2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Nadia Tersadar


__ADS_3

Suasana pagi tidak menjadikan kota Jakarta sepi, bahkan inilah waktu paling sibuk-sibuknya. Orang yang takut akan kemacetan yang melanda akan berangkat kerja pagi-pagi sekali agar tidak terjebak kemacetan.


Saat dalam perjalanan, Edos menyadari ada mobil yang mengikuti mereka. "Yank, kamu tahu mobil yang di belakang kita?" tanyanya pada Tania.


"Yang mana?" tanya Tania Balik.


"itu yang hitam," jawab Edos.


"Kayak mobil anak buah Papa Ardi, soalnya aku seperti pernah lihat mobil itu di garasi."


"Mudah-mudahan dugaan kamu benar, karena sejak kecelakaan itu aku sudah tidak bisa menggunakan ilmu bela diriku," timpal Edos.


Edos membawa mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Nadia dirawat.


*****


Sudah satu bulan Nadia terbaring di ruang ICU, ia masih terlelap dalam tidur panjangnya dan belum mau bangun. Kedua orang tuanya sudah datang dari kampung untuk menemani putri mereka. Bu Nastiti juga selalu menyempatkan waktu untuk bergantian menunggui korban kejahatan mantan menantunya tersebut.


Celine dan para pembunuh bayarannya sudah berhasil ditangkap oleh polisi dan kini mereka mendekam di balik jeruji besi.


Pagi ini Tania diantar oleh suaminya menjenguk Nadia. Perutnya yang semakin besar membatasi gerakannya. Ia tidak selincah dulu, karena kini kandungannya tengah memasuki bulan ke delapan. Ia juga sudah mengambil cuti kuliahnya, dan berencana akan mengulang bersama Nadia semester depan jika Nadia diberi kesembuhan. Tetapi sampai saat ini orang yang mau diajak mengulang semester yang tertunda tersebut belum juga membuka matanya.


Saat Tania dan Edos sampai di ruang ICU, ia merasa heran. Biasanya keluarga Nadia dan Rayan duduk dan tiduran di depan ruangan tersebut, tetapi kenapa sekarang sepi. Tania bertanya kepada salah seorang suster yang kebetulan lewat.


"Suster, pasien yang ada di ruang ICU dipindahkan kemana ya?"


"Maksud Mbak, Nona Nadia? Dia sudah dipindah ke ruang perawatan, Mbak,"


"Kemana, Sus?"


"VVIP 2 di lantai dua, Mbak," jawab suster tersebut.


"Terimakasih, Suster,"


Tania dan Edos bergegas ke lantai dua untuk menemui Nadia.


"Mas Rayan!" seru Tania saat melihat Rayan tengah duduk di sebuah bangku di depan sebuah ruang rawat inap.


"Hai, Tan!"


"Pipim nggak ikut ke sini, Mas?"


"Dia ada kuliah pagi."


"Oh, aku ke dalam dulu ya, Mas. Yank, kamu tunggu di sini saja ya bareng Mas Rayan."


Edos mengangguk, lalu duduk di samping Rayan.


"Duh calon Bapak, udah siap lahir batin nih?" goda Rayan.


"Udah donk, kapan nyusul?" tanya Edos.


Rayan hanya mendesah, "Enggak tahu, Dos. Aku mau ngejar S2 dulu kayaknya, si Prima juga masih lama lulus kuliahnya," jawabnya.


"Semangat, Mas. Tunaikan cita-citamu, jangan kayak aku, masa depanku terpuruk karena mementingkan cinta."


"Kamu juga masih muda. Jangan jadikan pernikahan sebagai belenggu untuk meraih kesuksesan, Edos. Kalau bisa dua-duanya bisa kita raih secara bersamaan, semangat!"


"Memang mau meneruskan kuliah di mana, Mas?" tanya Edos.


"Belum tahu juga, tetapi aku sudah mendaftar di perguruan tinggi di tiga negara," sahut Rayan.


Sementara di dalam ruangan, ternyata ada Bu Nastiti dan Tiara, sementara kedua orang tua Nadia sedang pulang ke tempat kost Nadia untuk membersihkan diri dan istirahat. Melihat kedatangan Tania, Bu Nastiti berpindah duduk ke sofa.


Tiara di atas brangkar memeluk Nadia, tidak mau lepas. "Mama Nanad jangan tinggalin Aya lagi ya," pintanya dengan logatnya yang cadel.


"Mama enggak ninggalin Tiara kok, Sayang. Mama kan di sini," kilah Nadia. "Tiara, sudah makan?" tanyanya yang hanya dijawab gelengan oleh Tiara.


"Makan ya, Mama suapi!" ajak Nadia. Tiara mengangguk.


Nadia bangkit untuk duduk, Tania membantunya dan Tiara untuk duduk pula.

__ADS_1


"Tolong ambilkan kotak makan itu, Tan!" pinta Nadia pada Tania, wajahnya menunjuk ke arah kotak makan yang ada di atas nakas, kotak makan yang dibawa oleh Bu Nastiti dari rumah untuk Tiara.


