2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Bertemu Majikan


__ADS_3

Masih Flashback


Syarif memutuskan kembali ke kampung halaman tinggal di rumah peninggalan orang tuanya dan menjalani hidupnya sebagai petani. Namun penghasilan yang didapat tidak dapat menutupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Perhiasan simpanan Dewi saat menjadi orang kaya pun habis terjual.


Saat itu Tania belum lahir, hingga Dewi ternyata hamil anak pertama. Namun semakin hari kehidupan ekonomi dan keluarga mereka menurun drastis. Setiap hari Syarif pergi memancing, pulang hingga sore hari dan terkadang sampai larut malam tanpa membawa hasil apa-apa.


Orang tua Dewi, Juragan Thohir pernah menawarkan bantuan usaha bahkan ditolaknya, ego Syarif terlalu tinggi. Syarif juga sepertinya trahuma untuk menjalankan usaha kembali. Sikapnya juga berubah acuh terhadap istrinya. Setiap hari Dewi harus berhutang di warung untuk memenuhi kebutuhan makan.


Bagaimana keadaan Dewi saat itu, tubuhnya semakin ceking karena kurang asupan makanan bergizi dengan perut mendelus seperti orang cacingan. Bahkan jika orang tidak tahu kalau dia hamil, dia tidak kelihatan hamil. Dewi terus berfikir, apa yang bisa dilakukan oleh orang hamil di kampung untuk menghasilkan uang.


Orang lain bahkan berfikir, mana dia mau bekerja sebagai buruh tandur dan matun? Dia kan pernah jadi orang kaya. Padahal Dewi tidak demikian, dia mau bekerja apa saja yang penting halal dan menghasilkan uang.


Satu-satunya pekerjaan yang bisa Dewi kerjakan saat itu hanyalah menjahit mote, kebetulan tetangganya juga banyak yang melakukan pekerjaan tersebut.


Menjahit atau memasang mote dihitung per baju atau gamis, dengan tarif ada yang 250 rupiah hingga 500 rupiah tergantung besar kecil dan tingkat kesulitan motif gamis yang dipasang mote tersebut.


Dalam sehari sampai malam, Dewi hanya bisa mengerjakan paling banyak 5 gamis saja, jadi bisa ditebak berapa uang yang bisa didapat setiap harinya. Itu semua terpaksa Dewi lakukan, karena hanya pekerjaan tersebutlah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan, daripada tidak menghasilkan uang sama sekali.


"Cepat lahir ya, Nak. Biar Bunda bisa cari pekerjaan yang lebih baik, biar bunda bisa membelikan kamu makanan yang enak dan bisa menabung untuk biaya sekolah kamu kelak," ucap Dewi suatu ketika sambil mengelus-elus perutnya.


Tidak ada acara syukuran empat bulan ataupun tujuh bulan kehamilannya. Bahkan sampai Kelahiran bayinyapun, tidak ada acara Aqiqah untuknya. Dewi melahirkan di rumah dengan bantuan dua orang bidan. Peraturan saat itu bidan harus didampingi oleh seorang rekannya saat membantu orang melahirkan.


Bayi tersebut diberi nama Tania Sari Dewi. Kata Dewi diambil dari ibunya, Merysta Dewi.


Tania lahir dengan keterbatasan materi. Saat hujan datang bahkan ia kehabisan popok untuk ganti, akhirnya baju-baju ibunya jadi baju oversize baginya. Antingnya terbuat dari benang yang diikat di lubang tindikan, Dewi tidak mampu membelikan anting emas untuknya yang menandakan bahwa ia adalah anak perempuan.


Kira-kira satu bulan setelah kelahiran Tania, seorang teman sekampungnya dulu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta datang menjenguknya. Namanya Kartinah, panggilannya Tinah.


"Wi, teman majikanku butuh tambahan pembantu rumah tangga, apa kamu berminat?" tanya Tinah pada Dewi.


"Gimana ya, apa boleh kerja sambil bawa anak?" Dewi menjawab pertanyaan Tinah dengan pertanyaan pula.


"Pasti boleh, teman majikanku itu orangnya baik kok. Tapi apa kamu tega, membawa anak kamu yang masih merah begitu dalam perjalanan jauh ke Jakarta?" tanya Tinah lagi.


Dewi diam berfikir.


"Pikirkan baik-baik, Wi. Tapi jangan lama-lama, karena besok malam pukul tujuh aku sudah harus kembali ke Jakarta ikut rombongan mobil travel," tukas Tinah.


