2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Rencana Ardi


__ADS_3

"Mas Bram sama siapa? Mbak Niken ya? Mbak Nikennya mana? Kenapa cuma berdiri aja di situ?" cecar Tania yang mencoba ramah kepada saudara tiri yang pernah ikut andil dalam memberikan trahuma.


"Eh, Tan. Mas Bram cuma mau lihat Atar saja kok. Atar belum selesai ganti baju habis mandi, jadi Mas Bram tunggu di sini saja. Lagian Mas enggak lama di sini, ada janji ketemu calon mitra Ardimart," sahut Bram panjang lebar.


"Mbak Niken ikut ke sini kan, Mas? Di mana dia?" tanya Tania sekali lagi tentang Niken.


"Niken tadi sama Mama, mungkin di taman belakang. Kamu sudah mau berangkat? Bareng Mas Bram saja, kita searah," cetus Bram.


"Enggak, enggak! Mendingan Kakak yang anterin kamu ke kampus saja jangan ikut Bram. Lagian Kakak di rumah enggak ada kegiatan," cegah Abizar tidak rela Tania berdekatan dengan kakak tirinya.


"Apaan sih kamu, Bizar? Aku itu sudah menganggap Tania seperti adik kandung sendiri tahu. Ngapain kamu cemburu?" sergah Bram.


"Heh, kamu bilang adik kandung? Mana ada adik kandung kok diembat?" sergah Abizar lagi yang mengungkit kenangan pahit antara Bram dan Tania.


Mendengar perdebatan dua anak Adam tersebut Tania jengah. Niatnya ingin melihat sang putra ia urungkan. Ia pun keluar rumah tanpa berpamitan kepada kedua manusia berjenis kelamin pria tersebut menyelinap keluar rumah. Ia urungkan niatnya untuk berpamitan dengan Atar. Biarin lah Atar sudah ada Nina yang mengurus. Kebetulan di halaman rumah Nadia sudah menunggu di dalam mobil.


"Kesal banget sih sama dua orang itu. Udah pada berumur masih saja seperti anak kecil," gerutu Tania saat duduk di kursi penumpang.


"Kenapa pagi-pagi udah ngedumel?" tanya Nadia yang heran melihat sahabatnya. Nadia langsung menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah orang tua Tania.


"Tuh saudara tiri sama sepupu ku," sahut Tania tanpa melihat ke arah gadis di sampingnya.


"Maksud kamu Pak Bram sama Kak Bizar? Suami kamu?" tebak Nadia


"Aku enggak pernah anggap dia suami ya, dia itu kakak sepupu ku. Aku harus segera melepaskan diri dari belenggu pernikahan sesama saudara. Baik saudara sepupu maupun saudara tiri," pungkas Tania. Tania menghembuskan napas kasar.


"Nanad sih terserah kamu aja, Tan. Kehidupan kamu, kamu yang menjalani. Nanad dukung apa keputusan kamu yang penting kamu bahagia," timpal Nadia sambil fokus menyetir.


Sementara di dalam rumah yang baru saja ditinggalkan oleh Tania.


"Kalian ini apa-apaan sih? Bizar lepasin suamiku!" seru Niken yang baru saja masuk.


Saat sedang berbincang-bincang dengan Dewi sang mama mertua, Niken mendengar ada suara ribut-ribut dari dalam rumah. Ia pun segera mendatangi tempat asal suara ribut-ribut itu. Sementara Arkan digendong oleh omanya, Dewi.


Saat sampai di dalam rumah Niken dan Dewi melihat Abizar sedang memegang kerah baju Bram.


"Ada apa sih, Mas Bram, Bizar?" tanya Niken setelah Abizar melepaskan tubuh Bram.


"Abizar tuh, cemburu buta cuma gara-gara Mas mau anterin Tania ke kampus. Padahal Mas nawarin karena kampus Tania dan kantor Mas searah," ungkap Bram menjawab pertanyaan Niken.


"Ya nggak boleh lah, wong aku suaminya masih bisa nganter kok. Kecuali kalau aku enggak bisa apa-apa baru kamu nawarin," sergah Abizar tidak mau terima.


"Kamu itu cemburu buta, gitu aja langsung kalap," timpal Bram belum mau menerima.


