
Sepertinya hari ini matahari enggan untuk menampakkan diri, sedari tadi malam hujan terus-menerus tidak mau reda. Banyak orang yang lebih menyukai hanya berdiam diri di rumah, kalau tidak punya kewajiban menjalankan tugas. Namun tidak begitu buat Dewi, saat ini semangatnya untuk mengajak jalan-jalan anak-anak dan keponakannya tidak surut.
Pagi menjelang siang itu Tania bersiap-siap untuk pergi belanja ke Mall, Dewi mengetuk pintu kamar Tania, membukanya sedikit.
"Mama masuk ya, Sayang?" tanya Dewi dari balik pintu.
"Iya, Ma," sahut Tania.
Dewi melangkah masuk ke dalam berdiri di belakang Tania yang sedang memakai kerudung segi empat. Kedua tangannya memegang kedua bahu Tania.
"Paman dan bibimu barusan telpon, mereka mau menyusul kemari hari ini," tutur Dewi.
"Paman Hisyam dan Bibi Rosi?" tanya Tania.
"Iya," sahut Dewi.
Tania memutar badannya setengah lingkaran menghadap sang Mama.
"Sisi sudah tahu, Ma?" tanya Tania lagi.
"Belum, biar jadi kejutan buat Sisi, Sayang," jawab Dewi. Mereka tertawa bersama.
Dewi membuka resleting tasnya, mengambil amplop dari dalamnya dan menyerahkan pada Tania.
"Ini dari papamu, Sayang. Nomor pinnya belum dibuka, ada di amplop kecil di dalamnya, nanti bisa kamu ganti sendiri," tutur Dewi pada Tania.
"Terimakasih, Mama," ucap Tania memeluk Dewi.
"Kamu boleh menggunakannya untuk apa saja, tapi Mama pesan bijaklah dalam memakainya," nasehat Dewi pada Tania.
"In sya Allah, Ma. Tania akan memakainya sesuai kebutuhan," jawab Tania.
Dewi melepas pelukan Tania. "Ayo kita berangkat, yang lain sudah menunggu di bawah," ajaknya.
Tania mengambil tas selempangnya. Menyelipkan amplop pemberian sang Mama tadi ke dalam kantong.
"Ayo, Ma," sahut Tania tersenyum.
Mereka bergandengan tangan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Sampai di ruang tengah.
"Kok cuma kalian berdua, Abizar sama Aris mana?" tanya Dewi pada Sisi dan Aghni yang sedang bersenda gurau.
"Lagi manasin mobil di halaman, Ma," jawab Aghni.
"Oh iya, Mama lupa bilang kalau kita akan diantar sopir baru, dia yang nantinya akan antar jemput Kak Tania kuliah sampai Kak Tania bisa bawa mobil sendiri," tutur Dewi.
"Aku enggak mau, Ma," sahut Tania.
Dewi menoleh ke arah Tania. "Enggak mau pakai sopir?" tanyanya.
"Bukan, maksudnya aku belum siap belajar nyetir. Masih terngiang-ngiang di kepalaku saat kejadian kecelakaan itu," jawab Tania.
Dewi mengelus-elus pundak anaknya. "Ya udah enggak apa-apa, diantar jemput pakai sopir selamanya juga enggak apa-apa, Sayang," tuturnya.
"Ma, nanti kita mau nonton. Mama mau ikut?" tanya Aghni.
"Kalau enggak ikut terus mama nunggu di luar selama 2 jam, gitu? Ya ikutlah," jawab Dewi.
Abizar datang dari arah depan, berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah, dia menghela nafas berat.
"Ini, jadi berangkat tidak sih?" tanyanya pada penghuni ruang tengah.
"Memang sopirnya sudah datang, Kak?" tanya Sisi pada Abizar.
"Sudah nungguin di teras dari tadi tuh," jawab Abizar.
"Oo.., Ayo berangkat!" ajak Sisi semangat.
Mereka keluar dari dalam rumah bersama-sama. Sampai di halaman rumah,
"Mana sopirnya, Kak?" tanya Sisi pada Abizar.
"Maaf, saya ditugaskan Tuan Ardi untuk menjadi sopir di keluarga ini, nama saya Rayan," jawab seorang pemuda yang ternyata bernama Rayan.
"Haha, kukira sopirnya udah bapak-bapak ternyata masih mas-mas to, ganteng lagi," celetuk Sisi yang membuat dada tersipu.
