2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Salah Wasiat


__ADS_3

"Ada-ada saja kalian ini, masa menikah cuma sampingan," timpal Umi terkekeh.


"Em ... kalau dilihat-lihat wajah umi kok mirip seseorang ya. Wajahnya familiar sekali," celetuk Prima yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.


"Siapa?" tanya Umi.


Tania dan Nadia juga berfikir sama seperti Prima. "Oh iya, apa Umi kenal dengan Ustadz Amar? Dia dosen di kampus tempat Tania kuliah," tanya Tania.


"Oo, si pemberontak itu?" timpal Abah.


"Oo, anak durhaka itu teman kalian?" ucap Umi menambahi.


"Kok durhaka sih, Umi? Ustadz Amar itu orang baik kok," bela Tania.


"Istighfar Umi, ucapan itu do'a. Jangan gara-gara ucapan Umi Amar jadi durhaka beneran," Abi memperingatkan.


"Astaghfirullah Al-Adhim. Gimana Umi enggak bilang dia durhaka coba? Lha wong Abahnya sendiri punya SMA Islam terpadu yang modern dia malah memilih sekolah di tempat SMA umum. Sekarang setelah lulur S2 dia malah ngajar di tempat lain bukannya memajukan sekolah punya keluarga sendiri yang sudah dirintis oleh Abah," ungkap Umi.


"Pantesan tadi waktu Tania mau berangkat ke sini dia bilang titip salam buat pengasuh pondok pesantren, Tania kira dia bercanda doang, Umi," timpal Tania. "Eh, tapi bukan dia kan yang Umi bilang enggak laku-laku?" imbuhnya terkekeh.


"Bukan dong, Amar kan udah nikah. Adiknya lagi beda dua tahun doang sama Amar, si bontot. Namanya Amril, dia gurunya Farhan juga," ucap Umi.


Abah pamit meninggalkan para wanita karena merasa itu bukan ranahnya lagi. Lebih baik beliau mengerjakan sesuatu yang lain.


"Jodohin sama Tania aja, Umi. Sebentar lagi Tania juga bakalan cerai sama suaminya kok," celetuk Prima lagi.


"Pipim, mulut kamu itu perlu dirukiyah kayaknya," seru Tania memperingatkan. Dia tidak suka dengan mulut Prima yang ember segede tampungan air dapur mamanya. "Jangan dengerin Pipim, Umi. Dia kalau ngomong memang suka enggak pakai baca bismillah jadi enggak terkontrol," ucapnya beralih ke Umi.


"Kenapa harus cerai, Nak? Kamu kan lagi hamil. Kasihan nanti anak-anak kamu. Biarpun nanti dapat ayah yang mau menerima kamu belum tentu bisa menerima anak-anak kamu juga," ucap Umi menasehati Tania, ia lebih mempercayai ucapan Prima yang ceplas-ceplos tetapi jujur.


"Eeh ..."


Belum sempat Tania menjawab, Prima sudah kembali memotong ucapannya.


"Bayi yang dikandung Tania itu bukan anak suaminya kok, Umi."


"Apa? Kamu selingkuh, Nak? Kamu melakukan perbuatan zina, Nak?Astaghfirullah Al-Adhim," cecar Umi kepada Tania seraya mengelus dada.


Tania tidak mampu menjawab pertanyaan Umi. Wajahnya pias, bibirnya cuma bergetar dan tangannya ia gerakkan di depan dada.


"Na'udzubillah, Tania tidak selingkuh, Umi. Bayi yang dikandung Tania ini bukan hasil perzinahan apalagi perselingkuhan, dia adalah anak dari suaminya yang terdahulu. Suaminya meninggal beberapa bulan lalu," terang Nadia ikut buka suara.


"Innalilahi wa inna ilaihi roji'un. Umi turut berduka cita ya, Nak," ucap Umi.


"Terima kasih, Umi," sahut Tania.


"Suaminya Tania yang sekarang itu kakak kandung suaminya yang sudah meninggal, Umi. Mereka menikah karena wasiat dari suami Tania yang pertama, dan suaminya yang sekarang sudah punya istri lagi, Umi," ungkap Nadia lagi.


"Subhanallah, Nak. Semoga masalahmu segera terselesaikan ya," ucap Umi.