Tania segera meraih kotak makan tersebut. Namun, sebelum menyerahkan kotak tersebut kepada Nadia, ia bertanya terlebih dahulu pada Tiara. "Mama Nanad kan masih sakit, Sayang. Mama Tatan saja yang suapi Tiara, mau?"


"Enggak mau," jawab Tiara menggeleng.


"O, jadi sekarang Tiara sudah lupa sama Mama Tatan nih?" goda Tania dengan wajah cemberut yang dibuat-buat menyerahkan kotak makan pada Nadia.


"Mama Tatan kan udah mau punya Dedek sendiri," sahut Tiara.


Tania bergabung dengan Bu Nastiti duduk di sofa, membiarkan Nadia menyuapi Tiara.


"Sudah berapa bulan usia kandungan kamu, Tan?" tanya Bu Nastiti pada Tania.


"Tujuh bulan Bu, masuk bulan ke delapan," jawab Tania.


"Kurang dari dua bulan lagi, semoga lancar ya persalinannya, sehat ibu dan bayinya," timpal Bu Nastiti.


"Aamiin, terimakasih atas doanya ya, Bu," sahut Tania.


Tania kembali melihat ke arah Nadia dan Tiara. Nadia tampak telaten menyuapi Tiara. "Nanad, kamu pantas jadi mama sambung Tiara," ucapnya.


"Uhuk uhuk."


Seketika Nadia tersedak, padahal ia tidak sedang memakan apa-apa. Bu Nastiti segera bangkit mengambilkan gelas berisi air putih yang ada di atas nakas dan menyerahkan kepada Nadia.


"Hati-hati, Sayang," ucap Bu Nastiti.


Nadia menerima gelas berisi air putih tersebut dengan sebelah tangan, tangan yang ditusuk jarum infus memegang piring, kemudian langsung meminumnya. Bu Nastiti menerima kembali gelas tersebut kemudian meletakkan ke tempat semula.


"Kamu kenapa sih, Nad? Makan enggak kok tersedak," cebik Tania.


Nadia tidak mempedulikan ucapan Tania. Ia kembali menyuapi Tiara yang masih lahap menerima suapan darinya. Setelah dirasa kenyang Tiara hanya membungkam mulutnya dan menggelengkan kepala saat Nadia menyuapinya. Tania beringsut untuk meletakkan piring di atas nakas dan mengambilkan botol minum milik Tiara.


Beberapa saat kemudian masuklah dokter dan 2 orang tenaga medis memeriksa keadaan Nadia. Dokter segera memeriksa keadaan Nadia.


"Semuanya normal, jika sudah tidak ada keluhan besok pagi sudah boleh pulang. Ini saya kasih resep obat rawat jalan nanti ditebus ya," ucap dokter sambil menulis pada kertas resep. Menyerahkan kertas tersebut kepada Nadia kemudian pamit untuk ke luar ruangan.


Sementara dua orang perawat masih di dalam ruangan. "Gordennya saya tutup sebentar ya, Bu. Kami mau mengganti perban jahitan pasien," salah seorang perawat meminta ijin sambil menarik gorden untuk menutupnya.


"Tidak apa-apa, Sus," jawab Nadia.


Tak berapa lama gorden kembali dibuka oleh kedua perawat tersebut.


"Sudah selesai, selang infusnya nanti dicabut kalau cairannya sudah habis ya," ucap salah satu dari mereka. Mereka kemudian pamit untuk ke ruangan berikutnya.


"Nadia, besok kamu pulang ke rumah Ibu saja ya, kalau di kosan siapa yang akan merawat kamu? Ayah dan ibu kamu pasti akan pulang untuk kembali bekerja," usul Bu Nastiti yang membuat raut wajah Nadia terlihat kaget.


"Emm, sepertinya saya akan ikut ayah dan ibu pulang ke kampung, Bu. Saya akan kembali ke sini saat mulai kuliah semester depan," jawab Nadia.


Bagaimana mungkin aku bisa tinggal serumah dengan 2 orang pria lajang yang bukan siapa-siapa? batin Nadia.


"Apa tubuhmu sudah kuat untuk melakukan perjalanan jauh?" tanya Bu Nastiti lagi.


"In sya Allah sudah kuat, Bu," jawab Nadia mantap.


Mungkin dia merasa risih tinggal bersama dalam satu atap dengan 2 pria lajang, tetapi bagaimana nanti kalau Tiara merindukan dia, kemarin-kemarin saja anak itu rewel minta ketemu dengannya, dia memang bukan siapa-siapanya Tiara, batin Bu Nastiti.


"Ya sudah kalau itu keputusan kamu, ibu tidak bisa memaksa," akhirnya Bu Nastiti bisa menerima.


******


Sementara itu Bram memutuskan untuk mendampingi istrinya di Bandung, ia memeriksa laporan yang dikirim oleh anak buahnya lewat email, sesekali pergi ke kantor pusat di Jakarta jika ada meeting dengan klien yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain, baru ia turun tangan.