Aris langsung menarik tangan Sisi.
"Lepasin, Mas!" teriak Sisi meronta-ronta dari genggaman Aris.
"Dasar mata sopiran kamu," hardik Aris. "Nggak bisa lihat ada sopir yang bening," imbuhnya.
"Ih, si Rida pakai baju warna biru, ternyata ada yang cemburu," sahut Sisi. "Memangnya ada yang salah dalam ucapanku?" tanyanya kemudian.
"Di hadapan pacar kamu, berani-beraninya bilang cowok lain ganteng!" ancam Aris.
"Memang dia ganteng, terus aku harus bilang dia enggak ganteng gitu?" tanya Sisi.
Sisi meraih tangan Aris yang satunya.
"Mas, meskipun di luar sana banyak yang lebih ganteng dari Mas Aris, tapi di hati Sisi hanya ada satu yang paling ganteng, cuma Mas Aris seorang kok," tutur Sisi.
Belum sempat Aris menjawab ucapan Sisi, terdengar teriakan Abizar.
"Woy, mau ikut enggak, atau mau pacaran di rumah saja? Kita tinggal nih," teriak Abizar.
Ternyata yang lain sudah pada masuk ke dalam mobil tinggal menunggu Aris dan Sisi doang.
"Tuh kan, gara-gara Mas Aris," dengus Sisi mengibaskan tangan Aris. "Mas Aris tuh, kayak anak kecil saja," ucapnya saat masuk ke dalam mobil duduk di samping Agni di jok bagian tengah.
Dewi dan Tania duduk di jok paling belakang, sedangkan Abizar duduk di samping sopir.
__ADS_1
"Kalau enggak cukup, aku bawa mobil sendiri saja dech," tutur Aris.
"Cukup kok, Mas. Di sini," ucap Sisi menepuk jok di samping kirinya.
"Cepetan Aris, masuk!" tukas Abizar.
Aris masuk dan duduk di samping Sisi lalu menutup pintu mobil di sampingnya. Mobil melaju pelan membelah jalanan meninggalkan kediaman keluarga Ardiansyah menuju jalan raya ibukota yang tak pernah ada kata sepi.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di depan sebuah Mall, Rayan menurunkan mereka di sana, lalu ia memarkirkan mobil yang dikendarainya di basemen parkir.
Tania dan yang lainnya sampai di dalam Mall, mereka masuk ke dalam stand penjualan pakaian yang ada di lantai tiga.
"Ma, boleh beli baju buat Edos enggak?" tanya Tania pada Dewi.
"Boleh, Sayang. Mama kan sudah bilang kamu boleh beli apa saja," jawab sang Mama.
Tania memilih beberapa kaos dan celana untuk suaminya. Kemudian memilih blus dan bawahan untuk dirinya sendiri. Setelah puas melihat-lihat pakaian, kini mereka beralih ke tempat penjualan sepatu.
Waktu telah menunjukkan tengah hari. Sekarang mereka telah berpencar sendiri-sendiri. Setelah puas berbelanja pakaian dan sepatu, Dewi mengajak anak-anak untuk makan siang di food court yang ada di lantai satu.
Dewi bersama Tania, Abizar bersama Aghni, sedangkan Aris dan Sisi entah di mana. Saat mereka sedang berjalan beriringan menuju ke meja yang kosong tiba-tiba ada seorang gadis kecil berusia tiga tahunan berlari memeluk kaki Tania.
"Mama!" seru gadis kecil tersebut.
Tania kaget tiba-tiba saja ada gadis kecil yang memanggilnya mama. Dia berjongkok supaya bisa setara dengan gadis tersebut.
"Hai Cantik, siapa namamu?" tanya Tania.
"Aya," jawab gadis kecil tersebut.
"Aya kesini sama siapa? Di mana mama dan papa kamu?" tanya Tania lagi.
"Cama Yanti, Mama," jawab gadis kecil tersebut.
"Ini orang tuanya kemana sih? Kok bisa teledor membiarkan anaknya berkeliaran di tempat keramaian gini," gerutu Tania berdiri menggendong gadis kecil tersebut.
"Udah, kita bawa saja, Sayang. Mama sudah lapar banget nih," bujuk Dewi.
Tania membawa gadis tersebut dan di dudukkan di atas kursi.