"Aamiin ... terima kasih, Umi," ucap Tania.


"Assalamu'alaikum," terdengar sapaan dari ambang pintu.

__ADS_1


Dua orang pemuda beda usia muncul dari ambang pintu ruang tamu saat jarum pendek jam tepat berada di angka lima. Kedua pemuda itu sama-sama memakai baju Koko dengan bawahan sarung dan kopiah bertengger di atas kepalanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab seluruh penghuni ruang tamu kompak.


Farhan menciumi punggung tangan mereka yang berada di ruang tamu satu per satu lalu duduk di samping Tania. Sementara pemuda satunya yang mirip dengan Ustadz Amar hanya melirik sebentar ke arah para wanita kemudian masuk melalui pintu ruang tengah.


"Amril, kok kamu enggak ikut salim seperti Farhan?" kekeh Umi dengan suara agak keras agar anaknya mendengar.


"Salimnya lagi mandi katanya, Umi," sahut Amril dari balik dinding.


"Kok Kak Tania yang jemput Farhan? Papa bilang Pak Joko," tanya Farhan kepada sang kakak.


"Pak Jokonya ngantar Papa ke Sukabumi kata Mama," sahut Tania. "Kamu kok lama sekali? Barang yang kamu bawa cuma ini?" cecarnya kemudian.


"Farhan belum sempat berbenah dari kemarin, Kak, barusan juga ikut ngaji sore bareng Ustadz Amril dulu nunggu sampai selesai. Cuma ini aja yang Farhan punya, lainnya udah pada hilang di tempat jemuran," sahut Farhan menunjuk tas punggungnya.


Abi yang sudah selesai dengan pekerjaannya kembali lagi ke ruang tamu.


"Kalau begitu kami pamit pulang ya, Abi, Umi," ucap Tania.


"Hati-hati di jalan ya. Sering-seringlah main kemari, Umi jadinya kan ada teman ngobrol. Selama ini Umi enggak punya teman ngobrol karena penghuni asrama ini laki-laki semua. Farhan, jaga kakak kamu ya," ucap Umi.


"Iya, Umi," sahut Farhan.


"In sya Allah kalau ada waktu senggang kita akan main kemari lagi, Umi," timpal Nadia.


Mereka akhirnya meninggalkan lingkungan pondok pesantren. Remaja itu duduk di samping sang kakak di kursi penumpang. Sementara di kursi depan Prima duduk di samping kursi kemudi yang diduduki oleh Nadia. Nadia yang mengendalikan setir mobil.


"Kamu betah mondok di pesantren yang sekarang, Dek?" tanya Tania kepada adiknya.


"Kalau betah kenapa sekarang udah minta dijemput?" tanya Tania.


"Kak Bizar ngajak Farhan pulang ke Pekalongan sekalian bawa suku cadang mesin penggiling pabrik tehnya juragan Burhan yang rusak," sahut Farhan.


"Kak Bizar?" beo Tania.


"Dia enggak ngajak Kak Tania?" tanya Farhan.


"Enggak kok, Kakak juga malas sering bolak-balik pulang kampung. Lalu kenapa pas Papa nyekolahin kamu di sekolah elit malah enggak betah? Baru satu minggu udah minggat," tanya Tania lagi.


"Sejak dulu Farhan udah sekolah di sekolah pesantren, Kak. Latar belakang mereka itu sama seperti Farhan. Sedangkan di sekolah internasional waktu itu Farhan enggak punya teman. Di sana rata-rata berasal dari keluarga berada. Dunia pertemanan mereka itu bergep-gep. Farhan sering dibuli karena mereka bilang Farhan enggak pantas sekolah di sana. Bahkan mereka tidak segan-segan mengatakan Farhan ini anak haram makanya Farhan enggak betah," ungkap Farhan mengeluh.


"Kalau di sekolah yang sekarang?" tanya Tania lagi.


"Di sekolah sekarang rata-rata berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, bahkan banyak dari mereka yang sama seperti Farhan," sahut Farhan.


"Belajar yang rajin ya, Dek. Biar nanti jadi orang sukses enggak ngecewain orang-orang yang sudah membiayai kamu," ucap Tania seraya mengelus lengan sang adik.