Dewi masih diam berfikir.


"Kesempatan tidak datang dua kali, Wi. Kalau kamu berminat, aku tunggu kamu sampai besok sore, aku pamit dulu, ya. Jangan lama-lama mikirnya," timpal Tinah lagi.


"Makasih ya, Tinah. Udah mau mengunjungiku. Aku akan memikirkan tawaranmu," sahut Dewi.


Dewi mengantar Tinah sampai ke depan pintu.


"Ia, tapi jangan lama-lama, ya!" ucap Tina sekali lagi sambil melangkah menjauhi tempat tinggal Dewi.


Setelah kepergian Tinah, perasaan Dewi menjadi gelisah, ia terus memikirkan tawaran tersebut. Di satu sisi ia sangat senang mendapatkan kesempatan untuk bekerja, di sisi lain ia sangat berat untuk meninggalkan Tania.


Semalaman ia tidak dapat tidur memikirkan tawaran Tinah. Mendapatkan pekerjaan adalah impiannya setelah melahirkan. Tetapi ia tidak menyangka jika harus berpisah dengan anak tercintanya.


Hidup memang harus memilih, setelah membaca, mengingat dan menimbang, akhirnya Dewi memutuskan. Pagi hari ia meminta Rosiana datang ke rumah. Rosiana adalah istri dari Hisyam, Hisyam adiknya Syarif. Mereka sudah satu tahun menikah tetapi belum dikarunia momongan.


"Rosi, Mbak titip Tania ya. Tolong rawat dia seperti anak kamu sendiri, Tinggallah di rumah ini, ini rumah Hisyam juga. Mbak harus bekerja, ini ada sedikit uang untuk membeli susu, buat Tania," tutur Dewi pada Rosi sambil menyerahkan amplop pemberian Tinah di ruang tengah.


"Mbak Dewi mau kerja dimana?" tanya Rosi.


"Teman di kampung Mbak dulu menawari Mbak pekerjaan, katanya teman majikannya butuh pembantu rumah tangga di Jakarta," jawab Dewi.


"Iya, Mbak. Mbak tenang saja, aku akan merawat Tania, Mbak Dewi bekerjalah yang tekun," ucap Rosi begitu menenangkan hati Dewi.


"Terimakasih ya, Rosi. Mbak merasa agak tenang meninggalkan Tania," ucap Dewi.


"Ia, Mbak. Jangan sungkan begitu. Kapan Mbak berangkat?" tanya Rosi.


"Nanti sore jam 5 Mbak ke rumah Tinah teman Mbak. Berangkat ke Jakarta nya nanti malam jam 7 dengan mobil rombongan travel," jawab Dewi.


"Ya udah, siniin Tanianya biar aku gendong, Mbak berkemas-kemas saja, yang mau dibawa dipersiapkan dulu," tutur Rosi.


Dewi berkemas-kemas, ia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Setelah puas menyusui Tania, ia berpamitan pada Rosiana.


"Baik-baik dengan Bibi Rosi ya, Nak. Jangan rewel, Bunda mau kerja dulu. Suatu saat ibu akan jemput kamu," ucap Dewi berkali-kali menciumi pipi dan puncak kepala Tania.


Dewi berjalan kaki keluar dari kampung. Tujuannya adalah ke rumah Tinah, rumah Tinah tidak jauh dari rumah orang tua Dewi, Juragan Thohir.


Saat ia berada di jalan yang di sisi kiri dan kanan jalan adalah area persawahan, Dewi berjumpa dengan Nurlita yang saat itu menggendong Edos kecil yang masih berusia kira-kira 5 bulan. Sepertinya dia baru saja pulang dari Wartel untuk menelpon Burhan, karena kabarnya Burhan sedang studi banding ke Negara Jepang.


Dewi tidak menyapa kakak iparnya, karena hubungan keluarga mereka waktu itu masih renggang gara-gara Juragan Thohir yang membuang cucu pertamanya, Abizar ke panti asuhan.


Tepat azan Maghrib menggema ketika Dewi sampai di depan rumah Kartinah. Dewi langsung dipersilahkan masuk ke dalam rumah oleh Tinah.


"Mobilnya nanti datang jam tujuh, kamu bisa sholat dulu setelah itu makan," ujar Tinah pada Dewi.

__ADS_1


"Aku belum sholat, Tinah. Nifasku belum selesai, masih ada flek," sahut Dewi.


"Oo..," Tina ber-o ria. "Kamu pamit pada suamimu?" tanyanya kemudian.