"Aya mau makan apa, Sayang?" tanya Tania.
"Tentang doleng, Mama," jawab Aya yang masih cadel.
Tania berfikir sesaat, otaknya menerjemahkan omongan gadis kecil tersebut. "Oh, kentang goreng?" tanyanya kembali pada Aya yang hanya dibalas anggukan oleh Aya. Tania menatap gadis kecil itu.
"Tadi Aya bilang ke sini bareng Yanti, Yantinya ada di mana, Sayang?" tanya Tania lagi.
"Di cana, Mama," jawab Aya sambil menunjuk ke suatu arah.
Tania dan yang lainnya mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjukan oleh gadis kecil tersebut.
"Sabar, pasti ketemu," bujuk Dewi.
"Kalau kita bawa pulang nanti disangka penculikan anak, gimana?" tanya Tania lagi.
"Jangan panik, Sayang. Di sini ada CCTV, kalau kita dilaporkan penculikan anak, kan bisa lihat di CCTV siapa yang datang duluan," jawab Dewi mencoba menenangkan Tania.
Tania masih berfikir, takut kalau-kalau ia dituduh melakukan penculikan anak, bisa-bisa ia masuk penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Aduh, bisa hancur masa depannya.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Makanlah dulu, nanti keburu dingin lho makanannya," bujuk sang Mama.
"Mama, cuapin Aya!" pinta Aya memelas.
"Iya, Sayang. Aa'..," Tania menyuapi Aya dengan tangannya sendiri.
Sementara yang lain hanya menyaksikan interaksi antara kedua orang berbeda generasi tersebut. Sisi dan Aris baru datang bergabung.
"Kak Tania, anak siapa tuh? Anak Kak Tania? Kapan hamilnya? Kok langsung gede?" celetuk Sisi yang sontak mendapat jeweran dari Aris.
Rayan, sang sopir melihat keberadaan Dewi dan anak-anak di food court datang untuk bergabung. Dia nampak memperhatikan anak kecil yang duduk di samping Tania.
"Tiara!" panggil Rayan kaget.
"Kamu kenal gadis kecil ini, Rayan?" tanya Dewi pada Rayan.
Rayan mengalihkan pandangannya kepada Dewi. "Dia anak dari kakak saya, Nyonya," jawab Rayan.
Rayan memandang kembali Tiara, ternyata namanya Tiara bukan Aya, hehe....
"Tiara, Kamu sama siapa kesini?" tanya Rayan pada Tiara.
"Cama Mama, Om," jawab Tiara jujur, jarinya menunjuk ke Tania.
"Tadi sebelum sama Mama sama siapa ke sini?" tanya Rayan yang sok ikut-ikutan Tiara menyebut Tania sebagai Mama.
Mata bulat dan jernih Tiara menatap Om nya. "Cama Yanti," jawab Tiara.
"Sekarang Eyang Putrinya di mana?" tanya Rayan mencoba mengintimidasi.
"Au," jawab Tiara menggelengkan kepalanya.
"Ikut Om, Yuk!" ajak Rayan menggendong keponakannya. "Maaf, Nyonya. Saya mau antarkan Tiara pada Eyang Putrinya dulu," pamitnya.
"Silahkan, Rayan," jawab Dewi.
Abizar dan Aghni kembali bergabung, ternyata mereka pergi tanpa sepengetahuan Dewi dan Tania.
"Dari mana kalian?" tanya Dewi.
"Sholat, Ma. Ada mushola kecil di sana," jawab Aghni menunjuk sebuah papan.
__ADS_1
"Gadis kecil tadi mana, Bulek," tanya Abizar kehilangan gadis kecil itu.
"Sudah dibawa sama omnya," jawab Dewi. Abizar hanya ber-o ria.
Tania mengalihkan pandangan kepada Abizar dan yang lainnya. "Kalian ke bioskop duluan gih, beli tiket sekalian, aku sama mama mau sholat. Yuk, Ma!" ajak Tania pada sang Mama.
"Nanti saja, Tan. Lagian bioskopnya baru dibuka jam 2 siang," jawab Abizar.
"Ya udah, Bulek pergi ya, Bizar. Jaga adik-adikmu!" tukas Dewi.
"Ih, Mama kayak kita anak kecil saja, pakai dititipin," dengus Aghni.
