
Malam masih merangkak menuju pagi, suara jangkrik masih terdengar nyaring di antara hening. Di saat orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, beberapa orang sedang mondar-mandir gelisah di depan ruang UGD sebuah rumah sakit menunggu dokter keluar dari sana.
Seper sekian puluh menit kemudian dokter pun keluar dari ruangan. Rifki, Niken dan Bram menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Niken.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya shock dan kelelahan, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap," jawab dokter yang langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
Suara roda dorongan dan langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari dalam ruang UGD. Mereka bertiga pun mengikuti ke mana arah para perawat membawa Tania yang terbaring di atas brangkar. Mereka berhenti di depan ruang rawat inap Tania.
"Sebaiknya Mas Bram pulang dulu, istirahat. Biar aku dan Rifki yang menjaga Tania di sini, besok pagi baru kabari Mama Dewi. Tapi jangan sampai Edos tahu," tutur Niken.
"Tapi sepertinya kamu lelah," terka Bram.
"Aku memang lelah, Mas. Tapi siapa yang akan menjaga Tania kalau aku pulang? aku bisa tidur di dalam kok," ucap Niken agar Bram segera pergi. "Oh iya, nanti siang jangan lupa periksa CCTV dapur restoran dan hotel, aku masuk dulu, kamu tunggu di sini, Rifki," titah Niken.
Rifki memandang heran perubahan sikap Niken. Niken yang kalem dan imut, kenapa bisa berubah garang dalam sekejap gini sih? batinnya.
Niken pun melangkah memasuki ruang rawat inap Tania. Merebahkan tubuhnya di sofa, matanya rasanya mengantuk sekali, tetapi ia tidak dapat tidur. Sementara Rifki berbaring di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.
Pagi perlahan mulai menjelang, kesibukan penghuni rumah sakit mulai menyapa. Hilir mudik roda-roda dan langkah kaki semakin pekat di telinga.
Tania mulai membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya. Ruangan yang bernuansa putih. Mendapatkan sesosok perempuan yang tergolek di sofa. Peristiwa tadi malam kembali melintas dalam benaknya. Ia kembali terisak.
"Tidak.., Jangan.. !" Tania berteriak sekencang yang ia bisa. Kata-kata tersebut berulangkali terucap dari bibirnya.
Niken terbangun karena mendengar Tania berteriak-teriak. Ia langsung bangkit menghampiri dan memeluk Tania yang meringkuk ketakutan.
"Tania, jangan takut ada Mbak Niken di sini!" bujuk Niken mengelus-elus punggung, mencoba menenangkan Tania.
"Mbak Niken, maafin Tania. Sita.., Sita Mbak, Sita yang kasih minuman itu ke Tania,"ucap Tania terbata-bata.
"Siapa Sita?" tanya Niken penasaran.
"Dia rekan kerjaku di Ardimart, tapi kami tidak begitu akrab, dia cuma akrab dengan Rina," jawab Tania.
Niken melepas pelukannya terhadap Tania, ia mengambil clutch yang ia bawa dari semalam, mengambil ponsel yang ada di dalam clutch tersebut. Ia menghubungi Erika.
"Ada apa sih, Niken? Pagi-pagi udah ganggu orang," gerutu Erika menanggapi panggilan Niken.
"Kamu cepat ke Rumah Sakit Harapan Jayakarta ruang Flamboyan 1!" tukas Erika.
"Aku mau berangkat kerja lah, Niken. Gimana sih?" gerutu Erika lagi.
"Aku kasih kamu cuti hari ini," ucap Niken berlagak jadi bos
"Ya enggak bisa gitu donk, masa cuti dadakan?" sanggah Erika.
"Kamu lupa kalau aku ini istri pemilik perusahaan tempatmu bekerja?" bentak Niken.
"Mentang-mentang jadi istri CEO, jadi semena-mena kamu, Niken," Hardik Erika.
"Cepat sini! atau, kamu mau dipecat?" Niken memberi penawaran.
"Sadis," dengus Erika.
"Tidak ada bantahan, Ya!" tukas Niken sekali lagi.
Entah mengapa sekarang Niken berubah menjadi pribadi yang garang. Ia kembali mendekati Tania dan duduk di kursi di samping brangkar.
