
Burung-burung masih berkicau dari pagi hingga siang ini.
Embun tersapu oleh sinar matahari. Sinar paginya yang hangat memberikan nutrisi bagi kulit kita.
Sisi menghampiri Aris yang masih duduk di kursi kemudi mobil keluarga Burhan. Ia menyusun silang kedua lengannya di atas bingkai kaca mobil yang terbuka. Aris sudah memasang senyum melihat kedatangan sisi.
"Mas Aris, kenapa tidak ikut masuk?" tanya Sisi pada seseorang yang beberapa hari belakangan ini mampu membuatnya tersenyum-senyum sendirian.
"Tidak, saat ini Mas Aris tidak ingin memasuki rumahmu, Mas hanya ingin masuk ke dalam hatimu dan menyelaminya."
Awokawok.
Aris menjawab pertanyaan Sisi sambil tetap menampilkan senyum manisnya, membuat Sisi tidak bisa menahan tawanya meski tanpa suara, Sisi menyembunyikan wajahnya menunduk ke bawah, tubuhnya terguncang-guncang menahan tawa.
"Dek Sisi, jangan kau tutupi wajahmu yang cantik itu dengan seujung jari pun," sahut Aris.
"Mas Aris sedang menyanyi?" tanya Sisi.
"Tidak, Mas kan tidak bisa menyanyi. Mas hanya mampu menyenandungkan namamu di setiap relung hatiku," Jawab Aris menatap sisi.
Blush,
Mungkin saat ini pipi putih Sisi sudah memerah seperti terkena blush-on.
"Sini masuk!" ajak Aris membukakan pintu mobil dari dalam.
Sisi masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Aris.
"Mas Aris mau mengajak Sisi kemana?" tanya Sisi.
"Enggak kemana-mana kok, duduk saja di sini sambil ngobrol. Kamu enggak berangkat ke sekolah?" jawab dan tanya Aris kemudian.
"Udah kok mas," jawab Sisi.
"Ah yang bener? Masa sekolah jam segini sudah pulang." tanya Aris tidak percaya.
"Ck. Kan sekolahnya dari rumah, Mas. Tadi pakai seragam pas lagi zoom meeting aja, terus pas udah selesai ya ganti pakaian lagi," papar Sisi.
"Ah iya, Mas Aris lupa," ucap Aris menepuk jidatnya sendiri. "Sekolah sekarang aneh-aneh ya," ujarnya lagi.
"Sisi juga kurang puas dengan penjelasan guru, kita tidak bisa maksimal dalam memahami materi yang diajarkan," keluh Sisi.
"Kamu kelas berapa?" tanya Aris lagi.
"Kelas sebelas," sahut Sisi.
"Yah, masih lama," sesal Aris
"Maksud Mas Aris?" tanya Sisi bingung.
"Masih lama buat dihalalin," jawab Aris.
Blush,
"Terus setelah lulus kamu mau kuliah?" tanya Aris lagi.
"Dulu sih, ingin kuliah. Tapi setelah ada Mr. Coro jadi malas. Sekolah saja malas. Entah mengapa keadaannya masih seperti ini ya," tutur sisi menjelaskan keinginannya.
__ADS_1
"Kuliah sama Mas Aris saja, Mau nggak?" goda Aris yang ditanggapi serius oleh Sisi. Sisi menoleh menghadapnya.
"Memangnya Mas Aris kuliah di mana?" tanyanya.
"Kuliah di ISIMA," jawab Aris singkat memalingkan wajahnya karena menahan tawa.
"Jurusannya apa saja?" Sisi masih memberondong dengan pertanyaan.
"Jurusannya cuma satu, menjadi istri shalihah," jawab Aris cekikikan.
"Asem," umpat Sisi setelah sadar bahwa dia sedang dikerjai. "Jadi ISIMA itu Istri Shalihah Idaman Mas Aris?" tebaknya.
Gelak tawa terdengar dari seorang Aris mendengar ucapan Sisi, ternyata gadis itu bisa menebak apa yang ia dimaksud.
"Kamu enggak mau, ya?" tanya Aris pada Sisi ketika tawanya mereda. Terdengar santai tetapi membuat Sisi bingung untuk menjawabnya.
Rombongan Burhan, Nurlita dan Abizar nampak sudah keluar dari pintu rumah Paman Hisyam. Hisyam dan Rosiana mengantar kepergian mereka sampai di teras. Nurlita dan Abizar mendekati mobil. Sementara Burhan membawa mobil sendiri. Nurlita mendekat kearah pintu depan.
"Sisi mau ikut ke rumah Bude?" tanya Nurlita kepada Sisi yang masih belum beranjak dari duduknya.
"Tidak Bude." jawab Sisi yang segera bangkit dari duduknya keluar dari mobil.
"Ikut juga tidak apa-apa, Sisi," timpal Abizar yang sudah duduk di kursi belakang.
"Tidak, Kak. Terimakasih," sahut Sisi.
Nurlita masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Sisi. Kedua mobil tersebut beriringan meninggalkan halaman rumah Paman Hisyam.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Edos sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, tetapi jangan di bayangkan kalau ruang rawatnya berada di ruang VVIP ya, Tania tidak mampu untuk menggapainya. Karena semua kartu-kartu yang dimiliki oleh Edos ditolak oleh pihak rumah sakit dan juga bank. Ya, semua kartu-kartu itu telah diblokir secara sepihak oleh pendebit.
