
"Ngapain kamu nyusul kakak kemari? Wong kakak juga mau pulang kampung. Memang sekolah kamu libur apa?" cecar Tania kepada Sisi. "Mana kalian datang cuma berdua lagi? Kalian enggak takut ada setan menggoda kalian saat di perjalanan?" Tania tak henti-hentinya mengomeli Sisi dan Aris.
Sisi memang diminta oleh Nurlita untuk menemani Aris ke Jakarta untuk menjemput Tania. Mereka datang satu Minggu sebelum hari pembacaan surat wasiat yang sudah ditentukan dilaksanakan. Mereka sekarang berkumpul di ruang keluarga kediaman Ardiansyah.
"Kami baik-baik saja kok, Mbak. Mbak Tania tidak usah khawatir," timpal Aris.
"Kok bisa ya paman dan bibi mengijinkan kalian pergi melakukan perjalanan jauh hanya berdua?" Tania masih saja belum puas mengomel.
"Bunya dan Ayah malah yang nyuruh Sisi ke sini sama Mas Aris, Kak. Bunda bilang Kak Tania pengen makan jengkol muda, terus udah satu minggu Bude Dewi sama Mbak Siti nyari di tukang sayur, di pasar tradisional juga di mall enggak dapat," ungkap Sisi.
"Tania, udah jangan omeli Sisi sama Aris terus. Kasihan mereka pasti capek habis perjalanan jauh," sela Dewi yang baru masuk ke ruang keluarga tersebut. "Yuk ikut mama!" ajaknya.
Dewi merangkul pundak anak sulungnya pergi meninggalkan ruang tengah menuju ke ruang makan. Sisi mengekori di belakang mereka.
"Ayah yang manjat sendiri pohon jengkolnya loh, Kak. Sisi bawa sekarung tuh masih kulitan jadi masih fresh," ungkap Sisi.
Mata Tania berbinar saat mendapati sepiring jengkol muda kupas, sambal terasi cabe mentah dan ikan layang bakar terhidang di meja makan.
"Mau makan sekarang, Sayang?" Dewi menawari.
"Iya, Ma," sahut Tania antusias.
Mereka duduk melingkari meja makan. Padahal ini belum jamnya makan malam karena waktu masih menunjukkan pukul lima sore, tetapi keinginan Tania untuk segera melahap nasi putih dengan lauk yang menggiurkan lidah tidak dapat dibendung lagi.
"Yang bikin sambal siapa?" tanya Tania saat satu suap nasi telah melewati kerongkongannya.
"Mbak Siti tadi yang bikin sambal, kenapa? Enggak enak?" cecar Dewi khawatir.
"Em ... enak kok. Makasih ya, Mbak Siti," sahut Tania.
"Huh, Sisi yang capek datang jauh-jauh dari Pekalongan bawa jengkol enggak dikasih ucapan terima kasih," gerutu Sisi yang masih dapat didengar oleh Tania.
"Terima kasih ya, Dek. Jangan cemberut gitu donk. Maafin kakak ya, ya," ucap Tania memohon kepada Sisi yang duduk di hadapannya dengan mata puppy eyesnya.
"Iya, iya, Kakakku yang paling cantik. Kurang baik apa coba Sisi ini," sahut Sisi dengan terpaksa.
Tania kembali menyantap makanan yang terhidang di meja. Perempuan itu makan dengan lahap seperti ia tidak makan tiga hari lamanya.
"Kak Tania hamil lagi ya?" tanya Siti yang terheran-heran melihat cara makan kakak sepupunya.
"Hah? Ngaco kamu! Mana mungkin Kakak hamil? Punya suami aja enggak," sanggah Tania.
"Kali aja Kakak hamil, kakak kelihatan gemukan sekarang, badan Kakak juga tambah berisi. Pipi juga tembem," ucap Sisi mengomentari badan Tania.
"Kan pikiran dan perasaan kakak dibikin happy aja. Jadi kakak fine-fine aja," elak Tania.
"Mama enggak makan?" tanya Tania beralih kepada sang mama yang hanya duduk menemaninya makan.
__ADS_1
"Nanti, makannya nunggu Papa pulang," sahut Dewi.
