2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Akhirnya Kuliah


__ADS_3

***Cinta tidak hanya berupa saling menatap satu sama lain. Tapi cinta mampu memandang ke arah luar secara bersama.


Bersyukurlah atas setiap senyumanmu, agar Tuhan menghadiahkan kebahagiaan atas setiap tetesan air matamu***.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Rifki menyodorkan undangan pernikahan mereka kepada Tania.


"Kapan acaranya, Mas?" tanya Tania sumringah.


"Satu minggu lagi, kamu datang ya!" jawab Rifki.


"Awas kalau kamu enggak datang lho, Tan. Aku dan Mas Rifki enggak akan menganggap mu saudara lagi," timpal Erika mengancam.


"Insya Allah, aku pasti datang, Mbak," janji Tania.


Tania membuka undangan yang di berikan oleh Rifki, membaca sekilas. Namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi lebih pucat dari sebelumnya. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya, peluh membasahi keningnya. Ia seperti ketakutan. Melihat perubahan yang terjadi pada Tania, Erika mendekat.


"Tania? kamu kenapa?" tanya Erika.


Tania tidak mampu menjawab, ia hanya bisa menangis, bayangan Laila majnun itu kembali berputar-putar di kepalanya bak roll film yang rusak. Rifki menuang jus jeruk ke dalam gelas, medekatkan ke mulut Tania, Tania menyesapnya. Rifki mengerti apa yang terjadi pada Tania.


"Mas Rifki akan batalkan tempat itu, Tan," ucapnya.


Tania mencoba mengatur nafasnya, "Mas Rifki tidak usah pedulikan Tania," tolak Tania.


"Iya, Tan. Kita nikah di rumah saja sudah cukup kok, nggak perlu ada pesta di gedung," tambah Erika.


"Jangan, Mbak, undangannya pasti sudah disebar kan? Tania tidak apa-apa," Tania memohon.


"Apa kamu sering seperti ini,Tan?" tanya Rifki.


"Enggak mesti, Mas," jawab Tania.


Rifki hendak berpamitan karena waktu istirahatnya sudah habis. Namun ia tidak tega melihat keadaan Tania yang menyedihkan jika teringat dengan kejadian malam itu. Akhirnya mereka menemani Tania hingga ia tenang kembali.


"Tan, gimana kabar Edos? Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Rifki menanyakan tentang Edos.


"Kemarin lusa aku Videocall sama dia, Mas. Dia bilang lagi pemulihan pasca operasi, mungkin sampai satu bulan baru bisa balik ke Indonesia," jawab Tania.


"Kamu yang sabar ya, Tan," ucap Erika lembut memberikan dukungan untuk Tania.


"Insya Allah aku selalu sabar, Mbak. Oh iya, tadi pagi aku udah mendaftar kuliah lho, Mbak. Semoga dengan aku kuliah, jadi ada kesibukan dan bisa melupakan apa yang telah terjadi," ucap Tania penuh harap.


"Aamiin, semoga hidupmu bahagia, Tan. Dan kamu bisa meraih kesuksesan yang sempat tertunda," sambung Rifki.


"Aamiin, terimakasih ya, Mas, Mbak, atas dukungan kalian. Aku doakan semoga kalian sampai ke jenjang pernikahan tanpa halangan suatu apapun, dan semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, langgeng sampai anak cucu," sahut Tania.


"Aamiin..," sahut Rifki dan Erika bersamaan.


"Tan, Mbak Erika udah siang nih. Mbak pamit mau berangkat kerja ya," Pamit Erika.


"Iya, Tan. Mas Rifki juga mau pamit udah habis waktu istirahat," pamit Rifki juga.


"Yah, tapi besok-besok harus sering-sering datang ke sini lho Mas, Mbak," pinta Tania.


"Iya, insya Allah. Kami akan sering-sering datang kemari, Tania," jawab Erika berjanji.


Mereka beranjak meninggalkan taman. Tania mengantarkan Rifki dan Erika hingga sampai di halaman, memandang kepergian mereka hingga hilang di balik pintu gerbang.


Tania kembali lagi ke Taman belakang rumah, dia ingin menghabiskan waktu hingga sore hari di sana sendirian. Sebenarnya hanya duduk-duduk saja, namun sepertinya sekarang ia seperti mempunyai tempat favorit untuk menyendiri.