"Sudah tiga hari Mas Syarif tidak pulang ke rumah," tutur Dewi sedih.


"Kenapa kamu tidak menggugat cerai dia saja," cetus Tinah.


"Aku masih menaruh harapan, kelak dia bisa berubah seperti dulu," sahut Dewi dengan pandangan kosong.


"Kamu enggak pamit sama bapakmu juga?" tanya Tina lagi.


"Enggak ah, nanti diceramahi panjang lebar malah enggak jadi berangkat," jawab Dewi.


"Eh, siapa tahu malah diberi uang saku," terka Tinah.


"Enggak," tegas Dewi.


Pukul 19.27 WIB mobil yang mereka tunggu tiba di depan rumah orang tua Tinah. Mobil minibus yang cukup untuk memuat 14 orang tersebut hanya diisi 8 orang. Mobil pun melaju meninggalkan kampung melewati jalan Pantura. Dewi duduk bersebelahan dengan Tinah.


"Tuan Ardi, calon majikanmu itu seorang duda beranak satu. Anaknya laki-laki berumur 9 tahun," tutur Tinah saat di dalam perjalanan.


"Oo, jadi calon majikanku seorang pria?" Dewi menyimpulkan ucapan Tinah. "Duda cerai atau mati?" tanyanya.


"Istrinya meninggal beberapa waktu lalu," jawab Tinah. "Mereka berteman akrab dengan majikanku," imbuhnya.


Tiba-tiba Dewi merasakan dadanya sakit dan bengkak. Ternyata ASI-nya sudah merembes hingga ke baju luar yang ia pakai.


"Ini gimana, Tinah?" tanya Dewi panik.


"Kamu enggak bawa pompa ASI?" tanya Tinah.


"Mana aku punya," jawab Dewi.


"Pak Sopir, tolong kalau ada apotik di pinggir jalan, mampir sebentar ya!" seru Tinah pada sang sopir.


"Iya, Mbak," sahut sopir.


"Tapi aku nggak punya uang buat beli, Tinah," ucap Dewi khawatir.


"Udah tenang saja, ini kalau enggak dipompa bisa mengeras atau mengapur, kalau dibiarkan bisa jadi benjolan, trus jadi kanker payudara. Aku pernah dengar di radio kayak gitu, Wi," tutur Tinah.


Dewi yang mendengarnya bergidik ngeri.


Di dalam apotek tersebut, Dewi sekalian menumpang ke toilet. Dewi kembali menangis saat dia memerah ASI di dalam Toilet. Harusnya ASI tersebut diminum oleh Tania, malah ia buang dengan percuma.


Mobil segera melaju kembali saat Dewi masuk kembali ke dalam mobil. Sebagian penumpang telah terlelap menikmati perjalanan panjang mereka.


Kira-kira pukul dua belas malam, mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah majikan Tinah.


"Eh Tinah, udah sampai. Jam berapa berangkat dari Pekalongan?" tanya Sukri saat membukakan pintu gerbang. Sukri adalah Satpam di rumah majikan Tinah.


"Tadi sore sekitar jam setengah delapan, Bang," jawab Tinah.


"Setengah delapan kok sore," gerutu Sukri yang masih didengar Dewi dan Tinah sambil menutup pintu gerbang kembali.


Bi Sumi teman kerja Tinah yang membukakan pintu rumah untuk mereka. Dewi dan Tinah langsung masuk ke dalam kamar Tinah yang berada di dekat dapur. Setelah membersihkan diri, mereka langsung tidur.


Pagi harinya, Tinah mengajak Dewi menghadap majikannya, Tuan Haidar di ruang tengah. Tuan Haidar dan Nyonya Zaida duduk bersanding di sofa, sedangkan Tinah dan Dewi duduk di sofa juga, di hadapan mereka.


Tuan Haidar dan Nyonya Zaida tidak memandang rendah seorang pembantu, bagi mereka pembantu juga manusia, sama derajatnya di hadapan Allah, karena yang paling tinggi derajatnya di hadapan Allah adalah orang yang bertaqwa.


"Tuan, saya sudah mengajak teman saya yang akan bekerja di rumah Tuan Ardi," tutur Tinah terhadap majikannya.


"Biarkan dia istirahat dulu, nanti sore baru kamu antar dia ke rumah Ardi. Jam segini pasti dia sudah berangkat ke toko," tutur Ardi.


