2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Jodoh Terbaik


__ADS_3

Salma membuka laci yang ditunjuk Tania dan benar saja di sana ada tas selempang kecil. Salma mengambilnya dan langsung menyerahkan kepada Tania. Tania segera merogoh ponselnya setelah tas tersebut ada di tangannya.


"Untung masih hidup," ucapnya sembari menekan-nekan layar ponselnya. Namun, beberapa saat kemudian ia tampak membelalakkan matanya.


"Kenapa, Tan?" tanya Amar penasaran.


"Ada pesan dari nomor tak dikenal," sahut Tania.


"Blokir aja, biasa orang iseng enggak usah ditanggapi," cetus Amar.


"Tapi ..." belum selesai Tania mengucapkan kalimatnya sudah dipotong oleh Salma.


"Mbak boleh lihat?" tanyanya.


"Boleh," sahut Tania. Ia pun langsung menyerahkan ponselnya kepada Salma.


[Assalamu'alaikum, Tania. Selamat ya atas kelahiran putrimu nan cantik jelita. Maaf Mas lancang memberinya nama (emot mengatupkan kedua tangan) AINAYYA NAYRA TSABITAH. Semoga kamu suka dengan nama tersebut dan semoga kamu tidak menggantinya di kemudian hari. Mas juga titip sedikit buat keperluan Kakak Atar dan Dede Bita. Mudah-mudahan cukup ya. Jaga dirimu dan anak-anak baik-baik karena Mas belum bisa menjaga kalian. Wassalam.]


"Nomornya udah tidak aktif. Mbak kira kamu dapat kiriman APK Malware, ternyata chat biasa aja. Kenapa kamu seperti shock begitu?" Tanya Salma sembari menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada pemiliknya.


"Bukan itu yang bikin aku shock, Bu Salma," kilah Tania.


"Lalu apa?" tanya Salma.


"Bu Salma tahu berapa uang yang dia kirimkan?" Tania malah balik bertanya.


"Mana Mbak tahu? Itu kan enggak ada di dalam chat yang tadi kubaca," sahut Salma.


"Nih Tania kasih lihat, bukan berarti Tania mau pamer lho ya," ucap Tania menyodorkan ponselnya yang layarnya telah berganti M-banking. Amar ikut melongok ke dekat istrinya.


"Ini sih bisa buat beli apartemen yang agak mewahan dikit, Tan," celetuk Amar.


"Apartemen?" beo Tania. "Buat apa? Itu kan bukan uangku. Aku malah pengen mengembalikan uang itu kepada si pengirim," lanjutnya bertanya.


"Memangnya kamu tahu orang itu siapa, Tan? Siapa yang mengira kalau tujuan orang itu mengirimkan uang ke kamu cuma untuk pemutihan uang. Kalau uang itu digunakan untuk kebutuhan dan habis, suatu saat jika kamu dituntut untuk mengembalikan uang tersebut ke kas negara, kamu tidak dapat mengembalikannya," jelas Amar panjang lebar.


"Terus hubungannya dengan membeli apartemen apa? Bukankah uangnya akan habis juga, Pak?" sela Tania.


"Kalau uang itu kamu belikan apartemen dan nanti apartemen itu kamu sewakan, kamu akan mendapatkan income dari situ. Dan apartemen itu tiap tahun akan bertambah nilai jualnya jika dirawat dengan baik. Bisa buat penghasilan kamu kan?" sahut Amar kembali menjelaskan.


"Boleh juga dibelikan apartemen, tapi aku kan enggak tahu masalah properti gitu, Pak," ucap Tania.


"Temanku ada yang bisnis gituan, nanti aku infokan ke kamu deh siapa tahu kamu tertarik," sahut Amar.


"Aku juga mau dong dibelikan apartemen, Bi," sela Salma menaikturunkan alisnya menatap Amar.


"Sabar, Sayang," sahut Amar memencet hidung istrinya dan menariknya ke kanan dan ke kiri.


"Cie, ganti sayang sekarang," kekeh Tania.


"Iya, Tan. Mendingan uangnya dibelikan apartemen saja, kalau dibiarkan di rekening apalagi kamu punya M-banking takut hilang kayak punyaku," ungkap Salma terlihat sedih.


"Lho, Bu Salma pernah kehilangan uang di rekening bank?" tanya Tania tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, Tan. Waktu itu ada orang chat ngakunya dari pihak expedisi menginfokan ada paket. Dia kirimkan juga file gambar. Ternyata itu bukan file gambar melainkan virus Malware untuk meretas isi hp seseorang termasuk password m-banking yang tersimpan di ponsel. Beberapa saat setelah aku klik aplikasi itu ada SMS pemberitahuan transfer berhasil, seketika ludes uangku," ungkap Salma.


