2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Tidak Sengaja


__ADS_3

Suasana kelas terasa tenang, semua fokus mendengarkan ceramah sang Dosen yang tampan dan dingin itu, tak terkecuali Tania. Dosen tersebut seperti mempunyai kemampuan untuk menghipnotis mahasiswa yang diceramahinya hingga selesai.


"Tania, setelah ini kamu ke ruangan saya!" tukas Pak Rasya sebelum keluar dari ruangan setelah selesai memberikan materi kuliah.


"Baik, Pak!" jawab Tania.


Pak Rasya, dosen mata kuliah pengantar ilmu manajemen itu telah meninggalkan ruangan. Ada jeda waktu panjang sampai jadwal mata kuliah berikutnya, dikarenakan jadwal mata kuliah pertama yang seharusnya pukul 09.00 WIB dimajukan menjadi pukul 07.00 WIB.


Para mahasiswa memanfaatkan waktu yang panjang selama dua jam ini, ada yang pergi ke perpustakaan, ada yang duduk-duduk di kantin sambil menikmati jajanan kantin, ada juga yang pergi jalan-jalan ke luar lingkungan kampus, seperti ke Mall dan sebagainya.


Dua orang mahasiswi duduk di samping kiri dan kanan Tania. "Hai, Tania. Aku Nadia," ucap salah seorang mahasiswi mengulurkan tangan.


"Tania," ucap Tania menyambut uluran tangan mahasiswi tersebut.


"Prima," ucap mahasiswi di sebelahnya lagi mengulurkan tangan. Tania menyambut uluran tangan gadis tersebut seraya menyebutkan nama.


"Kamu ceweknya Mas Rayan ya?" tanya Nadia.


"Bukan, aku cuma temannya doank kok," sanggah Tania.


"Ikut kita ke kantin yuk, Tan!" ajak Prima pada Tania.


"Tapi, tadi aku disuruh Pak Rasya ke ruangannya," sahut Tania. "Ada yang tahu ruangannya, enggak?" tanya Tania pada Nadia dan Prima.


"Tahu lah, Tan. Ayo kita antar! Yuk, Nadia!" ajak Prima.


Mereka bangkit dari duduknya, melangkah keluar dari ruang kelas, menyusuri lorong dan dan menaiki anak tangga. Sampailah mereka di depan pintu sebuah ruangan. Tania melirik papan yang tergantung di atas pintu.


"Ruang Dekan?" ucap Tania pelan.


"Udah, Tan. Masuk saja, takutnya Pak Dekan ada acara. Karena tadi jadwalnya diajukan. Kita tunggu di sini," tutur Prima.


"Ya udah, aku masuk ya," pamit Tania. Dengan langkah ragu-ragu Tania mengetuk pintu, mengucap salam langsung masuk.


"Duduk!" perintah Rasya melirik sekilas perempuan yang baru saja masuk. Tania duduk di kursi yang ada di hadapan Pak Dosen tersebut.


"Saya tidak punya waktu banyak karena sebentar lagi ada meeting di perusahaan saya. Begini Tania, dua bulan lagi ujian semester. Ini tugas yang harus kamu buat untuk memenuhi nilai kamu yang tertinggal," tutur Pak Dosen menyodorkan selembar kertas pada Tania.


Tania mengambil kertas yang diberikan oleh Pak Rasya, membacanya sekilas.


"Kalau tidak ada yang perlu ditanyakan kamu boleh keluar," titah Pak Rasya.


"Ini dikumpulkan kapan, Pak?" tanya Tania.


"Paling lambat satu Minggu dari sekarang," jawab Pak Rasya.


"Sudah, itu saja, Pak."


"Kamu boleh keluar," ujar Pak Rasya.


"Terimakasih, Pak. Saya permisi," ucap Tania. Tania berdiri, mengangguk lalu melangkah pergi, saat Tania memegang gagang pintu,


"Tunggu!"


Tania berhenti melangkah, melepas gagang pintu dan menoleh kembali pada Pak Rasya.


"Iya, Pak?"


"Apa hubungan kamu dengan Rayan?" tanya Pak Rasya.


"Ehm.., cuma sebatas hubungan kerjasama, Pak," jawab Tania.


"Hubungan kerjasama?" tanya Rasya menautkan kedua alisnya heran.


