
Tania memborong membaca hingga Atthiril ke 2 rampung baru ia serahkan mikrofon kepada seorang ibu di sampingnya. Ternyata sudah ada dua pria tampan duduk di antara ibu-ibu. Kedua pria itu memakai baju Koko dengan bawahan sarung dan berpeci. Mungkin mereka adalah ustadz yang diundang oleh Rifki.
Tania kira ustadz yang dimaksud Erika tadi orangnya sudah tua, bayangan Tania orang itu sudah tua dan beruban. Ternyata mereka masih muda dan tampan. Tania cekikikan sendiri.
Tania merasa haus karena baru saja mimpin sholawat dan membaca Al-Jannatu sampai Attiril 2. Sementara belum ada satu rewang pun yang mengeluarkan minuman dan cemilan. Mungkin mereka menunggu pembacaan kitab Al-Barzanji selesai barulah minuman dikeluarkan. Wah bisa-bisa Tania pingsan. Ibu muda itu bangkit dan berjalan menuju ke dapur.
"Kok udahan?" tanya Erika yang duduk bersanding dengan Niken di ruang tengah sambil memangku bayinya.
"Haus, Mbak," sahut Tania.
"Ambil minum di dapur sana!" suruh Erika.
"Siap, Bos!" sahutnya memberi hormat.
Tania melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil minuman. Namun, baru dua langkah ia sudah berbalik ke arah Erika lagi.
"Eh, Mbak. Itu Pak Ustadz udah datang loh," ungkap Tania.
"Iya kah?" Erika memastikan.
"Masih muda ternyata. Aku kira sudah tua dan ubanan," kekeh Tania.
"Baru lulus S2 Al-Azhar Kairo loh beliau, masih single juga kayaknya," ungkap Erika.
"Dua-duanya?" tanya Tania.
"O, ustadznya dua? Yang satunya temannya kali," sahut Erika.
Tania mengangguk lalu kembali melangkah ke belakang. Tidak berselang lama ia kembali dengan keranjang berisi gelas air teh hangat.
"Berhenti, Tan!" perintah Erika yang melihat Tania membawa barang berat padahal ia baru saja sembuh dari operasi.
"Kenapa, Mbak?" tanya Tania heran.
"Turunin keranjangnya!" perintah Tania lagi. "Kamu ini, Mbak kira kamu cuma mau ambil minum buat sendiri. Jangan bawa yang berat-berat! Kamu kan baru sembuh operasi," larang Erika.
Tania menghentikan langkahnya, tetapi tidak menurunkan keranjang gelas yang dibawanya."Tania kuat kok, Mbak. Lagian kasihan itu ibu-ibu dan Pak Ustadz enggak ada yang kasih minum," cicit Tania.
"Iya, Mbak tahu, tapi enggak satu keranjang juga kali. Kamu kan bisa bawa sedikit pakai nampan," cetus Erika.
"Ini udah terlanjur kebawa, Mbak. Sekalian Tania bawa ke depan aja ya," ucap Tania ngeyel.
"Kamu kalau dibilangin nurut kenapa sih?" sergah Erika.
"Huh," Tania mendengus kasar. Dengan terpaksa ia menurunkan keranjang gelas yang dipegangnya ke dekat dinding. 'Mbak Erika enggak peka, padahal aku cuma pingin merhatiin Pak Ustadz dari jarak dekat sambil memberikannya minuman,' batinnya protes.
"Kalau nanti ada apa-apa sama jahitan bekas operasi di perut kamu baru tahu rasa," gerutu Erika yang masih dapat didengar oleh Tania.
"Iya-iya," sahut Tania lalu nyelonong saja menuju ke ruang tamu bergabung dan duduk di antara ibu-ibu jam'iyah Barzanji kembali.
Saat sampai pada Atthiril ke 4, ternyata mikrofon sudah diambil alih oleh Pak Ustadz. Rifki dan Doni juga sudah berada di sana.
"Bismillahirrahmanirrahim ...," suara Pak Ustadz terdengar fasih dan merdu.
"Allah ...," sahut ibu-ibu kompak.
"Wa lamma tamma min hamlihi syahroni 'ala asyhuuril aqwaalil marwiiyah."
'Duuh merdunya, I love you, Pak Ustadz,' batin Tania berjoget koplo melihat ke arah Pak Ustadz.
Saat mata Tania bersirobok dengan Rifki, Rifki seperti memberikan kode kepada dirinya untuk memanggil Erika. Tania pun bangkit kembali dan berjalan menuju ke ruang tengah kembali. Erika sudah berdiri dengan bayi di gendongannya.
"Tan, tolong kamu bawain mangkuk berisi bedak gih," pinta Erika.