"Sekarang mana Tanianya?" tanya Niken menengahi.


Bram dan Abizar baru menyadari jika Tania sudah tidak ada di antara mereka.


"Tania kan sudah biasa berangkat dijemput Nadia. Kalian ini kayak anak kecil saja melakukan perbuatan yang tidak berguna. Bram, ngapain kamu hari Minggu mau ke kantor?" jelas Dewi lalu bertanya.


"Ada janji ketemu calon mitra Ardimart, Ma," sahut Bram.


"Ada apa ini kok pada ribut sambil berdiri? Ayo duduk di ruang tengah," sebuah suara pria paruh baya menyela.

__ADS_1


"Ini loh anak sama menantu papa ribut pengen pada nganter Tania ke kampus, padahal Tania udah janjian berangkat dijemput Nanad kemarin," tutur Dewi. "Papa kenapa baru keluar?" tanyanya kemudian.


"Tadi Papa masih mandi. Eh cucu Opa mengunjungi opa ya?" Sahut Ardi kemudian mendekati Dewi untuk menyapa Arkan.


"Memang Opa bisa gendong bayi?" Tanya Dewi yang belum rela Arkan digendong oleh kakeknya.


"Bisa lah, dulu saat papanya Arkan kecil juga Opa yang gendong," sahut Ardi.


"Arkan mau sama Opa?" tanya Dewi kepada Arkan yang baru berusia lima bulan. Tentu saja pertanyaan tersebut tidak mendapat jawaban dari bayi laki-laki tersebut. "Ya udah, kalau begitu Oma mau lihat Kakak Atar dulu ya, sudah mandi atau belum dia," pamitnya pada Arkan sembari menyerahkan tubuh kecil bayi tersebut kepada sang Opa.


"Bram berangkat dulu, Ma, Pa. Ada janji ketemu calon mitra," pamit Bram kepada kedua orang tuanya. Lalu mencium pipi gembul Arkan dan Niken bergantian.


"Memang Tania ke mana, Ma?" tanya Niken saat Bram sudah tidak terlihat lagi dan mereka berkumpul kembali di ruang tengah.


"Kuliah cuma dua jam, katanya ada dosen yang ngasih jam tambahan sebagai ganti jadwalnya yang kosong," ucap Dewi menjawab pertanyaan Niken sambil memperhatikan Atar yang bermain di karpet bulu.


"Oo, terus hubungan pernikahan kalian bagaimana, Bizar?" tanya Niken lagi yang kali ini beralih kepada Abizar yang duduk di depannya bersanding dengan Ardi yang masih menimang cucunya.


"Aku sudah mendaftarkan perceraian ke Kantor Pengadilan Agama," sahut Abizar lesu.


"Enggak usah sedih gitu, kamu pasti akan mendapatkan seorang wanita yang tulus cinta sama kamu," timpal Niken.


"Sejak dulu aku cuma cinta sama Tania, tetapi Tania tidak mencintaiku," ucap Abizar.


"Dengar-dengar kamu sudah menikah lagi sama teman sekolah kamu?" tanya Niken.


Abizar menghembus napas kasar. "Cuma nikah siri, karena Tania tidak pernah memberikan harapan kepadaku," ucapnya.


"Nanti kalau aku sama Tania resmi cerai," sahut Abizar datar. Ia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Oh iya, Rifki bilang ada temannya yang suka sama Tania. Dia pengusaha toko buku," ungkap Niken.


"Siapa?" tanya Ardi yang sejak tadi hanya jadi pendengar saja sibuk dengan cucu barunya.


"Rifki bilang dia seorang pemilik beberapa toko buku dan kafe. Papa pasti sudah kenal sama dia," sahut Niken.


"Apa Tania juga suka sama pemuda itu? Apa kamu tahu kalau Tania menyukai seseorang, Bizar?" tanya Ardi beralih kepada Abizar.


"Abizar tidak tahu, Om. Tania cuma bilang kalau dia tidak mau memikirkan pernikahan sampai lulus kuliah," sahut Abizar.


"Mendingan Papa tanya sama Rifki. Dia yang lebih tahu jelasnya siapa pemuda itu. Tanya juga sama Nadia tentang bagaimana perasaan dan keinginan Tania," cetus Niken.