Tiga puluh menit kemudian, Erika telah sampai di depan ruangan tempat Tania dirawat. Ia mendapati Kekasihnya yang tidur meringkuk di kursi tunggu.
"Mas Rifki," panggilnya menepuk-nepuk punggung lelaki tersebut.
Rifki membuka matanya yang nampak merah karena kurang tidur. Sejenak pandangannya kosong karena ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Ay, kamu sudah di sini?" tanya Rifki memandang Erika.
"Mas pulang sana, tidur di rumah! Di sini sudah banyak orang lalu lalang," suruh Erika.
"Iya bentar, Mas temui Tania dulu," sahut Rifki.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, Rifki baru menyadari kalau Tania sudah sadar, tetapi ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Lalu keluar dan duduk di sofa di samping Erika.
"Kalian kenal Sita?" Tanya Niken menoleh pada pasangan kekasih yang duduk bersanding tersebut.
"Kenal, ada apa?" jawab Rifki kemudian bertanya dengan singkat. Erika juga menatap temannya dengan antusias.
"Dia yang kasih jus buah lakn*t itu ke Tania," jawab Niken.
__ADS_1
"Sita itu karyawan Ardimart di tempatku dan Tania bekerja, dia sangat akrab dengan Rina. Waktu itu aku juga pernah memergoki mereka sedang bergunjing tentang Tania," tutur Erika.
Tania masih menjadi pendengar yang baik, ia masih malas untuk berbicara.
"Atau jangan-jangan Snack berdenda waktu itu juga ulah mereka?" tebak Rifki.
"Snack berdenda?" tanya Niken.
"Iya, Niken. Waktu itu Pak Lucky menemukan barang-barang yang seharusnya sudah dipajang di rak penjualan sebulan sebelumnya, karena itu bagian Tania dan kawan-kawan, maka Tania disuruh membayar. Tapi Tania baru membawanya ke rumah separo, yang separo di sisihkan di gudang. Besok pagi nya saat barang tersebut mau diambil lagi sudah enggak ada," papar Erika.
Niken langsung menghubungi suaminya.
"Ada apa, Niken?" tanya Bram dengan suara serak.
"Mas baru bangun, ya? Enggak kerja?" tanya Niken.
"Kamu lupa kalau ini hari Minggu?" Bram balik bertanya.
"Oh iya," sahut Niken.
"Ada apa?" tanya Bram.
"Apa CCTV Ardimart terhubung ke ponsel atau laptop Mas Bram?" tanya Niken balik.
"Iya, terhubung ke ponselku juga laptop. Kenapa?" jawab Bram.
"Erika bilang, ada yang ngerjain Tania di Ardimart dua Minggu yang lalu," tutur Niken. "Tolong nanti diperiksa ya, Mas. Oh iya, Tania bilang yang ngasih jus ke dia tadi malam namanya Sita, teman kerjanya di Ardimart juga," imbuhnya.
"Iya, nanti kuperiksa. Tania sudah siuman?" tanya Bram kemudian.
"Tania udah siuman. Udah ya, Mas. Aku mau pulang dulu," pamit Niken.
"Lho, yang jagain Tania siapa kalau kamu pulang?" tanya Bram.
"Sudah ada Erika di sini. Bentar lagi Mama juga akan sampai. Ingat, Edos, Pakde dan Bude jangan sampai tahu!" tukas Tania. "Assalamu'alaikum," Niken langsung menutup telponnya.
"Wa'alaikumussalam, Sayang," jawab Bram lirih.
Rifki mendekat ke arah Tania yang merenung. "Mas Rifki mau pulang, kamu mau dibawakan apa nanti, Tania?" tanyanya.
Tania menoleh ke arah Rifki. "Tolong ambilkan ponsel ku di Loker hotel, Mas. Bawakan baju ganti untukku juga," pintanya.
Tania hanya menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Rifki mengalihkan pandangannya ke arah Niken. Niken membuka clutch nya mengeluarkan sebuah kunci dan name tag milik Tania dan menyerahkan kepada Rifki.
"Ini Rif, sekalian nanti ambilkan honor Tania!" perintah Niken. "Aku ikut bonceng kamu ke rumah Papa Ardi, mobilku masih tertinggal di sana," imbuhnya.
