu, Edos?" Tanya Ardi pada Edos menyela pembicaraan ibu dan anak tersebut.
"Alhamdulillah baik, Pa," sahut Edos. "Papa tidak ke kantor?" tanya Edos balik.
"Tidak, khusus hari ini Papa kerja setengah hari. Papa kan mau menyambut cucu Papa yang datang dari kampung," sahut Ardi tersenyum.
"Ayo masuk! Ngobrolnya di dalam saja jangan di teras. Atau nanti malam saja biar Tania dan Edos istirahat dulu," sela Dewi.
Mereka masuk ke dalam rumah.
"Tania, Edos, kalian istirahat saja. Biar Atar sama Mama," cetus Dewi saat mereka sampai di ruang tengah.
"Terima kasih, Ma. Di cooler bag sudah ada ASI kalau nanti Atar pengen ***** tinggal di rendam air hangat ya, Ma,
" sahut Tania.
"Iya, Sayang. Udah sana istirahat," ucap Dewi dengan gestur tangan mengusir Tania dan Edos.
Tania hendak beranjak dari ruangan itu, tetapi belum sempat ia melangkah kembali, ia ingat sesuatu.
"Oh iya, Ma. Acara tujuh bulanan kehamilannya Mbak Niken kapan ya?" tanya Niken.
"Besok pagi, Sayang. Kalian datang kan?" sahut Nurlita lalu bertanya balik.
"In sya Allah, Ma," sahut Tania.
Tania pun mengajak Edos ke kamar mereka yang ada di lantai bawah. Kamar Tania memang sudah dipindah ke lantai bawah sejak ia hamil tua. Edos langsung menutup dan mengunci pintu ketika mereka telah sampai di dalam kamar. Tania langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Edos masih berdiri menghadap ke arah istrinya itu.
"Yank, mau mandi sekarang atau nanti?" tanya Tania pada Edos.
"Iya kah? Belum pernah dengar," sahut Tania. "Ya udah kita istirahat saja. Sini!" lanjutnya menepuk tempat di sisinya agar Edos mendekat.
Edos meletakkan tas selempang yang sejak tadi menggelayut di tubuhnya ke atas nakas, lalu merebahkan tubuh lelahnya di samping sang istri. Edos memiringkan tubuhnya, mereka berbaring berhadap-hadapan. Tangan kirinya ia jadikan sebagai bantalan. Sementara tangan kanannya terulur membuka kerudung segiempat yang dipakai Tania tanpa melepas peniti bros yang menyatukannya. Pandangannya sayu mereka bertemu.
"Mau buka puasa sekarang, Yang?" tanya Tania tanpa kedip memandang iba kepada suaminya.
"Tidak, tubuhku capek sekali. Kamu juga pasti capek 'kan?" sahut Edos setelah mengecup singkat kening Istrinya.
"Besok kita datang ke acara tujuh bulanan Mbak Niken 'kan, Yank? Kalau kamu enggak siap sih tidak apa-apa kita tidak usah datang," tawar Tania.
"Tidak baik menyimpan dendam. Lagi pula Mbak Niken sudah begitu baik sama kita, tidak enak kalau tidak datang," sahut Edos.
"Tapi aku tidak mau bertemu sama laki-laki jahat itu," keluh Tania.
"Aku juga tidak mau melihat wajahnya, tapi tidak enak sama Papa Ardi dan Mbak Niken. Kita datang ke sana saja sebentar langsung pulang. Atar kita tinggal di rumah biar dijaga sama Siti. Kan jadi punya alasan untuk pulang cepat," cetus Edos.
"Lagian Atar masih terlalu kecil untuk dibawa ke acara yang melibatkan banyak orang, Yank. Kita memang harus ninggalin Atar di rumah," tutur Tania.
Mereka pun hanya berbincang-bincang hingga kantuk menyerang karena lelah, selebihnya keduanya terlelap tidur.
*****
__ADS_1
Sementara di rumah orang tua Niken sudah berkumpul sanak saudara karena besok paginya akan diadakan acara selamatan tujuh bulanan kehamilannya. Niken memutuskan mengadakan tasyakuran tujuh bulanan di rumah orang tuanya karena permintaan papa mamanya, di sana juga lebih banyak orang-orang yang akan membantu.
"Ibu mertua kamu belum datang ya, Niken?" tanya Zaida kepada putri semata wayangnya.
"Besok pagi katanya, Ma. Soalnya Tania dan Edos baru tiba dari kampung halamannya. Besok Mama Nurlita mau mengajak Tania dan Edos sekalian ke sini," tutur Niken.
"Oo ... suami Kamu nanti pulang ke sini 'kan?" tanya Zaida lagi.
"Iya, Ma. Tapi mungkin hari ini Mas Bram lembur sampai malam karena besok pagi kan harus ambil cuti," sahut Niken lagi.
"Tidak apa-apa, Mama melihat Bram itu suami yang bertanggung jawab," ucap Zaida.
Niken terdiam, 'maafkan Niken, Ma. Selama ini Niken tidak pernah cerita bagaimana perlakuan Mas Bram dulu terhadap Niken,' batinnya.
Trrrt ... trrrt ....
Ponsel yang dipegang Niken bergetar, di layar tampak Erika melakukan video call.
"Assalamu'alaikum. Halo, Erika. Apa kabar?" sapa Niken.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, Niken. Udah berdebar-debar nih. Mungkin nanti, besok atau lusa."
"Tumben videocall, ada apa?"
"Kangen lah. Oh iya, maaf besok aku enggak bisa datang ke acara tujuh bulanan kamu. Udah susah buat gerak nih. Malas mau keluar," keluh Erika di layar ponsel Niken.
"Tidak apa-apa kok, Niken. Pas kamu ngadain acara tujuh bulanan juga aku tidak bisa hadir. Kita impas," timpal Niken.
"Kan kamu waktu itu memang masih di Bandung, Niken. Aku bukannya dendam loh," sangkal Erika.
"Iya, tidak apa-apa. Aku tidak bilang kamu dendam kok. Aku cuma bercanda. Mendingan kamu istirahat buat persiapan lahiran," ucap Niken.
Tiba-tiba ada notif panggilan video dari Bram di ponsel Niken.
"Erika, maaf ya. Suamiku videocall. Aku angkat dulu ya," pamit Niken.
"Ya udah, sekalian aku pamit ya. Mau mandi udah sore. Bentar lagi Mas Rifki pasti pulang," pamit Erika.
"Assalamu'alaikum, Suamiku," sapa Niken ketika panggilan terhubung.
"Wa'alaikumussalam, Istriku. Lagi apa?"
"Lagi apa ya? Lagi kangen sama Mas Bram kayaknya. Mas video call ada apa?"
"Mas kangen juga, sekalian ada sesuatu yang mau Mas omongin."
"Apa itu, Mas?"
.
.
__ADS_1
.
TBC