2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Pungguk merindu


__ADS_3

Pagi-pagi sebelum matahari terbit, Tania ditemani Edos jalan pagi menyusuri jalan kampung, tujuannya supaya nanti proses persalinannya lancar. Hal ini sudah dilakukan rutin setiap pagi selama satu minggu sejak mereka berada di kampung.


Di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan ibu-ibu yang sedang matun (menyiangi rumput) di sawah yang ada di pinggir jalan. Tania menghentikan langkahnya dan menepi untuk menyapa mereka.


"Pagi ibu-ibu," sapa Tania.


"Tania? Mas Edos? Jadi suami kamu Mas Edos, Tan?" seru salah seorang tetangga Tania yang ikut kerja matun.


"Hehehe, iya, Bu," jawab Tania tersipu. "Itu yang di kantong hitam apa, Bu?" Tania balik bertanya.


"Kroco (tutut sawah)" jawab si ibu.


"Enak tuh kalau sudah dimasak," timpal Tania.


"Kamu mau masak kroco?" tanya si ibu.


"Enggak ah, Bu. Kalau sudah matang sih mau, hehe," jawab Tania.


"Sudah mau lahiran ya, Tan?" tanya si ibu lagi.


"Satu bulan lagi, Bu," jawab Tania. "Kami permisi mau lanjut jalan ya, Bu," pamitnya.


"Iya, Tan. Hati-hati," seru si ibu.


Tania pun melanjutkan perjalanan, kali ini mereka bertemu dengan petani yang sedang memanen sayuran. Ada kangkung, bayam, sawi, dan daun ketela rambat yang sudah siap untuk dibawa ke pasar. Tania membeli empat ikat, masing-masing jenis satu ikat.


Setelah puas berjalan, mereka akhirnya pulang ke rumah.


"Yank, nanti kita belanja kebutuhan persiapan lahiran ya," ajak Tania kepada Edos.


"Yang kita bawa dari Jakarta masih kurang?" Edos balik bertanya.


"Kurang banyak lah, itu baru pakaian belum kebutuhan lainnya," jawab Tania.


"Jam berapa? Nanti aku mau ke pabrik dulu soalnya."


"Sorean aja ya, sekalian kita buka puasa di luar," jawab Tania.


"Oke, Jam empat sore aku pulang," Edos menyanggupi.


Sampai di depan rumah Tania, di kursi teras sudah duduk Nurlita menunggu mereka. Tania segera menghambur mencium punggung tangan mama mertuanya, kemudian ia duduk di kursi yang lain. Sementara Edos langsung masuk ke dalam rumah.


"Mama sama siapa? Sudah lama?" tanya Tania.


"Baru satu jam yang lalu," jawab Nurlita tersenyum.


"Wah, sudah lama donk. Kok enggak telepon kalau mau datang?"


"Mama enggak mau mengganggu acara jalan-jalan kamu, Sayang," jawab Nurlita.


"Mama sendirian?" tanya Tania yang tidak melihat mobil ataupun sopir.


"Tadi sama Papa, sekarang papanya sedang ke pabrik bareng Aris," jawab Nurlita.


"Kok enggak nunggu Edos? katanya dia juga mau ke sana," tanya Tania.


"Mama tidak tahu, Tan. Oh ya, gimana persiapan buat si kecil nanti, sudah siap semua?" tanya Nurlita.


"Belum, Ma. Tania baru belanja popok dan pakaian saja. Rencananya nanti sore kita mau belanja keperluan lahiran yang lain."


"Mama bawa beberapa, Mama taruh di dalam," tutur Nurlita.


"Iya, Ma. Tania lihat ya, Ma. Sekalian Tania pamit mau mandi, gerah," pamit Tania.


"Iya, Sayang," sahut Nurlita.

__ADS_1


Tania masuk ke dalam rumah, terperangah dengan apa yang dilihatnya. "Ma, ini sih bukan beberapa, tapi buanyak!" seru Tania.


Tania mulai membongkar barang-barang yang dibawa oleh mama mertuanya. Ada pakaian bayi, bedong, popok, diaper, peralatan mandi, sabun cuci, pewangi pakaian dan keperluan bayi lainnya, juga ada perlengkapan untuk si ibu seperti jarik, gurita dan jamu setelah melahirkan. Sekarang ruangan itu tak ubahnya seperti pasar tiban.


"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Edos yang baru muncul dari dalam kamar dengan penampilan yang rapi dan tas selempang weist bag di dadanya.


"Siapa yang ribut-ribut?" Tania mengelak.


"Ini sudah banyak, nanti sore masih mau hunting?" tanya Edos lagi.


"Box bayi, stroller dan jemuran kan belum punya, Yank," tutur Tania.


"Apa perlu kita beli? Bukanya setelah melahirkan kita pindah ke Jakarta lagi? Kita kan enggak di sini terus, kamu harus kembali kuliah," tutur Edos.