"Aduh, tertunda lagi tidurku," ucap Rifki menepok keningnya.
"Hemmh!" ucap Niken melotot ke arahnya dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Iya iya, Bu Presdir," ucap Rifki menangkupkan kedua telapak tangannya.
Setelah berpamitan dengan Tania, Rifki dan Niken meninggalkan rumah sakit. Rifki mengantarkan Niken terlebih dahulu ke rumah mertua Niken.
Sesampai di halaman rumah keluarga Ardiansyah, Niken bertemu dengan Juragan Burhan dan Nurlita yang telah siap mengantar Edos untuk kontrol ke rumah sakit.
"Niken, Baru pulang?" tanya Nurlita sekedar menyapa.
"Eh iya, Bude. Kalian mau ke mana?" jawab dan tanya Niken.
"Kami mau mengantar Edos kontrol ke rumah sakit. Kamu diantar siapa itu? Bukankan itu Rifki, kenapa tidak sama Nak Bram?"
Pertanyaan Nurlita yang beruntun membuat Niken bingung menjawabnya. Bagaimana caranya agar ia tidak sampai keceplosan tentang keadaan Tania.
"Tadi kami kebetulan ketemu di Hotel Bude," jawab Niken, Mudah-mudahan Nurlita tidak sampai menanyakan tentang Tania. Untungnya Rifki langsung pergi setelah mengantarkan Niken.
"Niken ke kamar dulu ya, Bude," pamit Niken.
"Silahkan Niken, Bude juga udah mau berangkat," jawab Nurlita.
Niken memandangi kepergian Nurlita, Juragan Burhan dan Edos masuk ke dalam mobil. Mereka tinggal menunggu Aris sebagai pengemudi mobil tersebut.
Niken melangkah menaiki tangga menuju ke lantai 2, ke kamar milik Bram. Rasanya badannya lengket, ia memutuskan untuk mandi sekalian. Selesai mandi ia mengenakan bathrobe. Niken keluar dari kamar mandi, melangkah menuju ke ranjang, menghempaskan tubuhnya di ranjang tersebut.
"Hemmm, nyamannya," ucap Niken.
Tak butuh waktu lama, Niken pun terlelap.
πΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Di dalam ruangan Poly Ortopedi Rumah Sakit Harapan Jayakarta. Dokter Heru nampak sedang memeriksa kaki dan punggung Edos yang berbaring di brangkar.
Dokter Heru kembali duduk di kursinya berhadapan dengan orang tua Edos. Ia nampak mengamati dengan seksama hasil rekam medis dah hasil Rontgen dan CT-scan. Kemudian menuliskan sesuatu di catatan hasil rekam medis.
"Kira-kira langkah apa yang harus kami lakukan supaya anak saya bisa segera berjalan seperti sebelumnya, dok?" tanya juragan Burhan.
"Untuk kasus seperti anak anda sepertinya fisioterapi sudah tidak mempan, karena memerlukan waktu yang lama." ungkap dokter Heru.
"Lalu bagaimana, dok?" tanya Burhan Lagi.
Nurlita membantu Edos untuk duduk di kursi roda.
"Kita bisa mencoba tindakan operasi, saya menyarankan supaya anak anda dioperasi di Singapura, karena peralatan di sana sangat canggih. Banyak pasien yang berhasil dan sembuh total setelah berobat di sana. Kalau Bapak setuju, saja akan buatkan surat rekomendasi dan rujukan ke sana. Saja juga yang akan ikut mendampingi anak anda saat berada di sana," papar dokter Heru.
"Kira-kira kapan bisa segera dilakukan operasi, dokter?" tanya Nurlita.
"Besok lusa sudah bisa dilakukan, persiapkan saja dahulu keberangkatan ke Singapura," ujar dokter Heru.
"Baik, dok. Kami setuju, apapun akan saya lakukan, yang penting anak saya bisa berjalan kembali," tutur Juragan Burhan menyanggupi.
"Kalau Bapak dan Ibu setuju, kita bisa persiapkan keberangkatannya nanti malam. Apa masih ada yang perlu ditanyakan?" tanya dokter Heru kemudian.