"Iya, Pak, Kerjasama saling menguntungkan," sahut Tania lalu ia buru-buru pergi dari ruangan tersebut.


"Ayo!" ajak Tania pada Prima dan Nadia yang dengan setia menunggu mereka di luar ruangan.


Mereka kembali menyusuri koridor dan tangga untuk menuju ke kantin. Sampai di kantin mereka duduk di bangku yang kosong.


"Mau pesan apa, Tan?" tanya Nadia pada Tania.


"Ada bakso, enggak. Aku pengen makan bakso," jawab Tania.


"Aku bakso juga donk, Nad. Minumnya es jeruk peras," timpal Prima.


"Kamu mau minum apa, Tan?" tanya Nadia lagi.


"Sama punya Prima deh, Nad, es jeruk peras," sahut Tania.


"Tunggu di sini ya, aku pesankan," ujar Nadia. Ia meninggalkan Tania dan Prima.


"Prim, aku dapat tugas membuat makalah dari Pak Rasya, kamu punya contohnya enggak, aku kan belum tahu makalah itu kayak gimana?" ungkap Tania.

__ADS_1


"Tenang, nanti pasti kami bantu. Aku ada filenya, buku referensi bisa pinjam di perpustakaan," sahut Prima.


"Beneran, kamu punya file contohnya?" tanya Tania menegaskan.


"Beneran, Tania. Tapi kalau kamu mau yang instan kamu bisa pesan. Teman satu kelas kita ada kok yang nyambi kerja bikinin tugas-tugas dosen, nanti aku kenalin," ungkap Prima.


Tania dibuat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Prima. "Yang bener, Prim?" Tania masih belum percaya. "Tugas-tugas dari dosen dijadikan ladang bisnis?" imbuhnya.


"Jaman sekarang apa sih yang enggak, Tan? Iya aku percaya kamu cewek yang cerdas, yang mandiri, yang mau membuat tugas dengan hasil jerih payahmu sendiri. Tapi tugas yang harus kamu buat itu tidak hanya dari Pak Rasya doank, Tania. Tugas dari dosen-dosen lain juga pasti akan menyusul," ceramah Prima panjang lebar.


Tania masih berfikir, ia merasa takut sampai ketahuan sama dosen kalau tugas-tugasnya bukan hasil karyanya sendiri. Tetapi bagaimana ia bisa mengerjakan kalau semua dosen memberikan tugas yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.


"Ehmm.. iya, dech, Prim. Aku nurut kamu saja," pendirian Taniapun luluh. "Tapi mumpung dosen lain belum ngasih tugas, aku sih maunya tugas dari Pak Rasya kubuat sendiri," tutur Tania.


"Terserah kamu dech, kan kamu yang mau menjalani. Kamu bawa laptop?" tanya Prima.


"Aku belum punya laptop, Prim," jawab Tania.


"Terus bagaimana ngopi filenya?" tanya Prima bingung dengan sikap teman barunya tersebut.


"Di rumah, ada kok punya papaku, nanti aku pinjam. Kamu mau kan, nanti mampir ke rumahku?" tanya Tania.


"Oke, nanti ajak Nadia sekalian," sahut Prima.


Nadia menghampiri mereka dengan membawa pesanan, dibantu oleh pelayan kantin. Ia meletakkan tiga mangkok bakso beserta es jeruk di meja di depan Tania dan Prima. Mereka mulai menikmati apa yang mereka pesan.


"Nadia, Tania mau mengerjakan tugas dari Pak Rasya sendiri katanya. Dia minta bantuan ke kita," ungkap Prima pada Nadia.


"Bagus itu, habis ini kita ke Perpus. Kalau di Perpus buku yang kita cari kurang kita ke toko buku," timpal Nadia mendukung Tania.


Tania merogoh ponselnya, mengirim chat WhatsApp pada Rayan.


Anda


[Mas Rayan, Aku butuh laptop dan printer.]


Pesan langsung terbaca,


Mas Rayan


[Printernya mau dikirim ke kampus atau ke rumah? Laptopnya ditunggu paling tidak 1 jam, harus diinstal dulu soalnya.]


Anda


[Printernya ditaruh di rumah lah, Mas. Memang enggak ada laptop yang udah siap pakai?]