"Enggak pakai gunting buat potong rambutnya Dedek, Mbak?" tanya Tania
"Enggak, pakai bedak ini aja. Takut ngelukain kalau pakai gunting," sahut Erika menunjuk ke arah nampan yang di atasnya ada mangkuk berisi bedak talek untuk bayi.
__ADS_1
"Assiap," sahut Tania telat. "Ayo, Mbak jalan duluan," pintanya.
Erika melangkah menuju ke ruang tamu untuk mengedarkan bayinya kepada para ibu-ibu pembaca barzanji diikuti oleh Tania. Jam'iyyah Barzanji sudah berdiri dan sholawat Thola'al Badru sudah terdengar. Satu persatu ibu-ibu bergiliran menyentuh bedak lalu mencolek pipi si bayi dengan bedak sambil membaca sholawat. Bayi itu diberi nama Rifka, perpaduan dari nama Rifki dan Erika.
Saat mereka sampai di depan Doni, dengan jahilnya pemuda itu mencolek pipi Tania dengan bedak. Tania melotot ke arah Doni. Sementara yang dipelototi malah tersenyum jahil.
Orang-orang yang melihat tersenyum melihat kelakuan mereka ikut tersenyum. Ternyata Rifki juga ikut-ikutan mencolek pipi Tania dengan bedak. Bahkan hingga Tania sampai di depan Pak Ustadz, beliau pun juga ikut mencolek pipi Tania sambil tersenyum membuat Tania menunduk malu. Apa beliau kira kebiasaanya begini kali ya? Padahal kan bersentuhan dengan lawan jenis jadi membatalkan wudhu. Namanya ustadz pasti sudah khatam bab tersebut lah. Kenapa jadi ikut-ikutan tingkah Doni yang absurd itu sih?
"Awas kamu, Don!" ancam Tania dalam hati tetapi dengan menunjukkan kepalan tangannya.
Doni hanya terkekeh dengan mata berbinar melihat ancaman Tania seakan berkata, "siapa takut?"
Acara ditutup dengan makan-makan setelah selesai dibacakannya do'a. Tania kembali masuk ke dalam kamar yang tadi untuk kembali menyusui Attar. Ia pandangi wajah bayi yang pipinya mulai tembam itu.
"***** yang banyak ya, Nak. Biar lekas besar. Biar bisa menggantikan Ayah untuk melindungi bunda," ucap Tania sambil menciumi kepala Attar.
Sementara di luar kamar tepatnya di ruang tengah. Di dekat meja prasmanan berada.
"Itu tadi cewek yang ikut dibedaki siapanya Mas Rifki?" tanya Pak ustadz sambil menyantap hidangan ditemani Doni, Rifki dan seorang temannya.
"Itu adik saya, Ustadz. Namanya Tania," sahut Rifki.
Rifki tidak sedang membohongi Ustadz kan? Memang Tania itu adiknya, meskipun adik yang baru ketemu ketika sudah gede.
"Masih sekolah?" tanya ustad lagi.
"Kuliah tingkat 2, Ustadz," sahut Rifki yang hanya menjawab sesuai pertanyaan dari ustadz tersebut tanpa ingin menceritakan keseluruhan dari Tania. "Saya dengar Ustadz Amar juga ngajar di perguruan tinggi ya?" imbuhnya bertanya.
"Iya, coba-coba, Mas," jawab Ustadz tawadhu.
"Kalau Mas Fauzan kegiatannya apa?" tanya Rifki lagi kepada teman Ustadz Amar.
"Saya mengurus usaha keluarga, Mas," sahut Fauzan.
"Usahanya bergerak di bidang apa kalau saya boleh tahu?" tanya Rifki lagi yang tingkat kekepoannya sudah akut.
"Assalamu'alaikum," tiba-tiba terdengar suara salam menyela obrolan mereka. Seorang pria tengah berdiri di ambang pintu.
"Eh, Pak Bram. Silakan masuk dan duduk!" ucap Rifki mempersilakan tamunya yang ternyata atasannya. "Maaf, Pak! enggak ada kursinya," Rifki merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Rif. Saya cuma mau menjemput Niken, di mana dia?" tanya Bram.
"Niken sepertinya teras samping, Pak. Sebentar saya panggilkan," pamit Rifki.
Rifki berpamitan kepada Ustadz Amar dan Fauzan terlebih dahulu sebelum mencari keberadaan Niken.
"Selamat sore, Pak Bram," sapa Fauzan yang ternyata juga mengenal Bram. Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Eh, Pak Fauzan. Anda di sini juga?" sahut Bram sembari menyambut uluran tangan Fauzan. Mereka beberapa kali sempat bertemu pada pertemuan para pengusaha.
"Saya diajak teman saya Amar, Pak. Kenalkan ini teman saya Amar. Amar, kenalkan ini CEO ARD's Corp," ucap Fauzan memperkenalkan.