"Baik, Tuan. Saya akan antarkan Dewi nanti sore ke rumah Tuan Ardi," jawab Tinah.


"Siapa tadi namanya, Tinah?" tanya Nyonya Zaida memastikan.


"Nama saya Dewi, Nyonya," sahut Dewi menyerobot pertanyaan Nyonya Zaida terhadap Tinah.


"Dewi, apa kamu sudah menikah?" tanya Nyonya Zaida lagi.


"Sudah, Nyonya," jawab Dewi singkat.


"Oo.., sudah punya anak?" tanya Nyonya Zaida.


"Mama ini kayak wartawan saja," timpal Tuan Haidar.


"Kan biar kenal, Pa. Nggak apa-apa kan ya, Wi," ujar Nyonya Zaida.


"Eh, enggak apa-apa kok, Nyonya. Saya sudah punya anak, Nyonya. Anak saya baru berumur satu bulan," jawab Dewi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Tuh, kan jadi sedih Dewinya karena Mama," tuduh Tuan Haidar.


"Ya ampun, maafkan saya ya, Wi. Saya tidak bermaksud membuat kamu jadi sedih," sesal Nyonya Zaida.


"Tidak apa-apa kok, Nyonya. Nyonya tidak bersalah," sahut Dewi.


"Silahkan istirahat dulu ya, Dewi. Saya mau berangkat ke kantor dulu," pamit Tuan Haidar.


"Terimakasih, Tuan," sahut Dewi.


Zaida mengantar suaminya hingga sampai Tuan Haidar masuk ke dalam mobil, dan mobil dikemudikan oleh sopir.


"Memangnya jam berapa biasanya Tuan Ardi pulang dari toko, Tinah?" Tanya Dewi kepada Tinah.


"Biasanya jam lima sore Tuan Ardi juga sudah sampai di rumah," jawab Tinah.


"Apa rumahnya dekat dari sini?" tanya Dewi lagi.


"Kalau jalan kaki dari sini kira-kira 30 menit," jawab Tinah.


"Kamu sering main ke rumahnya?" tanya Tania.


"Pernah beberapa kali, enggak sering," jawab Tinah.


Hening...


"Oo, udah nanyanya?"goda Tinah.


"Apaan sih," sergah Dewi.


Pukul lima sore Tinah sudah siap mengantar Dewi.


"Koper sih mahal, tapi enggak punya uang," sindir Tinah.


Pletak


Jari tengah Dewi mendarat di kening Tinah.


"Ini peninggalan sejarah, tahu," sahut Dewi.


"Mbak Tinah, Niken ikut ya!" seru Niken kecil tiba-tiba.


"Ikut kemana, Non?" tanya Tinah.


"Kalian mau ke rumah Om Ardi kan?" tanya Niken. "Niken mau ketemu Mas Bram," imbuhnya.


"Kita mau jalan kaki, Non. Mbak Tinah nggak mau nanti kalau harus gendong Non Niken ah," tolak Tinah.


"Huh," Niken mendengus kesal. "Yaudah, Niken juga mau jalan kaki biar langsung, biar cowok cupu itu enggak ngatain Niken drum minyak lagi," imbuhnya panjang lebar.


Dewi terpingkal mendengar ucapan Niken. "Ada si cupu melawan drum minyak," katanya dalam hati.


"Janji lho!" pinta Tinah mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji," ucap Niken menautkan jari kelingkingnya pula.


"Awas lho nanti kalau minta gendong, Tinah bakal tinggalin Non Niken di rumah Tuan Ardi," Tinah mengancam anak majikannya yang baru berumur tujuh tahun tersebut.


"Wah, asiik," Niken malah senang dengan ancaman yang di berikan oleh Tinah.


Mereka bertiga berjalan kaki menyusuri trotoar komplek perumahan. Mereka telah sampai di depan rumah Tuan Ardi dalam waktu tiga puluh menit. Pak satpam membukakan pintu untuk mereka.


"Apa Tuan Ardi sudah pulang dari toko, Mas Joko?" tanya Tinah pada pak satpam.


"Belum, Tinah. Tapi tadi pagi Pak Ardi sudah titip pesan kalau kamu datang disuruh menunggu di dalam katanya," jawab satpam tersebut.


"Oo, kalau begitu kami permisi masuk ke dalam dulu ya, Mas Joko," pamit Tinah.


.


.


.


TBC


Terimakasih atas kunjungan Anda,


Terimakasih atas like dan komennya.


Beribu terimakasih atas votenya


Kalian begitu berarti buat author 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2