Mas Rayan


Anda


[Enggak ah, Terimakasih. Yang baru saja.]


Mas Rayan


[Oke, nunggu 1 jam enggak lama kok, Tan. 😀]


Anda


[😎😎😎]


Tania memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong tasnya. Ia kembali menikmati baksonya, dirasa kurang pas Tania menambah sambal.


"Sebagai salam persahabatan, aku akan traktir kalian," ucap Tania.


"Asik, seterusnya juga enggak apa-apa kok Tan," canda Prima.


"Boleh, asal kalian mau mengerjakan semua tugasku," Tania memberikan syarat.


"Aku bercanda kok, Tan," ucap Prima sambil mengacungkan dua jari, telunjuk dan tengah.


Setelah Tania membayar apa yang mereka makan, mereka pergi ke perpustakaan untuk mencari buku sebagai bahan referensi tugas membuat makalah untuk Tania.


💦💦💦💦💦


Genap satu minggu sudah Tania menjalani aktifitasnya sebagai mahasiswa. Padatnya kegiatan serta banyaknya tugas-tugas yang dibebankan kepadanya membuatnya lupa akan masalah yang telah terjadi, bahkan ia bisa menepis kerinduannya pada sang suami.


Hari ini Tania akan menghadiri acara pernikahan antara Rifki dan Erika, bertempat di kediaman mempelai putri, di rumah orangtua Erika. Acara resepsinya akan diadakan nanti siang jam 13.00 WIB bertempat di ballroom hotel Merysta.



Tania tidak memakai kebaya, karena sehabis menghadiri akad nikah rencananya ia akan langsung berangkat ke kampus. Ia berangkat ke tempat ijab qobul bersama papa dan mamanya juga. Tetapi mereka membawa mobil sendiri-sendiri, karena Ardi juga akan pergi ke kantor setelah akad nikah Rifki dan Erika selesai. Tania bersama Rayan, sementara Dewi dan Ardi dengan sopir pribadinya.


Sampai di rumah Erika, Tania langsung menuju ke kamar Erika. Mendapati Erika yang belum selesai dirias, dan Niken duduk di sampingnya di tepi ranjang.

__ADS_1


"Cantiknya, calon mempelai wanita. Aku jadi pengen nikah lagi dech," celetuk Tania berjongkok di depan Erika.


"Hus, kalau ngomong jangan sembarangan kamu, Tania!" sergah Niken menanggapi ucapan adik iparnya yang menurutnya ngawur.


Erika menjadi ikut tertawa. "Aduh, bakal rusak ini riasanku," keluhnya sambil melihat wajahnya di sebuah kaca kecil yang dipegangnya.


"Maksudnya, aku pengen dirias kayak Mbak Erika lho, Mbak Niken," Tania mengoreksi ucapannya sendiri. "Dulu waktu nikah kan aku enggak pakai tukang rias atau apa istilahnya sekarang, Mbak?" tanyanya.


"MUA atau make-up artist," sahut Erika.


"Iya itu, kalau di tempatku namanya Dukun Manten, Mbak," Tania membenarkan ucapan Erika.


"Dukun Manten? Pengantin ada dukunnya juga?" tanya Erika tertawa.


"Iya ada, Mbak. Pakai jampi-jampi juga, pakai luluran tiap hari selama satu bulan penuh sebelumnya, pakai puasa mutih. Biar pas malam pertama terkesan sempurna. kalau aku sih cuma dandan sendiri dibantu Bibi Rosi," ungkap Tania.


"Jangan sedih gitu donk, Tan. Nanti kalau Edos pulang minta diadakan resepsi yang mewah. Masa anak konglomerat cuma terima nikah sederhana doank," tutur Niken.


Niken berniat menghibur Tania dengan ucapannya tersebut. Namun Tania menanggapinya lain, ia malah jadi teringat dengan Edos, suami yang hampir sebulan ini jauh dari pandangannya.


Yank, aku kangen kamu, kapan kamu pulang menjemputku? batin Tania.


Acara ijab qobul akan segera dimulai, mempelai wanita diminta untuk keluar. Tania dan Niken menggandeng tangan Erika melangkah ke luar dari kamar dan duduk di samping mempelai pria yang sedang duduk di karpet dengan grogi sejak tadi.