"Sholehah banget, mamanya siapa sih?" puji Tania. Dewi hanya tersenyum menanggapinya.
Usai makan sorenya Tania menuju ke kamarnya yang ada dilantai 2. Setelah mandi dan berganti pakaian barulah ia turun untuk menengok Atar. Ia meraih Atar yang sedang digendong Nina. Tania menciumi pipi Atar kiri dan kanan gemas secara bergantian.
"Anak bunda pinter enggak rewel ya? Tadi belajar apa aja, Sayang? Udah belajar tengkurap ya?" ucap Tania sambil menciumi perut Atar. Atar tertawa kegelian dan meracau tidak jelas.
*****
Hari ini Tania dan yang lainnya berangkat ke Pekalongan. Ia bersama Nina dan Atar ikut mobil yang dikendarai oleh Aris untuk mengawasi Aris dan Sisi. Sementara Dewi dan Ardi disopiri oleh Pak Joko. Mereka mengajak Tinah pulang kampung sekalian untuk menemani Pak Joko di kursi depan. Rombongan berangkat pukul delapan pagi usai sarapan bersama.
Pak Joko adalah sopir kepercayaan Ardi sejak dulu. Dewi menjodohkan sopir itu dengan sahabatnya yang menjadi asisten rumah tangga kepercayaan di rumah orang tuanya Niken. Dari pernikahan mereka lahirlah dua orang anak laki-laki dan perempuan. Anak tertua mereka sekarang baru lulus SMA. Mereka tinggal di paviliun di belakang rumah Haidar.
"Tinah, padahal kalau kamu mau ajak Rania dan Revan pulang kampung Kita kan bisa bawa mobil yang lebih besar," ucap Dewi kepada Tina saat di dalam perjalanan menuju ke Pekalongan.
"Aku bukannya tidak mau ajak mereka bertemu kakek sama neneknya, tapi mereka lagi ujian tengah semester, Wi. Minggu depan baru rampung," jawab Tinah.
"Pak Ardi dan Bu Dewi nanti mau singgah di Pekalongan atau langsung ke Batang?" tanya Pak Joko kepada majikannya.
"Saya sih terserah istri saya, Joko," sahut Ardi.
"Kita singgah di rumah Tania saja, Joko. Ke Batang besok siangnya, gitu kan, Pa?" sahut Dewi. Ardi menganggukkan kepalanya.
"Enggak menginap di rumah juragan Thohir saja sekalian, Wi?" tanya Tina memberi penawaran.
"Hahaha iya, orang tua dulu meskipun kaya bikin rumah jumlah kamarnya cuma dua," timpal Tina ikut terkekeh.
"Udah gitu Bapak itu orangnya kolot lagi," timpal Dewi.
"Hus, ngatain orang tua sendiri kolot kualat kamu lho, Ma!" sergah Ardi memperingati istrinya.
"Bukan gitu maksud Mama, Pa. Bapak itu kan mampu buat renovasi rumah yang lebih gede, tapi dia itu enggak mau. Katanya mempertahankan rumah adat Jawa Joglonya itu untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Padahal rumah itu kan enggak mampu menampung anggota keluarga kalau kita anak cucu dan cicitnya kumpul," cicit Dewi.
"Atau Papa bangun hotel aja di sana ya?" cetus Ardi.
"Papa ada-ada saja deh. Mana ada yang mau menginap di hotel yang ada di kampung pelosok kayak gitu, tetapi kalau mau bangun vila boleh juga," cetus Dewi.
"Nanti Papa realisasikan, kita cari lahan di sana untuk pembangunan vila," timpal Ardi.
Perbincangan mereka kini terhenti. Hanya suara deru mobil dan musik dari player di dashboard mobil yang terdengar mengiringi. Dewi menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Nanti gantian ya, Ma," pinta Ardi. Dewi hanya tersenyum setengah mengantuk.
Waktu menunjukkan hampir pukul satu siang saat mereka tiba di rumah Tania. Rumah ayahnya yang sudah direnovasi. Kedua mobil hampir bersamaan saat tiba di halaman. Joko dan Tinah istirahat di rumah Tania barang 10 menit kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju ke kampung halaman Tinah yang dekat dengan rumah juragan Thohir. Sedangkan Aris langsung pulang ke rumahnya di Batang.