Bram berjabat tangan saling menyebutkan nama.
"Bramantyo."
"Amar."
Niken dan Rifki muncul dari ruang tengah. Atensi ketiga pria tampan itu berpusat pada wanita cantik berperut buncit itu.
"Mas, mau pulang sekarang?" tanya perempuan hamil itu.
"Iya, kamu udah pamitan sama tuan rumah?" tanya Bram.
"Belum, Mas. Niken pamitan dulu ya sama Erika dan orang tuanya," pamit Niken.
"Iya," sahut Bram singkat.
__ADS_1
Niken kembali masuk ke dalam untuk berpamitan dengan tuan rumah. Saat hendak berpamitan dengan Tania, ternyata ibu muda itu sedang terlelap di kamar sambil menyusui Attar.
"Mas, Tanianya ketiduran di kamar. Mungkin dia kelelehan," ungkap Niken.
"Kita tinggal saja, dia bawa mobil sendiri 'kan," cetus Bram.
"Ya udah, aku pamit ya, Rif. Nanti tolong bilangin ke Tania kalau aku udah dijemput sama Mas Bram," pamit Niken.
"Oke, hati-hati ya, Niken. Ini sedikit buat yang di rumah," sahut Rifki sembari menyerahkan sebuah bingkisan.
"Terima kasih ya, Rif," ucap Niken.
"Sama-sama, Niken," sahut Rifki.
Bram mengajak Niken langsung pulang tanpa dirinya berpamitan kepada tuan rumah. Tidak berapa lama setelah kepergian Bram datang mobil box pengantar barang berhenti di halaman. Seorang laki-laki mendatangi rumah, sementara dua lainnya membuka pintu belakang dan mengeluarkan barang.
"Permisi, Pak, paket. Apa di sini rumahnya Bapak Rifki Fadhil?" tanya kurir tersebut di ambang pintu.
"Iya, Mas. Saya sendiri," sahut Rifki.
"Ini ada paket untuk anda, tolong ditandatangani bukti penerimaannya, Pak," ungkap si kurir.
"Tapi saya tidak pernah pesan barang apapun, Mas," tolak Rifki.
Dua orang kurir lainnya langsung menggotong dua buah kardus besar dan membawanya masuk.
"Maaf, Pak. Saya hanya disuruh untuk mengantarkan pesanan barang ini. Bapak tenang saja tidak usah khawatir, semua barang ini sudah dibayar oleh Pak Bramantyo," tukas si kurir yang menangkap gelagat untuk menolak paket.
Mendengar nama bosnya disebut, barulah Rifki melunak. "Oh, begitu?" Rifki memastikan.
"Jadi bisa kan, Pak Rifki, anda tanda tangan di sini?" pinta kurir itu sekali lagi.
"Baiklah," ucap Rifki menerima blok note serta pulpen yang disodorkan oleh kurir. "Terima kasih ya, Mas," ucapnya saat menyerahkan kembali kertas dan pulpen itu.
"Sama-sama, Pak. Kami permisi," sahut kurir.
"Wah, Mas Rifki habis memborong nih," cicit Tania yang tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang tengah.
"Bukan Mas Rifki kok yang beli," elak Rifki.
"Oh iya, kan Mas Bram tadi bilang mau beliin stroller buat Rifka. Mas Bram udah kesini ya? Mbak Niken juga mana? Dari tadi enggak kelihatan batang hidungnya," cecar Tania celingukan.
"Udah pulang mereka," sahut Rifki cuek karena penasaran sudah tidak sabar ingin segera unboxing dua buah kotak besar yang dikirim oleh bosnya.
Rifki hilir mudik mencari gunting untuk membuka segel paket.
"Mas, buka paketnya nanti aja sih," pinta Tania.
"Justru harus langsung dibuka, Tan. Kalau enggak suka kan bisa langsung ditukar," timpal Rifki.
"Aku mau pulang," cicit Tania.
"Ya pulang aja, lagian ini udah sore. Kasihan Attar kalau sampai kemalaman," tukas Rifki.
"Anterin," ucap Tania manja.
Rifki menghembuskan napas kasar. "Kamu ini lupa cara nyetir mobil atau lupa jalan pulang sih, Tan?" sindir Rifki.
"Bukan gitu, Mas. Aku lelah banget rasanya, aku takut nyetir sendiri," keluh Tania.
"Tapi Mas Rifki masih banyak kerjaan, Tan. Nanti malam juga masih ada acara. Minta antar Doni saja gih," cetus Rifki.
"Ogah! Mending nyetir sendiri dari pada diantar cecunguk satu itu," tolak Tania.
"Maaf, kalau tidak keberatan saya bisa kok mengantarkan Dek Tania," Fauzan menyela untuk menawarkan jasa.
Tania seketika membelalakkan matanya.
__ADS_1