"Astaghfirullah al-'Adziim, yang sabar ya, Bu. Mudah-mudahan diganti lagi oleh Allah di lain waktu," ucap Tania.


"Iya, Tan. Mbak udah ikhlas mungkin memang bukan rejeki Mbak Salma," sahut Salma.


"Kalau boleh tahu seperti apa chatnya, Bu?" tanya Tania.


Salma merogoh ponselnya dan membuka aplikasi hijau, lalu menunjukkan kepada Tania. "Ini, Tan," ucapnya sembari menyodorkan ponselnya.



"Iya deh, aku mau beli apartemen. Tolong carikan yang harga kisarannya segitu ya, Pak Amar," pinta Tania setelah melihat layar ponsel Salma dan menyerahkan kembali kepada pemiliknya.


"Oke, Tan," sahut Amar.


"Emm, Bu Salma kenal Siti enggak?" tanya Tania.


"Siti yang tadi di sini? ART di rumahmu?" Salma bertanya balik.


"Bukan lah. Siti Similikiti, dia itu hacker profesional yang lagi viral. Dia pernah menyelamatkan perusahaan suaminya yang diserang virus Dark Storm dari luar negeri yang minta tebusan 5 milyar US Dollar. Dia pasti bisa mengembalikan uang milik Bu Salma yang hilang itu," tutur Tania.


"Kamu kenal?" tanya Salma.


"Enggak kenal sih, mungkin Pak Amar kenal?" sahut Tania lalu bertanya.


"Enggak kenal juga sih, tapi kayaknya aku pernah dengar namanya," sahut Amar.


"Cari tahu tentang dia, Bi," pinta Salma.


"Kenapa kamu enggak bilang dari kemarin?" tanya Salma.


"Aku udah konsultasi sama dia. Dia bilang menunggu waktu yang tepat buat nyerang pengirim virus itu. Kita tidak boleh gegabah langsung menyerang balik orang itu, karena pasti sudah dibaking untuk mengantisipasi penyerangan dari luar. Duta bilang masih nunggu kelengahan mereka," ungkap Amar.


"Semoga berhasil ya, Bu. Semoga uang Bu Salma bisa kembali," ucap Tania.


"Aamiin," sepasang suami istri itu kompak mengamini.


Amar dan Salma berada di ruang rawat Tania hingga Bita menangis. Sepasang suami istri itu akhirnya keluar untuk memberikan ruang kepada Tania untuk menyalurkan ASI kepada si buah hatinya yang masih merah itu.


*****


Di suatu tempat, sebuah empang di belakang rumahnya, seorang pemuda dengan dibantu oleh seorang pria paruh baya tengah menangkap ikan dengan menggunakan jaring.


"Zan, kamu bilang mau balik ke Labuan Bajo, kenapa masih sibuk ngurusin empang? Itu biar Lek Hamid yang kerjakan," seru seorang wanita paruh baya tidak jauh dari kegiatan dua orang pria beda usia tersebut.


Fauzan menoleh ke arah sumber suara. "Ini dikit lagi kok, Bu. Harus ditangkap semua dan dibawa langsung ke rumah Om Ardi," sahutnya.


"Terserah kamulah," ucap perempuan paruh baya itu akhirnya sambil berlalu pergi. "Ibu itu heran sama kamu, kenapa malah meninggalkan usaha yang sudah dirintis bertahun-tahun? Malah milih jadi buruh di perusahaan orang, di daerah yang jauh pula," gerutunya sambil masuk ke dalam rumah.


"Kenapa, Bu? Jangan ngedumel terus nanti guratan di wajah bertambah Bu," ucap Murni yang sedang memasukkan es batu ke dalam teko.


"Kamu ini sama orang tua ngatain gitu. Centulo kamu!" hardik Bu Fatimah.

__ADS_1


"Ampun, Ndoro Ayu!" ucap Murni dibuat memelas.


"Sudah sana bawa esnya ke empang," suruh Bu Fatimah.


"Siap, Bu!" sahut Murni mantap.


Murni mengangkat nampan yang di atasnya terdapat teko berisi es melon campur biji selasih dengan dua gelas kosong serta sepiring pisang kepok goreng. Asisten rumah tangga tersebut langsung membawanya ke luar sebelum sang majikan menyerangnya lagi dengan kalimat maut berjenis sumpah serapah.


Bu Fatimah melangkah masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu duduk berselonjor kaki dan bersandar di sandaran ranjang, termenung entah apa yang direnungkan. Hingga seseorang mengetuk pintu lalu membukanya sendiri pintu kamar tersebut. Seorang pemuda masuk ke dalam kamar, mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping kaki ibunya.