Ada sebuah kolam kecil di taman tersebut, kolam itu berisi ratusan ekor ikan-ikan kecil pula. Ikan-ikan kecil itu selalu bergerak mendekat ketika ada bayangan. Tania mencelupkan kakinya ke dalam kolam tersebut, sedang pantatnya duduk di tepi kolam. Tubuhnya berjingkat merespon segerombolan ikan-ikan kecil yang mulai menggigit kulit kakinya, geli.


Tania tertawa cekikikan sendirian karena merasa kegelian saat kakinya digigit oleh ikan-ikan kecil tersebut. Ia begitu asik sendiri sampai-sampai ia tidak mendengar saat seseorang memanggilnya.


"Kak!" panggilnya lagi karena yang dipanggil masih tidak bergeming. Tania menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara memanggil.


"Sisi, sini!" ucapnya dengan tangan melambai kemudian menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.


Sisipun menghampiri kakak sepupunya kemudian duduk di sebelahnya, kakinya diturunkan ke bawah mempraktekkan apa yang dilakukan oleh Tania.


"Aw! geli banget kak," teriak Sisi sambil tertawa. Ia reflek mengangkat kakinya karena terlalu geli.

__ADS_1


"Awalnya memang geli, tetapi lama-kelamaan enak, seperti dipijit-pijit," tutur Tania.



Sisi mencoba mencelupkan kakinya kembali ke dalam kolam.


"Awawawaw, geli banget, seperti ditusuk-tusuk tapi enggak luka," seru sisi kegirangan, tangannya bersedekap dan memejamkan matanya merasakan sensasi yang baru kali ini ia rasakan. Sesaat ia diam setelah bisa menikmati gigitan ikan-ikan tersebut.


"Udah enak kan rasanya?" tanya Tania.


"Iya, Kak. Udah enggak kaya tadi. Ini manfaatnya buat apa sih, Kak?"


"Yang aku pernah baca sih buat membersihkan sel-sel kulit yang sudah mati, melancarkan peredaran darah, merelaxan badan dan mengobati stres. Kamu habis dari mana tadi? Kok Mbak baru lihat," jawab Tania kemudian bertanya.


"Tadi diajak ayah ke rumah teman kerjanya dulu waktu merantau di kota ini, terus pulangnya diajak mampir Monas," jawab Sisi. "Oh, iya kak. Kami mau pulang besok pagi-pagi sekali, kakak beneran enggak mau ikut pulang?" tanyanya.


"Kakak baru mau mulai kuliah, Dek. Nanti kalau ada liburan kakak usahakan pulang," jawab Tania.


Mereka masih menikmati terapi ikan tersebut sambil berbincang-bincang dan bercanda tawa. Tidak jauh dari sana, seseorang memperhatikan interaksi mereka dari atas balkon, seseorang yang ingin sekali bertemu dengan Tania, namun masih segan. Perasaan takut jika ia akan mendapat penolakan, takut akan dihakimi, padahal ia begitu ingin menetralisir sesuatu yang mengganjal dalam hatinya selama ini. Setelah mengetahui bahwa Tania bisa tertawa-tawa, ia langsung pergi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi-pagi sekali kira-kira masih terbilang pukul lima, keluarga paman Hisyam berpamitan untuk pulang. Tania beserta papa dan mamanya melepas keberangkatan mereka di halaman rumah.


"Tania, ini sebagian hasil penjualan kebun sengon mu, sebagian lagi sudah paman pakai buat memperbaiki rumahmu, peganglah," ucap Hisyam saat menyerahkan sebuah amplop tebal pada keponakannya, Tania.


"Terimakasih, Paman. Paman pegang saja," tolak Tania.


"Tidak, Sayang. Itu hak kamu, paman tidak mau memakan harta anak yatim," ucap paman menolak kembali. Akhirnya Tania mau menerima. "Paman pamit ya, jaga diri kamu baik-baik," imbuhnya. Tania tidak menjawab, menahan matanya yang mulai berembun.


"Mbak Dewi, kami pamit ya. Maaf, selama di sini kami hanya merepotkan," ucap Rosiana memeluk Dewi.