"Kalian istirahat saja, itu Bibi udah siapin minum dan makanan kecil, biar Atar sama Bibi," ucap Rosi kepada Tania dan Nina. "Ayo, Atar sama Mbah Osi," ucapnya beralih kepada Atar yang berada di gendongan Nina.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu," ucap Nina.
"Nin, kalau mau tiduran di kamarku aja ya yang nomor dua. Kamar depan buat Papa sama Mama," ujar Tania yang kini tengah meringkuk di sofa ruang tengah.
"Iya, Mbak Tania," sahut Nina.
"Kenapa kamu enggak langsung tiduran di kamar aja, Sayang?" tanya Dewi yang memperhatikan putri sulungnya. Tania tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata.
Dewi duduk di pinggir sofa yang ditiduri Tania. Tangannya terulur membelai dahi Tania yang basah oleh keringat dingin. Cairan bening perlahan-lahan keluar dari mata putrinya yang terpejam itu bersamaan dengan isakan yang lolos keluar dari mulutnya. Dewi lalu melepas peniti yang tersemat di kerudung Tania.
"Edos ada di dalam kamar, Ma," ucap Tania. Isakan itu kini semakin keras terdengar.
"Ikhlaskan kepergiannya, Nak. Biarkan dia pergi dengan tenang. Dia cuma butuh do'a-do'a dari kita," bujuk Dewi mengelus-elus punggung anaknya.
"Ada apa?" tanya Hisyam yang muncul dari ruang tamu karena mendengar tangisan diikuti oleh Ardi.
"Tania teringat almarhum suaminya," sahut Dewi yang masih menangis.
"Mbak Tin, tolong ambilkan air putih!" seru Hisyam kepada salah seorang rewang yang sengaja diperkerjakan selama Tania tinggal di rumah tersebut.
Wanita yang dipanggil Mbak Tin itu pun muncul dengan membawa segelas air putih. Hisyam meraih gelas itu, ia duduk lalu membacakan do'a-do'a.
"Mbak Dewi, tolong ini diminumkan ke Tania, sisanya basuhkan di ubun-ubun Tania juga," pinta Hisyam menyerahkan segelas air putih yang telah ia bacakan doa.
Dewi membantu Tania untuk duduk. Ia menerima gelas itu dan mendekatkan ke bibir Tania. Tania meminum air itu beberapa tegukan. Dewi lalu membasuhkan air itu dengan tangannya ke rambut Tania.
Setelah meminum air itu kini keadaan Tania menjadi lebih tenang. Rosi muncul dari pintu depan dengan membawa Atar yang menangis.
"Sini, Sayang. Atar lapar ya," ucap Tania meraih Atar kemudian menyusuinya.
Setelah Atar tertidur, Tania menidurkannya di box bayi yang ada di dalam kamarnya. Akhirnya ia berani masuk ke kamar tersebut dengan terpaksa karena Atar. Di kasurnya sudah berbaring Nina yang tengah tertidur meringkuk.
Tania perlahan mendekati ranjang. Ia duduk di sisi berseberangan dengan tempat Nina tidur. Dipandanginya sekeliling kamar. Memindai setiap sudut kamar tersebut tidak satupun luput dari pandangannya. Ia kembali menangis tergugu saat teringat kenangan bersama Edos.
"Kamu ingat, Yank? Di kamar ini pertama kali kita tidur berdua. Di kamar ini kita merencanakan masa depan kita," gumamnya.
Tok tok tok, terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
"Tania! Sayang! Buka pintunya!" suara Dewi dari luar menginterupsi tangisan Tania.
"Buka aja, Ma. Enggak dikunci kok," seru Tania.
Dewi membuka pintu dan masuk. "Ada teman-teman kamu di luar, Sayang. Kamu mau istirahat atau mau temui mereka?" tanyanya.
*****
Terima kasih yang begitu banyak ya buat pembaca yang tidak nampak namun begitu berarti buat author 😘😘😘
__ADS_1