"Mama takut Aghni cari Mama lain seperti Tiara tadi. Hahaha...," seloroh Dewi meninggalkan Abizar dan adik-adik sepupunya.
Tania dan Dewi meninggalkan food court untuk pergi menuju ke mushola melaksanakan sholat dhuhur.
"Kakak sudah pesan tiket untuk tujuh orang kok," tutur Abizar.
Aghni melotot ke arah Kakak sepupunya. "Kok tujuh? kita kan cuma berenam," protesnya.
Abizar mendengus pelan, "Tujuh sama Rayan," jelasnya.
"Kalau sopir itu ikut kita nonton, Aghni enggak mau nonton," cebik Aghni.
"Aghni, jangan seperti anak kecil ah!" Aghni masih diam cemberut.
"Dia juga manusia, Aghni," jelas Abizar.
"Udah tahu," sahut Aghni. "Manusia bermuka tembok," ucapnya acuh.
"Dia bahkan rela menjadi sopir keluargamu hanya demi bisa berdekatan denganmu, padahal kamu tahu kan siapa keluarga Baskoro," imbuhnya.
"Kak, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kakak sendiri kenapa tidak menikah dengan penyanyi dangdut yang mengejar-ngejar cinta kakak itu?" Aghni membalikkan pernyataan Abizar.
"Aghni belum mau memikirkan soal cinta, Kak. Aghni masih mau sekolah, mungkin sampai lulus S2 baru Aghni mau mikir soal cintrong, hehe..," tutur Aghni.
"Keburu Rayan tua, Dek. Ini pipi juga bakal keriput nanti enggak chubby kayak gini lagi," ucap Abizar mencubit gemas pipi adik sepupunya. Aghni menepis tangan Abizar karena merasa sakit.
"Kenapa harus aku yang dijodohkan sama dia sih? Kenapa bukan kak Tania? Jarak umurku dan sopir itu terlalu jauh, kayak Jakarta-Jepang. Kenapa Papa itu suka menjodoh-jodohkan anaknya?" sangkalnya.
"Hahaha, kamu itu lucu, Dek. Kak Tania kan bukan anak Papa kamu, lagian dia udah punya suami, mana bisa perempuan punya suami dua?" seloroh Abizar.
Sendirinya juga enggak mau dipaksa, gerutu Aghni dalam hati.
"Ayo kita ke bioskop! kita tunggu yang lain di sana saja," ajak Abizar.
Mereka berjalan berdua menaiki eskalator menuju ke lantai 3 Mall.
"Besok pagi aku mau kembali ke Bandung," ungkap Aghni.
Abizar menoleh ke arah lawan bicaranya. "Kakak juga besok pagi mau kembali ke Jepang," timpalnya.
"Ikut-ikutan," sindir Aghni.
"Biarin sekali-kali," sahut Abizar.
"Memang kakak beli tiket film apa?" tanya Aghni.
"Horrorr..," jawab Abizar berusaha membuat mimik mukanya seperti hantu.
"Enggak takut," sahut Aghni.
"Heleh, entar terkencing-kencing tahu rasa. Pipis dulu sana," ujar Abizar saat sampai di depan pintu masuk.
"Hidupku aja udah horor," keluh Aghni.
Abizar menggenggam tangan Aghni. "Sabar," ucapnya.
"Kok belum pada sampai ya?" gerutu Aghni.
Abizar dan Aghni masih menunggu rombongannya untuk menonton film. Tiba-tiba ponsel Abizar berdering ada panggilan masuk. Abizar merogoh ponselnya demi melihat siapa yang menelepon. ia menekan icon warna hijau dan mendekatkan ke telinga.
"Assalamu'alaikum, Om,"
"Iya,
"Sekarang?"
"Oke,"
"Wa'alaikumussalam,"
Abizar memandangi layar ponselnya setelah sang penelpon memutuskan panggilan. Aghni masih dalam mode kepo tentang apa yang dibicarakan Abizar dengan si penelpon. Sisi dan Aris telah sampai dan menghampiri mereka.
"Kita harus pulang sekarang," tutur Abizar.
"What?" pekik Aghni dan lainnya kompak tidak percaya.
.
.
.
TBC
Terimakasih buat yang masih setia mengikuti coretan jempolku
terimakasih atas like, komen, vote n rate 5 dari kalian
Salam cinta selalu dari author remahan rempeyek ini 😘😘😘
__ADS_1