"Ngomong apa sih, Kamu? Justru kami bahagia dengan kehadiran kalian, rumah ini jadi rame," sahut Dewi. Dewi melepas pelukannya. "Maaf, Mbak belum sempat membelikan oleh-oleh, ini sedikit untuk beli oleh-oleh sendiri nanti di jalan," ucapnya lagi seraya menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke telapak tangan Rosiana.


"Nggak usah repot-repot, Mbak!" tolak Rosiana.


"Enggak apa-apa, Rosi," sahut Dewi.


"Kembali kasih, Rosiana. Kami juga terhibur atas kehadiran kalian," sambut Ardi.


Setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil, mereka saling melambaikan tangan. Mobil bergerak pelan meninggalkan rumah keluarga Ardiansyah.


Setelah melepas kepulangan pamannya Tania kembali ke dalam kamar. Merebahkan kembali tubuhnya yang akhir-akhir ini terasa lemah. Kira-kira pukul setengah tujuh, Siti memanggilnya untuk sarapan. Tania turun ke lantai bawah langsung bersama Siti.


Hari ini Tania hendak pergi berangkat kuliah perdananya setelah kemarin gagal. Setelah menghabiskan sarapan paginya ia kembali ke dalam kamarnya untuk menggosok gigi. Namun saat ia baru beberapa saat menggosok giginya, ia merasa mual perutnya seperti diaduk-aduk, ia memuntahkan seluruh isi perutnya kembali.


Dewi yang kebetulan ingin menengok keadaan anaknya, ini sudah menjadi kebiasaannya saat pagi hari setelah Tania tinggal di rumahnya. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak terkunci.


"Masih mual ya sayang?" ucapnya sambil memijit-mijit tengkuk Tania.


Tania kembali ke dalam kamarnya duduk di tempat tidur bersandar pada sandaran. "Kok tiba-tiba mual lagi ya, Ma? Padahal kemarin siang sampai tadi malam udah enggak mual," ungkap Tania.


Dewi mengambil minyak kayu putih lalu mengoleskannya di punggung dan perut Tania. "Apa jangan-jangan kamu hamil?" terkanya sambil terus mengoles.


"Tapi Tania belum telat kok, Ma. Jadwal menstruasi ku masih satu minggu lagi," sanggah Tania.


"Mama antar ke dokter yuk," ajak Dewi.


"Enggak usah, Ma. Mungkin cuma masuk angin karena kecapekan habis jalan-jalan kemarin lusa aja, biasanya aku minum air putih hangat ditambah minyak kayu putih juga langsung sembuh," tolak Tania.


"Yaudah, tapi kalau masih berlanjut, kamu harus periksa ke dokter lho," paksa Dewi.


"Iya, Ma. Lagian sebentar lagi Tania mau berangkat kuliah, masa kemarin gagal sekarang mau gagal lagi," tutur Tania.


"Makan lagi, Sayang!" ujar Dewi


"Enggak, Ma. Kalau aku makan sekarang yang ada nanti muntah lagi, sayang makanannya," keluh Tania.


"Ya udah, kalau kamu enggak mau makan lagi. Tapi di lemari dapur ada permen jahe, kamu bawa ya, itu bisa mengurangi rasa mualmu," tukas Dewi. "Sekarang kamu siap-siap, mama ambilkan permennya," imbuhnya.


Tania mengangguk, "Iya, Ma," sahutnya.


Tania bersiap-siap dengan segera lalu turun ke lantai bawah, melangkah ke dapur menghampiri mamanya yang sedang mengambilkan permen jahe untuknya.

__ADS_1


"Udah ketemu permennya, Ma?" tanya Tania saat melihat sang Mama membuka pintu lemari dapur, menutupnya kembali, membuka kembali pintu yang lain dan menutupnya kembali.


"Udah, ini, Sayang," jawab Dewi mengambil satu bungkus permen jahe di atas meja.


Tania menerima permen tersebut kemudian memasukkan ke dalam kantong tasnya. "Lalu mengapa Mama masih buka tutup pintu lemari?" tanyanya lagi.


"Mama mencari HP mama, setelah permen jahenya ketemu kok tiba-tiba HP mama yang hilang ya?" jawab Dewi masih tidak mau melihat pada yang diajak bicara karena masih mencari ponselnya.


