
"Mas, hari Minggu besok free kan? Antar Niken ke rumah Mama Dewi ya. Udah lama kan kita enggak ke sana. Bahkan jauh sebelum Arkan lahir," pinta Niken kepada suaminya saat mereka tengah menyantap makan malam.
Bram dan Niken kini menghuni rumah hadiah pernikahan mereka dari Papa Ardi. Rumah yang selama ini terbengkalai karena letaknya lebih jauh dari kantor Bram dan juga butik milik Niken.
Setelah melahirkan Arkan, rasanya kurang leluasa jika tinggal di apartemen. Di rumah tersebut kini sudah dilengkapi taman bermain untuk anak-anak yang dibuat untuk Arkan kelak seiring bertambahnya usia. Mereka memperkerjakan tiga asisten rumah tangga dan seorang baby sitter yang direkrut dari yayasan yang dapat dipercaya. Namun, bukan karena hal tersebut Niken menjadi abai dengan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Arkan tetap tidur bersama kedua orang tuanya bukan bersama pembantu atau baby sitternya.
"Iya, Mas anterin, tapi Mas tinggal. Mas ada janji ketemu calon mitra Ardimart. Dia bisanya hari Minggu. Soalnya dia datang dari pelosok kampung, katanya mau buka gerai di kampungnya," sahut Bram. Padahal bukan karena alasan itu saja. Singgah sebentar di rumah masa kecil hingga dewasa sebentar tidak apa-apa lah. Apalagi barang-barang Bram masih ada di kamar lamanya di rumah papanya. Bram ingin menghindar dari bertemu dengan Tania. CEO ARD'S Corp tersebut selama ini dihantui rasa bersalah atas meninggalnya Edos.
"Mana mungkin aku ke rumah Papa dan ketemu sama Tania di sana. Meskipun aku sudah tidak ada perasaan terhadap Tania, tetapi aku belum bisa untuk bertatap muka dengan adik tiriku itu," tolak Bram dalam hati. Dasar pengecut kamu Bram.
Usai makan Bram menonton televisi di ruang keluarga sementara Niken ke kamar putranya untuk mengambil Arkan. Anak kecil itu memang sudah memiliki kamar sendiri tetapi selama ini tidur satu kamar bersama kedua orang tuanya, bahkan kadang satu kasur jika Bram tidak meminta jatah karena terlalu lelah.
Niken mengambil Arkan yang sedang ditimang-timang oleh suster Ana untuk menidurkannya. Lalu ia kembali berkumpul dengan suaminya di ruang keluarga.
"Nih, Pa, jagoan Papa belum mau bobo. Pengen dininaboboin sama papanya kali," ucap Niken seraya duduk di samping Bram.
"N*nen dulu sama Mama, nanti Papa timang-timang sama ninaboboin kalau udah puas n*n*nnya," sahut Bram seraya memencet-mencet remote tv.
Niken menyusui Arkan hingga tertidur. Setelah mulutnya terlepas Niken menyerahkan kepada papanya. "Arkan udah tidur nih, Papa," ucap Niken dengan suara dibuat seperti anak kecil.
"Kamu mau tidur sekarang?" tanya Bram yang hendak membawa Arkan ke dalam kamar mereka.
"Enggak ah, kan belum ada satu jam dari waktu makan malam kita. Nanti yang ada Niken tambah gendut lagi," tolak Niken.
"Enggak apa-apa gendut, bagiku yang penting kamu dan Arkan sehat, yuk!" sahut Bram sembari mengulurkan telapak tangan mengajak Niken untuk membersamainya. Sementara lengannya menopang tubuh Arkan.
"Gimana enggak apa-apa gendut? Dulu waktu kecil aku gendut saja diolok-olok seperti drum minyak," gerutu Niken dalam hati. Wajahnya berubah muram durja mengingat masa-masa kecilnya dulu mengejar cinta Bram.
Niken pun dengan malas menyambut tangan Bram untuk bangun dari duduknya di sofa. Ia melangkah di belakang dengan Bram setelah genggamannya terlepas.
Sesampai di kamar Bram menidurkan Arkan ke dalam box bayi. Sementara Niken langsung merebahkan dirinya di kasur menghadap ke tembok.