"Ibu kenapa?" tanya Fauzan menatap lekat wajah Bu Fatimah.


"Kepala ibu mules, perut ibu pusing," sahut Bu Fatimah yang langsung disambut gelak tawa oleh sang putra.


"Ada-ada saja," ucap Fauzan sembari menggelengkan kepalanya. Pemuda itu lalu memijat-mijat kaki ibunya. "Ibu pasti capek ya?" ucapnya setengah bertanya.


"Iya, capek mikirin kamu," sahut Bu Fatimah asal.


"Anak ibu banyak kenapa cuma Ozan yang dipikirkan sih?" tanya Fauzan lagi.


"Karena kamu sibuk memikirkan orang lain, tetapi tidak pernah memikirkan diri sendiri. Kalau bukan ibu, lalu siapa yang akan memikirkan kamu?" sahut Bu Fatimah lalu bertanya balik.


"Ozan juga lagi mikir untuk masa depan dan kebahagiaan Ozan kok, Bu. Ozan sedang berusaha untuk mendapatkan hati seseorang," sahut Fauzan yang masih terus memijit kaki sang ibu.


"Dengan cara menjadi buruh di perusahaan ayahnya?" tebak Bu Fatimah


"Ozan di sana bukan jadi buruh kok, Bu, bahkan Ozan pemimpinnya. Kalau ibu tidak percaya, ibu ikut saja sama Ozan di sana," cetus Fauzan.


"Kalau ibu ikut kamu, terus nanti siapa yang ngurusin Farah dan Faraz?" tanya Bu Fatimah.


"Kan ke sana enggak lama, seminggu aja sekalian refreshing," bujuk Fauzan. "Lagian ngapain ngurusin Farah sama Faraz? Kan mereka udah kurus, hehehe," kekehnya yang langsung mendapat jeweran di telinga kanannya.


"Tuman kamu!"


"Ampun Kanjeng ratu, ananda cuma bercanda," rengek Fauzan.


"Itu ikan gabusnya sudah dikirim ke rumah majikan kamu?" tanya Bu Fatimah setelah melepaskan telinga Fauzan.


"Sudah, Ozan sudah nyuruh Lek Hamid membawa ke rumah Om Ardi. Biar bisa dikonsumsi oleh Tania," sahut Fauzan.


"Kamu tidak mengajak ibu untuk membesuk anak kamu yang kata kamu cantik itu?"


"Enggak ah, Ozan aja enggak berani menampakkan batang hidung, masa mau ngajak ibu ke sana. Kalau ibu mau besuk nanti Ozan antar, tapi masuk sendiri ya," sahut Fauzan.


"Kenapa anak sulung ibu sekarang jadi pengecut sih?" sergah Bu Fatimah seraya menepuk punggung sang putra.


Fauzan mendesah pelan, lalu ia menaruh kepalanya di pangkuan sang ibu. "Ozan cuma takut mendapat penolakan lagi, Bu. Sudah dua kali dia menolak Ozan," sahutnya.


"Lalu mengapa kamu menerima tantangan Papa tiri gadis itu?" tanya Bu Fatimah lagi sembari mengelus lembut kepala sang putra.


"Karena Ozan masih menaruh harapan untuk bisa hidup bersanding bersama mereka, Bu, Tania dan anak-anaknya. Suatu saat jika Allah menghendaki kami berjodoh, pasti kami akan dipertemukan bagaimanapun caranya. Dan hotel yang diberikan Om Ardi akan tetap menjadi milik Ozan meskipun kami tidak berjodoh, jika selama dua tahun hotel itu bisa berkembang," ungkap Fauzan menjawab pertanyaan sang ibu.


"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, anak-anak ibu. Semoga kalian mendapatkan jodoh yang terbaik. Kalaupun Tania bukan jodohmu, pasti ada wanita dari belahan bumi yang lain yang telah disiapkan oleh Allah untukmu, yang telah Allah tuliskan dalam kitab di Lauhul Mahfudz," ucap Bu Fatimah dalam lantunan do'a.

__ADS_1


"Aamiin ..." ucap Fauzan mengamini do'a yang diucapkan oleh sang ibu.


Pemuda itu lalu meraih punggung tangan sang ibu lalu menciumnya berulang kali seraya mengucapkan terima kasih. Doa ibu adalah keramat terampuh di dunia. Karena do'a yang diucapkan oleh seorang ibu akan dikabulkan oleh Allah, dan kutukannya akan menjadi kenyataan. Maka jika engkau seorang ibu, berhati-hatilah dalam menjaga lisanmu. Ucapkanlah kalimat yang baik-baik.


__ADS_2