"In sya Allah, Kak," sahut Farhan. "Kakak hamil lagi ya? Udah berapa bulan, Kak?" tanyanya kemudian.


"Udah mau tujuh nih, udah kuat banget tendangannya," sahut Tania sembari mengelus perutnya.


"Wah, mau jadi pemain bola ya dek?" sergah Farhan ikut mengelus perut sang kakak.

__ADS_1


"Enak aja, dia cewek tahu," tolak Tania.


"Loh, cewek juga bisa jadi pemain sepak bola kok," timpal Farhan tidak mau kalah.


"Enggak boleh! Amit-amit jabang bayi," ucap Tania sambil masih mengelus perutnya. "Kakak capek, ngantuk mau tidur ah," pungkas Tania. Ibu hamil tersebut lalu bersandar di pundak ringkih sang adik.


Sebenarnya Farhan merasa enggak nyaman pundaknya dipakai sebagai tempat bersandar kakaknya tidur, tetapi ia tidak tega mengungkapkannya kepada sang kakak yang sekarang sudah tertidur dengan nyaman.


Tepat saat azan Maghrib berkumandang mobil yang dikemudikan Nadia sampai di halaman rumah Ardiansyah. Nadia langsung memutar balik mobilnya saat Tania dan Farhan sudah turun. Kakak adik beda ibu tersebut langsung masuk ke dalam rumah.


"Kalian baru sampai di rumah?" ucap Dewi menyambut kedua anaknya di ruang tengah.


Tania memeluk sang mama. "Tadi Farhannya ngaji sore dulu, Ma," ucapnya.


"Kak Bizar ada di kamar kamu yang di atas," bisik Dewi.


"Sama istri barunya, Ma?" tanya Tania berbisik juga.


"Sendiri," sahut Dewi.


"Apa? Kak Bizar punya istri selain Kak Tania?" tanya Farhan yang sedikit mendengar bisik-bisik antara sang kakak dengan mamanya.


"Eh," Dewi melepas pelukan Tania lalu beralih memeluk Farhan yang sudah dianggap putranya sendiri. "Kamu pasti capek, masuk kamar kamu dulu gih," ucapnya setelah melepas kembali pelukannya.


"Ma?" protes Farhan kepada Dewi yang berusaha menghindar.


"Farhan sholat Maghrib dulu ya jangan langsung mandi, bahaya," ucap Dewi sebelum meninggalkan pemuda itu.


Sementara Tania berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sebelum membuka pintu ia mengetuknya seraya mengucap salam. Lalu membukanya sendiri.


"Wa'alaikumussalam," sahut seorang Pria yang masih lengkap dengan atribut sholatnya tengah duduk di sofa sibuk dengan laptop di atas meja.


"Kak Bizar kapan sampai?" tanya Tania.


Pria itu menyempatkan diri untuk menoleh ke arah wanita yang baru masuk ke dalam kamar. "Tadi sekitar pukul lima," sahutnya. "Kamu baru pulang?" tanyanya seraya menyodorkan punggung tangannya.


"Tadi disuruh Mama jemput Farhan ke Pesantren," sahut Tania setelah mencium punggung tangan suaminya tersebut. "Kakak sudah sholat Maghrib?" tanyanya kemudian, padahal Tania sudah bisa menebak dari pakaian yang dikenakan Abizar.


"Sudah," sahut Abizar singkat lalu kembali fokus dengan laptopnya.


"Tania mandi dulu ya, Kak," pamit Tania.


"Iya," sahut Abizar singkat lagi.


Tania mengambil handuk dan pakaian gantinya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mengunci pintu wanita hamil itu menggantung pakaian yang ia bawa pada kapstok.


"Hubungan pernikahan ku dan Kak Bizar kenapa masih kaku gini aja ya. Apa Edos salah kasih wasiat? Apa wasiat yang dibacakan waktu itu tertukar?" gumam Tania sambil mencampur air panas dan dingin ke dalam bak berendam.


Setelah temperatur dan volume air untuk berendam dirasa cukup, Tania menambahkan cairan busa dan aromaterapi essentials supaya tubuhnya rileks. Tania lalu melepaskan pakaiannya satu per satu dan perlahan masuk ke dalam bak berendam. Jangan lama-lama berendam, Tan. Ingat, kamu belum shalat Maghrib.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2