Tania merogoh kantong tasnya, mengambil ponselnya, membukanya dan langsung memanggil kontak mamanya.


Tuuut...tuuut...


"Aktif, Ma. Tapi kok tidak terdengar deringnya?" gumam Tania. "Mama enggak pakai nada dering ya?" tanyanya.


"Pakai kok, Sayang," sanggah Dewi.


"Nanti Tania bantu cari lagi ya, Ma. Udah siang, Tania berangkat dulu," pamit Tania mengecup pipi kiri dan kanan Dewi secara bergantian, lalu keluar dari rumah dengan langkah agak cepat.


Sampai di halaman, Rayan sudah menunggu di kursi kemudi mobil. Tania langsung masuk dan duduk di kursi penumpang.


"Mas Rayan, sudah dari tadi?" tanya Tania.


"Udah jamuran aku di sini, aku pikir kamu bakal berangkat gasik, soalnya tadi pagi aku dapat info dari temanku yang semester 1, jadwal mata kuliah pertama dimajukan jam tujuh," tutur Rayan. Ia mulai melajukan mobilnya.


"Kok Mas Rayan enggak kasih tahu aku sih?" cebik Tania.


"Kata siapa aku enggak kasih tahu kamu? Aku udah chat WA, tapi belum kamu buka, aku pikir kamu sibuk," sanggah Rayan.


Tania membuka kembali ponselnya, ternyata Rayan tidak berbohong, ia memang sudah mengirim pesan tentang apa yang diungkapkannya barusan.


Sampai di kampus, Tania juga masih bingung. Ia belum tahu ruangan kelasnya yang mana.


"Kenapa belum masuk juga, Tan?" tanya Rayan yang masih melihat Tania berdiri di samping mobil.


"Anterin, aku enggak tahu ruangannya yang mana?" Tania memohon dengan manja.


"Ck, aku ini serasa jadi baby sitter kamu bukan sopir mu," Rayan mencebik. "Coba lihat jadwalnya!" pintanya.


"Jadwal yang mana?" tanya Tania bingung karena ia merasa belum mendapat jadwal kuliah.


"Ck, amplop yang kemarin aku kasih ke kamu mana?" Rayan mencebik lagi. "Itu isinya jadwal kuliah dan kartu mahasiswa kamu," tuturnya.


"Oo," Tania membuka resleting tasnya, mengambil amplop yang kemarin diberikan Rayan padanya.


"Coba lihat!" pinta Rayan dengan paksa. Ia membaca jadwal tersebut, mencoba mencari jadwal kuliah Tania pagi hari ini. Rayan kembali memberikan kertas tersebut kepada Tania. "Ikut aku!" tukasnya segera berjalan cepat. Tania yang masih mengembalikan amplop ke dalam tas menjadi tertinggal.


"Tunggu donk, Mas Rayan!" seru Tania. "Kalau aku mual muntah lagi apa Mas Rayan mau tanggung jawab?" protes Tania.


Rayan menghentikan langkahnya. "Enak aja, aku nggak makan nangkanya malah kena getahnya. Kalau mau minta pertanggungjawaban ya sama suami kamu lah, Tan," gerutunya.


Karena tidak sabar menunggu, Rayan menarik tangan Tania untuk mensejajarkan langkahnya menyusuri koridor. Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup sebuah ruangan.


"Ini ruangannya, Tan. Aku ada urusan, nanti kalau udah selesai kamu telpon atau chat WA ya," ucap Rayan. Tania mengangguk.


Rayan mengetuk pintu tiga kali lalu membukakan pintu untuk Tania. "Assalamu'alaikum, saya mengantarkan mahasiswa baru, Pak," ucap Rayan pada sang dosen diikuti Tania yang merasa grogi di belakangnya.


"Silahkan duduk, Nona!" ucap Sang Dosen mempersilahkan duduk kepada Tania.


Tania segera mencari bangku yang kosong dan mendudukinya. Rayan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dosen kembali melanjutkan membahas materi kuliah pagi itu.


.


.


.


TBC


Happy reading, semoga suka


jangan lupa untuk tinggalkan like dan komen ya. Komen yang terbaik selalu author tunggu.


Terimakasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2