"Baiklah. Ma tolong ambilkan ponsel Papa di kamar," pintanya kepada Dewi.


"Buat apa, Pa? Papa mau panggil Rifki ke sini? Tinggal minta menantu papa buat telpon dia," cetus Dewi menyahut permintaan suaminya.


"Iya, Pa. Biar Niken saja yang telepon Rifki minta dia datang kemari," sela Niken.


"Baiklah, tolong bilang sama Rifki Papa ingin bicara pribadi dengan dia, bukan urusan kantor," timpal Ardi.


"Iya, Pa," sahut Niken.


Ibu muda itu segera mengambil ponselnya dari dalam tas yang ia letakkan di sofa lalu segera menekankan layar ponsel tersebut. Sesaat kemudian ponsel tersebut didekatkan ke telinganya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, ya, Niken," Niken mendengar suara Rifki dari ponselnya.


"Halo, Rif. Papa Ardi minta kamu datang ke kediamannya. Ada sesuatu yang penting yang mau beliau sampaikan, bukan urusan pekerjaan," ucap Niken.


"Oh, oke. Nanti aku langsung ke sana setelah meeting dengan calon mitra Ardimart selesai," sahut Rifki.


"Oh, iya. Aku lupa kalau kamu lagi menemani suamiku meeting," ucap Niken. "Ya udah, Rif, itu saja yang mau ku sampaikan," imbuhnya.


"Iya, makasih ya, Niken," ucap Rifki.


"Sama-sama, assalamu'alaikum," ucap Niken mengakhiri panggilannya lalu ia menutup panggilan tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


"Gimana, Niken?" tanya Ardi kepada menantu pertamanya.


"Nanti siang katanya Rifki mau kemari, Pa. Sekarang dia lagi menemani Mas Bram meeting bareng calon mitra Ardimart," sahut Niken.


Tiba-tiba Arkan menangis. "Eh, Arkan kenapa, Sayang?" Ardi panik saat cucunya menangis. Pria paruh baya itu berusaha menenangkan.


"Sini, Arkan sama Mama. Udah lapar ya, Sayang?" Ucap Niken meraih Arkan dari pangkuan Papa mertuanya.


"Susui Arkan di kamar Bram saja, Niken," suruh Dewi kepada menantunya.


"Iya, Ma," sahut Niken kemudian berlalu dari tempat tersebut menuju ke kamar Bram dengan menggendong Arkan.


"Papa mau jodohkan Tania sama temannya Rifki itu?" tanya Dewi yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan tentang anaknya.


"Papa cuma ingin kenal siapa orangnya. Pantas tidak pemuda itu dengan Tania?" sahut Ardi.


"Jangan terlalu selektif, Pa. Ingat Pa, Tania juga masih istri orang," ucap Dewi mengingatkan.


*****


Keesokan harinya sekitar pukul sepuluh pagi. Seorang pemuda tampan bertubuh tegak tampak berjalan di lobi menghampiri costumer servis. Pemuda yang tidak terbiasa dengan pakaian kerja tersebut kali ini dengan pakaian kerja membalut tubuhnya. Meskipun ia tidak tahu apa maksud petinggi ARD's Corp memanggil dirinya untuk datang menemuinya. Celana bahan hitam serta kemeja warna biru langit menjadi pilihannya. Sepatu cat yang biasa menemaninya setiap hari kini berganti dengan sepatu pantofel mengkilat. Meski tanpa tuksedo melapisi tubuh luarnya, Fauzan tampak percaya diri memasuki gedung tersebut.


"Mbak, ruangan Pak Ardi di mana ya?" tanya pemuda itu kepada resepsionis.


"Sudah ada janji?" tanya customer servis tersebut.


"Iya, Mbak, saya Fauzan. Saya disuruh menghadap beliau," sahut Fauzan.


"O, Pak Fauzan. Anda sudah ditunggu oleh Pak Ardi di ruangannya. Silakan masuk melalui lift khusus ini, Mas. Nanti berhenti di lantai 12," ucap resepsionis tersebut menunjukkan lift khusus Presdir.


.


.


.


TBC



Selalu lope-lope buat pembaca yang tampak atau tak tampak 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2