Butik yang ditempati Niken juga mengalami perkembangan yang sangat pesat, apalagi menjelang hari raya idul Fitri seperti saat ini banyak sekali permintaan produk dari pelanggan, membuat Niken harus kerja Ekstra keras untuk meningkatkan produksi, untung saja kandungannya tidak merepotkan, sehingga Niken tetap menjalankan ibadah puasa sambil bekerja meskipun dalam keadaan hamil muda. Bram dengan setia melayani kebutuhan istrinya tersebut.


Seperti saat ini, sehabis buka puasa dan sholat Niken langsung kembali berkutat dengan pekerjaannya. Bram menghampirinya dengan segelas susu hamil ditangan kanannya.


"Susunya diminum dulu, Sayang," titah Bram meletakkan susu tersebut di atas meja di depan Niken.


Niken segera meminumnya hingga tandas, "Makasih, Mas," ucapnya sambil tersenyum meletakkan kembali gelas di meja.

__ADS_1


Bram membalasnya dengan tersenyum pula, tetapi pandangannya tidak beralih dari wajah Niken.


"Kenapa Mas Bram menatapku seperti itu?" tanya Niken.


"Udah besar minum susu kok masih belepotan kayak anak kecil," gerutu Bram masih menatap istrinya.


"Mana ada?"


Niken hendak meraih tisu di atas meja. Namun tangannya langsung dicegah oleh Bram. Bram langsung menyesap susu yang belepotan di bibir Niken dengan bibirnya. Menyadari apa yang dilakukan oleh suaminya, Niken membalasnya. Mereka sejenak bertukar saliva. Bram melepas ******* bibirnya.


"Sudah enggak ada," ucap Bram sambil tersenyum masih menatap Niken.


"Mas Bram minum susu hamil? Kalau Mas Bram hamil bagaimana?" pekik Niken setelah menyadari semuanya yang langsung mendapat cubitan di hidungnya.


"Ngaco kamu! Mas nggak punya rahim kok bisa hamil dari mana. Lagian selama ini juga Mas yang merasakan sindrom hamil biarpun kamu yang hamil," cebik Bram. "Dah ah, lanjutkan pekerjaan kamu, Mas mau tadarusan di lantai bawah," pamitnya.


Bram meraih gelas bekas susu yang sudah kosong dan beranjak pergi meninggalkan Niken yang sibuk dengan pekerjaannya. Niken kini kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Aghni tertera di sana. Niken langsung mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, adik kakak yang cantik," sapa Niken.


"Wa'alaikumussalam, Kak Niken. Aghni sama teman-teman lagi ada di Floating Market nih, Kakak mau pesan apa?" sahut Aghni kembali bertanya dari seberang telepon.


"Emang jam segini buka?"


"Selama bulan Ramadhan bukanya tiap sore hingga malam, Kak. Kebetulan Aghni udah mau pulang."


"O, kakak pengen mi jawa yang pedes, nanti sampai sini udah dingin nggak enak dimakan,"


"Trus gimana?"


"Hemm ... kakak mau sus pisang keju saja ya, nggak jauh dari pintu masuk."


"Oke, Kak! Sampai nanti, babay, wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Niken meletakkan kembali ponselnya di meja. Kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Butik kembali dibuka pukul 20.00 hingga pukul 22.00 malam selama bulan Ramadhan. Sesaat kemudian dia teringat suaminya, ia lalu beranjak menghampiri tangga, tetapi tidak berniat untuk turun. Masih terdengar suara Bram melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Mas Bram!" panggil Niken setengah berteriak.


Tidak ada sahutan, Bram masih khusyuk membaca Al-Qu'ran.


"Mas Bram!" panggilnya lagi menaikkan satu oktaf.


Sejenak suara Bram berhenti, ia muncul di bawah dekat tangga, "Ada apa? Manggil teriak-teriak kayak di hutan saja," gerutunya menaikkan sebelah alisnya.


"Tadi Aghni telepon, katanya lagi di floating market," ucap Niken.


"Sudah tahu, dia tadi juga sudah telepon Mas," timpal Bram.


"Terus Mas Bram pesan apa?" tanya Niken.


"Mas enggak pesan apa-apa, Sayang," sahut Bram.


"Mas enggak pengen makan apa gitu?" tanya Niken lagi menegaskan.


"Pengen sih," jawab Bram singkat.


"Kenapa enggak pesan sekalian?"


"Mas cuma pengen makan kamu, ngapain pakai pesan?" jawab Bram menarik-turunkan kedua alisnya.


"Dih, Mas Bram ada jomblowati nih, tega amat ngomong gituan pakai keras-keras," gerutu Ririn yang muncul dari balik pintu tengah.


"Siapa suruh kamu nguping?" jawab Bram santai. "Nanti habis sholat tarawih ya, Yank," imbuhnya kembali menaik-turunkan kedua alisnya memandang Niken. Niken hanya tersenyum kikuk.


.


.


.

__ADS_1


Maaf baru bisa up, karena sibuk jadi editor naskah antologi 🙏


Mudah-mudahan ini bisa mengobati kangen kalian. Terima kasih yang masih setia. 🥰🥰🥰


__ADS_2