"Tapi kita butuh, Yank, dan kita mampu beli. Nanti kalau kita pindah bisa kita kasih ke tetangga yang enggak mampu beli," tutur Tania yang akhirnya membuat Edos mengerti.


"Ya sudah, nanti sore kita jalan. Aku berangkat kerja dulu ya," pamit Edos. Tania meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya, Edos membalasnya dengan mencium kening istrinya.


"Bau acem," ucap Edos mengejek.


"Namanya juga belum mandi. Hati-hati ya, Yank. Kamu berangkat sama siapa?Aris sudah berangkat bareng papa," tanya Tania.


"Bentar lagi Doni ke sini, aku mau tunggu di depan saja," jawab Edos.


Edos melangkah ke luar rumah. Di halaman Doni tengah memarkir motornya. Edos menghampiri mamanya.


"Edos berangkat, Ma. Titip istri Edos," pamit Edos seraya mencium punggung tangan sang Mama.


"Hati-hati, Sayang," pesan Nurlita.


"Doni juga pamit, Bude," pamit Doni ikut-ikutan.


"Hati-hati bawa motornya ya, Don. Jangan ngebut," pesan Nurlita.


"Kamu ini!" cicit Nurlita.


Suara motor mulai menghilang bersamaan dengan hilangnya kedua pemuda bersama motornya tersebut.


Nurlita masuk ke dalam rumah. Ia mencari sapu untuk membantu menantunya membersihkan lantai. Sementara Tania masih berada di dalam kamar mandi, belum menyelesaikan mandinya.


******


Selama satu minggu berada di kampung halaman, Nadia mengisi hari-harinya dengan membantu Mamaknya menunggui padi di sawah. Beberapa hari lagi padi tersebut akan dipanen. Namun, Nadia tidak berani menggunakan suaranya yang keras untuk mengusir burung-burung yang memakan padi di sawah itu, karena jika ia menjerit bekas jahitannya masih terasa nyeri. Ia hanya memukul bunyi-bunyian yang dipasang di sawah tersebut.


Saat sedang sendiri kadang ia teringat pada nasib yang menimpanya. Kenapa ia tidak mati saat penusukan itu saja. Kenapa ia harus hidup dan menjadi perempuan yang tidak sempurna. Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang boleh dikatakan mandul seperti dia.


"A'ang, yuk pulang. Sudah hampir dhuhur, burungnya juga sudah mulai berkurang karena hari sudah semakin panas," ajak Nindya tiba-tiba yang membuat Nadia kaget.


"Ayo, tapi jangan cepat-cepat jalannya, A'ang belum bisa jalan cepat."


"Iya, Ang. Ini kan enggak cepat," sahut Nindya.


Saat telah memasuki perkampungan, Nadia melihat anak-anak yang di antara mereka ada yang seusia Tiara.


"Tiara," lirih Nadia yang masih bisa didengar oleh Nindya.


"Tiara siapa, Ang? Anak kecil itu namanya Keysha bukan Tiara."


"Anak itu mirip Tiara, anak dosen A'ang," jawab Nadia.


"Oo, A'ang lagi kangen sama Tiara ya?" tanya Nindya lagi.


"Iya," jawab Nadia singkat.


"Kangen sama papanya juga, kan?" goda Nindya.

__ADS_1


"Apaan sih kamu, jangan ngaco!" sergah Nadia.


Nindya malah tertawa, "Hahaha, A'ang. Kangen juga Nindy enggak apa-apa kok," Nindya masih terus menggoda kakaknya.


"Mana boleh? Pak Rasya itu selain dosen juga berasal dari keluarga konglomerat. A'ang mana berani mempunyai perasaan rindu sama dia. Memangnya siapa A'ang? Cantik enggak, cuma gadis kampung miskin yang mencoba peruntungan kuliah karena beasiswa. Apalagi kondisi A'ang sekarang sudah kehilangan sebelah peranakan. Menyukai pemuda yang setara derajatnya dengan kita saja A'ang tidak berani. Apalagi orang yang bagaikan raja seperti dia," tutur Nadia menahan sesak di dadanya.


Nindya terperangah mendengar ucapan kakaknya, "A'ang kenapa jadi pesimis begini sih? Mana A'angnya Nindy yang semangat 45nya membara dulu?" sergahnya. "Ang, Jodoh, rezeki, mati kita itu sudah takdir Allah dan sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini, Ang," imbuhnya.


"Entahlah, Nindy. Enggak usah bahas itu lagi ya. A'ang masuk kamar dulu ya," ucap Nadia menghindari pembahasan saat mereka sampai di dalam rumah.