Pagi itu Tania sudah berpakaian rapi hendak berangkat kerja, dia bersiap-siap dari rumah sakit .
"Aku berangkat kerja dulu ya, Yank. Nanti siang aku ijin pulang cepat biar bisa mengantarmu untuk foto Rontgen," pamit Tania pada Edos, ia meraih tangan Edos kemudian ia mencium punggung tangan kanan suaminya tersebut.
"Hati-hati di jalan," sahut Edos melepas berat istrinya.
"Ibu, titip suami saya dulu ya. Kalau dia perlu sesuatu tolong dibantu," pinta Tania pada seorang ibu yang menunggui putranya, pasien di sebelah. Dia juga sama-sama korban kecelakaan seperti Edos.
"Iya, Nak. Kamu tidak usah khawatir, ibu akan menjaganya," jawab ibu tersebut.
Tania pergi meninggalkan ruangan tempat Edos dirawat.
Sesaat setelah Tania pergi, Edos merasa sedih harus membiarkan Tania berkerja, padahal rencananya dialah yang seharusnya membahagiakan istrinya, dia yang bekerja bukan Tania. Sepertinya takdir sedang mempermainkan mereka.
Rencana hanya tinggal rencana tetapi Tuhan yang menentukan. Sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa. Mana ada orang yang mau memperkerjakan orang yang kakinya lumpuh.
Edos terus menerus merutuki nasibnya.
"Kenapa engkau memberikan cobaan seberat ini padaku ya Allah," teriak Edos.
Edos memukul-mukul kakinya sendiri dengan tangannya.
Ibu yang menjaga anaknya yang satu ruangan dengan Edos menjadi panik. Dia langsung berlari keluar memanggil suster.
"Mas, Mas, tenang Mas. Istighfar, Mas!" Tiba-tiba dua orang perawat sudah di dalam dan memegangi Edos
__ADS_1
"Aku tidak mau kakiku lumpuh, suster," pekik Edos.
"Iya, iya. Mas tenang dulu. Sabar ya! ini cuma sementara, nanti juga akan sembuh kok," ucap salah seorang perawat menenangkan Edos.
"Iya, Mas. Mas Edos yang sabar ya, Ini bisa mengganggu pasien yang lain," bujuk perawat yang satunya.
Edos kini mulai bisa tenang setelah mendapat bujukan dari kedua perawat tersebut.
Alhamdulillah, tidak usah pakai disuntik obat penenang. batin salah satu perawat.
Sementara Tania yang sejak tadi sampai di Minimarket kini telah berkutat dengan tugasnya menyortir dan memajang di rak toko barang-barang sesuai dengan waktu kedatangan dan tanggal kadaluarsa.
Minimarket tempat Tania bekerja ini sebenarnya mempunyai waktu buka selama 24 jam yang terbagi menjadi 4 sift. Sift 1 antara pukul 08.00 sampai dengan pukul 14.00, sift 2 pukul 14.00 sampai dengan pukul 20.00, sift 3 antara pukul 20.00 sampai dengan pukul 02.00 dini hari sedang sift 4 antara pukul 02.00 sampai dengan pukul 08.00 pagi.
Setiap karyawan boleh mengambil maksimal dua sift. Ini berlaku bagi semua karyawan termasuk Rifki sebagai kepala Toko.
Saat jam istirahat siang, Tania rencananya hendak menemui Rifki. Setelah merapikan pekerjaannya, ia bergegas membawa kakinya ke ruangan Rifki.
Tania mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"Tania, Masuk!" suruh Rifki tanpa bertele-tele.
Taniapun masuk dan duduk di kursi berhadapan dengan Rifki. Menunggu Rifki yang masih membuka-buka tumpukan kertas yang dipegangnya.
"Ada apa?" tanya Rifki yang sudah meletakkan kertas di atas meja memandang ke arah Tania.
"Gini, Mas. Saya mau minta tolong untuk dicarikan kontrakan kecil-kecilan," Tania mengutarakan maksud hatinya.
"Kenapa? Kamu tidak betah tinggal di rumah orang tuaku," tanya Rifki lagi.
"Rencananya mau saya tempati setelah suami saya pulang dari rumah sakit, Mas. Saya juga berencana mengambil dua sift," papar Tania.
"Kamu boleh mengambil dua sift, tapi untuk kontrakan tidak usah dulu. Apa kamu tidak melihat ketulusan Ibu. Dia sudah susah payah nyuruh dan membayar tukang untuk membuat ruangan tamu itu menjadi sebuah kamar. Hargai niat baiknya. Uang yang akan kamu pakai untuk membayar kontrakan kan bisa untuk keperluan yang lain."
Rifki membalas keinginan Tania dengan nasehat panjang lebar.
"Tetapi saya merasa tidak enak kalau harus numpang dua orang berdua dengan suami saya," keluh Tania.
"Gini saja, sementara kamu tinggal di rumah ibu, nanti kalau suami kamu sudah bisa bekerja. kamu boleh cari tempat tinggal yang lain. Gimana?" ucap Rifki mengusulkan gagasan.
Tania sedikit menimbang-nimbang usulan Rifki.
"Baiklah," ucapnya kemudian.
Tiba-tiba handphonenya bergetar, ia melihat siapa yang menelponnya saat itu.
.
.
.
Heppy reading
Semoga suka
jangan lupa like n komen ya
__ADS_1
Terimakasih πππ