"Sepertinya untuk sementara sudah cukup, dok. Terimakasih atas bantuan anda. Kami permisi," tutur Juragan Burhan.
"Sama-sama, Pak, Bu dan Azhar, semoga lekas sembuh ya," tutur dokter Heru.
Edos, Juragan Burhan dan Nurlita keluar dari ruang praktek dokter Heru, saat sampai di area parkir Nurlita melihat Bu Retno sedang berjalan kaki menuju ke dalam rumah sakit.
"Pa, tadi mama seperti melihat Bu Retno masuk ke dalam rumah sakit, siapa yang sakit ya?" pikir Bu Retno saat sudah di dalam mobil.
""Mungkin saudaranya, Ma," jawab Burhan menerka-nerka.
"Kita mau kemana lagi ini, Pak?" tanya Aris.
"Ke rumah Bu Retno, Aris. Ada barang yang mau saya ambil di sana, sebelum kita ke Singapura," tutur Edos.
"Oke, eh tapi Bu Retno tadi kata ibu masuk ke dalam," sahut Aris.
"Aku tahu kok, tempat mereka meletakkan kunci rumah," timpal Edos tersenyum.
Mobil yang Aris kemudikan melaju meninggalkan rumah sakit. Matahari mulai tergelincir ke arah barat. Teriknya begitu menyengat terasa di kulit.
Sementara di dalam ruangan Flamboyan 1, tempat Tania di rawat. Bu Retno sedang membujuk Tania untuk makan.
"Ayo buka mulutmu, Nak! Dari tadi pagi perutmu belum kemasukan sesuap nasipun," Bujuk Bu Retno
Tania hanya menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak mau makan, Bu. Edos saja tidak mau menjengukku, pasti dia jijik melihatku, aku sudah kotor, aku ini wanita kotor, hiks hiks hiks..," jawab Tania kembali dengan terisak.
"Mungkin dia belum tahu keadaan kamu, Nak. Atau mungkin tidak ada yang mengantarnya kemari. Ayolah nak, makanlah walau sedikit saja. Nanti kamu bisa sakit," bujuk Bu Retno lagi.
"Biar aku sakit, Bu. Biar aku mati sekalian. Orang yang selama ini mencintaiku, orang yang selama ini mendukungku, orang yang selama ini menjadi penyemangat hidupku, di ia tidak ada di sampingku disaat aku sakit dan terpuruk, untuk apa lagi aku hidup, aku sudah tidak kuat lagi menjalani semua ini, Bu. Aku menyerah," ucap Tania pasrah.
"Jangan ngomong seperti itu, Nak. Kami semua menyayangimu. Jangan pernah merasa sendiri di dunia ini. Tuhan masih menyayangimu, Nak. Sebab itulah Dia memberi cobaan padamu. Tuhan pasti tidak akan memberi cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuannya."
Dewi yang sedari tadi duduk di sofa, tidak mampu berucap apa-apa, sejak awal dia memang sudah ditolak oleh Tania. Ia tidak dapat menahan tangisnya mendengar kata-kata yang diucapkan oleh putri sulungnya. Iapun berlari keluar dari ruangan dengan cepat menuju ke taman, menumpahkan seluruh air matanya di sana.
Flashback on
Syarifudin, suaminya Dewi yang pertama, ayahnya Tania, dulu adalah seorang pengusaha sekaligus pengrajin tempe yang sukses di Jakarta. Sebagian besar penjual tempe menjual tempe hasil buatannya.
Dari hasil itu Syarif bisa membangun rumah mewah dan membeli mobil, serta memiliki beberapa kontrakan.
Suatu saat pabriknya mengalami kebakaran. Ia harus menjual satu persatu kekayaan yang dimilikinya untuk menutup modal, tetapi tetap saja usahanya tidak membuahkan hasil hingga mengalami gulung tikar dan harta bendanya ludes tak tersisa.
Syarif memutuskan kembali ke kampung halaman tinggal di rumah peninggalan orang tuanya dan menjalani hidupnya sebagai petani. Namun penghasilan yang didapat tidak dapat menutupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Perhiasan simpanan Dewi saat menjadi orang kaya pun habis terjual.
Saat itu Tania belum lahir.
.
.
.
TBC
Terimakasih udah baca, like n komen
__ADS_1
πππ