Grep
Tangan kekar itu memeluk Niken dari belakang. "Katanya enggak mau tidur langsung takut gemuk, kok udah rebahan?" tanyanya. Niken tidak menjawabnya, tetap bergeming.
Bram memajukan tubuhnya menilik wajah Niken. "Kenapa istriku manyun gini sih?" tanyanya sembari menoel pipi Niken.
"Pacar Mas waktu SMA siapa namanya? Mas masih suka ketemu sama dia?" tanya Niken.
"Amel? Kenapa tiba-tiba tanyain dia?" cecar Bram menaikkan sebelah alisnya.
"Dulu Mas suka mengolok-olok Niken drum minyak pas pacaran sama dia. Niken pingin tahu aja kabar dia sekarang," sahut Niken dengan wajah cemberut.
"Cari aja di google tentang Amelia Chandrawinata. Mas sejak perpisahan SMA belum pernah ketemu dia lagi," suruh Bram. "Tentang sikap Mas yang lalu dari dulu hingga kemarin terhadap kamu, Mas minta maaf. Mas banyak khilaf sama kamu," imbuhnya sembari mengendus menciumi tengkuk Tania.
__ADS_1
"Amelia Chandrawinata? Kayak familier nama itu," beo Niken. Ia langsung mengetik sesuatu di laman pencarian. "Benar ternyata dia salah satu designer penyelenggara acara Jakarta Fashion week bulan depan," lanjutnya lagi.
"Kamu mau ikut acara itu?" tanya Bram melirik layar ponsel yang dipegang oleh istrinya.
Niken pun melirik suaminya. "Boleh kan?" ucapnya.
"Boleh lah, Mas enggak mau mengekang kamu. Kamu bebas menentukan karier kamu. Papa dan Mamamu saja yang melahirkan dan membesarkan kamu tidak mengekang. Mereka membiarkan kamu merintis kerja sendiri sementara perusahaan Papa Haidar membutuhkan kamu sebagai putra satu-satunya di perusahaan miliknya." sahut Bram panjang lebar.
Niken membalikkan badan lalu mendekatkan hidungnya di hidung suaminya. "Terima kasih ya, Mas," ucapnya lalu menciumi gemas suaminya.
"Mas dan Amel beda keyakinan, Niken. Jadi sejak dulu Mas sudah mengubur dalam keinginan untuk berhubungan dengan dia. Lagi pula dulu Mas cuma iseng, Mas taruhan sama teman-teman buat dapetin dia. Mas enggak cinta sama dia. Jadi kamu enggak perlu cemburu sama dia," ungkap Bram.
Niken kembali mencium dan mengecup seluruh wajah Bram dengan gemas membuat sesuatu di tubuh Bram bangkit.
Bram kembali memeluk Niken. "Kamu udah enggak libur 'kan, Sayang?" tanyanya menatap wajah sang istri penuh damba.
"Udah selesai," sahut Niken tersenyum malu sembari membalas pelukan suami. Ia dapat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Sepertinya kita perlu bulan madu. Kamu mau kita bulan madu ke mana?" cetus Bram.
Niken mencubit perut suaminya. "Dulu kan sudah dikasih kesempatan bulan madu sama Papa Ardi, Mas Bram malah sia-siain," cebik Niken.
"Dulu Mas belum kenal kamu, sekarang kita ulangi aja bulan madunya ya," ajak Bram.
"Udah ada Arkan baru mikir bulan madu. Niken nggak mau ninggalin Arkan saat masih ASI eksklusif. Niken enggak tega, kasihan dia," ungkap Niken.
*****
Perut Tania semakin besar, kandungannya kini sudah menginjak tujuh bulan. Tania kini mulai mengurangi kegiatan yang tidak penting dan berat-berat. Abizar berjanji tidak kembali ke Jepang sampai Tania melahirkan. Hal itu pun ditepati oleh pria tersebut.
Tania tengah mematut dirinya di depan cermin. Ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Baju-baju kuliahnya tidak ada lagi yang muat. Terpaksa wanita hamil itu mengenakan gamis yang nyaman untuk pergi ke kampus. Gamis dengan bahan rayon viskos menjadi pilihannya.
Sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Telapak tangan itu mengelus lembut di sana.
"Kakak," cicit Tania yang sedang memasang hijabnya.
"Kapan kamu off kuliah," tanya pria itu tak peduli dengan cicitan sang istri.
"Habis ujian semester ada jeda dua minggu. Tania mau gunain waktu itu untuk operasi SC," sahut Tania.
"Kamu mau kita bulan madu ke mana setelah melahirkan?" tanya Abizar lagi.
"Enggak ada bulan madu ya, Kak. Tania sudah putuskan, pernikahan kita hanya hubungan di atas kertas. Kakak bulan madu saja berdua sama Kak Bela. Kak Bela lebih membutuhkan kakak dari pada Tania," pungkas Tania dengan senyum dipaksakan.
"Hebat sekali kamu, Tania. Menyuruh suamimu untuk berbulan madu bersama madu mu," pekik Tania dalam hati.
__ADS_1
"Kakak ingin jadi suami yang bertanggung jawab, Tan," cicit Abizar.
"Kak, cukup kakak jadi wali dari anak-anakku atau wali untuk putriku jika ia menikah kelak. Karena kakak adalah saudara laki-laki satu ayah dari ayahnya," tukas Tania.
"Mikirmu kejauhan, Dek. Melahirkan anak perempuan aja belum," cebik Abizar seraya menjentikkan jarinya di kening Tania.
"Hehe ... Kak, Tania udah selesai nih. Lepasin ih pelukannya," pinta Tania.
"Kakak lapar, pengen makan nasi goreng buatan kamu padahal," rengek Abizar.
"Ih, lepasin dulu makanya. Kasihan banget sih kakakku ini. Maaf ya, Tania enggak sempat masakin makanan buat kakak. Nanti sore kalau enggak ada kegiatan dadakan Tania masakin buat kakak deh," janji Tania.
Abizar tetap saja tidak mau melepas pelukannya. Pria itu bahkan mengendus tengkuk Tania yang telah tertutup hijab.
"Kak, kerudungku jadi lecek nih," rengek Tania.
"Tinggal ganti yang baru masih banyak tuh yang masih rapi," tunjuk Abizar pada lemari kaca tempat Tania menggantungkan kerudungnya.
"Capek kalau harus gonta-ganti. Kakak sih enggak ngerasain orang hamil kayak gimana?" ucap Tania kesal.
"Lagian kenapa kamu hari Minggu gini berangkat kuliah sih? Memang dosennya butuh uang banyak ya hingga ngambil jam di luar jadwal," cebik Abizar.
"Ih kakak sok tahu pake pitnah dosen Tania lagi. Fitnah itu lebih kejam dari pemerkosaan tahu 'Kak. Jadwal dosennya itu hari Rabu kemarin, dia enggak bisa datang karena anaknya masuk rumah sakit jadi diganti hari ini. Kalau enggak ganti di hari lain nanti honornya berkurang," timpal Tania. "Lepasin ih, gerah tahu," pintanya lagi.
Abizar pun dengan rasa terpaksa melepas pelukannya. Membiarkan Tania bergerak. Tania mengambil tasnya lalu melangkah keluar dari kamar diikuti oleh Abizar.
Tania membelokkan langkahnya menuju ke arah kamar Atar. Namun, belum sempat ia sampai, di pintu kamar Atar ada seorang pria berdiri memandang ke dalam. Tania seketika menghentikan langkahnya.
"Kak, itu siapa?" tanya Tania kepada Abizar.
"Sepertinya si Bram," sahut Abizar yang juga ikut berhenti.
Tania mengernyitkan alisnya. "Ngapain Mas Bram di depan kamar Atar?" tanyanya.
"Ya mana kakak tahu," sahut Abizar sembari mengedikkan bahunya.
Tania melanjutkan langkahnya. "Mas Bram, ngapain di depan pintu? Kenapa enggak masuk?" cecar Tania saat sudah dekat dengan Bram.
"Eh, Tan," ucap Bram dengan raut muka gugup.
.
.
.
__ADS_1
TBC