Nadia mempercepat langkahnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, membaringkan tubuhnya miring membelakangi pintu, air mata yang sejak tadi ditahannya kini menyeruak sudah tidak dapat dibendung lagi. Dalam hati ia selalu menanamkan kata 'Allah Maha Adil', tetapi kenyataan yang dialaminya saat ini seakan-akan mengkhianati kata tersebut. Bukannya ia menyesali perbuatannya yang telah menolong dua nyawa. Nyawa sahabat yang baru setengah tahun dikenalnya dan calon anak yang berada di dalam kandungannya. Hal inilah yang mendorong alam bawah sadar Nadia untuk bangun dari komanya.


Ya, kamu adalah pahlawan, Nadia. Pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa Tania dan bayi yang dikandungnya. Pahlawan buat Tiara yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya. Mungkin masih banyak lagi orang-orang yang membutuhkan jasamu.


Setengah harian Nadia mengurung diri di dalam kamar. Hingga saat keluarganya berbuka puasa bersama ia pun belum keluar juga.


"Nindy, A'ang kamu seharian tidak keluar dari kamar, apa dia sakit lagi?" tanya Mimik.


"Nindy tidak tahu, Mik. Tadi sebelum masuk kamar, A'ang cerita tentang Tiara," jawab Nindya.


"Kalian makanlah dulu, Mimik panggil A'ang Nadia," ucap Mimik meninggalkan ruang makan.


Mimik membuka pintu kamar Nadia, terlihat olehnya Nadia yang dengan wajah sembab sedang duduk berselonjor kaki dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Nadia, boleh Mimik masuk?" tanya Mimik. Nadia hanya diam, tetapi anggukan kepalanya menandakan bahwa ia mengijinkan mimiknya masuk.


Mimik melangkah mendekat dan duduk di sisi ranjang. Disentuhnya kening anak perempuan paling besarnya tersebut. "Luka kamu masih sakit, kok enggak makan?" tanyanya yang hanya mendapat gelengan dari Nadia. "Makan ya, Sayang, Mimik bawa ke sini nasinya?" tawarnya. Kali ini Nadia mengangguk.


'Yang sakit hati Nadia, Mik,' batin Nadia.


Mimik kembali keluar dari kamar Nadia menuju ke ruang makan untuk mengambilkan makanan. Ia mengambil sebuah piring, kemudian langsung mengisinya dengan nasi dan lauk pauk, tidak lupa mengambilkan air putih. Mimik langsung kembali ke kamar putrinya tersebut. Meletakkan piring dan gelas yang dibawanya di meja.


"Dimakan ya, biar cepat sehat. Mimik makan di belakang," suruh Mimik kemudian langsung keluar meninggalkan Nadia.


Nadia segera menyantap makanannya, karena ia memang sudah lapar sejak siang tadi perutnya belum kemasukan apa-apa. Ia tidak ikut berpuasa tetapi seperti orang yang puasa.


Setelah menyelesaikan makannya, Nadia membawa piring kotornya ke dapur, kemudian kembali lagi masuk ke kamarnya. Kembali duduk dan termenung. Tiba-tiba ponselnya berdering. Diraihnya ponsel tersebut, terlihat akun Rayan, Prima dan Tania di sana. Nadia menggeser ikon berwarna hijau. Kini terpampang di layar ponselnya wajah Tania, Rayan dan Prima.


"Hai semua, aku rindu kalian," sapa Nadia pada ketiga sahabatnya.


Prima menampakkan wajah dengan mata berkaca-kaca. "Kalian kompak banget sih ninggalin aku sendirian," gerutu Prima.


"Aku kan enggak mau ganggu kemesraan kalian," sanggah Nadia.


"Iya, Pim. Lagian di Jakarta aku nggak ada kegiatan apa-apa," timpal Tania.


"Iya, tapi sekarang Mas Yayan juga ikut pergi," tutur Prima yang sudah mulai menangis.


"Sabar, Ayang. Mas Yayan pergi kan juga nantinya buat kita," tutur Rayan. "Gimana kabar kamu, Tan? Udah mau lahiran ya?" Rayan beralih bertanya pada Tania.


"Alhamdulillah, sehat. Masih satu bulan lagi Mas. Memang Mas Rayan jadi ngambil S2 di mana?" jawab dan tanya Tania.


"Aku kuliah di Australia, Tan. Berangkat kemarin sore," jawab Rayan. "Oh iya, Tiara merindukan kalian lho, terutama kamu, Nanad. Kemarin lusa dia sempat tidak mau makan kalau tidak disuapi sama kamu," imbuhnya.


Hati Nadia bergetar sejak mendengar penuturan Rayan. Hingga obrolan mereka berakhir pun bayangan anak kecil itu masih saja bercokol di pikirannya. Nadia membuka kembali ponselnya, mencari foto Tiara di galery foto. Ia menemukan sebuah foto dirinya bersama Tiara saat di mall. "Mama juga kangen kamu, Tiara," lirihnya.


.


.


.


TBC


Terima kasih semuanya 😍

__ADS_1


__ADS_2