Sedang Tania dan Niken duduk berdampingan tidak jauh di belakang kedua mempelai tersebut. Jantung Tania berdetak lebih kencang manakala pandangannya bertemu dengan kakak tirinya yang duduk tidak jauh di hadapannya. Tania berusaha menepisnya dan segera membuang pandangannya ke arah lain.


"Kamu kenapa, Tan?" tanya Niken yang heran dengan perubahan sikap adik iparnya.


"Suami Mbak Niken tuh, memandangi Tania terus," sahut Tania.


Niken memandang ke depan, dan benar saja Bram saat ini sedang memandang ke arahnya dan Tania.


"Mbak Niken, pelet saja tuh suami Mbak. Biar klepek-klepek sama Mbak Niken," celoteh Tania.


"Kamu ini ada-ada aja, Tania. Dosa, Tan, lagian yang gitu-gituan tuh enggak bisa langgeng," protes Niken.


"Daripada matanya jelalatan sama cewek lain," timpal Tania.


"Dia itu mau minta maaf sama kamu," tutur Niken.


"Aku enggak mau ketemu dia lagi, waktu itu dia mendekatiku ngaku-ngaku sebagai kakak tiriku, tapi nyatanya apa? Dia menusukku, sakit, Mbak. Aku enggak mau tertipu lagi," ungkap Tania dengan mata berkaca-kaca.


"Jadi setelah kejadian itu, kalian belum pernah bertemu?" tanya Niken.


Tania menggeleng.


Sebelum acara dimulai, Pak Penghulu menanyakan tentang kelengkapan pernikahan dan Uborampenya.


"Calon mempelai pria, Mas Rifki Fadhil bin Harun Ar-Rasyid, saat mengucap ijab qobul mau pakai Bahasa Indonesia atau Bahasa Arab?" tanya Pak Penghulu.


"Saya pakai bahasa Indonesia saja, Pak," jawab Rifki.


"Calon mempelai wanita, Erika binti Afif Zimamudin, apakah wali nikahnya ayah kandung sendiri? Mana wali nikahnya?" tanya bapak penghulu lagi.


"Saya ayah kandungnya Erika, Pak," sahut Pak Afif yang duduk tidak jauh dari Pak Penghulu.


"Sini mendekat, Pak," pinta Pak penghulu. Pak Afif duduk di sampingnya berhadapan dengan Rifki yang terhalang meja kecil.


"Walaupun di sini saksinya banyak, namun yang saya tulis hanya dua orang, jangan ngiri ya Bapak-Ibu!" ucap Pak Penghulu lagi.


"Tidak, Pak," jawab para tamu kompak.


"Saya nganan saja, Pak," celetuk salah seorang dari mereka, membuat semua orang yang hadir pun tertawa.


"Mas kawinnya sudah ada? 1 set perhiasan emas 24 karat dengan total berat 25 gram," ucap Pak Penghulu menjawab pertanyaannya sendiri setelah melihat 1 set perhiasan yang dibuat parsel teronggok di meja kecil di depannya.


Setelah semuanya lengkap, Pak Penghulu meminta pembawa acara untuk memulai acara. Pembawa acara segera membawakan acara ijab qobul. Acara diawali dengan pembacaan Ummul kitab, dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.


Acara berjalan dengan lancar sesuai yang diinginkan hingga Rifki berhasil mengucapkan kalimat qobul dengan sekali tarikan nafas, dan semua pengunjung mengucapkan kata "SAH" dengan kompak, acara dilanjutkan dengan do'a oleh Pak ustadz setempat.


Saat pambacaan do'a sedang berlangsung, Tania merasakan kepalanya sangat pusing. Ia bangkit dari duduknya bermaksud akan masuk ke kamar Erika untuk merebahkan tubuhnya di sana. Namun belum sampai tujuannya, tubuh Tania sudah ambruk menimpa seseorang.


"Aduh, siapa ini?" teriak orang tersebut.


.


.


.


TBC


Terimakasih yang udah setia menunggu cerita dariku.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak like dan komen y.


Upgrade NT/MT terbaru ya biar bisa vote karyaku. Terimakasih banyak atas dukungan kalian.😘😘😘


__ADS_2